Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
PANTAS


__ADS_3

“Udah enggak kang, sekarang di industri. Ni kebetulan habis cek event,” ujar Wildan sumeringah bertemu kakak tingkatnya di Kapatihan.


“Wah sampe malem kerjanya?” tanya Rio membawa banyak camilan di wadah belanjaan, mereka berdua berjalan dilorong makanan.


“Gak tiap hari sih kang, kalo pas ada event aja ngecek-ngecek. Kang Rio masih ngajar di SMK?”


“Alhamdulillah masih,” ujarnya tersenyum.


“Wah hebat kang Rio ni, emang susah ya kalo udah fashion padahal...,”


JBUK!


Seorang wanita menubruk Rio di ujung lorong membuat beberapa belanjaannya terjatuh. Tanpa meminta maaf perempuan tersebut terus berlari. Terlihat dari gelagatnya menyeka air mata membelakangi mereka, Rio dan Wildan bisa menebak perempuan tersebut menangis.


“Aduh si tetehnya kenapa sih?” ujar Wildan.


“Udah biarin Wil,” ujar Rio santai melangkah maju hendak mengambil barangnya yang jatuh. Tiba-tiba Tia yang mencoba mengejar Rara, tak sengaja dia menubruk Rio sampai keranjang belanjaannya jatuh. Kali kedua Rio di tubruk membuat semua belanjaannya berantakan di lantai.


“Aa aduh punten.” Tia melihat ke arah Rio, kaget mengetahui yang ditubruknya adalah kakak tirinya.


“Tia?” sapa Wildan.


“Loh Wildan?” Mereka bertiga jongkok memungut barang-barang Rio yang berserakan di lantai.


“Elo ngejar siapa sih?”


“Rara,” jawab Tia singkat.


“Owh cewek yang nubruk kang Rio tadi tu Rara? Lho kenapa dia, tadi keliatannya dia nangis ya?” tanya Wildan.


Tia mengangguk mengiyakan, sambil menyerahkan barang terakhir yang dipungutnya dari lantai pada Rio.


“Ini a, maaf tadi gak sengaja,” ujar Tia meminta maaf lagi.


“Enggak papa, kamu gak papa?” tanya Rio malah menanyakan keadaan Tia balik. Tia mengangguk menjawab pertanyaan Rio.


“Akh pasti ini elo berantem sama dia,” sela Wildan.


“Apaan sih lo Wil siapa juga yang berantem. Orang tadi kita cuma salah paham aja,” elak Tia.


“Udah gini aja, biar gue yang ngejar dia. Kalo dia lagi emosi gini, percuma loe ngejar dia yang ada tambah emosi,” ujar Wildan.


Wildan langsung berlari ke arah eskalator mengejar Rara yang sudah tak terlihat lagi sosoknya. Ditinggalnya Tia dan Rio diujung lorong tersebut.


“Kamu apa kabar?” tanya Rio mengenakan hoddy coklat dan celana panjang tiga perempat. Gaya nya memang tidak berubah Rio selalu memakai celana panjang tiga perempat tak menutup mata kakinya.


“Baik,” jawab Tia singkat. Dia berasa tak suka dengan Rio.


“Sekarang kerja dimana?”


“Agensi,” jawab Tia ketus, melihat kanan kiri merasa tak nyaman berbicara dengan kakak tirinya.

__ADS_1


“Kamu jangan kuatir saya sudah nikah, jadi gak akan ada lagi yang ngelabrak kamu,” ujar Rio tersenyum. Dia salah paham dengan tingkahnya Tia yang berasa diawasi seseorang.


“Paling istri saya yang dilabrak,” canda Rio sambil tertawa tipis, berusaha mengakrabkan suasana dengan Tia.


Tia hanya tersenyum tipis mendengar celoteh Rio. Dia merasa tak nyaman berbicara dengan kakak tirinya, di dalam hatinya hanya ada rasa benci yang tertanam pada Rio. Karna Rio lah yang sudah mengambil papihnya.


“A maaf saya harus nyusul sodara saya, saya gak tenang. Permisi Wassalamualikum.” Tia pamit pada Rio.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Rio melihat Tia pergi menuju eskalator turun.


Tia mencari\-cari Rara mengelilingi lantai satu. Dia juga menelpon Rara tapi tak kunjung diangkat.


“Tia!” Teriak Wildan di belakangnya.


“Dimana Rara?” tanya Tia.


“Gak tau, gue belum ketemu!” ujar Wildan sembari melihat kanan kiri mencari sosok Rara.


“Kita ke bestment sapa tau dia diparkiran,” ujar Tia.


Mereka berdua turun ke besment, sesampainya di mobil Tia, mereka tak menemukan sosok Rara. Lalu mereka kembali keluar gedung.


“Elo tadi kenapa? Salah paham apa emang?” tanya Wildan mulai kepo.


“Ga papa, cuma tadi dia ketemu temen lama.”


“Terus?”


”Udah pokoknya cari dia dulu,” elak Tia.


“Ya kan gue harus tau dulu dia kenapa?” timpal Wildan sewot.


“Elo kenapa sih, elo suka ya sama dia?” jawab Tia balik sewot malah membuat Wildan diam.


“Ya emang salah kalo gue suka?” celetuk Wildan blak-blakan sambil membuang pandangan.


Tia melihat heran pada Wildan dia sudah menebak kalau Wildan ternyata menyukai Rara. Wildan yang merasa salting mengatakan hal tersebut, dia mencoba fokus melihat ke sekitar mencari Rara.


“Masjid!” teriak Wildan mengagetkan Tia yang sedari tadi memandangnya heran.


“Apa?” tanya Tia heran.


“Rara pasti ke masjid.”


Wildan menunjuk menara masjid alun-alun Bandung, dia seolah tau ke mana Rara pergi kalau dia sedang sedih. Sama seperti dia mengantar Rara pergi ke masjid Agung waktu di Semarang.


Mereka langsung menuju masjid Alun\-Alun Bandung. Di sebelah kanan masjid ada lapangan hijau luas yang penuh dengan pengunjung kebanyakan keluarga bapak, ibu dan anak\-anaknya sedang bermain. Lampu malam menghiasi lapangan, dua menara masjid tinggi menjulang kokoh mempercantik desain masjid Alun\-alun Bandung.



Tia melihat ke lapangan mencari\-cari Rara, dia tak menemukan Rara tapi malah menemukan sosok Rio yang sedang bermain bola dengan anak kecil perempuan berusia lima tahunan. Lalu Tia melihat bu Halimah ibunda Rio dan papihnya, tak jauh beberapa meter dia melihat seorang wanita yang dia kenal. Elin mengendong anak bayi berjalan mendekati bu Halimah, mereka berdua mengobrol akrab. Penampilan Elin berubah, dia sudah mengenakan hijab dan gamis panjang syar’i. Tia memandang mereka merasa iri dengan keharmonisan keluarga tersebut.

__ADS_1


“Pantes!” gumam Tia sinis. Pantas saja istrinya Rio gak dilabrak, orang ngelabraknya aja jadi istrinya pikirnya.


“Apa yang pantes? “ tanya Wildan membuyarkan lamunannya. Tia menggelengkan kepalanya.


“Wil gue cari ke dalem elo tunggu sini!” Wildan mengangguk.


💚💚💚💚💚💚💚


Rara sedang duduk di masjid, setelah melakukan shalat dua raka'at untuk mencari ketenangan hatinya. Dia merasa marah dan kecewa dengan dirinya sendiri. Rara memohon ampun atas semua dosa yang di perbuatnya semasa lalu. Rara merasa terpukul menemukan kenyataan pahit tantang dirinya yang tak baik untuk yang kesekian kali. Seorang yang selalu bergelut dengan dunia malam dan alkohol. Rasa menyesal menyelimuti hatinya, Rara merasa dirinya kotor atas fakta\-fakta yang dia temukan.


Pantas saja tuhannya menghukumnya dengan menghilangkan memorinya, karna tak ada hal baik dari dirinya untuk diingat di masa lalu.


Akh sudahlah, dia sudah ikhlas dengan semua ini. Biarkan saja dia hidup sebagai Mutiara dan mengubur Febby sebagai gambaran masa lalunya yang hina. Mungkin Tuhannya sengaja menghilangkan memorinya agar dia mempunyai kehidupan baru yang lebih baik dengan identitas baru.


“Ra?” sapa Tia datang.


“Maafin gue, gue gak bermaksud...,”


“Cukup Ti, cukup tolong jangan paksa gue lagi nyari identitas gue,” ujarnya memelas.


Tia mengangguk mengiyakan, dia merasa bersalah pada Rara yang terus-terusan mencari hal baik dari identitas Rara di masa lalu yang belum dia temukan. Tia memeluk Rara dan mengusap-usap bahunya. Rara menyeka air matanya, berusaha tegar.


💚💚💚💚💚💚💚


TOK TOK TOK. Bu Sriyantika mengetuk kamar Tia , Rara membukakan pintu kamarnya hendak salat subuh.


“Kita jama’ah yuk nduk,” ajak Bu Sriyantika. Rara menyetujuinya langsung mengikuti Bu Sriyantika ke kamarnya untuk salat berjamaah.


Setelah salat, seperti biasa Rara mengaji di pandu Bu Sriyantika. Rara membaca Al Qur’an dengan tartil dan menjaga tajwidnya. Setelah satu lembar habis, Rara menyudahi bacaannya. Bu Sriyantika memandang Rara dengan lembut


“Nduk, tante tau semua cerita tentang identitas kamu dari Tia,” ujar Bu Sriyantika tersenyum hangat. Rara tertunduk malu, dia tidak berani menatap mata Bu Sriyantika


“Sayang?” ujar bu Sriyantika lembut.


“Iya tante?” Rara melihat ke arah Bu Sriyantika perlahan. Bu Sriyantika melihat netranya mulai berkaca-kaca.


“Tidak masalah bagaimana kita seperti apa dulu, yang penting kita selalu merubah diri kita menjadi lebih baik.”


Rara tak kuat menahan air mata, setetes air matanya jatuh ke pangkal pipinya.


“Tapi Rara malu tante,” isak Rara.


“Malu sama siapa?”


“Sama semua. Sama tante, Tia, Rara sendiri, terutama sama Allah Rara malu tante.”


“Itu bagus sayang, nduk rasa malu merupakan bagian dari iman. Sayang apa yang kamu rasakan itu sudah benar, kalo Rara malu sama perbuatan salah yang pernah Rara lakukan itu baik nduk. Yang terpenting kita tidak hanya malu dan menyesal, kita harus memohon ampun sama Allah dan hadapi nduk.”


Rara diam mendengar syiarnya Bu Sriyantika. Tangisnya pecah rasa menyesal dalam dirinya semakin menggebu-gebu. Bu Sriyantika mendekatinya memeluknya.


“Allah Maha pengampun nduk, jangan putus asa dengan rahmat-Nya nduk. Itu yang harus kamu lakukan,” lanjut Bu Sriyantika.

__ADS_1


Rara mengangguk mengiyakan nasehat Bu Sriyantika. Setelah mendengar syiar Bu Sriyantika, Rara langsung salat taubat. Dia memohon ampun atas kesalahan di masa lalu, dan dia bertekad kuat untuk istiqomah dengan hijrahnya.


__ADS_2