
“Ibu Negara kita sudah datang!” Teriak Melisa kearah keluarga besar mereka yang sedang berkumpul di meja besar yang melingkar. Meida memukul lengan adik iparnya dengan memelototkan matanya. Seluruh keluarganya berdiri dan tersenyum menyambutnya,
“Jangan bikin aku malu!” Melisa hanya terkekeh lalu menggandeng kakak iparnya untuk menghampiri keluarga besarnya.
Meida menundukkan kepalanya lalu menyalami keluarga besarnya satu persatu. Yang pertama ia menyalami mertuanya yang posisinya lebih dekat dengannya.
“Yang mau resepsi, auranya bercahaya sekali. Pantas saja putra Mamih di buat klepek-klepek, ternyata kamu memang cantik.” Ledek Helena sambil mencium kedua pipi menantunya. Meida langsung tersipu malu lalu memeluk hangat mertuanya.
“Mamih bisa aja. Papih mana Mih?” Helena melerai pelukannya, lalu membelai wajah menantunya dengan tersenyum.
Mereka berdua nampak terlihat sangat dekat seperti ibu dan anak, bukan seperti mertua dan menantu.
“Papih dalam perjalanan menuju kesini. Tadi dia ke kantor dulu, karena ada meeting dadakan sama rekan kerjanya.” Meida menganggukkan kepala lalu mendekat kearah Zaina kemudian menyalami nya. Wanita paruh baya dengan rambut yang dibiarkan tergerai dengan mengenakan celana kulot dan terusan berwarna senada itu tersenyum kearah Putri-nya.
“Mommy ...” Meida terlebih dahulu mencium tangan Zaina lalu memeluknya seperti orang yang sudah lama tidak berjumpa. Zaina mengelus punggung putri-nya dengan tersenyum.
“Wajah mu bercahaya sekali. Setelah menikah kamu semakin cantik saja, aura kecantikan mu terpancar.” Puji Zaina seraya melepaskan pelukannya.
“Mamih bisa aja ah.”
Meida menggeser posisinya lalu mendekat kearah Andress yang berdiri dekat dengan Mommy-nya. Melisa mengalihkan pandangan kearah pegawai yang sedang hilir mudik membawa beberapa kursi ketika pandangannya bersitatap dengan Andress.
“Koko...” Andress merentangkan tangannya. Meida dengan tersenyum memeluk kakak laki-lakinya erat.
“Koko kemana aja? Aku baru lihat koko sekarang. Katanya kemarin mau mengunjungi rumahku? Aku tunggu, ternyata koko gak datang. Padahal aku sangat berharap koko bisa datang.” Seru Meida yang masih memeluk kakaknya erat. Andress tersenyum, dengan wajah yang di buat sesantai mungkin. Melvin yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir, melihat keadaan kakak iparnya yang berusaha baik-baik saja, walaupun dalam hatinya sebaliknya.
Semoga hatimu sudah membaik koh, saya sangat berharap itu.
“Maaf dek, koko harus memperpanjang visa, dan disana antriannya cukup panjang. Ketika perjalanan pulang, koko terjebak macet, hingga koko tak bisa kesini. Maaf yah!” Meida menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Ia melerai pelukan Andress, lalu memegang lengannya dengan lembut.
“It’s Ok, yang penting sekarang kita sudah ketemu. Aku bahagia bisa melihat koko. Koko jadi melanjutkan study ke New Zealand?” Andress tanpa ragu-ragu menganggukkan kepala seraya memegang kedua bahu adik perempuannya.
“Iya, koko melanjutkan study kesana. Setelah koko pergi, rajinlah jenguk Daddy dan Mommy. Sayangi Jonathan. Patuhlah pada suami mu, jadilah istri yang baik.” Nasihat Andress dengan mata yang sedikit berkabut. Ia berusaha tegar, walaupun hatinya sedikit rapuh. Meida menganggukkan kepalanya seraya tersenyum,
__ADS_1
“Aku pasti ingat semua nasihat koko. Baik-baik disana! Semoga koko segera mendapatkan jodoh, walaupun aku berat melepaskan koko kesana. Keluarga kita baru saja berkumpul dan koko harus pergi, sangat disayangkan.” Meida mengerucutkan bibirnya dengan menoel-noel lengan Andress supaya memikirkan ulang kepergiannya ke New Zealand. Ia berharap, kakaknya tersebut tidak jadi pergi kesana.
“Padahal gak usah jauh-jauh ke New Zealand, disini aja koh.” Meida kembali memeluk Andress. Rasa sayang begitu saja hadir untuk kakak lelaki satu-satunya, yang banyak berkorban demi dirinya.
“Tidak bisa dek, semua sudah ready. Koko tinggal pergi ke sana. Jadwal keberangkatan koko pun sudah ditetapkan.” Andress mengelus kepala adik perempuannya dengan lembut. Rasa sedih begitu saja menderanya, karena waktu bersama orang-orang yang dicintainya sebentar lagi. Ia harus pergi untuk menyembuhkan luka, merancang impian, dan mencari kebahagiaan.
“Yaudah jika itu keputusan koko. Aku hanya bisa support dan do’a, jika itu membuat koko senang.” Andress mengelus lembut pundak Meida, lalu melerai pelukannya dan tersenyum.
“Xie-xie, support dan do’a yang koko butuhkan dari mu sekarang.” Meida tersenyum ketika mendapat cubitan lembut dipipinya dari Andress. Semua orang yang melihat keakraban adik kakak itu pun di buat takjub, kecuali Melvin. Siluet matanya berkaca-kaca dengan senyum terpaksa.
Kau pandai sekali menyembunyikan luka, walaupun dalam hati mu menangis. Semoga kau mengikhlaskan takdir ini, menerima Meida sebagai adikmu. Menghapus rasa cinta menjadi rasa sayang pada adik perempuan mu ini.
“I always pray to you. Semoga koko selalu bahagia. Oh ya, Daddy dan Jack mana? Tumben dia gak ada.” Meida menolehkan kepala ke kiri ke kanan mencari keberadaan Ayah dan sepupu lelakinya yang tidak dilihatnya.
“Daddy lagi ngurusin surat pengalihan kepemilikan rumah sakit menjadi milik mu, siang ini dia baru bisa kesini. Dan Jack sedang ada jadwal operasi, palingan setelah selesai dia langsung kesini.” Terang Andress seraya mengusap kerudung adiknya.
“Pantesan mereka gak ada.” Sahut Meida sambil berjalan kearah Bi Ina yang sedang tersenyum lebar kearahnya. Bi Ina tampil anggun memakai gamis berwarna abu-abu yang dipadukan dengan warna peach.
“Bibi sehat?” Meida mencium takdzim tangan Bi Ina lalu mencium pipinya kiri kanan.
“Bibi bisa aja. Orang aku gak ada perubahan, gini-gini aja.” Kekeh Meida sambil melerai pelukannya.
“Ibu Negara sering di suntik vitamin sama Ko Melvin. Makanya wajahnya berseri-seri.” Sahut Melisa dengan cengengesan. Meida langsung membulatkan matanya, sementara yang lain mengerutkan dahinya bingung memandang kearah Melisa.
“Vitamin? Vitamin apa? Kamu ngasih menantu Mamih vitamin apa Vin?” Melvin menukikkan kedua alisnya. Mengedikkan bahu dengan mengangkat kedua tangannya pertanda tidak tahu. Meida langsung memegang lengan Helena, sehingga semua orang menatapnya.
“Jangan di denger Mih. Melisa ngaco! Melvin cuman sering ngasih vitamin C karena aku sering sariawan, benerkan By?” Meida mengedipkan sebelah mata kearah Melvin untuk membantunya. Melvin yang bingung pun akhirnya menganggukkan kepala setelah melihat kode dari istrinya.
“Tadi Ibu Negara sendiri yang cerita sama a...” Melisa menghentikan ucapannya ketika Meida mencubit lengannya. Bi ina, Helena, dan Zaina pun tersenyum melihat wajah Meida yang bagai kepiting rebus. Mereka kini mengerti maksud dari ucapan Melisa, tentang suntik vitamin yang berkaitan dengan Melvin.
“Jangan diterusin!” Bisik Meida dengan wajah memelas nya. Melihat itu, Melvin pun mengambil alih tugasnya sebagai suami untuk mengalihkan pembicaraan agar istrinya tidak malu. Karena ia pun sadar, perkataan adik perempuannya berkaitan dengan kegiatan rutin yang sering ia dan istrinya lakukan setiap malam, kecuali malam rabu.
“Sayang, kamu belum salim!” Meida mengela nafasnya lega seraya tersenyum kearah suaminya yang berada di hadapannya yang terhalang oleh meja.
__ADS_1
Meida berjalan kearah Melvin lalu menyodorkan tangan kanan kehadapan suaminya dengan wajah menunduk. Mereka kini menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di meja tersebut. Melvin dengan tak mengedipkan mata, memandang wajah istrinya dengan tersenyum lebar.
“Jangan lihat-lihat!” Bisik pelan Meida. Mengkode Melvin untuk segera menerima uluran tangannya.
“Kamu cantik sekali hari ini.” ucap Melvin sambil menerima uluran tangan istrinya. Meida mencium takdzim punggung tangan dan telapak tangan suaminya sebanyak 3 kali. Ia mendongkakkan wajahnya, membiarkan Melvin mencium dahi dan pelipisnya. Andress membuang muka kearah samping, hatinya sedikit ngilu melihat pemandangan tersebut.
“Hemm... Jangan umbar kemesraan disini, kasian banyak yang jomblo.” Meida langsung menjauh dari suaminya dengan wajah tersipu malu. Namun Melvin menahan tangan istrinya supaya duduk disampingnya.
“Jangan usil Melisa! Kalau iri, kamu harus cepet-cepet nikah, cari calon suami sana. Supaya kamu bisa seperti koko dan cici mu.” Ledek Helena sambil terkekeh. Melisa menarik nafasnya dalam sambil melirik sebentar kearah Andress yang sedang mengalihkan pandangannya kearah luar.
“Melisa nyari calon dimana Mih? Di jalan?” Helena memukul pelan bahu putri nya sambil mencebikkan bibirnya. Sementara Andress mengambil ponsel di saku kemejanya, dan fokus memainkan ponselnya. Ia sama sekali tak tertarik dengan obrolan tersebut.
“Jangan lah, sama yang kemarin malam yang jemput kamu dari rumah aja. Mamih sudah tak sabar menikahkan mu, dan Mamih menyukai sikapnya.” Melisa memijit pelipisnya lalu menyugar rambut panjangnya ke belakang dengan wajah kesalnya.
“Mamih, He is my friend. Jangan ngaco deh ah! Jangan bikin gosip baru.” Sungut kesal Melisa sambil menangkup kepalanya di meja. Semua yang berada di meja itu pun tertawa melihat kelakuan kekanak-kanakan Melisa. Kecuali Andress yang masih fokus memainkan ponselnya.
“Dengerin tuh dek. Cari pacar sana, lupakan cinta pertama mu. Cari yang baru. Tapi, koko pun setuju jika dengan yang kemarin.” Melisa langsung mengangkat wajahnya melihat kearah koko nya dengan kesal, yang sudah memberi lampu hijau pada dirinya dan Jack.
“Ko, please Jangan meledekku! Jangan membuatku kesal.” Runtut Melisa. Zaina yang tersenyum pun memegang tangan besan nya untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
“Anakmu sedang dekat dengan siapa mbak?” Bisik Zaina ke telinga Helena yang duduk disampingnya. Helena menatap kearah anaknya dengan mengedipkan sebelah matanya. Lalu mendekatkan bibirnya kearah telinga besannya.
“Melisa sedang dekat dengan Jack, keponakan mu besan.” Zaina membulatkan matanya dengan menutup mulutnya lalu tersenyum lebar.
“Kabar bagus! Ayo kita jodohkan mereka, dan bujuk mereka untuk menikah. Jack pun masih jomblo hihihi.” Helena langsung membelalakkan mata dan tersenyum. Ia menolehkan kepala ke samping, melihat kearah Zaina.
“Ide yang bagus.”
-
Happy Monday Guys😘😘😘
Jika suka dengan novel ini, jangan lupa like, komen, vote, gift nya...
__ADS_1
Hatur nuhun😘😘😘