Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Ini Puring, bukan baju


__ADS_3

“Yang, bangun! Kamu belum shalat Dzuhur! Ini sudah jam 2.” Melvin menggoyangkan tubuh istrinya yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Dengan jahil ia mendekatkan bibir ketelinganya untuk membisikkan sesuatu.


“Man Rabbuka?” Ucapnya dengan suara menggelegar di telinga istrinya. Meida langsung membuka mata dengan menahan nafasnya. Sementara Melvin yang berada disampingnya menahan tawa sambil menyusupkan wajahnya ke bantal istrinya.


Ternyata ini rahasia untuk membangunkannya.


Meida menyipitkan matanya menatap ke segala penjuru kamar dengan ekor matanya. Ia menatap interior mewah di tempat tersebut. Ruangan mewah dan luas dengan di dominasi warna putih dan abu-abu. Sofa bulu berwarna cream terpasang rapi di samping ranjangnya, karpet bulu mengalasi semua lantai, di samping sebelah kanannya terdapat meja rias dengan peralatan make up yang sudah lengkap, di belakang meja rias tersebut terdapat satu pintu yang menghubungkan kamar mandi, walk in kloset, dan ruang ganti. Dan di pojok sebelah kiri, terdapat satu pintu yang menghubungkan kearah kolam renang.


Meida memegang wajahnya panik, lalu meraba tangannya yang masih mengenakan pakaian.


Apa ini alam kubur? Apa senyaman ini? Apa aku termasuk jenazah VVIP?


Gumam pelannya dengan berusaha bangun dari tidurnya. Ia belum menyadari, bahwa ia sedang berada di kamar suaminya yang desainnya telah di rubah.


Selamat datang di alam kubur, aku adalah amal baik mu. Senang bertemu dengan mu.


Meida langsung melihat kearah samping, dengan terlonjak kaget.


Aku akan menemanimu selama disini, sampai waktu kebangkitan tiba hahaha.


Tawa Melvin pecah di samping istrinya. Meida langsung membulatkan matanya dengan menoyor kepala suaminya.


“Kamu ngerjain aku? Gimana kalau jantungku copot hah?” Melvin kembali tertawa terbahak-bahak sambil memeluk pinggang istrinya yang sedang memukuli pundaknya.


“Itu gak copot, Kan? Mustahil kalau jantungmu copot. Itu ciptaan Tuhan, bukan ciptaan manusia.” Kekeh Melvin dengan wajah memerahnya karena tertawa. Ia menyusut sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.


“Sekarang jam berapa?” Tanya sewot Meida sambil menyimbak selimut abu-abunya.


“Jam 2 lebih 10 menit sayang.” Meida langsung memelototkan matanya sambil menatap suaminya dengan kesal.


“Kenapa kamu gak bangunin aku? Aku belum shalat Dzuhur.” Melvin langsung menepuk jidatnya dengan mencebikkan bibirnya. Ia menatap istrinya dengan alis yang menukik.


“Yang, saya bangunin kamu dari tadi. Kamu nya aja yang susah dibangunin. Tadinya saya bangunin kamu buat shalat berjamaah, tapi kamunya gak melek-melek.” Meida mengerucutkan bibirnya sambil turun dari ranjang.


“Dimana kamar mandinya?” Melvin pun turun dari ranjangnya. Lalu mengantar istrinya ke kamar mandi yang menyatu dengan ruang ganti.


“Kamar kamu kayak rumah Mr. Bin, banyak pintunya.” Melvin pun terkekeh dengan menggenggam bahu istrinya dari belakang. Ia mendorong pelan tubuhnya menuju kearah kamar mandi yang melewati beberapa ruang.


“Ini walk in closet,” Ucap Melvin menunjuk satu ruangan yang terdapat satu kursi panjang yang di lapisi bulu, di depannya terdapat cermin besar. Di sampingnya terdapat 2 Bathrobe tergantung, beberapa parfum, dan beberapa jenis sabun aromaterapi, gosok gigi, dengan masing-masing perpasangan. Kiri kanannya terdapat meja besar yang terbuat dari kaca, yang sebelah kiri berisi underwear milik suaminya, dan sebelah kanan berisi underwear dan bra miliknya. Luas ruang itu, sebesar kamarnya  yang berada di apartemen.


“Di dalam sini baru kamar mandi kita.” Tunjuk Melvin kearah pintu tinggi berwarna brown. Ia membuka pintu tersebut dengan pelan, meida membelalakkan matanya melihat isi kamar mandi mewah suaminya yang sangat besar. Lantainya terbuat dari marmer dan batu alam, pinggirnya terdapat tanaman buatan, memberi kesan seperti berada di tengah-tengah alam. Bath up berbentuk lingkaran, dengan diameter  1 meter berada di pinggir dengan memperlihatkan keindahan kolam renang yang terhalang oleh kaca. Tengahnya terdapat shower yang menggantung.


“Kamu suka?” Tanya Melvin sambil memeluk istrinya yang sedang tertegun menatap ke dalam kamar mandinya. Meida tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


“Ini indah banget By. Aku sangat menyukainya.” Senyum lebar terukir di bibir Meida, memberikan kepuasan tersendiri untuk suaminya.

__ADS_1


“Sekarang kamu wudhu dulu, tempatnya disana!” Tunjuk Melvin kearah kran angsa yang berada di samping meja wastafel. Yang lantainya  terbuat dari batu alam yang berbentuk kotak.


Meida melepaskan tangan suaminya yang melingkar di dadanya sambil membalikkan tubuhnya.


“Tolong lepasin kerudungnya.” Pinta Meida dengan manja. Melvin terkekeh lalu membantu istrinya melepaskan kerudungnya.


-


“Bi, aku lapar!” Melvin langsung menyimpan ponselnya. Lalu mendekat kearah istrinya yang terbaring di sofa yang masih mengenakan mukena. Sedangkan dirinya masih mengenakan kaos polos warna putih dengan sarung abu-abunya.


“Ayoo kita ke dapur!” Ajak Melvin menggandeng tangan istrinya menuju dapur yang terletak di ujung. Mereka berjalan perlahan-lahan melewati ruang demi ruang yang nampak sepi.


“Pak Muin dan Bi Asih kemana? Ko sepi?” Tanya bingung Meida sambil melihat ke segala arah. Ia tak menemukan pasangan suami istri yang biasa bekerja di rumah suaminya.


“Mereka kemarin pulang ke kampung halamannya di Madura. Katanya sih ada saudaranya yang nikah. Mereka minta libur seminggu, buat ngajak anaknya jalan-jalan.” Jawab santai Melvin tanpa melihat wajah panik istrinya. Meida menelan salivanya kasar, wanita yang akan dimintainya bantuan pun telah pergi. Dan ia sekarang hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya.


“Serius By?” Melvin menganggukkan kepalanya dengan menatap istrinya bingung.


“Iya, ngapain saya bohong. Kenapa wajahmu panik gini sayang?” Melvin mengusap wajah istrinya yang terlihat panik dengan wajah memerah.


“Ti..tidak. Siapa yang panik?” Jawab gugup Meida sambil membuang muka kearah samping.


“Wajahmu tak bisa bohong sayang. Tunggu disini! Biar saya yang masak.” Melvin mendudukkan istrinya di meja makan, sementara ia berjalan kearah kitchen set untuk memasak.


“Kamu bisa masak?” Tanya Meida sambil memperhatikan gerak gerik suaminya yang bolak balik di depannya.


-


“By, kenapa lemari pakaianku gak bisa di buka?” Tanya Meida kearah suaminya yang sedang terbaring di karpet bulu setelah menunaikan Shalat Ashar. Melvin langsung menyimpan ponselnya lalu melihat kearah istrinya yang masih masih mengenakan bathrobe dan rambut yang di gulung handuk.


“Masa sih yang? Kemarin Bi Asih yang merapikan lemari pakaian mu sebelum berangkat ke Madura. Biasanya kuncinya gak suka di copot deh.” Melvin berjalan lebih dulu ke ruang ganti dengan di ikuti oleh istrinya. Ia membuka lemari besar pakaian istrinya satu persatu, berharap bisa di buka.


“Ini bisa yang.” Tunjuk Melvin kearah salah satu pintu yang bisa di buka. Wajah Meida langsung memerah dan menghampiri suaminya.


“Emang ini tadi juga bisa di buka, tapi semua bajunya kurang bahan By. Kamu lihat! Bajunya tipis dan menerawang, aku bisa masuk angin kalau pake baju ini. Lagian kamu sih, baju kurang bahan kayak gini malah di beli.” ucap Meida menunjukkan sebuah lingerie warna merah maroon kehadapan suaminya dengan cemberut. Melihat baju kurang bahan itu, tak urung wajah Melvin memerah dengan tersenyum.


“Saya sengaja membelinya. Ini baju dinas kamu tiap malam sayang.” Kilah Melvin menutupi wajah gugupnya. Sebenarnya ia pun tak mengetahui asal muasal baju haram tersebut. Meida mengerutkan dahinya menyondorkan baju itu kearah suaminya,


“Baju dinas PNS bukan kayak gini By, pakaiannya pada tertutup. Nah ini, udah mah pendek, gak ada lengannya, mana bolong-bolong. Ngeri tahu! Gimana kalau nyangkut di paku? Bisa-bisa langsung nembus ke kulit! Ini bukan baju By, ini puring yang sering digunakan ibu-ibu buat nanak nasi.” Melvin menggigit bibirnya sambil menyandarkan kepalanya kearah lemari, mendengarkan ocehan istrinya yang tak pernah usai. Ia pun ingat, baju itu paketan dari Mamih-nya yang baru dibereskan Bi Asih kemarin siang.


Ini pasti kerjaan Mamih. Mamih kayak gak tahu aja, modelan menantunya kayak apa? Menantunya bar-bar kayak gini, malah di kasih baju begituan. Syukur-syukur dia mau pake, palingan nunggu sadar dulu baru di pake.


Kekeh Melvin sambil menompang dagu menggunakan tangannya memandang raut wajah istrinya yang memerah mengangkat lingerie itu satu persatu sambil menggelengkan kepalanya ngeri.


“Bentar saya hubungi bi Asih dulu! Kamu tunggu disini!” Melvin pun pergi meninggalkan istrinya menuju kamar tidur mereka.

__ADS_1


Setelah menghubungi bi Asih, Melvin kembali ke kamar ganti, untuk menemui istrinya yang sedang duduk di atas meja kaca yang di bawahnya terdapat koleksi dasinya.


Ia dengan menautkan kedua alisnya, menunjukkan layar ponselnya kearah istrinya,


“Yang, kunci lemari kamu ke bawa bi Asih ke Madura. Jadi baju kamu untuk sementara yang ada itu doang.” Meida membulatkan matanya menatap layar itu dengan cemberut.


Bi Asih kayaknya ngerjain saya juga. Tapi gak papa, semoga malam ini lancar gak ada hambatan. Dan saya bisa secepatnya mencetak gol hahaha.


Tawa jahat Melvin dalam hati. Sekarang saatnya ia membujuk istrinya untuk memakai baju haram tersebut.


“Minta di anterin Jonathan aja kesini By. Aku gak mau pake baju ini.” Rengek Meida sambil memegang lengan suaminya. Melvin memegang bahu istrinya, lalu membelai  lembut wajahnya.


“Yang, Jonathan dan keluarga mu masih dalam perjalan pulang. Gak mungkin kita langsung memintanya mengantar pakaian mu kesini. Kasian, mereka pasti lelah. Mamih dan Melisa pun sedang mempersiapkan pernikahan kita, tak mungkin kita merepotkannya untuk jauh-jauh datang kesini. Saya pun tak bisa keluar buat beliin kamu baju, mobil saya masih di rumah papih. Lagian saya gak mungkin ninggalin kamu sendirian disini. Gak papa yah sampai besok pake baju ini dulu, karyawan saya baru akan mengirimkan pakaian mu besok pagi. Jam 5 sekarang, toko pakaian saya sudah tutup. Karyawan saya sudah pada pulang.” Meida mendengarkan ucapan suaminya dengan mengerucutkan bibirnya. Ia tak ingin memakai baju kurang bahan itu, yang akan mengekpose hampir seluruh tubuhnya. Melihat istrinya yang hanya diam sambil cemberut, Melvin pun memeluknya sambil mengusap-ngusap pundaknya.


“By, aku mau pakai baju kamu aja. Aku gak mau pake puring ini, takut masuk angin. Please! Boleh yah?” Meida mendongkakkan wajahnya kearah suaminya dengan wajah memohon. Melvin pun mengecup kening istrinya lalu beranjak menuju lemarinya.


Melvin mengambil salah satu kemeja putih yang berada di lemari gantung, lalu menyondorkan pada istrinya.


“Ini kemeja saya yang paling panjang. Pakailah! Saya tak ingin melihatmu kedinginan.” Meida dengan ragu mengambil kemeja itu sambil tersenyum. Kemeja putih suaminya lebih baik dari pada baju kurang bahan yang harus dikenakannya.


“Terima kasih By,” ucap tulus Meida sambil mengangkat kemeja besar tersebut. Melvin langsung memeluk istrinya dari belakang dengan senyum devilnya.


“Pakainya disini!” Bisik Melvin yang langsung membuat istrinya tertegun. Wajah Meida kembali memerah dengan tangan bergetar.


“Aku pakai di kamar aja. Otak mu suka mesum By.” Tolak halus Meida dengan melepas pelan tangan suaminya yang melingkar diperutnya. Melvin malah semakin mengeratkan pelukannya dengan menghirup wangi sabun di ceruk leher istrinya.


“Gak nurut sama suami, dosa loh!” Kekeh Melvin mengeluarkan ancaman andalannya. Bila berkaitan dengan dosa, Meida tak bisa berkutik, dan pasti langsung mematuhinya.


“Iya, aku pakai disini!” Sahut Meida dengan wajah cemberutnya.


“Tapi kamu merem! Jangan buka mata sedikitpun! Awas tangannya!” Melvin langsung melepaskan pelukannya. Meida membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


“Kamu merem! Kalau kamu gak merem, aku gak mau pake baju.” Ancam Meida dengan menatap wajah suaminya. Dengan perlahan-lahan Melvin memejamkan matanya, sementara Meida memundurkan langkahnya dengan hati-hati. Ketika ia sudah menggapai pintu ia langsung membukanya pelan,


“Bye ... bye suami mesumku!” Kekeh Meida sambil melambaikan tangan kearah suaminya. Ia sudah mengetahui rencana bulus suaminya untuk mengerjainya. Melvin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Niat hati ingin mengerjai istrinya, tapi ia malah dikerjai balik.


Aduhh, singa betinaku lolos. Tunggu nanti malam sayang!


-


-


Deg deg deg


Vote sama ☕☕☕☕ diantos🤗🤗🤗

__ADS_1


Like sareng komennya di tunggu 😘😘😘


Otw malam pertama wkwkwk😜


__ADS_2