Cinta Haqiqi

Cinta Haqiqi
Pulang


__ADS_3

Setelah menyantap makanan yang terhidang di atas meja. Bi Ina melirik kearah satu persatu orang yang duduk melingkar di meja tersebut. Ia ingin mengungkapkan maksud hatinya, namun tak memiliki keberanian sedikitpun. Setelah memejamkan mata, Bi Ina menatap kearah Meida dengan wajah serba salah.


“Meida, ada yang ingin bibi katakan padamu.” Meida menghentikan suapannya lalu menatap kearah Bi Ina dengan bingung. Begitupun yang lainnya, mereka menghentikan makan, dan memfokuskan pandangan mereka hanya pada Bi Ina dan Meida.


“Ada apa Bi? Kayaknya serius banget deh.” Bi Ina menganggukkan kepala. Menatap dalam kearah keponakan angkatnya yang kini duduk menghadapnya.


“Jadi begini Nak. Sekarang kamu sudah menikah dengan Melvin, dan sudah berkumpul dengan keluarga besar mu. Sekarang sudah ada yang menjaga mu dengan baik. Tugas Bibi untuk menunaikan amanah Ummah dan Abi mu telah selesai.”


Ruang itu kembali hening. Semua orang yang berada di meja makan mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Bi Ina. Meida mengerutkan dahinya dengan bingung, lalu ia menatap Bi ina dengan pandangan serius.


“Maksud bibi? Meida belum mengerti maksud dari perkataan bibi?” Bi Ina pun tersenyum dengan sorot mata yang sangat menenangkan. Sementara anggota keluarga yang lain masih menyimak pembicaraan mereka berdua tanpa angkat suara.


“Setelah kamu menemukan keluarga mu, bibi pamit pulang ke Bandung. Karena tugas bibi untuk mempertemukan mu dengan keluarga mu telah usai. Bibi sudah tenang, karena sudah memenuhi janji pada kedua orang tua angkat mu.” Meida membulatkan mata. Ia memberikan sendok dan garfu ke tangan suaminya agar makan sendiri, lalu melipat tangan di atas meja makan dengan menatap Bi Ina sendu.


“Kenapa harus pulang ke Bandung? Tinggal lah disini bersama Meida ataupun keluarga Meida. Meida tak bisa membiarkan bibi tinggal sendiri. Meida mohon, tinggal lah disini bersama kami!” Pinta Meida dengan wajah memohon. Bi Ina menggelengkan kepala seraya menepuk-nepuk lengannya, ia tetap teguh dengan pendiriannya untuk tetap pulang ke Bandung.


“Benar apa yang dikatakan istri saya. Tinggal lah bersama kami di Malang. Kami tidak keberatan sama sekali. Melvin janji akan menjaga ibu dengan baik disini.” Ucap Melvin seraya melirik wajah sayu istrinya yang sedang mengerucutkan bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Tidak Nak. Ibu rindu kampung halaman ibu. Ibu tidak bisa jauh-jauh dari anak dan suami ibu. Jika disana, ibu bisa sering melihat mereka. Mengobati setiap kerinduan yang ibu rasa. Mungkin, selama ibu disini  tidak ada yang merawat makam mereka dengan baik.” Tutur Bi Ina dengan pandangan jauh menerawang kearah kampung halamannya yang berada di Bandung. Tempat keluarga besarnya tinggal, tempat suami dan putranya dimakamkan.


“Meida mohon bibi pertimbangkan lagi! Walaupun disini, kita akan sering pulang kesana. Bertakziah ke makam Paman, Kak Adib, Ummah ataupun Abi. Kita pasti sering kesana Bi. Meida janji!”  Meida mengangkat satu jari telunjuknya untuk berjanji pada Bi Ina, bahwa ia tak akan mengingkari perkataannya.


“Iya Bu. Jika tidak ingin tinggal bersama cici dan koko, tinggal lah bersama Jo. Bersama Mommy dan Daddy, kami akan senang hati jika ibu tinggal disini.” Timpal Jonathan yang memegang lengan Bi Ina seperti Meida. Ia merebahkan kepala di bahunya, bertanda ia tak ingin kehilangan wanita yang sudah dianggap ibunya sendiri. Karena dibandingkan dengan Zaina, ia lebih dekat dengan Bi Ina.


“Terima kasih Nak, tapi maaf Ibu tidak bisa tinggal selamanya disini. Ibu sudah berpikir ribuan kali untuk pulang, karena tugas ibu disini sudah selesai. Kamu bisa menemukan cici-mu, dan kalian bisa berkumpul bersama seperti ini. Dan Ibu senang, sekarang kakak mu sudah menikah, tidak ada yang Ibu takutkan lagi. Karena sekarang sudah ada yang menjaganya,” ucap Bi Ina menatap kearah Meida dengan penuh kasih sayang. Meida mengeratkan pegangannya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Bi, jangan pulang! Disini saja! Tetaplah di samping Meida.” Lirih Meida lalu berpindah posisi ke samping Bi Ina dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Tidak bisa sayang. Bibi sudah memutuskan untuk pulang. Kamu berbahagialah disini, kamu bahagia bibi pun bahagia.” Melihat Putrinya yang menangis di bahu Bi Ina. Gilbert pun ikut bersuara, ia tak tega melihat putrinya bersedih di tinggal oleh orang yang sangat disayanginya.


“Bu, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi? Anak-anak sangat membutuhkan kehadiran ibu. Saya harap ibu bisa memikirkannya ulang, karena kami pun disini membutuhkan ibu. Saya janji, jika ibu tinggal disini. Saya akan memberikan ibu yang terbaik, jasa ibu tak terhingga untuk keluarga kami. Mungkin, tanpa pelantara ibu, sampai sekarang saya tidak akan bertemu dengan putri saya.” Sahut Gilbert dengan wajah yang menghiba pada wanita yang lebih tua darinya yang berjasa besar pada keluarga nya tersebut.


“Benar sekali. Tinggal lah bersama saya disini, saya senang jika ibu tinggal disini.” Timpal Zaina dengan suara lembutnya. Ia ingin sekali Bi Ina tinggal bersamanya, karena semua anak-anaknya sangat dekat dengannya.


“Jika tidak ingin tinggal di rumah Om ataupun Melvin, tinggallah di rumah Jack. Jadilah orang tua Jack Bu,” ucap Jack seraya menyampingkan posisinya kearah Bi Ina lalu menggenggam erat sebelah lengannya. Hingga Bi Ina di kelilingi oleh Meida dari belakang,  oleh Jack dari sebelah kiri, dan Jonathan dari sebelah kanan. Mereka mencoba menahan kepergian Bi Ina, agar tetap tinggal bersama mereka di kota Surabaya. Mereka sangat menyayangi Bi Ina, dan menganggapnya lebih dari keluarga.


“Mohon maaf Ibu tidak bisa. Ibu harus pulang, rumah ibu disana tidak ada yang mengurus selama ibu tinggal disini. Ibu ingin tinggal tenang di hari tua ibu disana.” Putus Bu Ina tanpa bisa di ganggu gugat. Ia mengelus rambut Jack dan Jonathan, lalu mengelus lengan Meida yang melingkar di lehernya.


“Bi, apa tidak bisa dipikirkan lagi?” Tanya ulang Meida dengan suara bergetar. Ia sedih harus berpisah dengan Bi Ina, wanita baik hati yang dari dulu menjaga dan menyayanginya tanpa pamrih. Ia sangat berat melepas kepergian Bi Ina untuk pulang, karena sedari dulu ia sangat dekat dengannya. Bi Ina menggelengkan kepala seraya menyampingkan wajah kearah Meida yang kini sudah menangis.


“Tidak bisa sayang. Bibi sudah rindu ingin mengunjungi makam Suami dan Putra bibi. Bibi tidak bisa jauh dari mereka. Bibi ingin cepat-cepat mengobati kerinduan bibi pada mereka. Karena kamu pun tahu, kehidupan bibi bukan disini tapi disana.” Meida semakin mengeratkan pelukannya. Ia kembali menangis di bahu Bi Ina. Sementara Melvin mengelus-elus pundak istrinya dari arah belakang.


“Kapan rencana Ibu pulang?” Tanya Jonathan dengan pandangan yang sudah berembun. Rasanya ia tak siap jika di tinggal Bi Ina ke kampung halamannya. Karena ia sudah menganggap Bi Ina seperti Ibunya sendiri.


“Ibu jangan pulang sendiri! Biar nanti Melvin dan Meida yang mengantar Ibu kesana.” Kata Melvin dengan suara lembut namun berisi perintah. Ia tak mungkin membiarkan wanita yang sangat berjasa pada istrinya itu pulang ke kampungnya sendiri. Ia dan Jonathan yang mengajaknya dulu berangkat ke Surabaya, dan mereka pun harus bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang ke Bandung.


“Jo juga pengen ikut ko, mumpung ada waktu 1 bulan lagi sebelum ujian. Jo ingin mengantar Bu Ina pulang kesana.” Sahut Jonathan dengan wajah sumringah walaupun matanya memerah karena menahan kesedihan.


“Om, Tante. Boleh Jack ikut mengantar Bu Ina pulang ke kampung? Jack minta cuti untuk beberapa hari ke depan.” Seru Jack yang tak ingin ketinggalan Jonathan dan Meida untuk mengantar Bi Ina pulang ke kampungnya. Ia menatap Gilbert dengan wajah menghiba sambil menangkupkan kedua tangannya.


“Baiklah. Om kasih kamu cuti 10 hari untuk mengantar Bu Ina pulang.” Putus Gilbert yang tak tega melihat wajah memelas keponakannya. Ia ingin memberi kelonggaran waktu untuk Jack agar ia bisa refreshing setelah bekerja keras dalam kurun waktu yang lama.


“Dad, mommy juga ingin mengantar ibu Ina kesana. Mommy ingin melihat tempat yang membesarkan putri kita. Boleh yah Dad?” Gilbert menghela nafas ketika melihat wajah memohon istrinya yang menggoyang-goyangkan lengannya tanpa henti dengan mata sendunya. Ia paling tidak bisa melihat mata sendu istri dan Putrinya, yang seketika bisa merobohkan tembok pertahanannya.


“Ya baiklah. Kita antar Bi Ina kesana. Jadwalnya kira-kira kapan Vin?” Tanya Gilbert pada menantunya yang lantas disoraki bahagia oleh semua orang yang duduk di meja makan itu. Yah, jika Gilbert sudah menanyakan kapan berangkat, berarti mereka sudah diizinkan untuk mengantar pulang Bi Ina pulang sekaligus berlibur bersama ke kota Bandung. Gilbert pun tersenyum lebar ketika melihat orang-orang yang dicintainya bahagia karena keputusannya. Yah, ternyata kebahagiaan itu sederhana. Ketika melihat orang yang dicintainya bahagia, ia pun tak kalah bahagia.

__ADS_1


“Minggu ini Melvin dan Meida akan mengunjungi orang tua angkat Melvin yang berada di pedalaman Sulawesi, palingan sekitar 1 minggu. Setelah itu baru kita mengantar Bu Ina pulang ke Bandung. Jika kalian tidak sibuk, Melvin ingin mengajak kalian kesana. Bu Ina ikut yah! Itung-itung kita berlibur bersama, sebelum kepulangan ibu.” Ajak Melvin yang kembali mendapatkan sorakan dan tepukan dari anggota keluarga istrinya. Mereka bahagia, karena untuk tahun ini, mereka akan berlibur panjang. Vacation together with big family.


-


“Udah jangan nangis lagi sayang. Kita harus menghargai keputusan Bu Ina. Kebahagiaan Bu Ina itu jauh lebih penting untuk kita. Kamu tahu sendiri kan, dia sangat merindukan putra dan suaminya. Mungkin dengan pulang kesana, itu dapat mengobati kerinduannya. Kita harus pahami itu.” Bujuk Melvin seraya mengelus rambut Meida yang sejak tadi menangis sambil membelakanginya.


“Jika kebahagiaan Bu Ina bukan disini, untuk apa kita menahannya? Kita jangan egois sayang, Bu Ina sudah banyak berkorban untuk kita. Dan sekarang saatnya kita mensupport setiap keputusannya.” Meida masih diam termangu dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya yang membasahi bantal. Ia belum merelakan kepergian Bi Ina untuk pulang, hatinya seakan tak mengizinkan Bi Ina untuk pergi jauh darinya.


“By ... jika Bi Ina pulang, disana ia akan hidup sendiri. Aku tak ingin membiarkan dia hidup sendiri di masa tuanya, apalagi semua keluarga menjauhinya. Jika dia tinggal disini, bi Ina tak akan kesepian. Banyak orang yang menyayanginya, ada Aku, Kamu, Jonathan, Daddy, Mommy, Jack, Melisa, orang tua kamu. Mereka semua menyayangi Bi Ina.” Parau Meida tanpa merubah posisinya. Melvin pun tersenyum merasakan kekhawatiran yang istrinya rasakan. Ia mengusap-ngusap bahunya agar istrinya lebih tenang.


“Sayang percayalah! Bu Ina sudah memikirkan semua ini dengan matang. Mungkin dia pergi, karena kurang nyaman tinggal disini. Karena kamu tahu sendiri, perbedaan hidup di kampung dan disini sangat jauh berbeda. Kamu tahu sendiri kan, setiap hari Bu Ina selalu mengikuti rutinan kajian di beberapa Masjid, dan disini ia tidak bisa melakukannya. Saya yakin itu faktor utama pilihannya untuk pulang kesana, untuk lebih khusu lagi dalam beribadah.” Kata bijak Melvin. Ia mengangkat selimut sampai menutupi leher istrinya dan kembali pada posisi awalnya.


“Saya pun merasa, hidup di perkampungan itu jauh lebih tenang. Nuansa agamisnya masih kental, kebersamaannya masih ada, kekhususan dalam ibadah pun jelas berbeda dengan yang saya rasakan di kota. Itu lah yang saya rasakan ketika tinggal di pedalaman sana. Setiap habis magrib, saya bisa mendengar suara tilawah Al-Qur’an bersahutan dari setiap rumah, subuh yang jauh lebih bersinergi dengan shalat subuh berjamaah antara setiap kepala keluarga dan pemuda-pemuda desa, hingga masjid pun penuh oleh para jamaah. Masih ada kuliah subuh, tadarus bersama di malam Jum’at, dan acara pengajian yang di gilir di setiap rumah. Saya pun nyaman tinggal di perkampungan, dan ketika saya tinggal di Sulawesi, pernah terbesit dalam hati saya untuk membangun rumah di perkampungan. Rumah tempat kita menepi, untuk menghindar dari keramaian hiruk pikuk kota.” Meida terdiam mendengar perkataan suaminya. Ia pun sempat memiliki keinginan yang sama dengan suaminya untuk membangun rumah di perkampungan. Rumah tempat mereka pulang, untuk melepaskan penat mereka setelah menjalani hidup di keramaian kota.


-


-


Punten pisan yah baru up, dari H-7 puasa bener-bener sibuk, sampe gak sempet bikin cerita. Ada-ada kerjaan dadakan yang sebelumnya gak pernah kepikiran.. Schedule bertambah padat di bulan ini wkwkwk


Tahu sendiri, kalau emak-emak mau lebaran kayak gimana😂 yang gak ada pun di paksa di ada-adain😂 Sampe suami geleng-geleng kepala 😂 “Mah, ini udah beli. Kenapa bikin lagi?” – “Ya Allah, ini bikin apa lagi, yang kemarin aja gagal!” – “Yasallammm!!!! Ini apa?” Tanya suami dengan wajah yang memelas menunjuk kearah toples dengan menepuk jidat ketika melihat mahakarya terindah tersaji di depan matanya, sekumpulan nastar, dan kastangel gosong yang kelamaan di oven😂 “Bojoku luar biasa!.” Puji nya dengan membentur-benturkan kepala ke tembok. Antara frustasi dan pasrah. Mau marah, bojo takut ngambek pulang ke rumah mertua, apalagi sebentar lagi lebaran. Mau pasrah, tapi bertolakbelakang dengan nurani. Alhasil, yah diam saja. “Makasih pujian nya Beib ” Sahutku dengan sumringah, aku terkesan dengan pujian suamiku yang setengah meledek. Padahal dalam hati malu nya setengah mati walaupun berusaha tegar haha ( Humor yah guys, efek gabut🥴)


Alhamdulillah puasa tinggal 2 hari lagi, semoga kita selalu diberikan kelancaran dan kemudahan untuk menjalankannya. Semoga Ibadah kita dari yang wajib sampai yang sunnah, di terima Allah SWT Aamiin.


Semangat terawihnya 1 kali lagi 💪


Secangkir kopi buat nanti malam takbiran 🤭 THR nya vote aja yah🤭😘♥️

__ADS_1


Hatur nuhun😘😘😘😘


__ADS_2