
Malam hari, Ballroom hotel kini telah di padati para tamu yang sudah memenuhi ruang tersebut. Cahaya lampu yang menderang, menyoroti dengan jelas wajah para tamu yang duduk melingkar di kursi berwarna putih.
Puncak acara telah di mulai sejak 30 menit yang lalu. Alunan musik pengiring dansa telah terdengar, puluhan pasangan mulai turun untuk berdansa mengikuti alunan musik yang sudah di putar di ruang tersebut.
Di ujung sana, nampak seorang wanita memisahkan diri dari keramaian, duduk sendirian di pojok ruang dengan mata terus menatap ke depan, sekali-kali matanya menelisik ke penjuru ruang, mencari orang yang di burunya sedari tadi. Senyum lebar dengan sorot mata yang berbinar kembali terlihat takala melihat tingkah lucu sepasang pengantin yang sedang duduk di atas pelaminan yang sedang memijit kaki mereka masing-masing karena pegal.
“Boleh saya duduk disini?” Melisa mengusap dadanya lalu menolehkan kepala kearah samping dengan tersenyum, mempersilahkan Jack yang berdiri seorang diri untuk duduk di sampingnya.
“Tumben kamu sendirian, biasanya juga suka barengan sama Kak Andress? Kalian seperti pasangan tak terpisahkan.” Jack mengedikkan bahunya dengan mencebikkan bibirnya.
“Tadi dia keluar ruangan ketika saya sedang makan. Saya tak tahu sekarang dia dimana. Kangen yah nanyain dia?” Tanya Andress dengan nada suara tak suka, tangannya menggeser kursi lalu mendekat kearah Melisa. Melisa memanyunkan bibirnya lalu meminum air yang berada di meja nya.
“Nanyain bukan berarti kangen Jack. Aku sudah move on.” Sahut Melisa sambil melap bibirnya menggunakan tisu. Ia menggigit bibirnya dengan tangan menumpu wajahnya.
“Serius udah bisa move on? Atau hanya pura-pura move on?” Tanya menyelidik Jack seraya duduk di samping Melisa yang berada di pojok ruangan dekat pintu utama. Ia melipat tangannya, menatap dalam wanita yang berada disampingnya.
“Untuk apa aku pura-pura Jack? Aku tak bisa hidup dengan penuh kepura-puraan. Bukankah hidup normal lebih baik?” Sahut Melisa seraya merapikan rambut yang di sanggul rendah, yang memperlihatkan leher jenjang nya. Ia berdiri untuk merapikan dress berwarna pastel yang memperlihatkan pundak polos dengan brukat yang menutupi lengan tangannya. Jack pun spontan berdiri merapikan ujung dress panjang nya yang menyentuh lantai.
Jack jangan seperti ini, jangan membuatku semakin mengagumimu. Jantungku berdebar-debar ketika melihat mu seperti ini.
Melisa tenang! Kamu hanya mengaguminya bukan mencintainya. Batin Melisa menatap kagum kearah Jack yang sedang berjongkok merapikan ujung dress-nya.
“Good! Kenapa kamu memisahkan diri disini? Kenapa tidak bergabung dengan keluarga mu? Atau ikut dansa bersama mereka?” Tanya Jack menyadarkan lamunannya. Ia kembali berdiri, dengan merapikan Jas mocca yang dikenakannya. Melisa mengedikkan bahu mengajak Jack menepi dari ruang itu menuju balkon yang berada di ujung ruang tersebut. Untuk berjalan kesana, ia harus berjalan memutari pelaminan dan melewati kumpulan para tamu yang sedang berdansa di lantai.
“Aku nyaman disana. Karena bisa dengan jelas melihat pasangan pengantin baru itu, sekaligus ingin memastikan seseorang tidak datang kesini. Untuk dansa, aku tak mungkin dansa sendirian seperti orang gila. Kamu tahu sendiri, I don't have boyfriend.” Jawab jujur Melisa blak-blakkan sambil tertawa renyah. Jack yang berdiri disampingnya pun tersenyum simpul, memamerkan lesung pipinya. Ia sangat menyukai kepribadian Melisa yang apa adanya, terbuka, humble, dan tidak di buat-buat. Mereka berjalan bersisian layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
“Gak usah dijelasin, karena saya tahu kamu Jomblo.” Melisa memanyunkan bibirnya dengan mencubit lengan Jack yang sedang meledeknya. Jack pun tertawa sambil menepis pelan tangan Melisa yang sedang mencubik lengannya. Beberapa orang yang duduk melingkar di meja melihat kearah mereka dengan penuh tanda tanya.
“Gak usah di perjelas Jack, karena kamu pun Jomblo. Sesama jomblo jangan saling meledek.” Jack pun kembali tertawa seraya melambaikan tangan kearah Melvin dan Meida yang sedang menatap mereka sambil senyum-senyum dari atas pelaminan.
“Mereka sangat serasi, seperti Pangeran dan Putri Raja dari Negeri dongeng. Senyum mereka terus mengembang, wajah mereka terlihat sangat bahagia.” Ujar pelan Jack sambil tersenyum menunjuk kearah pelaminan dengan dagunya. Lalu ia menundukkan wajahnya hormat ketika berpapasan dengan orang yang dikenalnya, terutama rekan kerja seprofesinya di rumah sakit.
__ADS_1
“Mereka memang serasi. Perjuangan cinta mereka sangat luar biasa. Masalah demi masalah berhasil mereka lewati, dan berakhir bahagia seperti sekarang.” Sahut Melisa dengan memamerkan senyum termanisnya. Dress panjang nya dibiarkan tergerai menyapu sepanjang lantai yang mereka lewati.
Di pelaminan, nampak Helena dan Zaina tersenyum kearah mereka, dengan mata sama-sama memupuk banyak harapan dan do'a. Melihat pasangan yang sedang bercengkrama dengan sesekali tertawa.
“Cinta mereka sangat luar biasa. Saya kagum dengan Melvin, dia rela meninggalkan semuanya hanya untuk Meida yang notebenenya dulu bukan siapa-siapa, yang hanya karyawan biasa di perusahaannya.” Melisa menganggukkan kepala mengiyakan perkataan lelaki disampingnya. Ia pun tak menyangka, niat jahilnya pada Melvin, kini berbuah jodoh untuk Koko-nya.
“Ketangguhan cinta Melvin, dan kesabaran Meida, hingga berbuah manis seperti sekarang. Kadang terbesit dalam hati saya, ada sedikit rasa iri pada mereka.” Ujar pelan Jack dengan memasukkan sebelah tangan ke kantong jasnya. Melisa langsung memandang Jack yang berada disampingnya sambil mengerutkan keningnya.
“Iri? Apa yang membuat mu iri?” Jack menghela nafasnya. Ia mengambil bunga tulip yang berada di vas bunga, lalu menghirupnya. Lalu ia memberikan bunga itu pada Melisa untuk di hirup.
“Mereka telah menemukan tulang rusuk mereka masing-masing. Sedangkan saya, masih sibuk dalam pencarian.” Melisa menerima bunga itu dengan tersipu malu. Wajahnya memerah terlihat sangat kentara, karena tersorot lampu.
-
Di rooftop hotel, nampak seorang wanita muda sedang berdebat dengan ayahnya. Wanita itu nampak menangis sesenggukan menepis tangan ayahnya yang sedang membujuknya. Tangis wanita itu semakin kencang, ketika mengingat lelaki yang dicintainya menikah dengan wanita lain.
“Papa kenapa mengajak I (Aku: Inggris) kesini! I jauh-jauh datang dari Beijing kesini, untuk melihat resepsi lelaki yang I cintai. Papa jahat! I tak menyukai tempat ini! Papa bilang kita akan holiday ke Bali, tapi malah mengajak I menghadiri resepsi pernikahan Kak Melvin!” Lelaki paruh baya keturunan Chinese itu mengusap bahu anaknya yang terguncang. Ia mengelus-elusnya lembut untuk menenangkan perasaan anaknya.
“Tapi papa jangan bawa I ke tempat ini. Papa pasti melihat perjuangan I mendapatkannya seperti apa ketika dia berada di Beijing? I sampai merelakan waktu I untuk merebut hatinya, walaupun dia selalu menghindari I. I tidak mau mengucapkan selamat pada Kak Melvin! I gak mau ke bawah! I masih betah disini!” Lelaki paruh baya itu menghela nafasnya kasar. Putrinya sangat keras kepala, ia sampai sulit untuk membujuknya. Ia sangat mengetahui kisah percintaan Putrinya yang tak semulus kariernya. Putri satu-satunya yang periang dan cantik, sudah lama mengejar Putra dari rekan bisnisnya yang masih memiliki hubungan kekeluargaan. Namun sayang, sang pria tak meresponnya sama sekali, dan malah menghindari putri-nya karena tak menyukai sikap yang terang-terangannya.
“Yaudah, terserah you jika masih mau disini. Asal you jangan bertingkah macam-macam. Ingat! Melvin sudah menikah, jangan mengganggu rumah tangga nya! Kita disini untuk menghadiri resepsi pernikahannya, bukan untuk berbuat ulah.” Wanita muda itu mengerucutkan bibirnya dengan sesenggukan. Ia melepas high heels nya lalu di lempar ke tong sampah sebagai bentuk protes pada Papihnya.
“Iyaiya I tahu! I tak mungkin mengganggu rumah tangga orang lain. I tak serendah itu! I hanya patah hati saja! Papa pahamlah sedikit perasaan I seperti apa sekarang. Pantas saja waktu I menghadiri anniversary perusahaan Nagara, Melvin tidak ada, ternyata dia benar-benar sedang bersama kekasihnya. I kira berita itu bohong, nyatanya benar.” Tangis kencang wanita itu kembali terdengar seperti anak kecil dengan menghentak-hentakkan kakinya. Ia tak memperdulikan sekelilingnya, ia hanya ingin meluapkan isi hatinya yang terluka dengan menangis. Patah hati rasanya ternyata tak enak.
“Sudah jangan menangis lagi. Percuma, air mata you tidak akan berubah menjadi mutiara seperti Putri duyung! Apa you tidak lelah menangis sedari tadi? Jika di kumpulkan, mungkin air mata you sudah seember. Oke oke papa akan membiarkan you disini. Papa pegang perkataan you! Papa turun dulu ke bawah, mama you sudah menunggu disana!” Wanita itu tak menggubris perkataan papa nya, ia masih menangisi takdir dirinya. Yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba di ajak menghadiri resepsi pernikahan Melvin, cinta pertamanya sejak pertemuan pertama mereka. Takdir hidup itu ada 2, antara mengundang atau menjadi tamu undangan.
“Iya pergi sana! I tak mungkin gantung diri disini karena tak ada tali. Loncat pun ketinggian, I tak berani! I belum mau mati, I belum menikah dan punya anak. Cepat papa pergi ke bawah!” Lelaki itu menahan tawa dengan pipi mengembung dengan wajah memerah mendengar perkataan konyol anaknya yang sedang patah hati di tengah isakannya. Jika sedang bersedih, sikap centil anaknya pun menghilang, berubah menjadi melow seperti ini.
“Iya. You jangan dulu mati, dosa you masih banyak sama papa. Hutang you belum di cicil, kreditan you banyak yang nunggak. Papa tak mau membayarnya! Usahakan jangan mati dulu.” Ledek lelaki itu sambil mengacak-acak rambut Putrinya yang sebahu. Wanita itu langsung menghentikan tangisnya menatap papa-nya dengan kesal.
“Papa nyebelin! Pergi sana! Jangan meledek I terus. I lagi patah hati, I butuh sendiri!” Teriak kesal wanita itu sambil mendorong tubuh papa nya yang sedang menahan tawanya. Lelaki itu pun menuruti keinginan putri-nya. Ia berdiri dengan memegang kedua bahu Putrinya yang mengenakan dress membentuk kerah V, dengan lengan pendek.
__ADS_1
“Iyaiya. Papa ke bawah! Jaga diri you baik-baik. Ingat, stock cowok masih banyak. Jangan jadi bodoh karena cinta. Nanti you papa kenalin sama anak nya pak Udin supirnya Oma di Malang. Papa yakin, nanti you pasti langsung jatuh cinta ketika melihatnya.”
“Dasar orang tua nyebelin! Bukannya mensupport anaknya, ini malah ngeledek. Apa I benar-benar anak papa?” Lelaki itu pun tertawa terbahak-bahak sambil berjalan menuju pintu masuk.
“You anak yang papa temukan di bawah ranjang mama-mu haha.” Wanita itu kembali melempar sebelah high heels ke tong sampah, seiring Tawa renyah papa-nya yang menghilang di balik lift yang membawanya menuju lantai bawah.
I kayak orang stress nangis disini. Tapi gak papalah, mumpung tidak ada orang. I butuh tempat untuk meluapkan kesedihan I.
Tuhan, cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit. Apalagi I di tinggal nikah. Miris sekali nasib I. Padahal I sudah bahagia akan berlibur ke Indonesia, tapi kebahagiaan I berubah menjadi air mata ketika melihatnya di pelaminan seperti tadi.
Gumam pelan wanita itu sambil berdiri di samping balkon. Ia memejamkan matanya dengan sesenggukan lalu berteriak.
“Tuhan, jodoh I dimana????” Teriaknya dengan sekuat tenaga. Ia tak menyadari kehadiran seorang pria yang menatapnya dari belakang dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Orang stress baru karena cinta, yah begini. Saya aja waktu patah hati, gak gini-gini amat. Batin lelaki itu, Ia duduk di kursi di belakang wanita itu, dengan terhalang vot besar. Kemudian ia pun berteriak.
“Jodoh mu berada di kolong jembatan layang!” Wanita itu semakin menangis tergugu memegang erat kearah pagar besi yang membentang di sepanjang sisi rooftop tersebut.
“Apa jodoh I seorang pengemis atau seorang pemulung?” Teriak wanita itu kembali dengan masih memejamkan matanya. Sedangkan pria yang berada di belakangnya menahan tawa, melihat kekoyolan wanita yang berada didepannya.
“Jodoh mau nya yang mana haha?” Wanita itu langsung membuka matanya ketika mendengar suara tawa seorang pria dibelakangnya. Ia membalikkan tubuhnya, dan melihat seorang pria yang sedang melipat tangan menertawakannya.
“Youuu, siapa you? Ngapain you disini? You seorang penguntit? ” Lelaki itu menghentikan tawanya. Ia melipat tangannya dengan wajah santai.
“Saya mau menanyakan Jodoh saya sama Tuhan, biar kelihatan kayak orang stress haha.” Wanita itu langsung membelalakkan mata dengan mata melotot. Ia menolak pinggang menghampiri lelaki yang mengejeknya.
“You mengejek I?” Lelaki itu mengedikkan bahu seraya mengangkat kedua tangannya.
“Menurut you?”
-
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕☕☕