
Pagi hari, Melisa bangun dari tidurnya ketika merasakan kebas di sebelah tangannya. Ruang serba warna cream yang pertama kali dilihatnya. Ia melihat kearah samping, melihat kearah Jack yang sedang tidur di sofa berselimut sarung yang nampak tidur terlelap dengan wajah lelah setelah begadang semalaman.
Andai kak Andress seperti Jack, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Jack lelaki baik, seribu satu lelaki seperti dia. Dia lebih baik menahan nafsunya, daripada harus mengambil kehormatan ku. Walaupun aku memaksanya. Tapi dia tak memanfaatkan keadaan, dia menjaga kehormatanku dengan baik. Semoga kau menemukan wanita yang tepat Jack.
Do'a Melisa dalam hati sambil menatap dalam wajah Jack. Kemudian ia melepaskan selang infusan di tangannya.
“Kau mau kemana?” Melisa menolehkan kepalanya kearah Jack yang kini sedang duduk menatapnya.
“Saya ingin ke toilet Jack!” Sahutnya setelah berhasil melepaskan selang infus di sebelah tangannya. Jack mengerutkan keningnya menatap Melisa dengan bingung.
“Kenapa harus melepas infusan? Kau bisa membawanya ke kamar mandi. Lagian keadaan mu belum stabil.” Melisa berusaha meyakinkan dengan tersenyum yang menghiasi wajah pucatnya.
“Aku sudah tidak papa Jack. Hanya sedikit pusing saja!” Jack menatap dalam gadis pucat yang masih duduk di pinggir ranjangnya. Lalu menghampiri Melisa dengan menyentuh dahinya yang suhu tubuhnya kini telah turun.
“Baiklah. Saya akan mengantar mu sampai pintu toilet.” Tanpa menunggu persetujuan dari Melisa, Jack langsung membantunya berdiri dan menggandengnya menuju kamar mandi.
“Jackk.” Lirih Melisa dengan wajah tak enak. Jack menggelengkan kepalanya sambil tersenyum,
“I just help you!” Melisa menganggukkan kepalanya dengan canggung. Menerima perlakuan lembut dari lelaki yang baru dikenalnya beberapa minggu ini.
“Maaf saya kesiangan, jadi gak bisa ngantar kamu pagi-pagi ke apartemen Bi Ina.” Melisa menggelengkan kepalanya dengan tersenyum hangat.
“Don’t say sorry. Justru aku yang harus berterima kasih sama kamu, Karena kamu telah menolongku semalam Jack. Jika tidak ada kamu, mungkin hidupku hancur.” Lirih Melisa dengan wajah sendunya. Jack mengusap bahunya dengan lembut, memberi rasa aman padanya.
“Don't worry, kamu aman bersama saya! Jika sudah selesai, panggil saya! Saya akan membuat sarapan untuk kita!” Melisa menggigit bibir nya di depan pintu kamar mandi dengan memegang lengan Jack dan menatap nya tak enak.
“Maafkan aku yang merepotkanmu Jack.” Jack menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tulus. Ia mengusap rambutnya lalu menepuk bahunya pelan
“It’s ok, no problem Melisa. Saya merasa tak direpotkan sedikitpun.”
-
Melisa dan Jack duduk berhadapan di meja makan mini dengan 3 kursi. Di depan mereka sudah tersaji roti bakar dan 2 gelas susu.
“Sebenarnya siapa yang menjebakmu semalam Melisa?” Jack mengawali pembicaraan dengan menggigit roti bakar buatannya. Melisa meminum susunya sedikit lalu menjawab pertanyaan Jack dengan nafas beratnya.
“Yang menjebakku semalam adalah Sandra, mantan tunangannya ko Melvin. Dia menjebakku karena tak terima dengan pernikahan ko Melvin dan Meida, dia menjadikan ku sebagai umpannya, agar koko kembali pada nya.” Terang Melisa dengan wajah lesunya. Jack yang sedang minum susu pun terdiam, mencerna sekaligus memikirkan nasib sepupu perempuannya.
“Apa Melvin sudah tahu mengenai kedatangannya?” Melisa menggelengkan kepala dengan menggigit roti yang berada ditangannya.
“Yang tahu, baru aku saja Jack. Papih dan Mamih pun tak mengetahuinya. Kukira semuanya telah selesai, nyatanya dia masih mengharapkan koko-ku.” Jack manggut-manggut dengan mulut yang masih mengunyah roti.
__ADS_1
“Selama ini dia tinggal dimana?”
“Dulu dia tinggal disini, lalu menjadi seorang model dan memilih tinggal di Las Vegas. Dia langsung pulang ke Indonesia setelah melihat berita klarifikasi ko Melvin minggu lalu. Dan aku yakin, dia pasti datang di acara resepsi pernikahan koko. Mereka sempat menjalin hubungan selama 1 tahun lebih, yang pada awalnya karena perjodohan. Dia lebih memilih karirnya dari pada ko Melvin, dan meminta koko untuk menunggunya. Walaupun koko sudah melupakannya.” Jack mendengarkan dengan seksama penuturan dari wanita yang kini duduk di sampingnya dengan memikirkan sesuatu.
“Aku semalam menemuinya untuk tak mengganggu rumah tangga koko dan kakak ipar. Karena aku tahu, dia orangnya nekat. Aku takut dia terang-terangan akan muncul dan mengganggu kakak ipar. Karena sebenarnya, dia pun dengan terang-terangan mengakui bahwa masih mencintai koko.”
“ltu tidak akan pernah terjadi Melisa. Kami akan siap sedia melindungi rumah tangga koko mu. Jika dia berniat menghancurkan rumah tangga mereka, aku yang lebih dulu akan menghancurkannya. Jangan pernah menyepelekan kekuasaan yang dimiliki orang tua mu dan Om Gilbert.” Melisa menganggukkan kepalanya. Hatinya sedikit khawatir dengan kehadiran sandra yang tiba-tiba setelah menghilang selama 2 tahun lebih.
“Aku tak mengkhawatirkan itu. Yang aku takutkan, dia mengganggu kakak ipar, walaupun aku tak meragukan kemampuan beladirinya." Jack terkekeh sambil membuka layar ponselnya.
“Tenang, kami akan menjaga Ibu Negara kita dengan baik. Ibu Negara kita banyak pelindung nya, ada saya, Andress, Jonathan, Om Gilbert, Om Johan, Pak Nagara, dan pastinya koko-mu. Dia body guard nya banyak, gak kaleng-kaleng.” Melisa pun tertawa mendengar ucapan Jack yang menyebut Meida sebagai Ibu Negara. Tawa itupun tertular pada Jack, dan dapur mini itu di penuhi oleh suara tawa mereka.
“Melisa, kau lebih cantik jika tertawa. Berbeda sekali dengan wajah kecut mu beberapa hari ini.” Mendengar ucapan tulus Jack, wajah melisa langsung merah merona karena malu.
“Sekarang waktunya kamu move on, dan membalas perbuatan wanita yang menjebakmu semalam.” Melisa menganggukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh.
“Pasti Jack, saya pasti membalasnya!”
-
Jam 10:00, Meida keluar dari ruang ganti dengan memakai kemeja berwarna putih Melvin dan handuk yang menggulung rambutnya. Langkahnya sangat pelan dengan sedikit meringis, lalu ia duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutnya.
“Yang, kita makan di pinggir kolam yah. Maaf, sarapannya telat. Saya pun kesiangan sama seperti kamu,” ucap Melvin yang menyembulkan kepala di balik pintu kolam. Ia sudah rapi dengan memakai kaos oblong berwarna biru dan celana Chino berwarna mocca. Meida menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
“Idung kamu memerah sayang. Apa kamu flu?” Meida menganggukkan kepalanya membiarkan tangan suaminya dengan telaten mengeringkan rambutnya yang berterbangan karena hairdryer.
“Gara-gara kamu By, bikin aku mandi terus. Jadi aku flu kayak gini. Biasanya aku mandi sehari sekali, nah sekarang baru jam segini aja aku udah 2 kali mandi.” Melvin tersenyum mendengar ocehan istrinya. Ia mencium pucuk kepalanya berulang-ulang di tengah aktivitasnya dari belakang.
“Saya spesialis khusus agar kamu rajin mandi sayang. Apa masih sakit?” Meida mengerucutkan bibirnya dengan menganggukkan kepalanya samar. Ia menatap wajah suaminya dari balik cermin dengan sorot mata kesal.
“Aku tadi bilang masih sakit By, kamu nya aja yang langsung eksekusi gak sabaran. Aku gak bisa jalan, disini kayak ada yang mengganjal tahu.” Melvin memeluk bahu istrinya dari belakang. Lalu mencium sebelah pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Jangan ngomel-ngomel sayang, nanti pahala kamu melayani saya hilang. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pun berkata: "Istri itu laksana kendaraan suami, kapan saja suami boleh menaikinya. Akan tetapi sifat yang paling disukai adalah naik ke atas istri dengan perlahan dan lemah lembut". Melvin dengan lembut membelai rambut istrinya memberi penjelasan,
“Dan Allah pun berfirman dalam Al-Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 223 :
"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." Meida diam tertegun sambil menundukkan wajahnya malu.
“Hadist lain dari ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memegang tangan istri sambil merayunya (dengan kata-kata indah), maka Allah SWT akan menuliskan satu kebaikan, dan melebur satu kejelekan serta mengangkat satu derajat. Apabila merangkul istri, maka Allah SWT akan menuliskan sepuluh kebaikan dan melebur sepuluh keburukan, dan mengangkatkan sepuluh derajat baginya. Apabila ...” Meida langsung menyahuti ucapan suaminya karena ia pun hafal Hadist itu, karena suaminya sering mengatakannya.
“mencium istri, maka Allah SWT akan menuliskan dua puluh kebaikan, melebur dua puluh keburukan, dan mengangkat dua puluh derajat baginya. Apabila bersenggama dengan istri, maka hal yang demikian lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Melvin pun tersenyum bangga pada istrinya lalu mencium tengkuk lehernya.
__ADS_1
“Aku minta maaf, aku ikhlas melayani kamu By. Maaf kalau aku tadi sempet ngomel-ngomel.” Melvin menganggukkan kepalanya. Karena rambut istrinya sudah kering, ia pun merubah posisi dengan duduk di meja rias, lalu menyisir rambutnya,
“Seorang ulama, Syeikh Abu Bakar Al-Waroqi berkata : "Setiap syahwat dapat membuat hati menjadi keras, kecuali syahwat untuk bersenggama dengan istri. Maka sesungguhnya syahwat untuk melakukan senggama itu dapat membersihkan hati. Oleh karena itu para Nabi melakukan senggama." Makanya saya sering menggarap ladang saya.” Kekeh Melvin yang membuat wajah istrinya tersipu malu.
“Nanti saya akan menggendong kamu pergi kemanapun. Nanti siang Steve akan kesini mengantar pakaian sekaligus salep pereda nyeri buat kamu, agar mengurangi sakit diarea simi.” Wajah Meida langsung memerah ketika Melvin menunjuk kearah sensitif miliknya.
“Kamu tahu salep itu pereda nyeri dari mana? Gimana kalau itu salep buat penyakit panu?” Melvin pun terkekeh mencium wajah istrinya dari depan dengan gemas. Ia mengangkat tubuh istrinya untuk di dudukan di atas meja, sementara ia duduk di kursi memeluk pinggangnya erat.
“Itu rekomendasi dari Mamih sayang.” Meida langsung mengangkat kepala suaminya dengan membulatkan matanya tak percaya.
“Tadi saya nanya sama Mamih. Mamih pun sudah paham salep pereda nyeri yang saya maksud, dan merekomendasikan salep itu. Kamu tahu Mamih bilang apa sama saya? Dia bilang gini, “Bilangin sama menantu Mamih, banyakin makan! Karena kamu butuh tenaga untuk menghadapi gempuran dari saya yang ganas ini.” Meida memukul bahu suaminya. Ia benar-benar malu, sampai wajahnya bagai tomat busuk.
“Kamu emang ganas By. Dari malem, aku baru dilepasin sekarang. Kamu bikin kulit aku kayak macan tutul.” Tunjuk Meida kearah lehernya dengan cemberut. Melvin malah tersenyum menatap wajah istrinya dari bawah,
“Entahlah, setiap menit saya merindukan mu. Tanda itu bukti cinta saya sama kamu, sayang.” Meida mengerutkan bibirnya, mengusap rambut suaminya yang berada dipangkuannya.
“Oh iya, seprei yang kemarin kita pakai dikemanain By? Kok gak ada? Aku mau mencucinya.” Melvin malah tersenyum memamerkan gigi putihnya.
“Udah saya simpan, di lemari pakaian kita.” Meida mengerutkan dahinya menatap wajah suaminya dengan aneh
“Kok di simpan? Kamu jorok! Harusnya itu di cuci dulu, bukan langsung di simpan.” Melvin malah merapatkan pelukannya menyandarkan kepala di perut istrinya.
“Saya sengaja menyimpan seprei itu untuk dimuseumkan di kamar kita. Karena seprei itu menjadi saksi ketika kamu menyerahkan semuanya pada saya. Disana juga terdapat bercak darah kesucian mu, yang kamu jaga dan kamu berikan hanya pada saya. Itu moment terindah saya, ketika bisa melakukan apapun dengan mu secara halal dan mengandung banyak kebaikan.” Terang Melvin dengan mendongakkan wajah kearah istrinya.
“Manisnya suamiku,” ujar Meida sambil memegang kedua bahu suaminya, lalu melingkarkan tangannya disana. Ia mencondongkan kepala kearah suaminya lalu mencium bibirnya lembut. Tangannya dengan erat memeluk leher Melvin hingga tubuhnya terjatuh si pangkuan suaminya. Melvin mengusap-usap punggung istrinya yang kini menciumnya dengan penuh perasaan.
“Wo ai ni,” Ujar Meida yang kini menatap wajah suaminya dengan sorot mata penuh kekaguman dan penuh cinta. Melvin pun tersenyum ketika mendengar istrinya mengungkapkan rasa cinta padanya, ada rasa kebahagiaan tersendiri setiap kali mendengarnya.
“Wo ye ai ni.” Meida kembali tersenyum, ia menggesekkan hidungnya ke hidung suaminya, menyatukan kening mereka lama.
“Hati saya tak bisa diungkapkan dengan apapun, ketika memilikimu sayang. Saya bersyukur, Allah telah menakdirkan kamu menjadi istri saya.”
“Tetaplah di samping saya! Kuatkan saya ketika saya terpuruk! Ingatkan saya ketika saya salah! Tuntun saya ketika saya salah arah! Kamu adalah tempat sandaran saya, rumah saya, hidup saya, cinta saya. Terima kasih telah hadir di hidup saya, saya mencintai mu lebih dari apapun.” Ucap Melvin dengan penuh kesungguhan. Meida menatap dalam lelaki yang berada didepannya yang kini bergelar suaminya dengan binar penuh cinta. Ia menyusuri wajah suaminya dengan mata terpejam.
“Aku sudah hafal dengan wajah mu By. Wajah yang sangat kukagumi setiap saat. Aku ingin selalu melihat wajah ini menemani hariku sampai aku menutup mata. Wajah yang membuatku takut kehilangannya. Wajah yang kini menjadi separuh hidupku. Wajah yang berhasil membuatku sangat mencintainya.” Lirih Meida meraba hidung Melvin dan memainkan alisnya. Melvin menatap wajah terpejam istrinya dengan tertegun, ia seakan terhipnotis oleh perkataan wanita yang kini duduk dipangkuannya. Matanya berkaca-kaca, merapikan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya. Tangannya pun membelai wajah nya dengan lembut, mencium kening lalu mencium kedua kelopak mata, turun mencium hidung, mencium pipinya bergantian, mencium dagu dan terakhir mencium bibirnya.
“Saya mencintai apapun yang berada pada dirimu,” ujar pelannya kemudian ******* bibir istrinya lembut penuh perasaan. Ia berdiri mengangkat tubuh istrinya yang digendong lewat depan, yang kini sudah membelitkan kaki di pinggangnya dengan erat, lalu membawanya menuju kolam belakang.
-
☕☕☕☕☕😘😘😘😘♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Vote, like, komennya guys😘