Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
BENCI (BENAR BENAR CINTA)


__ADS_3

Pada hari pertama masuk kerja setelah sembuh dari sakit, Rara menjalani pekerjaan dengan wajah semeringah. Dia merasa bahagia karna menikmati harinya tanpa Rio. Sesekali dia berfikir apa yang Rio punya sehingga bu Sriyantika dan Tia begitu menyukainya.


“Ra?” panggil Tia muncul dari daun pintu kantornya.


“Ya?”


“Besok loe interview ya satu staf sama satu supervisor dulu ya.”


“Sip.”


Tia hendak pergi tiba- tiba Rara memanggilnya. “Eh Tia?”


“Ya?” kepala Tia nongol dari daun pintu.


“Elo lagi sibuk?”


“Kenapa gitu?”


“Ya cuma pengen ngobrol aja bentar. f9”ujar Rara. Tia yang berdiri di lawang pintu langsung masuk duduk di depan meja Rara.


“Apaan?” tanya Tia heran, Rara diam sejenak meruncingkan pandangannya menatap Tia.


“Elo suka ya sama Rio?” tanya Rara.


Tia yang tadinya penasaran dengan Rara, dia langsung tak kuat menahan tawa mendengar pertanyaan Rara.


“Ikh kenapa ketawa sih?” rengek Rara.


“Ha ha, loe tu lucu Ra, lucu banget.” Tia mencubit pipi Rara gemas.


Auww!


Rara mengaduh. “Sakit tau, tinggal jawab aja Tiaaa.”


“Gue suka sama dia? Hahaha.”


Rara terheran-heran melihat Tia, dia tak suka dengan mimik tawa Tia serasa Tia mengejeknya.


“Iya.” jawab Tia yang tiba-tiba berhenti tertawa memasang mimik wajah serius.


Mendengar jawaban Tia, Rara tersenyum lalu menjentikkan jarinya seraya dia menemukan jawaban yang tepat kenapa selama ini Rio selalu datang ke rumahnya.


“Sebagai kakak,” tambah Tia kembali tersenyum lebar. Kini giliran raut muka Rara berubah cemberut, dia merasa jengkel karna Tia mengerjainya.


“Serius Tiaaa!” rengek Rara.


“Ya gue serius Ra, dia udah gue anggap sebagai kaka gue sendiri. Waktu ospek dia sering nolong gue, jadi gue suka sama dia sebagai kakak dan gue pengen banget dia nikah sama elo. Biar orang-orang yang gue sayangi bisa bersatu dan elo bisa jadi kakak ipar gue,” jelas Tia panjang lebar to the point tanpa titik koma, Rara malah mengerutkan dahi illfeel dengan celotehnya yang tak masuk diakal.


“Gj!” jawab Rara.


“Kok Gj sih?”


“Jadi alasan dia sering datang ke rumah, karna elo punya rencana mo nyomblangin gue sama dia?”


“Nyomblangin? gak ada kata itu dalam peraturan keluarga gue Ra, gue sih pengennya loe langsung nikah sama dia,” jelas Tia blak-blakan.


“Loe tu Gj tau, bener-bener Gj! kalo elo suka sama dia, ya kenapa gak elo aja nikah sama dia, kenapa harus gue?”


“Ya kan gue udah bilang, gue suka bukan cinta dan dia itu kakak gue, walaupun bukan kakak kandung,” elak Tia.


Rara malah memegang dahinya berasa pusing dengan jawaban aneh Tia, sesekali dia mengaruk kecil kepala bagian belakangnya, bingung.


“Kenapa?” tanya Tia melihat tingkah laku Rara.


“Nyesel gue nanya sama elo, malah pusing gue.” Tia tertawa mendengar celoteh Rara.


“Kenapa elo suka ya sama Rio, elo cemburu ya?”


“Cemburu dari mana? yang ada gue males liat dia. Gue benci ketika dia nyentuh tubuh gue sembarangan, apalagi waktu ngerawat gue kemarin,” ujar Rara kesal.


“E-e-e jangan benci-benci, nanti jadi benar-benar cinta loh!” goda Tia.


“Gue serius Tia, sekarang aja gue males pulang ke rumah kalo makan malem bareng sama dia.”

__ADS_1


“Cie yang pengen makan malem sama dia, tapi sayang malem ini Rio di Soreang gak bisa ke rumah. Paling besok pagi dia bisa sarapan di rumah, tapi kalo malam ini elo kangen sama dia, gue bisa telpon dia suruh datang kesini.” Tia mengeluarkan hpnya hendak menelpon Rio.


“E-e jangan lah! siapa juga yang kangen!” elak Rara menahan lengan Tia.


Tia tersenyum melihat tingkah laku Rara


serasa asik menggodanya. Rara merasa bahagia ketika dia tau Rio tak datang untuk makan malam ke rumahnya.


💚💚💚💚💚💚💚


Keesokan harinya seperti biasa setelah salat subuh Rara membantu bu Sriyantika masak di dapur. Capcai, ikan nila goreng dan perkedel kentang menjadi menu pilihan bu Sriyantika. Tia kembali ke kebiasaan awal tidur kembali selepas salat subuh. Dia terbangun karna baunya ikan goreng yang lezat sampai kamarnya. Rio datang jam enam pagi, dan keluarga Suryadi sudah siap duduk di meja makan menyambutnya.


“Ayo Rio silahkan dimakan,” tawar bu Sriyantika .


“Iya a ini menunya udah beda tapi ini masih menu favorit aa, apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka,” celoteh Tia menggoda Rara lagi, kali ini Rara memilih diam menahan bullian Tia.


“Iya makasih semuanya, ini hari kedua saya bisa makan makanan favorit saya,” timpal Rio tersenyum.


“Tau gak a, ada yang kangen tuh, kenapa tadi malem gak datang wat makan malam?”


“Siapa nduk?” tanya bu Sriyantika .


“Yang pake baju marooon kerudung peach ke ping-pingan,” goda Tia melirik Rara yang diam tak berkomentar.


“Kalo diem-diem gini itu tandanya lagi ngambek a, Auww.”


Rara menyubit Tia menyuruhnya untuk diam, Rio dan bu Sriyantika tertawa mendengar celoteh Tia.


“Maaf, soalnya ada salah satu dari keluarga saya lagi sakit jadi saya harus nginep disana dulu.”


“Siapa Rio?” tanya bu Sriyantika.


“Namanya Thalia Azzahra,” sahut Rio menatap Rara, Rara langsung melihat ke arah Rio mendengar nama tersebut, nama yang cantik pikirnya.


“Dia masih kecil tante, umurnya baru mau menginjak lima tahun. Kemarin sore tubuhnya demam, selama ini dijaga sama nenek kakeknya, jadi saya di sana bantuin.”


“Syafakillah Rio, semoga Allah memberikan kesembuhan sama Thalia,” sahut bu Sriyantika mendoakan Thalia.


“Aaaamiiiin.” Rara ikut mengamini doa bu Sriyantika, hatinya merasa sedih ketika mendengar anak sekecil itu merasakan demam.


“Alhamdulillah udah baikan, sudah gak demam lagi. Tinggal pemulihan aja, sama jaga makanannya kata dokter.”


“Alhamdulillah,” ujar bu Sriyantika, Tia dan Rara serentak. Rara tersenyum mendengar kabar gembira yang Rio sampaikan, hatinya merasa lega.


“Ya sudah berarti nanti siang jadi kan beli oleh-olehnya, atau Rio mau pulang lagi aja ke Soreang tante gak papa kok, kan ada Rara sama Tia.” ujar bu Sriyantika.


“InsyaAllah jadi tante, lagian hari ini Rio free kok.” Bu Sriyantika tersenyum mendengar jawaban Rio, berbeda halnya Rara yang sangat tidak ingin ikut jalan bersama mereka.


💚💚💚💚💚💚💚


Sesampainya di kantor, Rara langsung meninterview satu supervisor dan satu staf untuk menemani Dini. Kesuksesan Event pertama Cv Zoe membuat mereka harus menambah staf karna banyaknya proyek yang masuk. Perekrutan berjalan cukup lama, Rara betul-betul berhati-hati dalam memilih pegawai, dan akhirnya memilih Arum sebagai staf dan Gilang sebagai satu supervisor.


Jam setengah sebelas, Rara berfikir bagaimana caranya dia menghindar agar dia tidak ikut mengantar bu Sriyantika membeli oleh\-oleh. Dia merasa malas kalo harus bertemu lagi dengan Rio. Baginya Rio adalah sosok laki\-laki yang tak sopan selalu menyentuh tubuhnya seenaknya. Dia mencari daftar klien yang ada jadwal meeting sekarang.


‘PT KAO’ gumam Rara. Tia pasti tidak akan menolak untuk meeting dengan salah satu perusahan besar tersebut, Rara langsung pergi ke ruangan Tia.


“Assalamualaikum Ti?” ujar Rara sambil tersenyum di kantor Tia.


“Wa’alaikumussalam, udah selesaikan interview nya? kita pulang yuk!” ajak Tia.


“Gimana ya?” ujar Rara merengek.


“Kenapa?”


“Bu Titin dari Pt KAO, janjian jam satu.”


“Ya ampun gue lupa! kita telpon minta rescedule jadwal.”


“Loe yakin?” tanya Rara. Tia diam berfikir keras, dia merasa ragu untuk men-rescedule ulang dengan perusahaan besar tersebut.


“Kita coba aja dulu, kalo berhasil ya syukur, kalo gak...,” ujar Tia ragu.


“Gini aja. ” potong Rara.

__ADS_1


“ Gue ke temuan sama mereka sama Dini, akh gak lama paling satu jam. Elo pulang duluan, nanti gue nyusul!” jelas Rara meyakinkan.


“Satu jam? Emang bisa?” tanya Tia ragu.


“Ya kita coba dulu aja, gue usahain deh.”


“Udah gue aja yang meeting, elo nemenin mamih beli oleh-oleh!”


“Loh kok gitu? elokan anaknya, nanti tante Sri marah loh kalo loe gak ikut. Lagian kan yang kenal sama bu Titin kan gue, kalo sama gue InsyaAllah cepet, nanti gue nyusul gabung beli oleh-oleh deh,” bujuk Rara


“Ya udah oke, tapi jangan lama-lama ya!” ujar Tia akhirnya setuju, Rara tersenyum mengangguk.


💚💚💚💚💚💚💚


Jam Dua belas Rara menyetir ditemani Dini berangkat ke PT KAO. Jalanan macet Rara hampir telat sampai tujuan, Di sana dia bertemu dengan bu Titin dan sekretarisnya.


Rapat tak sesuai expetasi Tia, waktu menunjukkan hampir jam tiga. Tia beberapa kali menghubungi Rara, tapi tak diangkatnya. Dia hanya bisa menghubungi Dini dan mendapat kabar darinya mengenai berlangsungnya rapat. Tanpa Rara mengulur waktu untuk berlama-lama, ternyata waktu meeting memang berjalan sangat lama, Bu Titin seorang idealis tak mau ada kesalahan pada eventnya nanti, dan membuat menahan Rara dan Dini cukup lama.


Jam empat rapat selesai, Rara mendrop Dini lalu pulang sampai rumah jam lima. Diliat rumah sepi, Rara tersenyum bahagia sepertinya mereka sudah berangkat pikirnya.


“Assalamualaikum waroh matullahi wabaro-ka-tuh,” salam lantang bahagia Rara makin mengecil melihat Rio masih standby di ruang tamu yang asyik dengan gawainya.


“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu,” jawab Rio tersenyum pada Rara.


“Loh gak nganter tan...,”


“Lama banget si loe Ra?” bentak Tia memotong Rara muncul dari ruang tengah.


“Eh udah jangan berantem!” ujar bu Sriyantika melerai sudah rapi dengan gamis syar’i merah maroon.


“Ini kenapa belum pada berangkat?” tanya Rara heran.


“Ya nungguin elolah!” timpal Tia kesal.


“Ya kan yang mau beli oleh-oleh tante Sri , kan bisa ditemenin elo sama a Rio.”


“Ya gak gitu dong nduk, itu namanya gak kompak. Masa kamu seharian kerja kita malah jalan-jalan,” jelas bu Sriyantika lembut. Ternyata strategi Rara mengulur waktu gagal membuatnya untuk tetap join menemani mereka. Rara berpikir keras bagaimana caranya menghindari mereka.


“Ehem!” Rara mendehem menggeliatkan tangan dan badanya.


“Aduh tante.” keluh Rara.


“Napa Ra loe capek?” sela Tia membuat Rara tersenyum mengangguk.


“Ya udah gini aja, elo di sini ditemenin a Rio, gue jalan sama mamih, gak papa kan a?” tanya Tia pada Rio.


Rara kaget dengan ucapan Tia yang sengaja menjebaknya berdua dengan Rio di rumah lagi.


“Iya ga papa,” uja Rio malah menyetujui.


“Bentar bentar bentar! kok ditungguin a Rio, gue kan gak sakit?” elak Rara tak terima.


“Ya bener apa kata Tia nduk, bi Atik kan gak ada. Tante kuatirlah ninggalin kamu sendirian di rumah,” tambah bu Sriyantika.


“Tapi Rara sama a Rio bukan mahrom tante,” rengek Rara tak setuju.


“Tante percaya sama Rio nduk, dia kan anaknya baik,” jelas bu Sriyantika.


Rara tercengang dengan ucapan bu Sriyantika malah menyetujui pendapat anaknya. Dia berasa tak punya pilihan lain selain ikut dengan mereka, dia tak mau berdua di rumah berdua dengan Rio.


“Ya udah-udah, sebentar. Rara ikut!” timpal Rara cepat.


“Loh gimana sih tadi loe bilang elo cape, jangan dipaksain Ra nanti elo sakit! mending elo dirumah aja sama a Rio.” ujar Tia cengengesan seraya sengaja mengerjai Rara.


“Enggak, orang cuma pegel-pegel doang kok, sebentar sebentar!”


“Jangan buru-buru Rara, mending kita berangkatnya badha magrib,” sela Rio.


“Iya bener kamu le, jadi kan kalo malem adem, bener gak nduk?” Tanya bu Sriyantika pada Rara.


“Iya tante,” jawab Rara melihat kesal pada Rio. Walaupun Rio bersikap lembut padanya, dia tetap berasa tak suka. Rara langsung masuk kamar untuk bersiap.


💚💚💚💚💚💚💚💚

__ADS_1


Adan magrib berkumandang, mereka salat berjamaah di ruang tengah diimami Rio. Suara merdu Rio membaca Al Qur’an membuat hati Rara menjadi teduh. Rara merasa familiar dengan suaranya seperti Qory terkenal, begitu menyejukkan hati. Tak terasa setetes air mata jatuh pada pangkal pipinya mendengar Rio membacakan surat Al Fatihah.


__ADS_2