
“You mengejek I?” Lelaki itu mengedikkan bahu seraya mengangkat kedua tangannya. Ia memanyunkan bibir bawah dengan menggaruk pelipisnya.
“Menurut you?” Wanita muda dengan dress selutut itu menatap tajam wajah lelaki di depannya dengan melipat tangan. Lelaki itu membuang muka ke samping, menahan tawa ketika melihat maskara luntur di matanya.
“You nyebelin sama kayak papa I. Mau you apa hah?” Lelaki itu pun berdiri dengan cool, kedua tangan ia masukan ke dalam kantong celananya. Langkahnya penuh kharisma, dengan sorot mata mengintimidasi lawannya. Ia menghampiri wanita yang berada dihadapannya dengan senyum mengejek. Tatapan mereka sama-sama menyiratkan permusuhan.
“Sorry, Saya bukan papa you. You mau tahu apa mau saya? Saya mau you berhenti berteriak, karena suara you bikin kuping saya budeg. Ini bukan hutan belantara, ini perkotaan. Jika you frustasi karena hidup, you bisa teriak di atas jembatan layang, kalau capet you tinggal loncat. Beres, Kan? Jangan disini, mengganggu ketenangan orang saja!” Ucap tajam lelaki itu yang tak lain adalah Andress yang sedang menepi dari keramaian pesta, ia sengaja menyendiri di rooftop untuk mencari udara segar. Mendengar ucap tajam Andress, wanita itu langsung mengepalkan tangan dengan mata melotot.
“You jangan ngomong sembarangan yah! I gak Frustasi! I hanya menyendiri disini. You jangan mengganggu ketenangan I, mau I sobek bibir dower you?” Andress menyunggingkan senyum sinis nya. Menelisik tajam wanita keturunan Chinese yang sama dengannya. Namun, mata wanita itu sedikit bulat, tidak sipit sepertinya.
“Ngomongnya gak frustasi, tapi you teriak-teriak disini sambil nangis seperti orang gila. You tahu? Itu salah satu gejala Frustasi. Lihatlah! Saking frustasinya, you sampai tak mengenakan alas kaki. Terus satu lagi, you jangan mengatakan bibir saya dower, wajah you aja lecek seperti baju yang tidak di setrika! Badan aja gede, kelakuan kayak bocah yang gak kebagian permen. Malu noh sama ingus! Kalau nangis matanya aja, hidung jangan sampai ikutan.” Ledek Andress seraya menunjuk hidung perempuan dihadapannya yang berair. Wanita itu langsung membulatkan mata, menyusut hidungnya menggunakan tangan.
“You ngeledek I? I gak ada ingusan, ini air mata I. Dasar lelaki gila!” Sungut wanita itu seraya berjalan kearah tong sampah mencari high heels yang dilemparnya.
“Orang you yang sinting, kenapa ngatain saya gila? Akibat frustasi, you sampai ngacak-ngacak tong sampah, patah hati benar-benar membuat orang tak waras.” Sewot Andress seraya berdiri di samping pagar besi.
“You ngatain I sinting? I waras! I sedang mencari high heels yang I lempar tadi. You jangan sembarang ngomong yah, jika tidak ingin terkena pidana!” Ancam wanita itu terus mengacak-acak tong sampah untuk mengambil high heels yang tertimbun botol bekas.
“Wanita benar-benar aneh! Ngapain di lempar jika akhir-akhirnya di cari. Buang-buang waktu saja!” Ketus Andress yang mendapat lemparan beberapa botol bekas di kakinya.
“Suka-suka I lah! Ngapain masih disini, sana pergi!” Usir wanita itu terus melempar botol dengan wajah jengkel. Andress pun dengan wajah kesal menendang botol itu kearah kakinya
“Suka-suka saya dong! Ini tempat umum, bukan tempat milik you! Jika memang milik you, baru you berhak ngusir saya.” Wanita itu melipat tangannya dengan wajah tak percaya. Ia mengelus-ngelus dadanya untuk bersabar menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan dari lelaki yang pertama kali ditemuinya.
“Ckckck you benar-benar menyebalkan! Hari ini I benar-benar sial bertemu dengan you.” Sungut kesal wanita itu sambil mengenakan kembali kedua high heels yang dibuangnya.
“Saya pun sial, bertemu dengan you wanita sinting.” Sewot Andress sambil mengibaskan jasnya. Wanita itu langsung memukul bahu Andress dengan keras lalu memegang kerah kemejanya,
“You sebut I yang cantik ini wanita sinting. Periksa mata you ke Dokter mata!” Wanita itu mendorong keras tubuh Andress hingga terjatuh ke kursi kayu.
__ADS_1
“Dasar wanita sinting! Muka mirip ikan badut aja kepedean.” Sungut Andress menepuk-nepuk tangannya dengan kesal.
“You aja belagu, muka kayak kuda nil aja berani menghina orang!” Sebelum pergi, wanita itu kembali melempar satu botol plastik ke tubuh Andress dengan menyunggingkan senyum sinisnya.
“Dasar wanita sinting!”
-
“By, kita kabur yuk dari sini! Kakiku pegal, perutku lapar. Kita gak bisa makan dari tadi, baru satu suap aja harus di tunda dulu, karena harus menyalami para tamu undangan yang terus berdatangan. Tanganku kebas By.” Bisik Meida ke telinga Melvin yang sedang memainkan ponsel melihat foto-foto selfi mereka berdua setelah berganti pakaian tadi. Melvin menolehkan kepala kearah istrinya dengan memasukkan ponsel ke dalam kantong tuxedo berwarna putih gadingnya.
“Kamu lapar sayang? Yaudah kita pergi aja dari sini! Lagian ini sudah jam 9 malam. Untuk tamu biar orang tua kita yang handle. Karena tamu jam sekarang, kebanyakannya teman sosialita Mamih dan rekan kerja Papih.” Sahut Melvin seraya memegang lengan istrinya untuk berdiri. Meida dengan perlahan berdiri dengan menahan rasa pegal yang mendera dari kaki sampai pinggangnya. Karena sedari pagi, dia berdiri di atas pelaminan bersama suaminya karena membeludaknya para tamu.
“Kakiku udah gak kuat berdiri by. Rasanya sakit banget!” Melvin memendarkan pandangan ke segala arah. Ia melihat mertua dan orang tuanya yang sedang asik bercengkrama dengan rekan dekatnya.
“Yaudah kita pergi aja! Mumpung Daddy dan Papih lagi asik ngobrol sama rekan kerja nya. Mamih dan Mommy pun sedang sibuk dengan teman sosialita nya. Ini kesempatan kita untuk kabur!” Tunjuk Melvin kearah Zaina dan Helena yang sedang tertawa dengan teman-teman sosialitanya di meja depan. Meida langsung menganggukkan kepala dengan menggenggam erat tangan suaminya. Mereka dengan perlahan-lahan turun dari atas pelaminan kemudian berjalan kearah belakang yang merupakan ruang serba guna khusus pengantin. Di belakang ruang serba guna itu terdapat lift khusus yang jarang digunakan.
“Kamu masih kuat jalan sayang?” Meida dengan lemah menganggukkan kepala. Melingkarkan tangannya erat ke tangan suaminya untuk menumpu tubuhnya agar tidak terjatuh. Kebetulan di ruang serba guna itu hanya ada beberapa orang MUA dan Assisten rumah tangga yang menatap mereka dengan tersenyum.
“Mbak, bisa bantu angkat ujung gaun istri saya yang terjuntai ke lantai? Kami ada keperluan sebentar ke lantai atas. Mbak pegangnya sampai depan pintu lift aja kok.” Perempuan itu pun menganggukkan kepala, mematuhi keinginan Melvin untuk mengangkat ujung gaun Meida yang berwarna putih gading yang menjuntai panjang ke lantai.
“Baik Tuan.” Perempuan itu seperti Bridesmaid. Padahal Bridesmaid mereka tengah wara-wiri dengan pasangan nya.
“Terima kasih mbak.” Ucap Meida kepada perempuan yang membantu memegang ujung gaun panjangnya, ketika mereka sudah sampai di depan lift.
“Sama-sama Nyonya. Saya permisi dulu!” Perempuan itu pergi meninggalkan mereka berdua yang berdiri mematung menunggu lift terbuka.
“By, tolong bukain high heels aku!” Melvin menjongkokan tubuhnya lalu membantu Meida untuk melepaskan high heels 12 cm yang digunakan sedari tadi. Setelah pintu lift terbuka, Meida pun menenteng high heels nya dengan tubuh di bopong suami tercintanya.
-
__ADS_1
“Kamu kenal Meida dari mana?” Tanya Jack seraya menuntun Melisa mengelilingi taman balkon hotel. Di taman itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang berbincang di kursi besi yang di temani temaran cahaya lampu taman. Melisa menundukkan wajah, mengingat pertemuan pertama dengan kakak iparnya.
“Pertemuan pertama kami, ketika dia menyelematkan ku dari beberapa preman yang ingin memperk*sa ku di rumah kosong. Kamu tahu, awal bertemu dia aku pun terkejut. Wanita bertubuh mungil, pemberani, dan imut, menantang 5 preman untuk berkelahi dengan nya. Dan yang membuat aku shock, dia berhasil mengalahkan 5 preman itu di depan mataku, hanya dalam waktu beberapa menit saja. Dia benar-benar jelmaan dari Bong Soon, wanita kuat yang sering kulihat di drama korea. Dan dari sana, aku mulai mengaguminya.” Jelas Melisa dengan antusias menceritakan awal pertemuannya dengan Meida. Ia mengagumi kepiawaian kakak iparnya dalam hal bela diri yang di atas rata-rata.
“Karena masih shock, dia membawaku ke kostannya yang berada di dalam gang. Dia memberiku makan, mengurus ku dengan telaten, dan menenangkanku yang masih ketakutan. Cara berpikirnya sangat dewasa melebihi ku, padahal usianya lebih muda dari ku. Dan setelah aku tenang, dia mengantarkan ku pulang menggunakan taksi. Dan sejak itu kami saling terhubung, aku merasa punya hutang budi yang sangat besar pada Meida, walaupun dia sangat tulus membantuku. Kalau kau Jack, dari mana awal kenal dengan Meida?” Jack pun tersenyum dengan kaki menendang pelan kerikil yang berada didepannya. Pandangannya menerawang kearah lampu taman, mengingat pertemuan awal mereka.
“Pertama kali saya bertemu dengan Meida, ketika selesai melaksanakan shalat isya di masjid alun-alun kota. Waktu itu dia sedang menangis di pelataran masjid lalu saya menyapanya. Dari sana dia menceritakan kehidupannya, yang merupakan seorang perantau dari Bandung untuk mencari keluarganya di kota ini. Tapi harapannya seakan pupus ketika mengetahui kebenaran bahwa dia adalah anak yang tidak diinginkan, kehadirannya tidak dikehendaki oleh keluarga besarnya. Dari sana kami saling bertukar cerita, tiba-tiba ada rasa nyaman satu sama lain ketika menceritakan tentang hidup masing-masing. Waktu itu saya belum mengetahui kalau dia adalah sepupu perempuan saya yang hilang. Obrolan kami pun terhenti, karena waktu sudah malam. Saya mengantar dia ke Apartemen ternama yang disewakan oleh bosnya, dan ternyata bosnya itu adalah Melvin. Saya pun tak menyangka jika dia dekat dengan Melvin.” Melisa menganggukkan kepala lalu duduk di kursi besi yang posisinya persis di bawah lampu taman. Ia tersenyum sambil mengelus lengannya yang hanya terbalut brukat.
“Mereka semakin dekat, setelah Meida pulang dari Bandung. Koko sengaja membeli apartemen di sampingnya untuk diberikan pada Meida dan Bu Ina tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali aku. Dan sampai sekarang dia belum berterus-terang pada Meida mengenai hal itu. Koko dan Jonathan yang mengantarnya pulang ke Bandung, ketika tahu kabar bahwa putra Bu Ina telah meninggal dunia.” Melisa kembali menerawang pandangannya ke depan. Dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi besi tersebut. Melihat Melisa yang sedang mengelus lengannya, Jack dengan pelan membuka Jas nya lalu memberikannya pada Melisa yang masih diam memandangnya. Ia menganggukkan wajahnya, agar Melisa mengambilnya.
“Aku mengenalnya sejak awal dia datang kesini. Dia wanita yang tangguh. Aku yang menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan hidupnya selama disini. Dari mulai mencari pekerjaan, dimana dia down karena di pecat, dan aku menyaksikan sendiri tangis kesedihannya ketika menceritakan asal-usulnya dan tujuannya merantau kesini.”
“Dia pernah bekerja di cafe, lalu di pecat karena tak masuk kerja mengurus ko Melvin yang babak belur ketika menolongnya menghadapi preman. Ketika dia mulai pasrah setelah memutari kota Surabaya untuk mencari pekerjaan, aku merekomendasikannya bekerja di perusahaan ko Melvin untuk menjadi asistennya. Dan disanalah cinta mereka bersemi.” Tutur Melisa dengan senyum mengembang. Ia menerima jas yang Jack ulurkan, lalu memaknainya.
“Apa dalam hati mu, kamu benar-benar merestui hubungan mereka?” Tanya Jack seraya menatap wanita disampingnya. Melisa pun mengerutkan dahinya dengan memukul pelan lengannya,
“Kamu ngaco deh Jack. Aku sengaja mendekatkan mereka agar ko Melvin mau membuka hatinya untuk perempuan. Karena kamu tahu sendiri, setelah putus dengan Sandra ia tak dekat dengan siapapun selama 2 tahun itu. Aku takut dia mati rasa, karena patah hati. Entahlah, melihat Meida aku merasa yakin dia bisa merubahnya. Dan kamu lihat sekarang, aku berhasil menyatukan mereka, menjadi pasangan yang sangat fenomenal.” Kekeh Melisa seraya merapikan rambutnya. Ia kembali melanjutkan perkataannya, setelah mengangkat gaunnya yang terinjak kakinya sendiri.
“Aku pun tak menyangka Ko Melvin mencintai Meida sebesar itu, sampai ia belajar tentang agama Islam. Dan memilih menjadi seorang Muslim untuk bisa menikahi Meida. Ia sampai menentang papih dan di usir dari rumah untuk memperjuangkan cinta nya. Dan terakhir, dia sampai di asingkan ke pedalaman Sulawesi selama berminggu-minggu untuk mempertahankan cinta nya pada Meida dan keyakinannya.” Jack menyimak perkataan Melisa dengan seksama. Ia menyandarkan kepalanya dengan bersedekap dada.
“Kamu tahu? Pas awal bertemu Melvin, saya kira dia itu playboy, dan tengil. Tapi setelah kenal, dia mematahkan asumsi saya. Dia lelaki baik dan ramah.” Melisa pun tertawa dengan menutup mulutnya.
“Wajarlah kalau kamu bilang dia playboy, karena dia memang tampan. Untuk tampang, memang wajah koko-ku sedikit tengil. Tapi aslinya sangat baik kok.”
“Dan aku pun tak percaya, Meida ternyata bisa meluluhkan hati Ko Melvin yang sikapnya tidak bisa diatur oleh siapapun kecuali oleh Papih dan Mamih. Dan kini, ia termasuk golongan suami takut istri haha.” Jack pun tertawa mendengar perkataan wanita yang berada disampingnya. Ia seakan bisa tertawa lepas, ketika berada di samping Meida.
“Dan kamu tahu sendiri, Melvin adalah pawang nya Meida. Dan Meida adalah ularnya haha.”
-
__ADS_1
☕☕☕☕☕☕☕☕☕
Happy Weekend