Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Selamat tinggal luka, selamat datang cinta


__ADS_3

Bandara Internasional Djuanda, Surabaya.


Keluarga Atmadja sudah berkumpul di Bandara untuk melepas kepergian Andress untuk melanjutkan study ke New Zealand. Gate keberangkatan itu di selimuti oleh rasa haru, ketika putra sulung keluarga Atmadja berpamitan untuk pergi meraih mimpi dan cita-cita nya. Semua orang yang mengantarkan Andress ikut menangis, tak terkecuali Meida dan Melvin. Mereka memeluk Andress bergantian, setelah Gilbert, Zaina, dan Bi Ina dengan berlinang air mata.


“Sudah jangan nangis, malu sama suami mu! Koko tak akan pergi lama-lama. Jika tak sibuk, koko pasti pulang kesini untuk melihat keadaan kalian.” Andress dengan lembut menepuk-nepuk bahu adik perempuannya yang kini sedang terisak dipelukannya.


“Ko, kenapa harus pergi sekarang? Kenapa kepergian koko dipercepat? Kenapa koko tak memberitahuku dari kemarin-kemarin kalau akan berangkat hari ini? Koko jahat!” Rengek pilu Meida menatap wajah kakak lelakinya dengan berlinang air mata. Ia memukul pelan dada kakak nya dengan berulang-ulang.


Saya sengaja mempercepat kepergian saya. Saya tak bisa lebih lama lagi disini. Dengan cepat-cepat pergi, semoga saya lebih mudah melupakan mu. Sungguh naif jika saya tidak merasa kesakitan jika berada di dekat mu, apalagi ketika melihat keromantisan kalian. Walaupun saya berusaha dengan sekuat tenaga membuangnya, namun rasa itu masih ada, walaupun hanya seujung kuku. Saya ingin seperti Melisa, yang dengan mudah melupakan orang yang dicintainya tanpa berlarut-larut. Mudah bangkit dari keterpurukan, dan kembali hidup normal.


Batin Andress menatap dalam wajah adiknya seraya menghapus air matanya.


“Maaf, koko tak mengabari mu terlebih dahulu. Koko tak ingin mengganggu waktu mu dengan Melvin, apalagi kalian masih dalam suasana pengantin baru – (Padahal saya sudah beberapa kali mencoba menghubungi mu, tapi nomor mu susah di hubungi. Dan kamu tahu? Betapa sedihnya hati saya, ketika menunggu jawaban panggilan dari mu. Dan saya sadar, kamu sibuk dengan suami mu. Karena kamu adalah miliknya sekarang).” Ucap getir Andress dalam hati. Jack yang berada di kejauhan memperhatikan interaksi mereka, dengan menyusut sudut matanya yang berair.


Ko, Allah sudah menggariskan apa-apa yang akan menjadi milik kita. Allah sudah menuliskan jalannya nanti seperti apa. Yang perlu kita lakukan hanya ikhlas menerima dan mengikuti semua alurnya tanpa harus mencuri jalan yang lain. Yang perlu kita lakukan adalah menambah syukur dan sabar agar semua akan indah pada waktunya. Ujar Jack dalam hati seraya menatap wajah Andress dengan sendu. Tangannya dengan lembut menepuk-nepuk pundak Jonathan yang sedang menangis di depannya.


Melvin yang berada di belakang istrinya hanya bisa menahan air mata. Ia di buat takjub oleh kesungguhan hati Andress, yang rela pergi untuk melupakan cintanya.


Ko, cara tepat memulihkan kembali semangat yang patah dan hati yang remuk adalah dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Kegagalan tidak akan berlangsung selamanya. Asalkan mau kembali mencoba dan berusaha, keberhasilan akan menjadi nyata. Jadi segera sembuhkan hati mu  dan cobalah bangkit untuk menata masa depan. Berdo’alah, karena hanya dengan pertolongan-Nya bahagia akan kamu dapatkan. Aamiin.


Terima kasih untuk pengorbanan mu ini. Semoga Allah segera mempertemukan mu dengan wanita yang tepat.


Do'a Melvin dalam hati seraya mengelus bahu istrinya yang terguncang di pelukan kakaknya.


“Udah jangan nangis lagi. Tenang, koko tidak akan pergi untuk melepas tanggung jawab koko pada rumah sakit. Koko pergi, karena koko tipikal orang yang haus akan pengetahuan. Jadi koko tak bisa diam, koko ingin memperdalam pengetahuan koko.” Papar Andress dengan tersenyum getir menenangkan adik perempuannya yang masih menangis. Sebenarnya, ia tak ingin pergi dalam keadaan seperti ini, di saat keluarga yang diimpikannya telah terwujud. Tapi ia tak mungkin terus berada disini. Karena tekad dan luka, ia berani menempuhnya.


“Ko, kita baru beberapa hari bersama setelah berpisah bertahun-tahun lamanya. Di saat kita sudah berkumpul, kenapa koko malah memilih pergi?” Andress tersenyum dan kembali menghapus air matanya. Tangannya dengan lembut mengelus hijab pashmina adiknya.


“Meida, di hidup ini. Ada sesuatu yang tak perlu orang lain ketahui, dan itu akan menjadi rahasianya sendiri yang tak akan diceritakan pada siapapun. Begitupun koko. Koko pun memiliki alasan yang tak bisa diceritakan pada siapapun termasuk padamu, atas keputusan yang koko  ambil ini. Jadi koko mohon, ikhlaskan koko pergi. Percayalah semua akan baik-baik saja.” Meida menundukkan wajahnya. Ia melepaskan pelukan kakak lelakinya dengan perlahan-lahan lalu memundurkan langkahnya.

__ADS_1


“Koko jahat! Menyembunyikan banyak rahasia dari ku. Apa koko tidak menyayangi ku?” Andress menundukkan wajahnya. Membiarkan air matanya berjatuhan ke lantai bandara tersebut. Sedangkan Jack dan Melvin memalingkan wajah, dengan menggigit punggung tangannya.


“Nak, biarkan koko mu pergi. Hargai keputusannya. Koko mu sudah besar, Daddy yakin dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Kamu tak perlu khawatir, koko mu pasti baik-baik saja.”Gilbert Atmadja berjalan perlahan menghampiri Putrinya lalu memeluknya erat dengan penuh kasih sayang.


“Benar apa yang dikatakan Daddy. Biarkan koko-mu pergi. Selalu do'akan dia, semoga koko mu bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita yang di kuburnya selama ini.” Sahut Zaina seraya mengusap-ngusap punggung Andress yang masih menundukkan wajahnya. Ia pun sangat berat melepas putra sulungnya. Tapi apa daya, ia tak memiliki alasan untuk tetap menahannya. Tak dipungkiri hatinya pun sedih, tapi ia berusaha tegar demi anak-anaknya.


Andai kamu tahu Meida, rasa itu lebih dari itu ketika dulu. Namun perlahan-lahan saya mencoba mengikisnya, agar rasa itu memudar dengan sendirinya, walaupun tak sepenuhnya. Mungkin ini salah satu proses pengorbanan saya, untuk tidak sakit berlarut-larut. Untuk menemukan dia, sosok yang akan menemani saya sampai tua.


Batin Andress yang masih tertunduk. Ia berusaha mengumpulkan kata untuk menjawab perkataan adiknya.


Cukup hujan yang deras, air mata mu jangan. Cukup bumi yang basah, pipi mu jangan. Kemari-lah adukan semua padaku, aku tahu caranya membuat mu bangkit. Kemari-lah bersandar di bahu ku, kamu tak akan mampu menanggung rasa sakit itu sendirian.


Tutur Jack dalam hati seraya berjalan pelan ke belakang tubuh Melvin yang menjulang tinggi. Ia ingin memeluk sebentar sepupunya sebelum pergi, bentuk singkat dari perpisahan mereka yang entah kapan akan bertemu kembali.


“Kamu pasti tahu jawabannya apa Dek. Koko sangat menyayangi mu, tanyakan saja pada semua orang disini. Bahwa koko sangat menyayangi mu.” Jawab Andress seraya mengangkat wajahnya lalu membelai pucuk kepala adiknya yang masih menangis dipelukan Daddy-nya. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Melvin dengan tersenyum getir.


“Baik ko. Tenang saja, saya akan menjaga mereka dengan baik. Sekuat dan semampu saya. Dan untuk Meida, saya tidak akan menyakitinya. Karena dia adalah istri saya.” Andress menganggukkan kepala memegang teguh janji yang diucapkan Melvin. Ia menepuk-nepuk punggung adik iparnya untuk memberikan wejangan sebelum kepergiannya.


“Bagus! Dan satu lagi pesan untuk mu. Sabar dalam hubungan, itu wajib bagimu. Biar tidak selalu egois dan mengedepankan perasaan terus. Sebab, antara kamu dan Meida, tidak akan terus sejalan. Pasti sewaktu-waktu tidak sependapat, walaupun kalian sama-sama saling sayang.” Tutur Andress seraya melepaskan pelukannya dari Melvin. Mata mereka pun saling menatap, bicara dari hati ke hati lewat sorot matanya.


“Terima kasih untuk pesan yang sangat berharga dari koko. Inn Shaa Allah saya akan menjalankannya dengan baik.”


Jaga Meida untuk saya! Cintailah dia sepenuh hatimu! Jika kamu mengingkari janji mu, siap-siap ... saya akan membawanya pergi jauh. Kau tak akan pernah melihat nya lagi seumur hidup mu. (Andress)


Saya akan menjaga dan mencintai Meida melebihi hidup saya. Saya janji, saya tidak akan mengingkari janji saya. (Melvin)


Mereka pun menghentikan kontak matanya. Andress menatap kearah adiknya yang sedang terisak di samping Jack.


“Jonathan, jadi anak yang baik yah. Anak kebanggaan kami semua. Jangan lupa jaga Daddy, Mommy, dan Bu Ina. Jangan lupa belajar, karena ujian sekolah mu sebentar lagi.” Nasehat Andress dengan lembut. Jonathan melangkah pelan, menghampiri kakaknya lalu memeluknya.

__ADS_1


“Iya ko, do'akan aja. Semoga Jonathan bisa mewujudkan harapan koko, menjadi anak kebanggaan kalian.” Andress terkekeh dengan menyusut sudut matanya. Ia memeluk adiknya yang tingginya kini menyamai dirinya.


“Sudah jangan menangis lagi! Malu sama badan mu. Koko pergi tak akan lama. Jaga dirimu baik-baik.” Jonathan menganggukkan kepala samar, sementara Jack yang berada di belakangnya sedang menangis tergugu. Ia melepaskan pelukannya lalu menepi kearah Bi Ina.


“Jack, kenapa kamu menangis? Lebay banget sih! Malu sama jas putih yang kamu kenakan!” Jack mencebikkan bibirnya sambil menyentil dahi Andress kemudian memeluknya.


“Stoplah bercanda. Aku di tinggal pergi sahabat sekaligus sepupu somplak ku. Apartemen ku akan sepi, karena si tukang numpang akan pergi mengejar mimpinya.”


“Jaga diri baik-baik disana. Berhenti minum alkohol, jika sedang ada masalah. Jaga pola makan, jaga kesehatan, jangan begadang! Kesehatan Koko lebih utama, apalagi tidak ada kami disana yang mengawasi mu.” Andress pun tertawa di tengah tangisnya mendengarkan perkataan Jack yang cerewet melebihi mommy-nya. Jack memang lelaki perhatian, apalagi pada anggota keluarganya.


“Iyaiya Jack. Kau bawel sekali seperti perempuan! Jika ada waktu luang, tengoklah saya kesana. Jika tidak punya uang, mintalah sama Daddy untuk membayar biaya perjalanan mu kesana. Tapi sangat mustahil jika kau tak punya uang, kerjamu saja seperti kuda.” Ledek Andress seraya melepaskan pelukan sepupunya. Semua yang berada di ruang itu pun tertawa haru, melihat kelakuan konyol kedua saudara itu.


“Aku tak mau rugi. Biar om yang membayar biaya perjalanan ku kesana. Uang ku sudah ditabungkan, untuk modal nikahku nanti.” Kekeh Jack menghapus air matanya kemudian mengerlingkan mata kearah Gilbert yang sedang tertawa dengan menghapus air matanya.


Andress pun melihat jam tangannya, waktu keberangkatannya sebentar lagi. Ia menatap keluarganya satu persatu kemudian menyalaminya. Ia pun pamit pergi dengan melambaikan tangan.


Biarlah semua berjalan apa adanya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya.


Selamat tinggal luka, selamat datang cinta.


-


☕☕☕☕☕☕


Yuk jempolnya jangan pelit-pelit🤗😘♥️♥️♥️


Vote, komennya di tunggu yah♥️


Hatut nuhun buat yang masih setia di Novel ini. Terima kasih buat yang udah ngasih like, vote, komen, ☕, gift, pokoknya hatur nuhun pisan🤗😘😘😘♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2