
Di dalam sel, Grace terpapar penyakit aneh, seluruh tubuhnya terluka akibat cakaran dari tangannya dengan bekas luka yang bernanah. Kondisinya sangat memprihatinkan dan terpaksa harus dipindahkan ke sel dengan keadaan seorang diri. Dan dia sempat beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, namun dapat di gagalkan oleh Polisi yang berjaga di depan selnya. Sementara Jaslin korban penembakan oleh Grace Neneknya sendiri sampai sekarang masih koma. Menurut keterangan dari Jackson Dokter spesialis yang menangani Jaslin sekaligus sepupunya, keluarga besar Atmadja berencana akan membawanya ke Rumah Sakit The University of Tokyo Hospital, Jepang. Yang merupakan salah satu Rumah Sakit terbaik di dunia untuk melakukan pengobatan, jika selama seminggu ini kondisi Jaslin tidak mengalami perkembangan. Dan berita selanjutnya, sekaligus berita yang kita tunggu-tunggu, malam ini keluarga Atmadja akan melakukan Jumpa pers di Lobby rumah sakit sekitar jam 19:00, yang akan disampaikan oleh Andress Atmadja selaku Putra sulung dari Gilbert Atmadja.
Tubuh Melvin bergetar mendengar berita tersebut. Pandangannya nanar dengan jantung yang berdetak cepat. Ia tak ingin mempercayai berita itu, tapi kelebatan demi kelebatan ucapan ibu-ibu yang ditemuinya serta ucapan Hanif membuat tumbuhnya lemah seakan tak berpijak.
Yaa Allah apa itu Meida? Gumam Melvin sambil membalikkan pelan tubuhnya melihat kearah televisi. Nafasnya tiba-tiba tercekat, matanya tiba-tiba berkaca-kaca melihat siaran ulang Meida yang di dorong di atas belangkar menuju ruang ICU, dengan selimut yang menutupi sampai bahunya, dengan wajah pucat seputih kapas. Matanya terpejam, dengan ventilator yang terpasang di hidungnya.
“Faris, kamu kenapa Nak?” Tanya Umi Fatimah yang tak dihiraukannya. Melvin terus berjalan lebih dekat kearah televisi, ia mengelus layarnya sambil menatap dengan mata berkaca-kaca kearah potret Meida yang di putar ulang.
🎵Ternyata belum siap aku
🎵Kehilangan dirimu
🎵Belum sanggup untuk jauh darimu
🎵Yang masih s'lalu ada dalam hatiku
Melvin meluruhkan tubuhnya ke lantai dengan bercucuran air mata. Hatinya benar-benar hancur melihat keadaan Meida selepas kepergiannya.
Meida, saya pikir kamu bahagia disana berkumpul dengan keluarga mu. Tapi nyatanya ...
Yaa Allah, saya merasa tak berguna. Saya tak bisa menjaga orang yang saya cintai. Yaa Allah saya harus apa? Pekik pelan Melvin sambil menjatuhkan kepalanya ke lantai yang posisinya seperti orang sedang bersujud
🎵Tuhan, tolong mampukan aku
🎵Tuk lupakan dirinya
🎵Semua cerita tentangnya yang membuatku
🎵S'lalu teringat akan cinta yang dulu hidupkanku
Buya Hanafi dan Umi Fatimah saling pandang. Mereka belum mengerti dengan keadaan yang menimpa Melvin, hati mereka di buat bertanya-tanya dan melihat bergantian kearah layar televisi dan kearah Melvin. Buya hanafi berinisiatif berjalan kearah Melvin, ia mengangkat kepalanya lalu disandarkan kedadanya. Buya Hanafi mengelus kepalanya yang sedang menangis tergugu dipelukannya.
“Kamu kenapa Nak?” Melvin semakin mengencangkan tangisnya. Ia bingung harus mengatakan apa, hati benar-benar sakit melihat keadaan yang dialami calon istrinya.
“Buya ... saya harus apa?” Tangis pilu Melvin memeluk tubuh Buya Hanafi erat. Umi Fatimah masih bingung, ia berjalan kearah Melvin dan berjongkok di belakangnya sambil mengelus pundaknya.
“Cerita pelan-pelan. Ada apa Nak? Kenapa setelah melihat berita itu kamu jadi begini? Ada apa sebenarnya?” Melvin mengangkat kepalanya dari pelukan Buya Hanafi dengan bercucuran air mata.
“Buya, apa berita itu sudah lama?” Tanya bergetar Melvin sambil menggigit punggung tangannya. Buya pun memandang kearah istrinya dan menganggukkan kepalanya.
“Berita ini sudah ada dari seminggu yang lalu Nak.” Jawab jujur Buya Hanafi yang membuat Melvin semakin terisak keras dengan tubuh bergetar.
“Buya ... Umi ... wanita itu ... wanita yang terbaring koma itu ... wanita yang tertembak itu ... adalah wanita yang sangat saya cintai ... dia calon istri saya.” Tunjuk Melvin dengan tangan bergetar kearah televisi. Ia tak mampu menahan bobot tubuhnya yang tiba-tiba lemah, dan ia kembali terjatuh di pelukan Buya. Buya Hanafi dan Umi Fatimah pun kembali terkejut dengan perkataan Melvin, mereka baru mengetahui bahwa wanita yang sedang koma itu adalah calon istri anak angkatnya. Kini mereka tahu alasan kenapa akhir-akhir ini Melvin sering menangis di waktu tengah malam, ya ... karena dia sangat merindukan orang yang dicintainya.
“Buya saya harus apa?” Tangis Melvin pecah. Ia tak mampu menahan kesedihannya. Dunianya kembali gelap, melebihi kegelapan waktu ia akan diasingkan oleh keluarganya. Langitnya kembali runtuh, melihat kondisi orang yang dicintainya sedang tak baik-baik saja. Sedang berjuang melawan kematian.
“Faris dengarkan Buya! Dunia ini ibarat sebuah lautan yang luas Nak, dan kita adalah kapal yang berlayar dilautan yang telah banyak kapal karam didalamnya. Namun andai muatan kapal kita adalah iman,dan layarnya adalah takwa, yakinlah bahwa kita tidak akan pernah tersesat dilautan kehidupan ini. Percaya dengan ucapan Buya!” Buya hanafi menggoyangkan tubuh melvin yang sedang menundukkan kepalanya. Ia melihat jelas raut keputus asaan dari wajah anak angkatnya.
Jiwa Melvin kembali terpuruk, hatinya diliputi banyak ketakutan. Ketakutan terbesar, di tinggal pergi jauh oleh kekasih hatinya dengan janji yang belum ditunaikannya.
“Buya, saya takut dia pergi ... Saya takut dia meninggalkan saya ... Saya takut tak pernah melihat wajahnya lagi ... Saya takut Buya! Dia disana sedang berjuang, dan saya berada disini. Rasanya saya ingin menyerah menghadapi hidup ini ... Dia kekuatan saya ... saya tak mungkin bertahan jika dia pergi.” Lirih Melvin dengan tangis pilunya. Ia berusaha menepis ketakutan itu, tapi ketakutan itu malah kembali membayanginya.
Buya Hanafi kembali memegang erat kedua bahu Melvin. Ia tak mungkin membiarkan Melvin kembali terpuruk seperti sebelumnya. Ia tak ingin melihat putra angkatnya bersedih lagi, hatinya ikut sedih melihat kesedihan yang nampak jelas terpancar di wajahnya.
“Nak, rasa takut hanya akan membuatmu lemah dan kehilangan kepercayaan diri, hadapilah rasa takut itu dan teruslah melangkah.” Ujar Umi Fatimah sambil mengelus kepala Melvin. Walaupun Melvin bukan anak kandungnya, ia sangat menyayanginya, karena kehadirannya mampu mengobati rasa kehilangannya.
“Setiap masalah yang datang bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menguji seberapa mampu kamu bisa bertahan.” Sahut pelan Buya Hanafi sambil mengelus pelan pundaknya. Matanya berkaca-kaca, merasakan kesedihan yang Putra angkatnya rasakan.
__ADS_1
“Janganlah berputus asa! Tetapi kalau kamu sampai berada dalam keadaan berputus asa, berjuanglah terus, meskipun dalam keadaan keputus asaan itu.” Timpal Umi Fatimah sambil mengelus bahu Melvin yang masih menunduk.
“Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk. Allah memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya Nak.” Buya Hanafi menyusut sudut matanya dengan lengan bajunya.
Dengan keadaan lemah Melvin mengangkat kepalanya, wajahnya bersimbah air mata membuat orang yang melihatnya merasakan iba.
“Tapi rasanya saya tak mampu Buya, saya tak mampu Umi. Saya benar-benar jatuh! Saya benar-benar kalah!” Parau getir Melvin menghapus air matanya kasar. Ia memperlihatkan sisi kerapuhannya jika berkaitan dengan hidup Meida.
“Bersyukurlah jika kamu sudah di titik terendah dalam hidup, karena tidak ada pilihan lain selain menuju titik tertinggi.” Nasihat Buya Hanafi dengan wajah tegarnya.
“Tiada gunung yang tak mampu didaki, tiada laut yang tak bisa arungi, tiada masalah yang tak menemukan solusi.”
“Nak, setiap masalah-masalah yang dihadapkan dengan doa, akan selalu ada jalan keluar yang tak terduga-duga. Jangan menyerah! Jangan habiskan waktumu dalam keterpurukan.” Melvin menatap wajah Buya Hanafi dengan pandangan nanar. Ia dengan erat menggenggam tangannya.
“Buya ... kenapa ujian selalu menghampiri saya. Padahal saya sudah berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Hati saya nelangsa Buya, kenapa hidup saya selalu dihinggapi kesedihan...” Buya Hanafi kembali menatap Melvin dengan pandangan iba. Ia kembali menepuk-nepuk pundak Melvin sambil memeluknya.
“Nak ... kesedihan hanyalah lembaran buram yang ada dalam sebuah buku kehidupan, yang harus dilakukan adalah membuangnya dan menggantinya dengan lembaran baru.”
“Setiap jiwa yang dilahirkan sebenarnya telah tertanam benih untuk mampu mencapai puncak kesuksesan kehidupan. Namun, benih itu tidak akan pernah bisa tumbuh dengan baik tanpa di beri pupuk bernama keberanian.” Melvin dan Umi Fatimah mendengarkan ucapan Buya dengan seksama. Ia berusaha mencerna walaupun hatinya diliputi dengan banyak kegalauan.
“Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh.
Percayalah! Tak ada usaha dan kesabaran yang sia-sia.” Umi Fatimah pun menimpali ucapan suaminya dengan wajah tenangnya.
“Nak ... Burung yang selalu menyanyi setiap pagi, itu bebas tanpa ada larangan. Jadilah seperti burung itu yang bebas memilih ke arah bahagia atau penderitaan. Kamu berhak bahagia! Raihlah kebahagiaan itu walaupun sulit!” Melvin masih diam. Hanya suara tangisannya yang terdengar, membuat Buya Hanafi dan Umi Fatimah bingung harus berbuat apa. Buya Hanafi memandang kearah langit-langit dengan pandangan menerawang.
“Berlayarlah dan temukan muara hikmah di pulau samudera cinta. Waspadalah diri dari sesat didalamnya. Semua pelayaran kita tertuju pada satu muara cinta, yaitu mendapatkan cinta abadi yang esa.” Ucap pamungkas Buya Hanafi yang langsung menghentikan suara tangis Melvin. Pandangan Melvin nanar, tubuhnya terasa lemah tak bertenaga, ia pun terkulai lemas di pelukannya.
“Faris ... Faris ... bangun Nak ... Jangan seperti ini.”
-
Tapi wajah orang yang kusayangi kerap kali hadir dan kembali meninggalkan asa
Asa yang entah akan terwujud ataupun tidak
Entahlah...
Apa yang kurasa sekarang?
Kadang terbesit rasa putus asa
Ketika aku selalu saja kalah oleh keadaan
Keadaan yang seakan menertawakanku
Kehidupan yang seakan mengejekku
Tuhan, sebenarnya aku lelah dengan keadaan ini
Aku sangat lelah ...
Tapi apa daya, hidup harus terus dijalani
__ADS_1
Waktu terus berputar, tanpa bisa kembali ke masa lalu.
Inilah aku ...
Seseorang yang dipecundangi waktu
Seseorang yang dipecundangi harapan
Seseorang yang dipecundangi keadaan
Kadang aku ingin berteriak sekencang-kencangnya
Meluapkan kekecewaan pada diri ini
Bukannya aku tak ingin berjuang
Tapi aku selalu saja kalah dan kalah
Tuhan, apa Kau sediakan kebahagiaan untukku?
Apa Kau masih menyisakan sedikit rasa itu untukku?
Tuhan, apakah aku pantas bahagia?
Apakah aku pantas memiliki mimpi?
Tuhan, aku terpuruk!
Aku terpasung!
Aku terikat!
Aku terluka!
Asal Kau tahu!
Aku hanya berusaha bahagia dan bersyukur untuk menutupi duka lara
(Melvin Nagara)
-
Jangan lupa jempolnya hehe🤗
☕☕☕☕☕☕ sebaskom wkwkw
Wilujeng Weekend 🤗😘🥰
__ADS_1