
BANDUNG 2012
Febby Febriani mahasiswi semester empat berparas cantik ini sedang sibuk mengisi jurnal salah satu tugas dosennya di bawah pohon rindang di kampusnya. Tangannya begitu cekatan mencorat-coret lembaran jurnal menggunakan papan dada. Tak lama Bagas sahabatnya datang membawa camilan rujak buah menghampirinya.
“Buah feb?” tawar bagas padanya. Febby menggeleng menolak tawaran Bagas .
“Ini jam berapa gas?” tanya febby sambil masih sibuk mencorat-coret jurnalnya.
“Baru jam dua belas lebih.” Sahut Bagas. "Mau gawe ya?” Febby mengangguk tak menoleh pada Bagas.
“Gue nitip tugas ya, gue ijin, jam satuan gue berangkat.” Ujar febby sambil mengibas-ngibaskan tugasnya.
“Ok!” jawab Bagas singkat yang asik menikmati rujak.
“Woi.” Andri mengagetkan Bagas dari belakang.
Bagas kaget dia memukul lengan andri kesal. Andri memukul balik Bagas, mereka berdua berantem bak kakak adik yang rebutan mainan.
“Hei hei hei udah stop.” Ujar Isti melerai mereka, Bagas dan Andri cengengesan menghentikan pertengkaran mereka lalu duduk berdampingan akrab.
”Febby ini ada orang berantem dibiarin!” ujar Isti marah menceramahi Febby, Febby diam hanya tersenyum pada Isti.
“Mereka hereui (bercanda) teh, liat aja tampang mereka yang cengengesan gitu.” Ujar febby santai. "Teh gak papa kan pulang sendirian, aku kerja nanti.” ujar febby pada Isti dia memanggil teteh karna usia Isti lebih tua darinya.
“Iya gak papa.” Sahut Isti tersenyum. “Kamu hati-hati ya.” Febby mengangguk tersenyum masih sibuk dengan tugasnya.
“Hei hei feb feb, Randi datang tuh.” ujar Bagas mencolek-colek lengan Febby.
“Gue taruhan, dia pasti baru tau elo putus dari Aldo, gue yakin dia mau nembak elo, tontonan seru nih.” Ujar Andri semangat. " Setau gue nih ya, dia tu paling update kalo elo jomblo feb, kenapa gak diterima aja sih dia lumayan oke ko.” tambah Andri cengengesan.
“Hei semua? Gas, ndri?” sapa Randi pada temen-teman Febby.
“Hai.” Isti Andri dan Bagas membalas sapaan Randi.
“Feb?” tanya randi pada febby.
“Ya?” jawab Febby masih sibuk dengan tugasnya.
“Saya bisa ngomong sebentar sama kamu?”
“Bisa.” Febby tak menoleh pada randi matanya masih fokus melihat tugasnya.
“Tapi gak disini.”
“Ga bisa, saya bisanya disini, saya lagi ngerjain tugas.” Timpal Febby cepat.
Randi melihat ke arah Andri, Isti dan Bagas. Dia menarik nafas dalam memberanikan diri mengatakan sesuatu
“Ok feb.... mmm saya suka sama kamu.” tangan Febby berhenti menulis dia menoleh ke arah Randi.
“Terus?” jawab Febby santai.
“Mau gak jadi pa-car aku?” ujar Randi hampir terbata-bata karna grogi.
“Gak.” dia langsung menolak pernyataan cinta Randi cepat dan kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya.
“Kenapa?”
“Ya gak mau aja, saya sibuk Ran gak da waktu buat pacaran.” Jawab Febby santai tersenyum ramah.
“Saya harap kamu bisa ngasih kesempatan dulu sebelum kamu menolak saya, saya janji saya tidak akan menjadi pengganggu kuliah kamu ato kerjaan kamu, saya akan menjauh kalo kamu sudah memberikan kesempatan sekali saja buat jadi pacar kamu.” Jelas Randi panjang lebar, membuat Febby diam sejenak berfikir.
__ADS_1
“Oke, saya mau.” jawab Febby singkat sembari sibuk dengan tugasnya. Randi tercengang mendengar ucapan febby.
“Serius?” ujarnya girang.
“Iya.” Jawab Febby singkat.
“Jadi sekarang kita jadian dong?” tanya Randi, Febby mengangguk tak menoleh pada randi dia begitu sibuk dengan tugasnya.
“Feb Maksih ya feb.” Ucap Randi bahagia.
“Cieee slamet ya Ran, elo mang hebat.” ujar Andri merangkul Randi dari belakang, Randi mengangguk tersenyum bangga pada Andri.
“Selamat.” Ujar Bagas dengan senyum datar, berasa tak suka pada Randi.
“Teteh gak ngasih selamat ke saya?” canda Randi pada Isti.
“Owh iya selamat.” Sahut Isti sambil membenarkan hijab dengan senyumnya yang terlihat dipaksakan seperti ada rasa iba yang dirasakan oleh Isti pada Randi.
“Oke Alhamdulillah, selsesai.” Ujar Febby girang merapikan beberapa lembar tugas kuliahnya. "Gas ini tugas gue jangan lupa kasihin, oke semua gue berangkat sekarang ya?”
“Feb mau kemana?” Tanya Randi.
“Mau kerja.” Jawab Febby singkat sambil membenahkan ranselnya.
“Mau saya anter? saya kosong kok dosen masuk jam setengah tiga.” Tawar Randi.
“Gak usah.” ujar Febby sembari berdiri, baru saja dua langkah berjalan Randi menahan lengannya, lalu dia mengambil kedua tangan mungil Febby.
“Feby, hati-hati ya.” Ujar Randi mesra memegang tangan pacar barunya. Febby kesal dia langsung membuang tangan Randi.
“RANDY LEPAS!!” ujar Febby marah.
“Emang ada ya aturan pacaran pegangan tangan?” ujar Febby yang merasa keberatan dengan tingkah Randi.
“Ya bukannya wajar? Akukan pacar kamu , iya kan ndri?” tanya Randi pada Andri seraya dia mencari persetujuan dari salah satu playboy kampus.
“Iya bener itu hal lumrah kalo pacaran pegangan taman, jalan, ciuman pipi cium dahi, cium...” jelas Andri cengengesan.
“Terus gue harus ngelakuin itu?” sahut Febby memotong.
“Ya kita kan pacaran. Gimana kalo besok kita candle light dinner bis pulang kuliah?” bela Randi atas argumennya, dia to the point mengajak Febby ngedate.
Febby kesal dia melihat jam di hpnya menunjukkan jam satu lebih belum apa-apa Randi sudah merepotkan membuat Febby kesal mengulur waktu dan menghambat waktu kerjanya.
“Randi kita putus.” Sahut Febby, Andri dan Bagas tertawa melihat kejadian itu, sedangkan Isti yang duduk pura-pura sibuk dengan BB-nya. Febby langsung pergi, Randi kaget dia langsung menahan lengan Febby.
“Apa? Feb sebentar baru aja kita jadian.”
Febby melepaskan tangannya dari Randi dia melirik ke Andri meminta bantuan pada sahabatnya. Lalu febby pergi.
" Feb? Feb? Febby.” panggil Randi berteriak hendak mengejar Febby, tapi Andri merangkulnya lagi dari belakang.
“Wus wus tenang-tenang, elo harus sabar Ran, kan elo sendiri tadi yang bilang elo gak akan ganggu dia kalo elo udah dapet kesempatan jadian sama Febby.” ujar Andri menepuk-nepuk pundaknya.
“Iya barusan kan elo udah jadian.” Ujar Bagas membela Febby.
Isti malah mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kejadian barusan. Sedangkan Randi masih melamun seraya tak percaya dalam sekejap dia bahagia dan dalam sekejap dia patah hati oleh pujaannya Febby.
#
BANDUNG 2019
__ADS_1
“Woi Assalamualaikum Warohmatullahiwabarokatu, akhi.” sahut sahabat-sahabat Rio, menyapa Rio datang ke kampusnya ITB bada Isya.
“Walaikum salam warahmatullahi wabarokatu.” jawab Rio sumeringah menyapa ketiga sahabatnya alumni ITB.
“Woi tumben mau dateng nongkrong malem-malem gini?” sahut Sahroni.
“Iya saya mau minta tolong hubungi beberapa ustaz yang terkenal di sosmed untuk tablig akbar.” jelas Rio.
“Wezzz, mau ngadain tablig akbar, kok gak ngajak-ngajak, kapan?” tanya Rafi.
“Ya dua minggu lagi.”
“Wah mantap kali kau yo, aku ikut nyumbang ya, biar dapat pahala aku.” ujar Igor salah satu sahabatnya pengusaha dari medan.
“Loh ini kan saya gak minta sumbangan cuma mau ngadain syukuran kecil-kecilan.” jelas Rio.
“Tak apalah yo, kau buat besar sekalian program mu itu, biar aku juga dapet pahala, dari pada uangku habis dipake buat beli tas istriku, milyaran uangku habis dibelikan tas oleh hobinya hahaha.” sela Igor.
“Iya yo gue gabung juga ya, apalagi kan ini mo bulan puasa, gue mau nyicil pahala mulai sekarang ni.” tambah Rafi salah satu sahabatnya yang seorang pengusaha juga.
“Emang dimana elo ngadainya?”
“Jauh kang roni, di Rancabali.” Sahut Rio.
“Rancabali Ciwidey? bukannya sepi ya?”
“Iya sih tapi saya mau diisi sama ustad terkenal, buat menarik orang kota datang.”
“Ini kalo mau narik orang kota, kenapa gak diadain di kota aja?” tanya Rafi heran.
“Program ini benar-benar bukan untuk cari untung, pyur untuk mencari pahala. Target utamanya adalah orang desa yang tinggal disana yang pengetahuan agamanya masih minim, kalo di kota, orang-orang bawah yang kasian yang harus menyediakan ongkos ke kota. Jangankan untuk ongkos bahkan untuk kehidupan sehari-hari aja mereka susah, kalo orang kota ke desakan mudah. Apalagi kalo mereka tau pengisi tablig akbarnya ustad-ustad terkenal, saya rasa kalo orang kota tak akan keberatan merogoh kocek untuk mengikuti pengajiannya.” jelas Rio.
“Wah bagus kali program kau, aku ikutlah.” Ujar Igor tertarik.
“Aduh ini gimana ya?”
“Udah yo loe jangan bingung kita bikin gede aja sekalian program elo, selama lima hari semisal, pas siangnya kita isi event, kita buka stand buat perusahaan yang mau join.”
“Tapi ini beneran bukan buat cari untung kang.”
“Kau ini, kau kira kita nyumbang buat balik modal?” ujar Igor gemas dengan jawaban Rio.
“Iya yo bukan cuma elo yang butuh pahala, gue juga kali, udah bikin gede sekalian gue bantu cari donatur biar pahala gue tambah banyak hahaha.” Ujar Rafi.
“Gini aja kita bagi tugas, Rio cari agensi yang bagus, dan elo Raf mau cari donatur bagus apalagi keluarga elo pembisnis semua, gue yang cari ustaz-ustaz kondang nanti gue juga ngasih donatur juga kok, dan elo Igor...”
“Gue nyumbang sajalah, kalo perlu kujual tas istriku yang milyaran itu.” potong Igor malas.
“Eh gimana kalo kita ngadain reunian tahun pertama kita disana, mereka InsyaAllah mau, apalagi disana ada glamping kan, apalagi pemandangan di malam hari, wuzzz pasti bagus, mereka Insya Allah pasti setuju?” ucap Rafi semangat.
“Apa itu glamping?” tanya Igor.
“Itu jarik.”
“Samping itu.” Ujar Ijor merasa dikerjai Sahroni.
“Oke saya setuju.” Jawab Rio.
“Sip gue transfers sekarang ya, dari pada lupa aku.” Ujar Igor semangat.
Rio bersyukur sahabatnya mendukung programnya, semoga Allah membalas kebaikan mereka.
__ADS_1