
“Jadi saya mohon jangan ganggu rumah tangga kami! Saya sudah bahagia dengan istri saya. Hubungan kita sudah berakhir 2 tahun lalu ketika kau memutuskan pergi ke Las Vegas mengejar karir mu! Dan saya tegaskan, jangan pernah mengganggu lelaki yang sudah beristri! Karena saya sudah tak tertarik lagi pada mu,” ucap tajam Melvin dengan penuh penekanan. Sandra mengepalkan tangannya dengan mata yang berkabut. Tangannya bergetar menahan gejolak amarah dalam hatinya.
“Kamu sudah berubah honey! Apa kamu sudah tak mencintaiku lagi?” Meida menarik nafasnya kasar. Ternyata wanita yang berada di depannya ini benar-benar keras kepala dan bermuka tebal. Sudah tahu suaminya sudah tak mencintainya lagi, ia dengan ngotot masih mempertanyakannya.
“Saya memang pernah mencintai mu di masa lalu. Tapi maaf, untuk masa depan saya mencintai istri saya. Terima saja takdir kita masing-masing. Bukankah ini keinginan mu? Bukankah kau memilih ingin terkenal sebagai model papan atas dari pada menjadi istri saya? Kejarlah ambisi mu! Maaf, saya tidak akan menjilat ludah saya sendiri!” Meida tersenyum menatap Melvin yang sedang berapi-api menatap tajam sambil menunjuk wanita masa lalu nya yang sudah meneteskan air mata buaya. Hidungnya kembang kempis mendengar penuturan suaminya, ia sudah mempercayai suaminya 100%, daripada bualan wanita yang berada didepannya.
“Apa kamu benar-benar mencintainya honey?” Meida membulatkan matanya malas. Ia menatap suaminya sambil mengangkat bahunya.
“Tak mungkin kita menikah, jika tak saling mencintai. Apa mbak perlu bukti?” Tanya Meida sambil memandang Sandra dengan senyum manis yang terlihat menyebalkan. Sandra menatap tajam kearah Meida, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Meida dengan santai mengangkat kerudung yang menutupi lehernya untuk memperlihatkan maha karya suaminya yang terpampang jelas. Wajah Sandra seketika terkejut dengan kedua bola matanya yang hampir keluar.
Mereka benar-benar telah melakukannya. Apa benar Melvin yang melakukannya? Rasanya aku tak percaya. Tak mungkin Melvin melupakan ku secepat itu. Tanda merah itu seakan menjadi bukti, bahwa mereka telah melewati malam yang sangat panas. Batin Sandra menatap kearah leher Meida yang di penuhi kissmark berwarna merah dan beberapa warnanya yang sudah memudar.
“Apa ini cukup menjadi bukti?” Tunjuk Meida kearah lehernya yang terdapat kissmark buatan suaminya. Ia dengan santai membuka plester yang berada di leher suaminya dan menunjuk maha karya nya disana. Melvin hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang memperlihatkan bukti percintaan mereka.
Dia sedikit bar-bar namun mengagumkan. I Like it! Singa betina ku mulai menunjukkan taringnya.
Batin Melvin dalam hati sambil mendekap istrinya.
“Udah sayang, tutup lagi! Nanti ada Steven, saya gak rela Steven sampai melihatnya!” Melvin dengan lembut menutup leher istrinya dengan ujung kerudung dan terlebih dahulu merapikan setiap sudut nya. Lalu ia menatap dalam kearah Sandra yang meneteskan air mata dengan wajah merah padam, nafasnya kembali memburu menahan emosi melihat keromantisan yang dipertontonkan pasangan suami istri tanpa menganggap kehadirannya.
Wanita ini benar-benar kurang ajar! Berani-beraninya dia mengambil Melvin dariku. Dan kulihat Melvin pun seperti mencintainya. Ini menjadi tantanganku, untuk kembali merebut Melvin dari sisinya. Ku yakin, kau masih mencintai ku Vin, tapi kau takut dengan istri mu. Melisa, saatnya kau ku jadikan umpan kembali. Hanya dengan menjebakmu, Melvin pasti jatuh ke pelukan ku.
Meida menatap sebentar kearah Sandra, lalu kembali tersenyum takala melihat wajah suaminya.
“Kami tak mungkin melakukan Making love every night, jika tak saling mencintai. Mbak, saya sebagai istri sah meminta mbak untuk menjauhi suami saya. Masih banyak perjaka di luaran sana selain suami saya yang masih single. Mbak cantik, jangan gunakan kecantikan mbak untuk menggoda suami orang, mubazir! Mbak punya harga diri, Kan? Jangan menginjak-nginjak harga diri mbak sendiri dengan menginginkan suami wanita lain. Karena mbak pun wanita! Suami saya pun sudah mengakhiri kisah cinta kalian 2 tahun lalu, kenapa mbak masih mengejarnya? Apa mbak kehabisan stock pria?”
Tanya menohok Meida dengan menyindirnya. Sandra menatap tajam kearah Meida. Ia merasa Meida seperti mengolok-oloknya, menjatuhkan harga dirinya dengan terang-terangan di hadapan lelaki yang dicintainya. Ia beralih menatap Melvin dengan mata yang di buat sesendu mungkin untuk menarik perhatiannya, agar Melvin membelanya.
“Melvin, aku tahu kamu masih mencintaiku. Namun kamu takut pada istrimu, kan? Satu tahun kita melewati hari-hari bersama? Kau masih ingat dimana kita sering menghabiskan waktu di akhir pekan? Kau masih ingat Hotel Amazon? Hotel dimana kita sering menghabiskan waktu untuk bercinta.” Sahut pelan Sandra dengan wajah semeyakinkan mungkin dan air mata bercucuran berusaha memanas-manasi Meida. Agar kedua orang yang berada didepannya itu bertengkar. Ia berakting seperti orang yang paling teraniaya dan paling terdzolimi diantara 3 orang tersebut.
“Dasar wanita gila! Saya tidak pernah mengajakmu ke hotel, kecuali ketika menghadiri acara kolega bisnis saya. Apalagi sampai bercinta dengan mu! Impossible! Karena saya pertama kali bercinta dengan istri saya. Kau seperti haus belaian, hingga mengarang cerita gila seperti itu.” Sungut Melvin sambil menggebrak meja. Meida pun diam terlebih dahulu untuk berpikir jernih, jika mendengar kata hotel dan kata bercinta itu sangat sensitif di telinganya, apalagi jika berkaitan dengan suaminya.
Dalam hati Sandra pun tersenyum, karena Melvin dan Meida terpancing oleh ucapannya. Kini ia tinggal memanas-manasi Meida agar mereka bertengkar dan rumah tangga mereka berantakan.
“Apa karena ada istri mu kau tak ingin mengakuinya? Naif sekali kamu vin. Lelaki memang sama saja, habis manis sepah di buang! Padahal setiap berakhir pekan kau mengajakku ke sana!” Melvin kembali mengebrak meja dengan tangan yang mengepal keras. Meida yang baru pertama kali melihat suaminya marah langsung membulatkan matanya dengan kaget. Matanya tak beralih menatap wajah merah suaminya yang rahangnya sudah mengeras.
“Hentikan omong kosong mu! Bicaralah sepatutnya, jangan mengada-ada. Apalagi sampai mencemarkan nama baik orang lain, saya bisa menuntut mu! Menghancurkan karir dan perusahaan orang tua mu dalam sekejap, jika kau terus bertingkah, mengusik ketenangan keluarga saya!” Ancam Melvin tak main-main. Sandra menelan salivanya kasar melihat kemarahan Melvin untuk pertama kalinya, ia seperti membangunkan macam yang tengah tidur. Ia pun merasa takut dengan ancamannya. Jarena ia sadar, keluarga Negara adalah orang yang paling berpengaruh nomor 1 di Negara ini.
__ADS_1
Meida mengelus lembut punggung tangan suaminya, lalu mengelus dadanya agar tak terbawa emosi. Ia menatap dalam kearah Sandra dengan tak kalah tajam.
“Jika suami saya sering bercinta dengan mu, tak mungkin dia membobol gawang saya sampai 3 kali dengan waktu berjam-jam dengan keringat yang bercucuran. Karena saya sadar, suami saya belum berpengalaman sama sekali mengenai hal itu. Jadi stop, jangan mengada-ada! Karena saya yang melihat dan merasakan, bagaimana gugupnya dia malam itu!” Sandra membelalakkan mata tak percaya mengenai apa yang diucapkan Meida, yang menegaskan bahwa mereka telah bercinta dengan waktu yang cukup lama. Dan menjadikan pasangan mereka, sama-sama yang pertama untuk satu sama lain.
“Apapun yang wanita ini katakan, aku tak akan mempercayainya. Banyakin Istighfar sayang. Aku tak akan terpengaruh apapun, karena aku telah mempercayai mu sepenuhnya.” Meida mengecup sebentar bibir suaminya untuk mengendalikan amarahnya yang masih bergemuruh. Kebiasaan yang sering suaminya lakukan, jika meredakan amarah atau pun kesal pada dirinya.
Muachh
Meida kembali mengecup bibir suaminya, tanpa menghiraukan keberadaan Sandra yang menatap mereka dengan membelalakan mata.
“Mbak, tolong pergi dari hadapan kami! Atau mau jadi penonton setia? Nanti ngiler loh!” Sandra dengan mengepalkan tangan pergi berlalu dari ruangan itu dengan wajah memerah menahan kekesalan bercampur amarah karena mendapat pengusiran halus dari rivalnya.
Sial! Bukannya berantem, mereka malah semakin mesra. Rencanaku gagal total, dan kini Melvin malah mengancam ku.
“Jangan cemberut, jelek!” Meida kembali mengecup bibir suaminya. Nafas Melvin perlahan-lahan kembali normal, amarah seketika hilang ketika istrinya terus mengecup bibirnya dengan lembut.
Meida membelai lembut wajah suaminya dan kembali mengecupnya.
“Masih marah? Mau aku cium lagi?” Melvin pun menyunggingkan senyumnya. Ia menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung istrinya.
“Kemarahan saya seketika hilang ketika melihat wajah menggemaskan mu. Terima kasih telah mengendalikan emosi saya.” Meida tersenyum dengan merapikan rambut suaminya. Melvin memegang dagu istrinya dan memagut bibirnya dengan lembut dan dalam, sebelah tangannya dengan perlahan memegang pinggang istrinya. Ia menuntun tubuh Meida untuk menyandar di sofa tanpa melepaskan pagutannya.
“Puasa By. Ingat kesepakatan kita tadi pagi, kamu harus puasa dulu sebelum ini nya sembuh.” Melvin mengerucutkan bibirnya. Ia melipat kakinya lalu menyandarkan kepalanya dengan posisi berhadapan dengan istrinya.
“Ini nya masih sakit?” Meida langsung meringis ketika Melvin memegang sebelah buah dadanya yang luka.
“Sayang, jangan di pegang ini sakit!” Meida meringis dengan menggigit bibirnya. Wajahnya memerah menahan sakit yang mulai nyut-nyutan di sebelah dadanya.
“Sayang, maaf! Saya tak sengaja!” Dengan wajah bersalah Melvin mencium wajah istrinya yang sedang menarik nafasnya kasar disertai dengan suara ringisannya.
“By rasanya makin sakit deh setelah kamu pegang. Tadi cuman nyut-nyutan doang, sekarang bercampur sama nyeri.” Melvin memijit lengan istrinya agar tenang. Melihat istrinya yang meringis ia pun tak kalah panik.
“Sini saya periksa dulu! Setelah disini, kita langsung periksa ke rumah sakit.” Meida langsung memukul lengan suaminya dengan kesal.
“Kamu gila By? Aku gak mau di periksa di rumah sakit, yang ada dokter ngetawain kita. Kamu gak sadar, dari leher sampai perut aku banyak brand lokal buatan kamu, apalagi di dadaku. Kamu emang rela ini aku di liat orang lain? Emang kamu mau disebut drakula oleh Dokter?” Melvin menggelengkan kepala dengan wajah bingungnya. Ia menggigit punggung tangannya untuk mencari solusi.
“Yaudah saya periksa sekarang? Jika bengkaknya makin parah, nanti saya konsultasi dengan teman saya.” Meida mencubit perut suaminya dengan kesal bercampur gemasnya.
“Aku gak mau diperiksa disini. Gimana kalau ada yang liat?” Melvin menarik nafasnya kasar. Ia langsung berjalan mengunci pintu dari dalam lalu menutup semua gorden. Ia kembali menghampiri istrinya yang sedang memejamkan mata dengan menggigit bibirnya.
__ADS_1
“Sini saya lihat!” Melvin dengan lembut membuka kancing kemeja istrinya tanpa melepasnya. Lalu mengangkat perlahan tank top putih istrinya ke atas sampai melewati dadanya. Dan kini hanya memperlihatkan bra berwarna abu-abu yang menutupi dua bukit kembarnya.
Melvin membuka kancing bra istrinya dari belakang untuk melihat luka di lingkaran pink istrinya.
“By, pelan-pelan sayang. Ini sakit!” Meida meringis sambil menjambak rambut suaminya, ketika melihat luka di lingkaran pink menyatu dengan kain bra-nya. Karena panik, Melvin langsung melepas kemeja istrinya, lalu menggunting setiap ujung tank topnya, agar terlepas dari tubuh istrinya. Setelah menyisakan bra-nya saja, Melvin membuka perlahan tali bra dari bahu istrinya, lalu membukanya pelan-pelan agar tak menyakiti istrinya.
Melvin diam tertegun melihat lingkaran pink istrinya yang semakin membengkak dan mengeluarkan air di luka bekas gigitannya.
“By, sakit.” Rengek Meida dengan memejamkan matanya, dengan kepala yang menyandar di sofa. Tubuh atasnya sudah tak memakai apapun, hanya kerudung yang menutupi kepalanya.
“Yang, lukanya berair. Salepnya kamu bawa?” Meida menggelengkan kepalanya pasrah. Ia meminta suaminya meniup-niup ujung dadanya yang ukurannya sebesar ujung jari kelingkingnya.
“Aku gak bawa by, malahan sebelum pergi aku lupa memakainya. By sakit!” Melvin meniup-niup p*ting istrinya dengan wajah khawatir percampur panik. Ia mengambil ponsel di atas meja untuk menghubungi temannya yang berprofesi sebagai Dokter, ia sengaja tak menghubungi Jack. Karena yang ada, Jack pasti meledek sekaligus menertawakannya.
-
“Gaun pernikahannya sudah siap semua, Kan?” Tanya Steven kearah 10 karyawan yang akan membawa gaun pernikahan bos nya. Mereka menganggukkan kepalanya serempak sambil mengacungkan jempolnya.
“Siap ko, tidak ada kurang satu pun. Semuanya aman terkendali.”
“Good. Jangan sampai mengecewakan ko Melvin, ini gaun pernikahan untuk istri tercintanya. Saya harap semuanya perfect.” Mereka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Mereka sudah mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk merancang khusus gaun pernikahan bos nya yang terkenal baik, humble, dan sederhana.
“Saya duluan ke atas, kalian ikuti saya!” Perintah Steven sambil melangkah ke lantai atas menuju ruang Melvin.
“Baik Ko Steven.”
-
☕☕☕☕☕
Jum'at Berkah😘🥰♥️
Al-Kahfi Day
Vote, like, komennya jangan pelit-pelit yah. biar otor semangat ngehalu nya wkwkwk
Hatur nuhun baraya sadaya😘🥰😘😘♥️
__ADS_1