
“Melisa, kau yakin wanita itu yang menjebakmu?” Tunjuk Jack kearah wanita yang sedang memilih high heels di sebuah Mall ternama di Surabaya. Melisa melepaskan kacamata yang dikenakannya, memidai tajam kearah wanita yang berada tidak jauh darinya yang hanya terhalang kacang.
“Benar sekali Jack, wanita itu yang ingin menjebakku. Wajahnya saja seperti malaikat, namun hatinya busuk melebihi bangkai.” Melisa kembali memakai kacamata dengan mulut tak berhenti mengunyah steak. Jack menyeruput jus dengan mata tak lepas menatap Sandra yang berada di seberang mereka.
“Apa kau yakin?” Melisa menancapkan garpu di steak miliknya dengan tangan mengepal menatap kearah Sandra yang sedang berbincang dengan pramuniaga toko tersebut.
“Aku yakin sekali Jack. Ketika aku pura-pura pergi ke toilet, wanita itu menyuruh anak buahnya stand by di depan restauran tempat ku makan untuk menculikku. Ketika obat perangsang itu bereaksi dalam tubuh ku, mereka akan dengan mudah membawaku ke hotel.” Melisa kembali menancapkan garpu ke steak itu keras hingga menimbulkan suara. Jack mengerti kekesalan yang tengah dirasakan wanita yang berada didepannya. Ia mengambil alih piring Melisa, lalu memotong steak itu menggunakan pisau.
“Saya gak nyangka dia sepicik itu. Lihatlah! Ke setiap orang dia menebar senyum, kelihatan ramah dan seperti wanita baik-baik. Dia lumayan cantik, tapi Meida jauh lebih cantik. Betul,Kan?” Tanya Jack yang sedang fokus memotong steak miliknya.
Melisa mengamati lelaki yang berada dihadapannya dengan wajah bingung. Sikap Jack susah di tebak, kadang baik, pengertian, jutek, dan kadang pula menyebalkan. Namun tak bisa di pungkiri oleh perasaannya, dia merasa nyaman di dekat Jack.
Jack orang nya sangat tulus dan lembut. Dia bisa berperan menjadi apapun, dan kulihat dia memiliki sikap penyayang dan mengayomi. Dia sangat berbeda dengan Kak Andress.
Melisa, kenapa kau malah membandingkan dia dengan kak Andress? Sadar Melisa, mereka jauh berbeda. Jangan mengingat lelaki cuek itu. Saatnya move on, saat nya menemukan kebahagiaan mu.
“Apa rencana mu selanjutnya?” Tanya Jack mengagetkan Melisa yang sedang memperhatikan wajahnya sambil tersenyum.
Melisa langsung salah tingkah dengan wajah memerah, karena kepergok oleh Jack sedang memperhatikannya. Ia merapikan rambut brown panjangnya, dengan menyampirkan ke belakang telinganya.
“Kemarin aku langsung pamit pergi setelah mengetahui rencananya, dan bodohnya aku karena sudah terlanjur meminum air yang sudah dipesannya yang sudah tercampur dengan obat perangsang. Jadi rencanaku sekarang, pura-pura tidak tahu bahwa semua itu rencananya. Begitu pun dengan ke tiga preman yang mengejar ku.” Jack mengangguk-anggukkan kepala yang terbalut topi berwarna putih. Ia kembali menyodorkan piring kearah Melisa yang steaknya sudah di potong.
“Xie-xie Jack.” Jack hanya tersenyum dan kembali melipat sebelah tangan untuk mendengarkan rencana Melisa selanjutnya.
“Rencana mu apa?” Melisa mengunyah steak nya. Mengingat semua rencana yang sudah tersusun di dalam otaknya.
“Aku hanya ingin membalasnya, agar dia tak main-main dengan keluargaku. Apalagi dia berniat hendak menghancurkan rumah tangga koko-ku. Apa kau rela rumah tangga sepupu perempuan mu berantakan gara-gara wanita itu Jack?” Jack meletakkan kedua tangan di depan wajahnya pertanda berpikir. Ia mengetuk-ngetuk kakinya untuk mengusir kekhawatirannya. Ia kembali menatap kearah Melisa yang sedang menatapnya dalam.
“Jack, apa kau bersedia membantu ku?” Melisa menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dengan wajah memohon. Mata sipit kecoklatan itu menatapnya dengan mata sendu, hingga Jack tak tega melihatnya.
“Membantu apa dulu? Kalau dadakan saya gak bisa. Malam ini jadwal operasi saya padat, finish nya nanti jam 1 dini hari. Kalau besok, saya bekerja sampai sore, dan besoknya saya libur full 1 hari.” Senyum Melisa langsung merekah dengan mata membentuk bulan sabit setelah mendengar penuturan Jack yang secara tak langsung mengatakan bisa membantunya. Jack langsung terpana melihat senyum khas Melisa untuk pertama kalinya.
Melihat wajah bahagianya kenapa mengingatkan saya pada Eomma. Senyumnya itu mirip sekali, mata bulan sabit itu saya sangat merindukannya. Eomma, baik-baik disana. Saya disini hidup dengan baik, jangan mengkhawatirkan saya lagi. Keluarga tante Zaina menjaga saya dengan baik. Eomma, pendekar tampan mu sangat merindukanmu.
Batin Jack dengan mata sendu menatap dalam wajah Melisa yang kini sedang menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
“Jack, are you oke?” Melisa menepuk pelan bahu Jack hingga lelaki yang berada di depannya tersebut terlonjak kaget dan langsung menghapus sudut matanya.
“Ada apa Melisa? Tolong di ulangi perkataan mu?” Melisa menarik nafasnya kasar sambil menyeruput Jus nya.
“Tidak Jack. Hanya saja aku merasa aneh ketika melihat mu melamun seperti itu. Ada yang mengganggu pikiran mu?” Jack menggelengkan kepalanya dengan senyum samar. Ia menangkup sebelah tangan ke wajahnya, lalu menyeruput jus nya kembali.
“I’m good Melisa. Don't worry! I just remember someone. Bisa di lanjut? Waktu istirahat saya sebentar lagi. 40 menit lagi saya harus stand by di rumah sakit.” Melisa menganggukkan kepala dengan memegang lengan Jack erat. Wajahnya sumringah dengan senyum lebar yang menghiasi wajah tirusnya.
“Jack, kau bisa membantuku besok malam, Kan? Sandra meminta ku untuk bertemu di sebuah club, dia pasti sudah memiliki rencana untuk menghancurkan ku. Bagaimana kita hancurkan balik dia, ini kesempatan kita Jack. Mau kan kamu mengantarku kesana?” Jack membelalakkan mata melepaskan genggaman tangan Melisa dengan lembut.
“Ke club, I say nooo. Saya sudah tobat Melisa! Jangan bawa saya ke tempat seperti itu, tak elok. Saya sudah pensiun dari 1 tahun yang lalu, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tak menginjakkan kaki di tempat itu lagi. I can't!” Melisa menangkupkan tangannya dengan wajah memelas nya.
“Please Jack, just a moment. Disana kita bukan party atau happy-happy. Kita hanya menjalankan misi! Aku pun tidak pernah kesana, kecuali dulu saat pesta kelulusan. Disana kita bukan mau mabuk-mabukan, tapi memberi pelajaran pada wanita itu.” Jack memijit dahi dengan memejamkan mata, mempertimbangkan permintaan dari wanita yang berada dihadapannya.
“Jika kau tak mau mengantar, biar aku kesana sendiri.” Putus Melisa sambil menyeruput jus nya kembali.
-
“By, kamu malu-maluin. Mamih sampai menertawakan kita tadi. Dikiranya kita ngapa-ngapain, padahal enggak ngapa-ngapain kan?” Sungut Meida sambil menyandarkan tubuh nya di sofa kamar suaminya. Melvin yang berjalan di belakang pun terkekeh, sambil menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Melvin kembali tertawa melihat tingkah gemas istrinya yang sedang memukul-mukul bantal dengan kakinya.
“Itu muka kamu masih ada sayang. Yang lalu, biarlah berlalu. Mereka pun tahu, kita itu sudah sah menjadi suami istri, bukan orang pacaran lagi. Jika mereka berasumsi macam-macam, biarlah! Toh itu hak mereka. Udah jangan malu lagi! Lagian mereka tak mungkin berani meledek kita secara langsung.” Kekeh Melvin sambil menyampingkan tubuh kearah Meida yang sedang terlentang menatap kearah langit-langit kamar dengan mulut yang cemberut.
“Lagian kamu! Kancing kemeja aku dikemanain? Bra aku hilang, tank topnya sobek. Lihatlah! Aku seperti badut dengan sweater besar ini. Mereka sampai senyum-senyum melihat penampilan berantakan ku By.” Meida menggigit bantalnya gemas. Rasa kesal dan malunya melebihi rasa sakit yang dirasakan di dadanya yang hanya tertutup sweater putih milik suaminya. Melvin menghampiri sang istri dengan mengelus kepalanya lembut.
“Sudah sayang, maafin saya. Tadi itu saya panik, sampai tak sadar melemparnya kemana. Udah jangan marah lagi, Jelek!” Rayu Melvin dengan membangunkan istrinya yang terlentang. Ia membelai pipinya dengan lembut lalu mencium bibirnya.
“Jangan cemberut! Mau saya gigit bibir kamu?” Meida langsung menutup mulutnya dengan menggelengkan kepala. Ia menatap kearah suaminya dan langsung melipat tangannya.
“Marahnya jangan lama-lama! Sekali lagi maafin saya yah!” Melvin kembali mencium dalam bibir istrinya, sampai nafasnya kembali beraturan dan kembali tenang.
“Sudah tenang?” Meida menganggukkan kepalanya lemah. Dengan bibir yang masih rapat. Melvin melepaskan kerudung istrinya lalu meletakkan begitu saja di atas sofa.
“Jangan marah lagi!” Melvin memegang lembut lengan Meida lalu merebahkan kepala di pangkuan istrinya sambil memejamkan mata. Ia menuntun kedua tangan istrinya untuk mengelus-elus kepalanya.
__ADS_1
“Senyum! Masa suami ganteng gini kamu anggurin! Ngambeknya jangan lama-lama, saya tak bisa melihat mu cemberut seperti ini.” Goda Melvin sambil menoel-noel wajah istrinya agar tersenyum. Ia tak kehabisan ide untuk mengubah mood istrinya, ia kembali mengingat lagu yang di dengarnya kemarin malam dengan tersenyum.
“🎵HatimuHatimu tempat berlindungku ... Dari kejahatan syahwatku ... Tuhanku merestui itu ... Dijadikan engkau istriku ... Engkaulah bidadari surgaku.” Senyum Meida langsung merekah dengan wajah yang memerah. Ketika tangan suaminya dengan lembut mengusap-ngusap lengannya dengan senyum yang menawan.
“Suara mu indah By.” Melvin kembali tersenyum melihat senyum manis yang kembali terbit di bibir istrinya.
“Suami mu serba bisa sayang. Jangan diragukan lagi! Apalagi membuat mu tak berdaya dengan mata terpejam dan mulut terbuka, saya paling jago nya!” Gelak Melvin yang langsung mendapat cubitan di perutnya.
“Mulaii dehh bahasnya kesana. Kenapa yang ada dipikiran mu cuman itu sayang, gak ada yang lain? Aku aneh deh sama kamu!” Sewot Meida sambil mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.
“Wajah mu, tubuh mu, semua yang ada si tubuhmu adalah candu untuk saya sayang. Saya sangat mengagumi wajahmu yang sangat mempesona. Yang setiap saat, membuat saya bersyukur karena telah memiliki mu.” Melvin dengan lembut mencium tangan istrinya berulang-ulang.
“Sini saya lihat lukanya, udah kering belum?” Meida langsung menutup kedua matanya sambil tertawa.
“Pasti ujung-ujungnya kesana! No, jangan di lihat! Nanti aku lihat sendiri! Jangan mancing-mancing, nanti kamu pusing kepala sendiri.” Melvin menyampingkan posisi kepalanya lalu mencium perut istrinya yang terhalang sweater dengan bertubi-tubi.
“By, geli! Udah ihh. Please udah sayang.” Teriak Meida sambil memegang kepala suaminya. Tawa renyahnya terdengar menggema di kamar tersebut.
“Kamu tahu saya lagi ngapain?” Meida menggelengkan kepala ketika Melvin mendongkakkan kepala kearahnya.
“Saya lagi baca mantra, supaya bibit unggul saya tumbuh subur disini.” Kekeh Melvin sambil mengelus-ngelus perut istrinya lalu menciumnya lama dengan tangan yang melingkar erat.
-
-
Selamat menunaikan ibadah Puasa buat para reader semua🤗
Maaf kemaren gak up, biasa lagi riweh. Maklum ibu rumah tangga wkwkwk 🙏
Jempolnya jangan pelit-pelit, komen nya juga🤗♥️
Vote nya di tunggu guys, Hatur nuhun😘😘😘
__ADS_1