
Adzan magrib telah berkumandang 20 menit yang lalu. Melvin masih tergeletak tak sadarkan diri di kasur lipat di ruang tengah. Sementara Buya Hanafi masih berada di masjid, sedang mengajar para santrinya. Nampak Umi Fatimah dan Dokter Aisyah duduk bersisian di samping Melvin.
“Mi, apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Faris? Kenapa Mas Faris kembali seperti ini? Padahal tadi pagi keadaan dia masih baik-baik saja.” Umi Fatimah menolehkan kepalanya kearah Dokter Aisyah yang wajahnya terlihat khawatir. Ia memahami kegelisahan yang dialami wanita yang berada disampingnya, ia dapat menerka bahwa Dokter Aisyah memiliki rasa pada Putra angkatnya. Umi Fatimah kembali menatap wajah Melvin yang terpejam dari 4 jam yang lalu.
“Maaf Nak, Umi belum bisa cerita sekarang.” Jawab Umi Fatimah yang tak ingin menyakiti hati Dokter muda itu. Ia mengusap lembut tangan Melvin yang berkulit putih bersih itu.
“Apa sebegitu rahasianya Mi? Cerita sama Aisyah, mudah-mudahan Aisyah bisa bantu.” Tutur Dokter Aisyah sambil memegang tangan Umi Fatimah dengan senyum menawannya. Umi Fatimah pun menatap dalam wajah Dokter Aisyah dengan mimik wajah serius.
“Nak, setelah Faris kamu periksa. Penyakit apa yang kamu temukan di tubuhnya?” Dokter Aisyah menggelengkan kepalanya. Ia bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Umi Fatimah.
“Mas Faris tak memiliki penyakit apapun Umi. Tubuhnya sehat, Aisyah pun bingung kenapa dia bisa pingsan selama ini.” Jawab Dokter Aisyah yang kembali memandang Melvin dengan raut bingungnya.
“Kamu tak akan menemukan penyakit di tubuhnya. Karena yang sakit bukan jasmaninya, tapi batinnya.” Dokter Aisyah langsung memandang Umi Fatimah dengan wajah bertanya-tanya.
“Maksud Umi?” Umi Fatimah tak langsung menjawab pertanyaan dari Dokter Aisyah. Ia berdiri mengambil remote televisi dan menyalakannya. Lalu Umi Fatimah kembali duduk di samping Melvin yang berseberangan dengannya.
“Apa kamu memiliki rasa pada Faris? Umi mohon kamu jawab jujur.” Dokter Aisyah membelalakkan matanya mendengar pertanyaan umi Fatimah yang terdengar blak-blakan. Ia menggigit bibir dengan menelan ludahnya kasar, ia tak menyangka jika Umi Fatimah mengetahui perasaannya.
"Umi mohon jawab Nak!” Dengan raut wajah yang memerah Dokter Aisyah menganggukkan kepalanya. Umi Fatimah pun hanya memejamkan matanya pasrah. Ternyata benar, wanita yang ada didepannya memiliki perasaan pada Putra angkatnya. Ia menatap nanar kearah televisi dengan pandangan menerawangnya.
“25 hari yang lalu, para santri menemukan Faris di gerbang Pesantren dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Wajah penuh lebam, tubuh penuh luka, darah kering di sekujur tubuhnya, hingga tangannya yang terikat. Kau tahu alasannya kenapa dia sampai disini?” Dokter Aisyah pun kembali menggelengkan kepalanya dengan wajah menyimaknya. Karena untuk pertama kalinya Umi Fatimah menceritakan tentang asal usul Melvin, lelaki yang berhasil mencuri hatinya.
“Dia sampai disini, sampai ke kampung kita yang terletak di pelosok ini karena diasingkan oleh keluarganya. Karena dia memilih menjadi seorang Muslim, dia seorang Mualaf Nak.” Tutur Umi Fatimah sambil mengelus kepala Melvin yang masih betah menutup mata. Dokter Aisyah membulatkan matanya tak percaya.
“Jadi Mas Faris itu seorang mualaf Mi? Darimana dia berasal? Apa jangan-jangan dia berasal dari Surabaya.” Tebak Dokter Aisyah dengan wajah terkejutnya. Otaknya pun kembali berpikir, apa orang yang selama ini dilihatnya dari berita itu adalah orang yang tergeletak didepannya sekarang.
“Ya benar. Dia berasal dari Surabaya. Umi dan Buya pun terkejut mendengar pengakuannya bahwa dia berasal dari keluarga kaya yang wajahnya sering kami lihat di televisi,” ujar pelan Umi Fatimah sambil menyelimuti tubuh Melvin sama kedadanya. Ruang itu tiba-tiba hening, yang terdengar hanyalah suara obrolan dari televisi.
“Apa jangan-jangan mas Faris adalah Melvin Nagara Mi? Anak orang terkaya yang hilang semenjak berita keislamannya?” Umi menganggukkan samar kepalanya menjawab keterkejutan dari wajah Dokter Aisyah.
“Ya. Faris adalah Melvin! Dia menyuruh kami memanggilnya Faris agar tak ada orang yang mengenalinya. Dan sampai sekarang, warga disini memanggilnya dengan sebutan Faris. Padahal itu hanyalah nama samarannya.” Dokter Aisyah pun kembali menelan ludahnya kasar. Ia sungguh tak percaya, orang yang selama ini dikaguminya ternyata ada didekatnya.
__ADS_1
“Yaa Allah. Umi seriuskan dengan ucapan Umi? Rasanya Aisyah tak percaya Mi. Walaupun Aisyah sering melihat wajahnya di televisi, tapi Aisyah tak menyangka dia adalah anak orang kaya itu. Aisyah serasa mimpi, lelaki yang Aisyah Cintai ternyata orang yang selama ini Aisyah kagumi.” Tutur Aisyah dengan wajah sumringah bercampur malu. Ia bahagia, karena Melvin selama ini adalah orang yang sangat dikaguminya. Pengusaha muda sukses yang digandrungi kaum hawa salah satunya dirinya.
Umi Fatimah pun menggenggam erat tangan Dokter Aisyah yang sedang tersenyum lebar dengan wajah menghibanya.
“Nak Aisyah, walaupun ini menyakitkan. Umi mohon hapuslah rasa cinta itu agar tak semakin dalam, karena yang umi takutkan, kamu akan terluka Nak.” Senyum lebar di wajah Dokter Aisyah tiba-tiba lenyap. Kini ia yang bergantian memandang dalam wajah umi Fatimah.
“Maksud Umi? Jangan bilang Umi menyuruh Aisyah menghapus rasa cinta yang Aisyah miliki untuk Mas Faris?” Tanya nya sambil memandang tak percaya kearah umi Fatimah. Dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangannya.
“Nak. Umi mohon kamu hapus rasa cinta itu agar kamu tak terluka nantinya. Faris bukan untukmu! Masih ada Faris lain yang menantimu disana.” Tutur Umi Fatimah dengan lembut. Ia berharap wanita yang berada di depannya dapat mengerti apa yang telah dituturkannya.
“Apa karena Aisyah dan Mas Faris berbeda strata dan kasta, lantas Umi meminta Aisyah untuk menghapus cinta murni yang Aisyah miliki? Apa karena itu Mi?” Tanya Dokter Aisyah dengan nada suara yang sedikit meninggi. Ia mulai terbawa emosi takala Umi Fatimah mengusik perasaannya. Umi Fatimah pun paham apa yang dirasakan wanita yang berada didepannya, ia akan memberi pengertian selembut mungkin agar wanita yang ada didepannya dapat mengerti.
“Maksud Umi tidak seperti itu Nak. Kamu berhak menentukan cinta mu pada siapapun. Tapi jangan pada Faris, umi takut kamu terluka. Umi tak ingin melihatmu terluka, karena kamu sudah Umi anggap sebagai anak Umi sendiri.” Dokter Aisyah malah menatap tajam Umi Fatimah dengan tatapan menyelidiknya. Raut wajah kecewanya sangat kentara terlihat dari wajahnya yang mengenakan hijab abu-abu itu.
“Umi tahu darimana jika Aisyah mencintai Mas Faris, Aisyah akan terluka?” Umi Fatimah dengan wajah sendunya menunjuk kearah Melvin dengan ekor matanya.
“Nak lihatlah kondisi Faris sekarang! Ia sudah berjam-jam tak sadarkan diri. Kamu tahu alasannya dia sampai seperti ini?” Tanya Umi Fatimah dengan mata berkaca-kaca. Ia memutuskan untuk memberitahu Dokter Aisyah, agar tak semakin berharap pada Melvin yang ujung-ujungnya akan mematahkan hatinya.
“Dia kembali tak sadarkan diri, setelah mendengar kondisi calon istrinya koma. Dia sangat mencintai calon istrinya sampai seperti ini. Dia sudah memiliki tambatan hati. Jika kamu memaksa mencintainya, yang ada kamu yang malah terluka Nak. Inilah alasannya kenapa Umi melarang mu untuk mencintainya, karena umi menyayangi mu.” Dokter Aisyah membulatkan matanya. Matanya tiba-tiba memanas mendengar perkataan Umi Fatimah, hatinya merasa sakit ketika mengetahui Lelaki yang dicintainya sudah memiliki calon pendamping hidup.
“Kamu tahu, dia sampai beberapa kali pingsan karena merindukan calon istrinya. Buya sering memergokinya menangis tengah malam di Masjid, untuk mendoakan calon istrinya supaya baik-baik disana dan menunggunya pulang. Dari sana kamu pasti tahu, sebegitu besar cintanya untuk calon istrinya.” Dokter Aisyah menundukkan kepalanya. Ia tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba menetes, rasa cintanya yang berbunga-bunga seakan ditarik kembali pada rasa luka.
“Umi tahu kamu pasti sakit ketika mendengar kenyataan ini. Lebih baik sakit sekarang daripada nanti, ketika kamu sangat berharap padanya. Maafkan umi, umi terpaksa memberitahu mu, agar kamu tak banyak berharap pada Faris Nak.” Umi Fatimah menggeser posisinya kearah Dokter Aisyah sambil mengelus lembut bahunya. Karena ia melihat, bahu dokter muda itu bergetar karena menangis.
“Apa Umi tahu siapa calon istrinya? Apa Mas Faris pernah menceritakannya pada Umi?" Lirih Dokter Aisyah yang kembali menatap wajah Umi Fatimah dengan bulir-bulir air mata diwajahnya. Nampak jelas kekecewaannya terlihat dari manik-manik matanya.
“Kamu akan segera mengetahuinya Nak.” Umi Fatimah menolehkan kepalanya kearah layar televisi dengan pandangan serius. Ketika melihat kearah Andress yang sedang duduk di kursi dengan mengenakan kemeja berwarna biru laut yang dilapisi oleh jas putih kebesarannya, ia duduk didampingi Jack dan pengacara Daddy-nya yang mengenakan pakaian yang sama dengannya. Puluhan wartawan berdiri di depan mereka dengan jarak sekitar 2 meter dengan membawa kamera dan micropon.
Untuk satu jam ke depan Lobby rumah sakit Hospital Internasional itu akan tutup, karena ruangannya dipenuhi oleh para wartawan dan bodyguard keluarga Atmadja yang sedang melakukan siaran langsung.
“Lihatlah ke layar televisi! Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri!” Dokter Aisyah pun memandang kearah televisi dengan menyusut air matanya. Lalu ia pun melihat kearah layar televisi dengan serius mengikuti umi Fatimah.
__ADS_1
Disana, terlihat Andress dengan wajah cool dan rasa percaya dirinya mengambil micropon. Wajahnya nampak serius menghadap ke depan, ia mulai mengawali jumpa pers malam ini yang ditayangkan secara live oleh seluruh stasiun televisi negeri ataupun swasta.
[Selamat malam,]
Sapa Andress dengan pandangan lurus ke depan. Seluruh kamera yang berada di ruang itu hanya fokus mengarahkan padanya, Jack, dan Pak Albert Hutapea, Kuasa hukum sekaligus Notaris mendiang Maxime Atmadja.
Umi Fatimah dan Dokter Aisyah nampak serius melihat kearah layar, sampai tak menyadari dengan kehadiran Buya Hanafi dan Hanif yang sudah berdiri di belakang mereka.
[Perkenalkanss Putra Atmadja. Putra sulung dari Gilbert Atmadja. Di samping sebelah kanan saya adalah Jakson Alexander sepupu lelaki saya, dan di sebelah kiri saya adalah Pak Albert Hutapea selaku Kuasa Hukum keluarga kami.] Andress memperkenalkan satu persatu orang yang berada di sampingnya lalu kembali menatap ke depan dengan aura penuh wibawanya.
[Berdirinya saya disini, saya akan mengklarifikasi berita-berita tentang keluarga kami yang booming akhir-akhir ini di sosial media. Saya disini, mewakilkan kehadiran Daddy saya yang berhalangan hadir, karena sedang mengurus Administrasi keberangkatan Adik saya Jaslin yang akan diterbangkan ke Jepang untuk melakukan pengobatan.] Andress pun berdiri dari posisi duduknya.
“Mi, apa wanita yang koma itu adalah calon istrinya mas Faris? Apa dia benar-benar calon istrinya?” Tanya tak percaya Aisyah dengan menangis tergugu. Umi Fatimah pun menganggukkan lemah kepalanya.
“Benar. Wanita yang akan diterbangkan ke Jepang itu adalah calon istrinya. Jaslin anak dari pemilik Rumah Sakit besar itu memang wanita yang dicintai Faris Nak. Umi mohon kamu mengikhlaskannya .... Karena tak mungkin Faris membuka hati, sementara dia sangat mencintai wanita itu.” Dokter Aisyah menggigit bibirnya keras. Ia baru saja membuka hati untuk Melvin, dan baru sekejap saja ia sudah langsung terluka.
“Mungkin ini menyakitimu. Tapi percayalah, kamu pasti menemukan pengganti yang lebih baik dari Faris.” Umi Fatimah memeluk tubuh Dokter Aisyah dengan mengelus pundaknya. Sementara Buya memandang Hanif yang sedang tercengang dengan menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan agar Hanif tak membicarakan kepada siapapun yang di lihat dan di dengarnya malam ini. Mereka berdua diam membiarkan kedua wanita itu saling berpelukan. Umi Fatimah, Buya Hanafi dan Hanif kembali menatap kearah televisi. Sementara Dokter Aisyah masih menangis dipelukan umi.
[Sebelumnya saya atas nama keluarga besar Atmadja, meminta maaf yang sebenar-benarnya atas berita yang membuat publik tak nyaman, dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga kami.] Andress pun membungkukkan tubuhnya pertanda minta maaf dan kembali duduk di kursinya.
[Saya akan menjelaskan semuanya dengan transparan mengenai keluarga kami tanpa ada yang di tutup-tutupi. Walaupun sebenarnya saya enggan mengatakannya, karena ini merupakan aib keluarga kami.]
-
Wilujeng dinten senen🤗
☕☕☕☕☕☕☕
Tong hilap Like, komen, Vote, sareng hadiahnya mumpung hari senin🤗🥰🥰
Hatur nuhun🤗🥰🥰🥰♥️♥️♥️♥️
__ADS_1