Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

“Gilbert, saya berencana mengadakan resepsi pernikahan Putra-Putri kita 2 minggu lagi, bagaimana menurutmu?” Tanya Nagara yang duduk bersisian dengan besannya. Mereka duduk di sofa bersama Johan, Andress, dan Jonathan. Sementara Zaina, Helena, Melisa, Bi Ina, dan Dian, duduk   mengelilingi Meida yang sedang menyandarkan diri di belangkarnya.


“Kalau saya sih gimana mereka siapnya aja. Kalau ingin direncanakan dengan acara besar-besaran, saya mengusulkan lebih baik Melvin lebih dulu mengklarifikasi berita keislamannya  sambil mengumumkan hubungan asmaranya dengan Putri saya. Agar kita semua tenang, tidak di kejar-kejar awak media. Dan jika tak keberatan, saya akan meliput acara pernikahan mereka secara langsung.” Usul Gilbert setelah menyeruput kopi hitamnya. Ia menolehkan kepalanya kearah adik lelakinya yang duduk di sampingnya.


“Bagaimana menurutmu Johan?” Tanya Gilbert kearah adiknya. Ia ingin adiknya pun berperan dalam pernikahan putrinya.


“Menurut saya sih ok ok aja. Untuk resepsi pernikahan, biar kita yang mempersiapkannya, mereka terima beres saja. Saya kasian pada Melvin jika dia ikut mengaturnya, dia pun butuh istirahat.” Sahut Johan melihat kearah Melvin yang sedang senyum dikerubungi ibu-ibu.


“Betul apa yang dikatakan Paman. Saya setuju, biarlah kita semua yang mengaturnya. Pengantin baru tinggal terima beresnya saja. Yang terpenting mereka siap sedia di hari H nya.” Timpal Andress sambil menyeruput Jus leci nya.


“Temanya indoor apa outdoor?” Tanya Gilbert dengan semangat menggebu-gebu.


Jonathan yang duduk di samping Daddy-nya hanya diam dengan mata melirik satu persatu kearah orang dewasa yang sedang duduk berjejer disampingnya. Karena bosan tak dianggap, akhirnya ia membuka ponselnya lalu berselancar di dunia maya.


“Rencana saya sih outdoor. Tadinya untuk lokasi nya  saya mau sewa gedung GBK di Jakarta, tapi pemerintahnya tidak mengizinkan karena masih pandemi. Yah terpaksa lokasinya disini, ” ujar Nagara yang kembali menyeruput kopinya.


“Untuk masalah lokasi biar nanti kita bicarakan lagi. Kita buat schedule pertemuan aja, kalau memang kita sama-sama sibuk dan tak memungkinkan untuk berkumpul. Gimana kita meetingnya lewat meeting zoom aja?” Gilbert dan Nagara mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui ucapan Johan.


“Baiklah saya setuju. Sekarang kita tanya pada yang bersangkutan nya.”


“Jaslin, Melvin.” Nagara memanggil Putri dan Menantunya yang sedang berbincang dengan istrinya.


“Apa Pih?” Jawab mereka berdua dengan serempak.


“Kami ingin menyampaikan sesuatu. Resepsi pernikahan kalian akan dilaksanakan 2 minggu lagi, apa kalian tidak keberatan?” Tanya to the point Nagara menatap kearah Putra dan menantunya yang sedang saling pandang sambil mengangkat kedua bahunya satu sama lain.


“Kalau Melvin sih, gimana kesehatan Meida aja pih. Jika dalam beberapa hari ini kondisi Meida sudah jauh lebih baik, it's ok Melvin menyetujuinya. Jika beberapa hari ini kondisinya belum sepenuhnya membaik, Melvin mohon, Papih memundurkan tanggalnya. Gimana? Papih gak keberatan, Kan?” Nagara melipat tangannya sambil menggaruk rambut putihnya.


“Yaudah gimana kalian berdua aja. Semoga niat baik kita diberkati Tuhan.” Do'a Nagara yang diaminkan semua orang yang berada di ruang tersebut.


-


Setelah berbincang lama. Para kepala keluarga meminta izin pamit untuk pergi ke tempat kerja mereka masing-masing, karena ada sesuatu yang harus mereka urus. Di ruang itu kini hanya tinggal Melvin, Meida, Zaina, Bi Ina, dan Helena. Mereka tampak terlibat obrolan ringan mengenai perjalanan hidup mereka selama mengarungi bahtera  rumah tangga, dan wejangan-wejangan kepada Meida dan Melvin dalam mengatasi permasalahan suami-istri. Melvin melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 09:00, ia nampak gelisah karena belum melaksanakan tugasnya melap tubuh istrinya. Dengan mengkode kearah Meida, Melvin mengutarakan maksudnya.


“Mih, Mom, Bu. Melvin bantu Meida ke kamar mandi dulu yah. Kalian lanjutkan aja ngobrolnya!” Zaina yang sedang duduk di belangkar menggeser posisinya. Agar melvin mudah membopong istrinya.


“Jaslin belum di lap, Kan? Sekalian di lap aja sama ganti perban di pundaknya, kamu bisa kan?” Melvin menganggukkan kepalanya lalu membopong istrinya yang wajahnya masih terlihat sembab namun tergurat banyak kebahagiaan di garis wajahnya.


“Aku salut banget sama anak mu mbak. Kamu berhasil mendidiknya.” Puji Zaina kearah menantunya yang membopong putrinya masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


“Puji Tuhan, dia tumbuh menjadi anak baik, penurut, dan penyayang. Saya pun sangat menyukai anak perempuan mu, dia tipe menantu idaman saya.” Puji balik Helena kepada menantu perempuannya yang baru beberapa hari ini menjadi menantunya.


“Iya betul sekali. Mereka sangat cocok. Saya pun di buat terharu oleh perjuangan cinta mereka. Terutama Melvin, dia selalu setia berada di samping Meida, walaupun meida bersikap cuek pada nya. Pokoknya perjuangan Melvin patut diacungi jempol, bisa meluluhkan Meida yang notabenenya tertutup, dingin, dan keras kepala.” Sahut bi Ina dengan tersenyum.


-


Melvin membopong meida kearah Walk in closet. Lalu mendudukkannya di wastafel yang terbuat dari keramik. Di sepanjang wastafel itu terdapat peralatan lengkap Meida dari mulai baju, kotak perban, sisir sampai baskom dan handuk. Ia mendudukkan istrinya di tengah-tengah, lalu megang kedua pipinya dengan gemas.


“Jangan sedih lagi, kamu jelek kalau cemberut.” Goda Melvin sambil mencium bertubi-tubi wajah istrinya yang mulai menarik sedikit bibirnya. Meida dengan tersenyum memegang wajah suaminya agar berhenti menciumnya.


“Berhenti! Geli tahu.”


Muachhh


Satu kecupan kembali mendarat di bibir Meida yang membuat wajahnya langsung memerah. Melvin kembali tersenyum sambil menyentuh wajah istrinya,


“Yang, kamu gak keberatan kan dengan rencana Papih? Jika kamu keberatan, saya akan meminta papih untuk memundurkan tanggalnya.” Meida menggigit bibirnya dengan mata menerawang, lalu menggelengkan kepalanya lemah sambil mengerucutkan bibirnya.


“Jika kita mempublikasikan pernikahan kita. Apa tidak berpengaruh buruk untuk perusahaan keluarga mu?” Mendengar pertanyaan istrinya. Melvin malah terkekeh sambil mengelus wajah istrinya kemudian menciumnya singkat.


“Tidak akan sayang. Lagian siapa yang akan mempermasalahkannya? Justru sengaja dipublikasikan, agar tidak ada orang yang mengganggu rumah tangga kita nanti nya. Biar orang tahu, kamu hak paten milik saya. Dan saya hak paten milik kamu. Ingat ucapan Daddy dan Papih, mereka yang akan mempersiapkannya. Kita hanya tinggal diam saja.” Melvin dengan lembut membelai wajah istrinya yang sedang menatapnya. Meida dengan manja menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya sambil memainkan tangannya.


“Jangan bersedih lagi! Saya buka kerudung mu yah?” Meida menganggukkan kepalanya sambil melerai pelukannya. Dengan lembut, Melvin melepas hijabnya yang menampilkan rambut kusut Meida yang sudah 1 bulan tak keramas.


“Rambutku kayak sapu injuk yah?” Tanya Meida dengan cemberut sambil memegang rambutnya yang keras. Melvin tak menjawab. Ia malah melepaskan ikatan rambut istrinya, lalu menyisirnya lembut, setelah rapi, ia mengikatkannya kembali.


“Rambut kamu bagus kok, gak kayak sapu injuk. Saya sangat menyukainya, jangan pernah memotongnya tanpa seizin saya. Nanti saya akan bantu mengeramasinya.” Melvin mencubit kedua pipi istrinya yang sedang mengerucutkan bibirnya agar tersenyum.


“Janji untuk tak memotongnya?” Meida memegang rambutnya, lalu menggelung rambutnya tinggi-tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya. Lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya,


“Baiklah, aku tak akan memotongnya. Aku akan mematuhi segala perintahmu!” Melvin tersenyum. Ia merapikan rambut di wajah istrinya dengan binar wajah bahagia kemudian menciumnya,


Meida kembali memejamkan matanya ketika suaminya memagut pelan bibirnya. Dengan perlahan-lahan, ia mengikuti gerakan suaminya walaupun masih kaku. Jari jemari Melvin dengan lembut memberi pijatan di pundak dan pinggangnya hingga membuat istrinya terlena dan menikmatinya. Meida kembali melepaskan ciumannya karena kehabisan nafas, matanya menatap dalam wajah suaminya dengan tersenyum sambil mengatur nafasnya.


“Wo ai ni,” kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya. Meida dengan penuh keberanian, kembali memagut lembut bibir suaminya membuat Melvin tercengang dengan membulatkan matanya menerima perlakuan istrinya yang mulai berani. Hatinya di buat berbunga-bunga dengan tingkah nakal istrinya, yang kini sedang memagut bibirnya lembut dengan mata terpejamnya.


Melvin membalas ciuman hangat istrinya dengan sebuah *******. Ia menyampingkan kepalanya dengan memegang wajah istrinya, dan kembali menghisap bibir istrinya dalam. Sesuatu dalam dirinya kini terasa meledak-ledak menuntut dirinya untuk melakukan hal lebih dalam. Ia kembali terlena, namun logikanya kembali bekerja. Dengan lembut ia melepaskan hisapan di bibir istrinya, lalu memeluk istrinya erat. Untuk menahan gejolak dalam hatinya yang ingin segera tertuntaskan.


“Yang, saya takut kebablasan.” Parau Melvin dengan suara paraunya menahan gejolak dalam hatinya. Meida yang sedang mengatur nafasnya kembali menepuk-nepuk pelan pundak suaminya dengan wajah memerahnya.

__ADS_1


“Maaf, sampai saat ini aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai istrimu. Maaf, aku belum bisa memberikannya sekarang. Aku berharap kamu bersabar.” Melvin menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Menahan gejolak dalam dirinya yang kian meronta-ronta.


Melvin melerai pelukannya lalu menatap istrinya dengan wajah yang memerah.


“Aku akan menunggumu!” Mata dan wajah Melvin memerah dengan suara tegangnya. Ia kembali ******* bibir istrinya yang sedang membelalakkan matanya. Ia kini melakukannya dengan sedikit liar dan kasar. Meida merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya ketika menerima ciuman kasar suaminya yang sedang membelit lidahnya mengecap satu persatu yang berada dalam mulutnya. Tangannya dengan spontan meremas rambut suaminya sambil memejamkan matanya merasakan sesuatu dalam tubuhnya yang menuntut dalam. Ia membiarkan mulut suaminya menyusuri leher putih dan jenjangnya. Ia menggigit bibirnya dengan memejamkan matanya, agar tidak bersuara ketika Melvin mencium dan sedikit menggigit lehernya.


“Ja..jangan dilanjutkan. Nanti kita sama-sama kebablasan.” Parau Meida dengan suara yang terdengar mendesah di telinga suaminya. Melvin semakin bernafsu menyusuri leher jenjang istrinya dengan bibirnya, lalu meninggalkan jejak kemerahan disana. Setelah membuat tanda merah itu,  ia baru melepaskan ciumannya.


Melvin mengelus-ngelus tanda merah di leher istrinya sambil tersenyum. Sementara istrinya sedang menyandarkan kepalanya ke cermin dengan memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas seperti tak bertulang setelah menerima serangan dadakan dari suaminya.


“Ini stempel dari saya. Ciri bahwa kamu adalah milik saya sepenuhnya.” Bisik Melvin yang membuat bulu kunduk istrinya kembali meremang. Meida masih memejamkan matanya, ketika melvin menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengannya. Melvin membuka kancing piyama istrinya perlahan dengan nafas yang  beraturan. Baru saja ia membuka satu kancing, Meida langsung menahan tangannya.


“Mau apa? Jangan sekarang. Please!” Cicit Meida dengan wajah menghiba sambil memegang tangan suaminya. Melvin malah terkekeh lalu mencium dahi istrinya.


“Bukankah mommy menyuruh saya untuk membantu melap tubuh mu?” Tanya Melvin sambil menautkan alisnya dengan senyum mesumnya. Meida menelan salivanya kasar, dengan menggeser perlahan tangan Melvin yang berada di dadanya.


“A..aku bisa sendiri.” Gugup Meida dengan wajahnya yang memerah. Ia memegang erat kancing piyama dengan bergetar.


“No. Saya akan melapnya tanpa penolakan! Karena ketika kamu tak sadar, saya yang bertugas melapnya.” Meida semakin mengeratkan pegangannya dan memundurkan tubuhnya dengan tatapan tajamnya menatap suaminya.


“Kamu serius? Berarti kamu pernah melihat ...” Melvin langsung mengungkung tubuh istrinya dan membisikkan sesuatu,


“Saya telah melihat semuanya, dari atas sampai bawah. Jadi jangan malu lagi.” Kekeh Melvin langsung menyingkirkan tangan meida.


Blussshhh wajah Meida memerah seketika. Ia tak sadar ketika tangan Melvin dengan perlahan membuka kancing piyamanya, hingga terbuka semua.  Kesadarannya kembali terkumpul, takala suaminya diam mematung melihat kearah dadanya yang masih di lapisi kain warna hitam dengan jakun naik turun.  Ia langsung menyilangkan kedua tangan di dadanya dengan menoyor kepala suaminya yang kini menatapnya dengan cengengesan.


“Jangan lihat-lihat! Tutup mata mu!” Perintah Meida yang kembali mengeratkan piyama di tubuhnya. Melvin mengedipkan sebelah matanya dengan menggerakkan jemarinya,


“Boleh saya memegangnya?” Meida langsung membulatkan matanya. Menepis keras tangan suaminya lalu mendorong tubuh suaminya  agar menjauhinya.


“No, ini sampai bawah masih di segel. Kamu belum boleh pegang-pegang!” Sewot Meida yang kembali memundurkan tubuhnya, ketika Melvin terus saja mendekatinya.


“Yang boleh mana saja?” Tanya santai Melvin dengan senyum smirik nya. Meida menggigit bibirnya gugup, ia menunjuk kearah wajahnya lalu kearah lehernya.


-


☕☕☕☕


Jangan lupa like, komen, sama Votenya 🤗🥰😘😍♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2