Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Datang


__ADS_3

Mobil Tesla berwarna hitam terparkir rapi di halaman kediaman Atmadja, nampak mobil mewah berjejer rapi di halaman tersebut. Rumah besar  itu telah ramai dikunjungi oleh keluarga dekat Atmadja untuk berbelasungkawa. Beberapa awak media nampak berjejer di depan gerbang dengan di kawal ketat oleh bodyguard berseragam hitam, mereka tak diizinkan untuk meliput  ke dalam, hanya di beri akses meliput dari area luar.


Meida dengan setelan pakaian berwarna hitam dengan wajah pucat dan gugupnya, keluar dari dalam mobil di gandeng oleh Melvin yang sama-sama mengenakan pakaian berwarna hitam. Melvin dengan erat menggandeng tubuh istrinya yang baru pulih, dengan sebelah tangan melambai kearah kamera. Mereka berdua menjadi pusat perhatian, setelah santer beredar video klarifikasi Melvin mengenai keyakinan dan pernikahannya kemarin.


“Tuan Melvin, apa klarifikasi yang tuan buat kemarin itu real bukan hanya sekedar fake?”


“Apa benar kalian telah menikah? Bisa kalian tunjukkan bukti pernikahan kalian pada media?”


Teriak beberapa wartawan kearahnya. Mereka berdua hanya tersenyum sambil menunjukkan jari manisnya yang sama-sama terpasang cincin pernikahan kearah kamera. Cincin pernikahan itu cukup menjadi bukti bahwa mereka sudah menikah.


Melvin kembali menggenggam tangan istrinya yang sedingin es dengan langkah tegaknya, mereka masuk ke dalam rumah, yang telah berkumpul keluarga besarnya.


“Tenang, jangan takut! Semua akan baik-baik saja.” Bisik pelannya sambil merangkul tubuh istrinya yang bergetar ketakutan.


Di ruang tengah, nampak ruangan itu sudah di dekorasi dengan bermacam-macam bunga, dengan lagu-lagu rohani yang mengalun. Beberapa orang sudah duduk di kursi yang telah tersedia di ruang itu. Di tengahnya, nampak peti jenazah berwarna putih yang masih terbuka menampakkan wajah keriput Grace yang terpejam dengan mengenakan gaun berwarna putih, kulit tangannya yang terlihat melepuh dan wajahnya yang terluka dengan mengeluarkan nanah yang berbau anyir. Meida berusaha menahan bau anyir itu dengan menyusupkan wajahnya ke bahu suaminya yang sedang menggandengnya. Ia pun mengalihkan pandangan kearah keluarganya yang memakai masker yang duduk tidak jauh dari peti mati Grace.


“Ci, pakailah!” Jonathan memberikan masker pada Meida dan Melvin. Di wajahnya tak terlihat sedikitpun kesedihan, wajahnya nampak biasa-biasa aja seperti biasanya. Tidak ada sedikitpun air mata yang menetes di sudut matanya.


“Are you ok, Jo?” Tanya Melvin sambil memakai maskernya. Jonathan mengangkat kedua bahunya dengan alis yang bertautan.


“I’m good Ko, seperti biasanya. Are you ok, Ci? Wajahmu sangat pucat.” Tanya balik Jonathan kearah cici nya yang sedang merapikan masker di wajahnya.


“Entahlah.” Jawab pelan Meida. Ia masih bingung dengan perasaannya. Sebenarnya ia tak ingin datang, jika suaminya tak memohon padanya tadi malam. Ia masih enggan bertemu wajah orang yang mendzoliminya selama ini.


“Kita samperin daddy dulu!” Bisik Melvin sambil menuntun Meida menuju Gilbert yang mengenakan kemeja putih yang sedang tertunduk di pojok bersama Zaina. Sementara Jack dan Andress sedang bersalaman dengan para tamu yang berasal dari keluarga mereka yang baru saja datang p. Lagu rohani menggema di ruang itu, beberapa orang tampak sedang bernyanyi dengan berdiri.


“Daddy, aku turut berdukacita,” lirih Meida sambil menjongkokan tubuhnya di depan kedua orang tuanya. Gilbert langsung mengangkat kepalanya, memandang wajah Putri-nya dalam lalu memeluk tubuhnya erat.


“Terima kasih telah datang Nak, Daddy bahagia kamu datang kesini. Ini harapan Daddy dari kemarin. Walaupun kita sama-sama tak menyukainya, tapi dia tetaplah bagian dari keluarga kita. Tanpa dia, tak mungkin ada Daddy, dan tak mungkin ada kamu.” Meida menganggukkan kepalanya sambil mengusap lembut pundak Daddy-ya.


“Kalau bukan karena Daddy dan Mommy, sebenarnya aku tak ingin datang kesini. Tapi Melvin terus saja membujukku untuk datang.” Jawab Meida dengan tenang. Ia tak sedikit pun mengeluarkan air matanya, sama seperti Jonathan. Tak ada sedikitpun kesedihan di hatinya atas kepergian Oma-nya.


Gilbert melerai pelukan putrinya lembut, lalu menatap kearah menantunya


“Melvin, terima kasih telah membujuk Putri Daddy. Terima kasih Nak.” Melvin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lembut. Ia berjalan menghampiri zaina dan memeluknya sebentar,


“Saya turut berduka cita Mom.” Zaina menganggukkan kepalanya sambil menangis. Walaupun ia tak menyukai mertuanya, tapi ia merasa kehilangan atas kepergiannya. Melvin dengan lembut mengusap bahu mertuanya yang sedang menangis.


“Mommy ....” Meida merentangkan tangannya lalu memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca. Dan kini posisi mereka bergantian.


Zaina tersenyum haru melihat wajah putrinya yang datang, dan kini berada dipelukannya.


“Terima kasih telah datang sayang. Terima kasih atas kebesaran hati mu. Kami sangat takut kamu tak datang, oma-mu sangat membutuhkan permintaan maaf dari mu.” Zaina melepaskan pelukan dari putrinya dengan melirik kearah peti Grace. Lalu memegang lengannya dengan mata memerahnya.

__ADS_1


“Mommy mewakili oma-mu, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang dilakukan semasa hidupnya padamu. Maafkan dia yang selalu menyakiti perasaan mu, maafkan dia yang tak pernah memberi kasih sayang pada mu. Maafkan dia, Nak.” Mata Meida kembali berkaca-kaca menatap wajah Mommy-nya yang sedang bersungguh-sungguh meminta maaf padanya mewakili Oma-nya yang baru di kenalnya akhir-akhir ini. Lalu ia menatap kearah Daddy-nya yang sedang menangis sambil membuang muka.


Andress yang berada di belakang Meida, memegang bahunya sambil mencium pucuk kepalanya lembut.


“Koko tahu kamu belum bisa memaafkan ataupun menerima nya. Koko tahu kamu pasti membencinya. Tapi, dengan segenap kerendahan hati, koko meminta mu untuk memaafkannya, jika kamu tak keberatan Dek. Bukankah orang yang memberi maaf itu sangat mulia kedudukannya?” Ujar Andress dengan memeluk bahu adiknya dari arah samping. Meida pun menolehkan kepalanya menatap dalam wajah Koko-nya dengan sendu,


Apa aku harus memaafkannya? Batin Meida. Pikiran nya pun ikut bergejolak, berperang antara nurani dan ego.


Ia kembali menatap kearah kedua orang tuanya, yang terakhir ia menatap kearah suaminya yang sedang menganggukkan kepalanya samar sambil tersenyum.


Meida membalikkan tubuhnya, lalu berjalan mendekat kearah peti Grace dengan perlahan. Ia berdiri di samping peti tersebut, dengan menatap dalam tubuh empu peti yang terbaring kaku dengan wajah yang sangat mengenaskan.


Lucu sekali pertemuan kita. Pertemuan pertama, kau menghinaku. Pertemuan kedua, kau menembakku. Dan pertemuan ketiga, merupakan pertemuan terakhir ini, kau sudah terdiam kaku tak bernyawa.


Kekeh pelan Meida sambil menghapus air matanya.


Gilbert, Zaina, Andress dan Melvin berdiri di belakangnya dengan menundukkan kepalanya.


Apa kau pantas di sebut nenek-ku setelah perlakuan mu padaku seperti ini? Apa kesan yang kau berikan di setiap pertemuan kita? Tak ada, sangat disayangkan.


Lirih getir Meida sambil menggelengkan kepalanya.


Kau tahu, sebenarnya aku tak ingin datang kesini untuk melihat mu. Aku takut! Tapi suamiku membantuku untuk melawan ketakutan itu. Dia dengan setia berada di sampingku, membantuku menghapus kenangan buruk itu.


Tawa menyeramkan mu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Bahkan, aku masih mengingat hinaan yang terlontar dari mulut mu. Dan suara tembakan itu, aku masih mengingatnya dengan jelas. Sampai saat ini, suara tembakan itu selalu menghantuiku, hingga perasaanku tidak tenang jika sendirian ataupun berpergian.


Gilbert dan Zaina menundukkan kepalanya dengan menangis. Putri nya memaksakan diri datang kesini, dengan melawan rasa ketakutan dan traumanya. Melvin dengan lembut mengusap pundak istrinya memberikan kekuatan, menunjukkan dirinya akan selalu ada untuk istrinya. Ia membiarkan istrinya mengeluarkan unek-uneknya, agar hatinya kembali tenang dan melupakan kebenciannya.


Jika sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Dan kau dengan tak bertanggungjawab malah memilih pergi, tanpa memperbaikinya.


Apa kau tak menyesal telah mengabaikan ku? Apa sedikitpun hati mu tak menyesal setelah melakukan kejahatan ini? Apa kau tak menyesal karena tak menyayangi cucu-cucu mu dengan baik?


Jika pun kau menyesal, ini sudah terlambat. Karena kau tak bisa mengulang masa itu.


Meida mengepalkan tangannya lalu mengatur nafasnya yang bergemuruh  dengan memejamkan matanya.


Walaupun berat, aku memaafkan mu, karena bagaimanapun kau adalah nenek-ku. Semoga pemberian maaf dariku ini, mampu mengurangi pertanggungjawaban mu disana!


 Lirih Meida kembali membuka matanya,


Padahal aku berharap kau meminta maaf padaku secara langsung, bukan seperti ini.


Setelah mengucapkan itu, bahu meida pun bergetar pertanda ia sedang menangis. Melihat putrinya yang menangis, Gilbert dan Zaina pun langsung memeluk putrinya dari arah belakang. Ia senang bercampur bangga, putrinya dengan tangan terbuka telah memaafkan segala kesalahan orang tuanya di masa lalu.

__ADS_1


Mereka kagum, putrinya memiliki kelembutan hati yang tak dimilikinya.


Melvin tersenyum kearah istrinya sambil mengacungkan satu jempolnya. Ia merasa menjadi suami yang berguna, ketika istrinya mengikuti semua nasihat darinya.


Meida menggenggam erat kedua tangan orang tuanya yang melingkar di bahunya. Dengan pelan, ia membalikkan posisi tubuhnya.


“Mom, Dad, Ko, kita akhiri masalah keluarga kita disini. Dengan kematiannya, semoga menghapus rasa sakit dalam diri kita. Mari kita buka lembaran baru, tanpa adanya rasa dendam dan benci.” Gilbert, Andress dan Zaina menganggukkan kepalanya sambil memeluknya. Jonathan yang baru datang pun ikut memeluk Meida dengan meneteskan air matanya. Kini masalah yang menimpa keluarga mereka telah berakhir dengan kematian grace, tidak ada lagi orang yang akan menganggu dan mengusik ketenangannya lagi.


-


"Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya. Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya." (Mazmur 27:1-4)


Ketika suara seorang pemimpin menggema di ruang tengah sedang memberikan pemberkatan pada jenazah Grace.


Meida dengan di papah Melvin melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai 2, meninggalkan keramaian di lantai bawah.


Ketika akan menaiki tangga, Melvin dengan cekatan membopong tubuh istrinya yang kelelahan. Ia menyuruh istrinya menyandarkan kepalanya di dada bidangnya, karena kondisi nya belum pulih 100%.


Ia dengan perlahan-lahan menaiki anak tangga, hingga sampai di lantai 2.


“Yang, buka pintunya!” Meida membuka pintu itu dengan sebelah tangannya.


Pintu itu pun terbuka, dan mereka pun langsung masuk dan kembali menutup pintunya. Melvin dengan hati-hati meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dan menyelimutinya sampai ke dada.


“Kamu capek?” Melvin memeriksa dahi istrinya lalu mengusapnya lembut. Meida memejamkan kepalanya dengan sebelah tangan memijit dahinya.


“Aku cuman lemes, kepala ku pusing melihat banyak orang di bawah.” Tutur pelannya. Melvin mengambil alih tangan istrinya, dan kini ia yang memijit kepala istrinya dengan pelan-pelan.


“Jack sebentar lagi kesini untuk memeriksa kondisi mu yang.”


Melvin merubah posisi duduknya, dan kini sejajar dengan kepala istrinya. Ia dengan hati-hati meletakkan kepala istrinya di pahanya, lalu kembali memijitnya.


Meida menikmati pijatan suaminya dengan memejamkan matanya.


“Sakit kepalanya mendingan, Kan?” Meida menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Tangan mu multifungsi By. Makasih! Kamu memang suami idaman. ” Melvin terkekeh mendengar pujian sekaligus panggilan sayang istrinya yang kini memanggil namanya dengan sebutan By (Hubby). Ia dengan gemas mencium kening istrinya yang wajahnya tengah merah merona.


“Anything, I would do for you my queen.” Meida memegang wajah suaminya yang berada di atas kepalanya dengan menyipitkan matanya.


“Really?” Melvin menganggukkan kepalanya dengan menatap wajah istrinya penuh kekaguman dan penuh cinta.


“Yes. If I can afford it, I will give you the world and everything in it.”

__ADS_1


__ADS_2