
“Udah jangan nangis lagi sayang. Sini saya peluk!” Meida menenggelamkan kepalanya di pelukan suaminya yang sedang mengusap pundak polosnya.
“Apa masih sakit?” Tanya Melvin sambil mencium pucuk kepala istrinya. Meida menganggukkan kepalanya menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.
“Maaf, saya membuatmu kesakitan seperti ini.” Lirih pelan Melvin terus mengelus pundak polos istrinya yang belum selesai menangis.
“Aku sudah gak virgin lagi By.” Sahut parau Meida yang kembali mengeraskan tangisnya. Melvin membulatkan matanya dan tertawa,
“Iyalah gak virgin lagi sayang. Barusan rudal saya yang membombardir gawang kamu. Kalau kamu masih virgin, gimana kita buat anaknya. Mulai sekarang kita harus banyak ikhtiar, supaya disini cepat ada isinya.” Kekeh Melvin sambil mengelus perut polos istrinya, merapatkan selimut menutupi tubuh istrinya sampai ke lehernya. Ia tak henti-henti mencium rambut istrinya, menghirup aroma sampo yang menguar dari rambut berkeringatnya.
“By. Kalau aku hamil, kamu tanggung jawab yah! Jangan pernah ninggalin aku,” ucap Meida sambil memeluk leher suaminya. Menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.
“Gak usah ditanya lagi. Kamu istri saya, hidup mati kamu adalah tanggung jawab saya. Anna Uhibuka Fillah. Terima kasih telah melengkapi hidup saya.” Meida mendongkakkan kepalanya menatap suaminya dengan menyipitkan matanya.
“Awas kamu poligami By, aku gak mau di poligami. Aku tidak akan memaafkan sebuah pengkhianatan. Jika kamu benar-benar berkhianat, aku menyerah.” Melvin menatap dalam wajah istrinya dengan tersenyum. Tangannya dengan lembut mengusap rambutnya.
“Saya janji, saya tidak akan berkhianat. Kamu lebih dari cukup sayang. Satu saja tak akan habis, untuk apa saya nambah lagi?” Meida mengangkat jari kelingking nya ke hadapan suaminya. Dengan matanya yang masih memerah.
“Janji yah?” Melvin pun menautkan jari kelingkingnya ke tangan istrinya sambil menganggukkan kepalanya.
“Jika kamu melanggar janjimu, akan kubuat tulangmu remuk.” Ancam Meida dengan suara paraunya. Melvin pun tertawa dengan mendekap kepala istrinya di dada bidang polosnya.
“Nggeh doro. Saya tidak akan mengingkarinya, kamu kekasih halal saya di dunia dan akhirat.”
“Apa saya termasuk kategori pangeran berkuda putihmu?” Meida mendusel-dusel wajahnya dengan memeluk erat tubuh polos suaminya.
“Lebih dari itu By. Kamu adalah jiwaku, nafasku, hidupku, ayah dari anak-anakku.” Melvin langsung tersenyum lebar mendengar ucapan manis dari istrinya. Ia memeluk tubuh polosnya dengan mengangkat ke atas tubuhnya. Wajah Meida langsung memerah, kedua bukit kembarnya kini menempel di dada suaminya yang kini tengah menatapnya dengan tersenyum. Pinggangnya dapat merasakan pusaka suaminya yang kembali mengeras.
“By, turunin aku sayang.” Pinta Meida dengan memelas agar suaminya menurunkannya. Melvin menggulingkan tubuh istrinya kesamping tanpa melepaskan pelukannya.
“Saya menginginkan mu lagi sekarang. Satu kali lagi yah sayang? Please!” Meida menggigit bibirnya sambil mengusap wajah suaminya mencium bibirnya pelan.
“By, masih sakit. Ini aja aku gak bisa bangun buat wudhu. Kamu sih, ganas banget.” Melvin kembali mencium bibir istrinya dengan tersenyum.
“Sakit itu karena tak terbiasa sayang. Kalau sering, gak bakalan sakit. Makanya kamu harus sering melakukannya, agar milikmu tak sakit.” Rayu Melvin yang kembali mencium bibir istrinya, menyakinkan keraguan dari wajahnya. Ia dengan lembut membelai wajah istrinya, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajahnya.
“Yaudah, kamu wudhu dulu gih.” Wajah Melvin kembali sumringah mendengar persetujuan dari istrinya. Ia kembali menciumi wajahnya dengan penuh cinta.
“Makasih sayang. Saya wudhu dulu!” Meida menghela nafas kasar dengan wajah pasrahnya melihat kepergian suaminya yang telanjang bulat menuju kamar mandi.
“Bombardir lagi! Ternyata dia tak pernah lelah. Mending aku tidur aja.” Kekeh Meida dengan memejamkan matanya. Karena rasa lelah bercampur dengan ngantuk, dalam waktu 2 menit pun ia sudah terlelap.
-
Mobil Pajero Sport melaju membelah keramaian kota Surabaya di malam hari. Warung pinggir jalan masih ramai, muda-mudi masih asik nongkrong di pinggir jalan, walaupun kendaraan mulai lenggang.
Setelah mengikuti kajian Ustadz Zhafran, dan diselingi obrolan dengan para jama'ah seputar tentang pemahaman agama, Jack baru pulang menuju apartemennya yang berada di sekitar pusat kota. Koko berwarna putih dengan sarung bewarna navy, pakaian yang dikenakannya malam itu.
Lantunan Murotal Al-Qur’an mengalun di dalam mobil, memberi ketenangan dalam kesendiriannya.
__ADS_1
“Bukankah itu Melisa?” Sudut mata nya menangkap sekelebatan bayangan seorang wanita yang sedang mengenakan atasan berwarna abu-abu dengan rok pendek berwarna putih yang sedang berlari ketakutan tanpa menenteng tasnya.
Jack menghentikan laju mobilnya, dan langsung memutar balikan arah. Untung saja keadaan jalan raya malam itu cukup lengang, hanya ada beberapa motor Ojek Online yang masih mangkalan di pinggir jalan.
Melisa terus berlari ketakutan ketika melihat tiga orang laki-laki berwajah preman yang sedang mengejarnya di belakang. Ia melepaskan high heels nya lalu melemparkannya ke tong sampah.
Yaa Tuhan, tolong aku! Lepaskan aku dari mereka. Gumam lirihnya dengan air mata bercucuran. Suhu tubuhnya tiba-tiba memanas, dengan jantung berdetak cepat.
Ia bingung harus meminta tolong pada siapa, di jalanan itu cukup sepi. Sementara lelaki yang mengejarnya semakin mendekat.
“Tolongggg!!!!” Teriaknya dengan putus asa. Tiba-tiba seseorang lelaki menarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil, lelaki itu tak lain adalah Jack.
“Lepasin!!! Tolong!!!” Jack menoyor sedikit kepala Melisa agar tidak berteriak dan melihat kearahnya yang sedang memegang tangannya di balik kemudi mobil.
“Cepetan masuk, atau mereka akan menangkap kita!” Melisa mengangkat wajahnya. Ia sangat mengenal suara itu, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan bercampur rasa bahagianya.
“Jack!” Lirihnya dengan langsung masuk ke dalam mobil Jack dan duduk disampingnya menutup pintu depan dengan keras. Mobil pun kembali melaju meninggal ketiga laki-laki yang sedang menyugar rambutnya dengan putus asa.
“Dia kabur! Bos pasti marah mendengar ini!” ucap Frustasi ketiga preman itu sambil menendang krikil di pinggir jalan.
Sementara di dalam mobil, Melisa menarik nafasnya kasar. Ia memegang dada dan suhu tubuhnya yang kembali memanas menginginkan sesuatu.
“Melisa, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Jack melihat bingung kearah wanita yang sedang duduk gelisah di sampingnya. Melisa menatap Jack dengan wajah sendu, dengan air mata yang kembali menetes di wajah tirusnya.
“Jack, help me please!” ucap lirihnya yang menggeliat sambil memegang erat lengan Jack, dengan wajahnya yang memerah menahan sesuatu.
“Jack mereka menjebakku! Mereka memberiku obat perangsang!” Lirih gentirnya sambil menggigit bibirnya sampai berdarah. Ia berusaha tetap berfikir waras, menahan gejolaknya yang semakin membara.
“Siapa yang menjebakmu? Siapa yang melakukan itu padamu?” Jack memegang bahu Melisa yang suhu tubuhnya benar-benar panas dengan nafas tak beraturan.
“Aku tak bisa menceritakannya sekarang Jack! Tubuhku panas! Disini gerah! Tolong aku!” Melisa mengibas-ngibaskan tanganya dengan dada yang bergemuruh. Ia memejamkan matanya berusaha merendam gejolak perasaannya. Ia tak menyadari dengan perubahan wajah Jack yang menegang dengan memukul kemudinya pelan menatapnya dengan kesal.
“Kenapa kau malam-malam keluar rumah? Inikan akibatnya? Malam hari tak baik untuk wanita berkeliaran! Bahaya Melisa! Ini bahaya!” Teriak Jack memarahi Melisa. Ia memegang tangan Melisa yang sedang mencakari dirinya sendiri. Ia memegang tangannya dengan sebelah tangannya, lalu kembali melajukan mobilnya
“Saya antar kamu pulang ke rumah! Keadaan mu dalam kondisi bahaya!” Melisa menggelengkan kepalanya dengan memohon. Ia tidak ingin kondisi memalukannya ini diketahui oleh Papih dan Mamihnya.
Yaa Allah saya harus membawanya kemana? Apa saya bawa pulang ke apartemen saya?
“Jangan bawa saya pulang Jack! Bawa saya kemana pun! Asal jangan ke rumah! Saya mohon Jack!” Rintih Melisa sambil membuka kancing bajunya satu persatu, namun tangannya di tahan oleh Jack.
“Jack lepas ahh... Jack... ahh.” Suara-suara laknat mulai keluar dari mulut Melisa ketika tangan Jack memegang erat tangannya. Wajahnya sangat memelas, dengan tangan yang akan kembali membuka kancing bajunya.
“Melisa waraslah! Ingat Tuhanmu!” Teriak Jack dengan wajah frustasi. Di dalam hati ia kasihan melihat kondisi Melisa yang seperti ini. Di sisi lain, akan beresiko besar jika ia membawa wanita yang di sebelahnya itu ke apartemen pribadi nya. Tapi tak ada pilihan lain, ia harus menolong gadis itu cepat-cepat.
“Jack, tolong aku! Rasa ini sangat menyiksaku! Jack aku harus apa? Tolong aku!” Jack menatap wanita di sampingnya tatapan sendu. Tatapan kesalnya berubah menjadi rasa kasihan. Ketika melihat wajah tersiksa wanita yang berada di sampingnya.
“Diamlah! Saya pun bingung harus melakukan apa? Karena kau pun pasti tahu, dengan melampiaskannya kau akan sembuh.” Melisa kembali menggigit bibirnya dengan air mata bercucuran.
“Lakukan apapun Jack, agar aku terbebas dari rasa ini! Lakukan saja! Aku sudah tak tahan Jack. Seluruh tubuhku panas!” Rengek Melisa dengan memegang erat lengan Jack yang sedang menghentikan mobilnya di basement apartemennya.
__ADS_1
“Kau sudah gila? Masih ada cara lain selain itu!” Jack membanting pintu mobil dengan memijit kepalanya. Ia tak bisa meninggalkan Melisa dalam keadaan begitu saja, bagaimana jika ia meninggalkan dirinya sendirian? Mungkin nasib gadis cantik itu akan malang, karena menjadi santapan lelaki hidung belang.
Setelah mempertimbangkannya, ia langsung membopong tubuh Melisa yang memberontak ke apartemennya yang berada di lantai 8.
“Tak ada pilihan lain. Mungkin ini akan menyakitimu!” Tuturnya sambil menurunkan Melisa yang keadaannya sudah kacau. Lalu ia membuka pintu apartemennya,
“Masuklah!” Perintah Jack dengan suara dingin. Ia mempersilakan Melisa untuk masuk lebih dulu lalu baru di susulnya.
Jack langsung membulatkan matanya kaget ketika Melisa ******* bibirnya dengan kasar ketika ia membalikkan tubuhnya setelah menutup pintu apartemen. Melisa terus menciumnya agresif hingga ia terjatuh di atas sofa di ruang tengahnya. Menyadari yang diperbuatnya salah, dengan sekuat tenaga Jack mendorong tubuh Melisa hingga terguling di sofa dengan wajah memerah.
“Melisa apa yang kau lakukan?” Teriak dingin Jack dengan wajah memerah menahan kesal, namun dalam hatinya malah dominan rasa kasihan. Melisa malah menangis, mendekat kearah Jack untuk kembali menciumnya. Ia seperti seorang wanita murahan yang haus akan belaian. Jack memegang erat kedua tangan Melisa dengan mata berkaca-kaca.
“Jack, bercintalah denganku malam ini. Aku mohon! Aku membutuhkan mu melawan kegilaan ini!" Lirih pilu Melisa yang kembali mendekatkan tubuhnya memepet kearah Jack yang sedang menatapnya iba.p
“Kau tak boleh melakukan ini! Kau akan menyesal! Dan saya pun tak bisa melakukannya! Karena saya takut Tuhan marah pada saya!” Lirih Jack dengan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Melisa yang akan memeluknya.
“Jack, ini bukan mauku! Aku tidak ingin seperti ini! Tolong aku! Hanya kau yang bisa menolongku sekarang. Cepat Jack! Tubuhku panas! Terserah kau mau bilang aku wanita apa? Tapi aku mohon bantu aku!” Teriak Melisa di tengah kesadarannya. Pikirannya mulai kalaf, ketika merasakan gejolak dalam tubuhnya yang semakin memanas dan ingin tertuntaskan.
Yaa Allah, saya harus berbuat apa? Saya kasihan melihat dia seperti ini. Dan saya pun tidak ingin terjerumus dalam perzinahan.
Maafkan saya Melisa, saya terpaksa melakukan ini!
Jack berjalan menjauhi Melisa yang kini sedang mengejarnya seperti orang gila. Melisa mulai melepaskan pakaian atasannya, dan menyisakan tank top berwarna hitam. Setelah menemukan barang yang dicarinya, Jack langsung membelitkan tali ke tangan Melisa yang sedang berontak, ia tak menghiraukan teriaknya sama sekali.
“Jack .. ahh .. panas .. tolong .. Jack .. bercintalah denganku. Jack .. aku mohon.” Racau nya sambil melakukan perlawanan dan hendak menciumnya ketika Jack membelitkan tali di penggelangan kakinya.
“Maafkan saya Melisa! Ini jalan terbaik! Saya tak ingin menjadi lelaki brengsek!” Gumam pelan Jack dengan menggendong tubuh Melisa ala bridal style menuju kamar mandi miliknya. Ia langsung meletakkan Melisa di dalam bath up dengan menyiram air dingin ketubuhnya.
“Jack, apa yang kau lakukan? Bercinta lah denganku malam ini! Aku sudah mandi!” Dengan mata berkaca-kaca Jack kembali menyiram melisa dengan seember air. Menyalakan shower di atas kepala nya. Melisa kembali berontak dengan tangan dan kaki yang di ikat. Bibirnya gemetar kedinginan, karena malam itu sudah memasuki tengah malam.
“Maafkan saya Melisa! Ini semua saya lakukan agar kita terhindar dari perzinahan. Bukannya saya lelaki sok suci, saya tak ingin menambah dosa saya yang sudah menggunung ini dengan menggagahimu yang dalam pengaruh obat ini. Dan saya pun hanya ingin melakukannya dengan istri saya kelak, wanita yang halal untuk saya sentuh.” Jack membiarkan air bath up itu penuh merendam tubuh Melisa yang bergetar tak berdaya.
“Saya akan kesini setelah kamu tenang. Setelah pengaruh obat dalam tubuh mu hilang.” Jack meninggalkan Melisa yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali menutup pintu kamar mandi itu dengan pelan, mengabaikan teriakan pilu melisa yang sudah kehilangan kendali.
“Jack lepaskan aku! Aku kedinginan! Ayoo kita bercinta! Jackkkkk!”
“Jack lelaki bodoh! Dingin! Buka ikatanku!”
Jack menghapus sudut matanya, meninggalkan Melisa menuju kamarnya. Jika ia terus berdiri di situ, ia takut tak bisa menahan diri untuk membuka ikatannya, dan terjerumus pada kesalahan besar.
Maafkan saya yang memperlakukan mu seperti ini Melisa!
-
Kuyy vote sama hadiahnya ♥️♥️♥️♥️
Yang part kemarin masih di review 😭 Gak tahu sama yang ini, lulus cepatnya yang mana.
Mudah-mudahan aja cepat lulus review 😭 Padahal udah di revisi 2x. Yang ada konten hareudang nya banyak yang d skip sampe di hilangkan 1K, biar cepet lulus.
__ADS_1