Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
19. Mini Dress


__ADS_3

Semarang yang tadi pagi diguruy gerimis, cuaca menjadi bersahabat pada saat siang. Bu Sriyantika menjemput Rara dan Tia di kantor mereka dengan mobil X-trailnya berwarna putih. Dia begitu bersemangat menyiapkan segala sesuatunya, bak mempersiapkan pernikahan anaknya sendiri. Mereka melaju ke Semarang kota ke salah satu mal. Disana ada salah satu butik mewah yang menjual dan menyewakan gaun pengantin bernama “Nayyara”. Butik elegan ini didekor hampir semua berwarna putih gold, didepan butik terpampang gaun-gaun pengantin yang cantik dan luxury. Mereka masuk disambut oleh assisten toko berseragam rapi seperti pegawai kantoran. Rara dan Tia terkagum-kagum dengan dekorasi dan baju-baju mewah yang ada didalam butik tersebut.


“Selamat siang ada yang bisa dibantu?” sahut asisten tersebut menyapa mereka bertiga.


“Siang mbak, saya mau cari pengantin buat anak saya.” sahut bu Sriyantika ramah sambil memegang bahu Rara. “Untuk hari Jum’at, dua belas hari lagi.”


“Owh iya saya ucapkan selamat mbak, mau gaun yang kaya gimana?”


“Saya mau anak saya memakai gaun yang bawahannya lebar tidak membentuk badan, dan berlengan panjang, ada mbak? untuk warna saya ingin warna soft.”


“Mari ikuti saya.”


Mereka berjalan beberapa meter dari tempat asal mereka, disana ada beberapa gaun elegan terpampang bak lemari gantung panjang terbuka.


“Silakan pilih yang ibu suka.” ujar assisten toko menunjuk ke pajangan gaun yang terpampang.


“Gimana kalo warna peach nduk?” Sahut bu Sriyantika.


“Iya tante Rara ikut aja.” Ujarnya santai.


“Ini yang mau nikah elo bukan mamih.” Tia berbisik kencang ke telinganya Rara.


“Ya gue percaya pasti tante Sri pilihin gaun terbaik buat gue.”


“Iya kamu tu nduk kok ngomongnya gitu, orang yang dipilihinya seneng, malah kamu yang protes.” gerutu mamihnya.


“Ya abisnya itu mamih yang pilih, ini mamih yang pilih.”


“Kamu pengen ikut milihin nduk? coba menurut kamu Rara bagusnya pake gaun yang gimana?” tanya mamihnya yang ingin mengetahui selera anaknya.


“Bentar.” tangan Tia menjelajah gaun yang terpampang di lemari. Sampai matanya terhenti pada salah satu gaun, gaun pengantin yang sangat mini, bak mini dress. Gaun cantik berwarna putih lekbong tidak berlengan, pendeknya sepaha dan berdada terbuka, bagian punggungnya juga terbuka ,hampir seluruh punggung akan terlihat bagi si pemakainya, gaun yang dipilih Tia. Bu Sriyantika dan Rara tercengang dengan pilihan Tia.


“Ini mih bagus kan?” sembari diserahkannya gaunnya ke bu Sriyantika.


“Nduk, kamu tuh gimana sih, ini aurat semua kelihatan, mamih gak setuju.”


“Iya loe apa-apaan sih.” protes Rara.


“Eh jangan salah paham dulu ini bukan pas nikahkannya tapi ini buat ...” Tia mendekatkan wajahnya ke mamihnya dan Rara, hendak membisikkan sesuatu.


‘Malam pertama.’ bisiknya pada mereka berdua. Rara kaget dengan apa yang dipikirkan Tia, malu dibuatnya.


“Iya ya nduk kamu cerdas.” sahut bu Sriyantika malah menyetujuinya.


“Tante tapi ini...” Rara mengelak tidak setuju tapi dipotongnya omongannya oleh bu Sriyantika .


“Eh nduk sunah tau pake pakaian begini didepan suami, ibadah ini.”


“Iya bener tau ibadah tau! Mih gimana kalo sekalian kita beli gaun sexy yang lain, yang kaya gini yang bayak biar Rara bisa punya ganti.” ujar Tia yang asyik menjaili Rara.


“Ayuk mamih setuju.” bu Sriyantika dibuat bersemangat oleh anaknya.

__ADS_1


“Iya ok ok tante gini, yang utama dulu aja ya, kan kita kesini mau pilih gaun pengantinya.” Sahut Rara berusaha mengalihkan perhatian bu Sriyantika.


“Owh iya ya, tante lupa.”


“Tapi mih.... auuw.” Rara mencubit lengan Tia di belakang bu Sriyantika untuk tidak melanjutkan candanya.


“Ayo tante, pilihin Rara gaun pengantinya.” Rara menarik lengan bu Sriyantika menjauhkan nya dari Tia. Tia mengusap-ngusap lengannya yang kesakitan sambil cengengesan melihat expresi Rara.


Cukup lama mereka memilih gaun, begitu banyaknya gaun yang membingungkan mereka. Sampai mata bu Sriyantika tertuju pada gaun berwarna silver campur baby blue, gaun panjang, berlengan panjang dan berleher ini di hiasi manik-manik batu swarovski elegan berwarna perak.


“Ini bagus nduk.” sahut bu Sriyantika . Rara mengangguk setuju dengan gaun pilihan tantenya.


“Bagus sih mih, tapi kalo nikah bukannya biasanya putih ya?” sela Tia.


“Itu sih adat nduk, mau pakai warna apa aja bisa kok, Islam selalu memudahkan segala sesuatu, tidak harus pake baju warna A lah B lah yang penting tidak tebuka auratnya, mamih sih pengennya Rara pake hijab itukan kewajiban sayang.”


“Mamih mulai deh.” Tia mengabaikan nasehat mamihnya. “Udah mih diambil aja gaun yang ini, sekalian gaun yang dipilih Tia dibeli juga ya.”


Rara kaget dia masih ingat dengan gaun mini yang tadi dipilihnya.


“Iya, kita ambil yang ini, terus yang gaun kamu pilih kita beli.” Ujar mamihnya menyetujui pendapat anaknya.


“Tante kayaknya gak usah.” Elak Rara.


“Eh itu hadiah dari kita tau.” ujar Tia keukeuh.


Rara menutup matanya malu, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Tia.


 


 


Pernikahan yang akan diadakan dirumah bu Sriyantika pada hari Jum’at ini, tidak banyak mengundang tamu. Rara hanya mengundang staf kantor, tetangga dan teman dekat bu Sriyantika dan Tia. Dari pihak Bagas pun Bagas hanya mengundang segelintir sekitar belasan teman terdekatnya. Rara tidak menggelarkan pernikahan yang mewah, dia hanya ingin agar keluarganya kelak sakinah mawadah warohmah. Hal ini sudah disepakati Rara dan Bagas sebagai raja dan ratu acara.


Walaupun begitu Bagas tetap menyediakan yang terbaik, dia menyediakan buget yang lumayan untuk pernikahan mereka, EO, Katering, bahkan dekor yang dipilih adalah kelas premium. Bahkan dia tidak sungkan menyiapkan seserahan barang mewah untuk Rara.


 


Jam tiga subuh rumah bu Sriyantika sudah ramai, rumah yang indah dinding didekor tirai putih dan biru. Di setiap sudut rumah dihiasi mawar putih, meja ijab ada di tengah rumah diatas panggung kecil lebar dengan tinggi setengah meter, rumah mewah ini cukup untuk menampung banyak tamu.


 


Jam delapan Rara sudah siap terlihat cantik dengan make-up naturalnya. Dia mengenakan gaun pilihan bu Sriyantika, rambutnya yang disanggul kecil sederhana dikudungkan selendang mewah berwarna putih, dan dihiasi piara elegant. Tia yang menemaninya ikut serta mengenakan pakaian feminim, dia mengenakan dress warna peach yang seragam dengan bu Sriyantika . Dia bolak-balik dikamar Rara berusaha menyesuaikan jalannya menggunakan sandal selop.


“Masya Allah, loe cantik ra!” Rara tersenyum mendengar pujian Tia yang masih sibuk dengan dressnya.


“Tia loe juga cantik feminin.” ujar Rara memuji Tia balik, membuat wajahnya tersipu malu.


“He he Alhamdulillah akhirnya ada yang bilang gue cantik.” Sahutnya sambil cengengesan.


DRRT DRRT suara Hp Tia berbunyi, tertera nomor yang tak dikenal dilayar Hpnya.

__ADS_1


“Hallo Assalamualaikum, dengan siapa ya?”


“Walaikumussalam, Tia ini gue Wildan.” Tia diam berusaha mengingat orang yang bernama Wildan.


“Wildan?”


“Wildan elektro, UPI...UPI, temen kelas loe, masa loe gak inget?”


“Astagfirullah, woi pak kabar?” ujarnya sudah kembali kelogat tomboynya.


“Baik-baik, loe gimana?”


“Gue baik, by the way ada apa? tumben loe hubungin gue.”


“Eh iya gini Ti loe kenal pak Rian?”


“Pak Rian?”


“Pak Rian panbe, loe kenal kan?, dia yang ngasih kontak loe.” ujar Wildan.


“Owh iya kenal kenal dia klien gue, ada pa mang?”


“Ti perusahaan tempat gue kerja, mau ngadain event di Semarang udah lama gue nyari agensi, gue konsul sama dia, trus dia ngasih contak loe, pas gue liat pp loe di Whatsapp, ternyata elo.”


“Iya iya, loh kirain loe ngajar, jadinya ke industri juga ya?”


“Iya sih, hehe ya loe taulah dunia ngajar feenya gimana?”


“Ya udah Senin aja loe datang ke kantor gue, bisa kan?”


“Kalo sekarang gak bisa ya? Coz besok gue balik ke Bandung.”


“Owh kantor loe di Bandung?”


“Iya, bisa gak?”


“Aduh gimana ya , hari ini sodara gue nikah, ya udah gini ja, loe kesini aja bis ijab gue langsung temuin loe, proposalnya gue ambil, ijabnya jam sembilan, loe kesini aja langsung di kencana resident alamat rumahnya gue WA-in ya, sekalian makan-makan disini banyak makanan.”


“ Wah gue gak tau elo lagi hajatan, tapi gak papa nih gue ganggu?”


“Loe kaya sama sapa aja.”


“Ya udah bentar lagi gue otw ya.”


“Sip Assalamualaikum?”


“Waalaikumussalam.”


“Siapa ti?” tanya Rara heran.


“Ini temen kuliah, mau masuk agensi kita katanya.” jelas Tia sambil mengirim alamat rumahnya ke Wildan.

__ADS_1


__ADS_2