Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
NAPAK TILAS


__ADS_3

“Assalamualaikum” salam Wildan datang ke rumah Tia.


“Wa'alaikumussalam.” jawab Tia dan Rara kompak yang sudah rapi menunggu jemputan Wildan di ruang tamu.


Wildan kaget dengan penampilan Rara yang terakhir kali dia liat rambutnya dibuka kini terlihat berbeda dengan hijabnya. Dia terus memperhatikan Rara, tatapannya membuat Rara bingung dan salting. Rara melihat ke arah Tia seraya meminta tolong.


“Woi?” ujar Tia mengibas-ngibaskan tangannya tepat depan wajah Wildan.


“Ini Rara?” tanya Wildan seraya tak percaya.


“Iya mas.” jawab Rara tersenyum malu.


“Kok beda ya?”


“Kenapa? jangan bilang loe naksir dia.” celetuk Tia membuat Rara dan Wildan canggung.


“Eh enggak bukan gitu, kaya apa ya kaya kenal.” elak Wildan.


“Kenal? Maksudnya?” tanya Rara bingung.


“Ya aku kaya pernah liat kamu?”


“Ya bisa jadi, dulukah dia tinggal di Bandung.” ujar Tia.


“Owh ya? Bandung nya dimana? tau dong seluk beluk Bandung?” tanya Wildan menyerbu Rara dengan pertanyaan, Rara hanya menggeleng pelan bingung, haruskah dia menjelaskan kalau dia amnesia?


“Ya udah lupa lah, orang udah lama dia di Semarang.” potong Tia seraya menyelamatkan Rara dari pertanyaan Wildan. "Udah akh ayo kita berangkat.” tambahnya.


Wildan mengangguk bingung menyetujui Tia. Dia sesekali melihat Rara seraya mengingat-ingat sesuatu.


💚💚💚💚💚💚💚💚


“Ada tiga tempat yang sesuai budget loe, semuanya gak jauh dari sini, cuma gara-gara macet aja yang bikin perjalanan lama, setengah jaman lah.” jelas Wildan sembari menyetir.


“Gak masalah sih, kita liat-liat dulu aja ya kan Ra?” tanya Tia yang duduk disebelah Wildan, Rara mengangguk tersenyum di jok belakang.


Seharian mereka ngubek kota Bandung mencari kantor yang pas. Udara kota Bandung menjadi panas tak bersahabat ketika siang hari. Tia menginginkan kantornya berlokasi di tempat yang rindang yang banyak pepohonan, dan akhirnya dia dapatkan kantornya yang pas di jalan Sumbawa.


Kantor yang sudah mempunyai properti sendiri ini menyediakan furniture bak meja dan kursi. Untuk alat elektronik Tia harus mengeluarkan budget dibluar anggaran. Selepas itu Wildan mengantar pulang Tia dan Rara.

__ADS_1


“Ti gue gak usah turun ya gue langsung balik ya.” ujar Wildan.


“Eh mas Wildan, sebentar saya mau mengembalikan sesuatu. Tia pinjem kunci rumah.” ujar Rara.


“Nih, gue tunggu sini ya nemenin Wildan.”


Rara mengangguk dan langsung turun dari mobil.


“Mau balikin apaan sih?” tanya Wildan heran.


“Itu jas.”


“Owh iya, lupa gue.” ucap Wildan manggut-manggut.


“Wil katanya loe pernah liat Rara, di mana?”


“Di mana ya, aduh gue lupa, tapi gue yakin gue pernah liat dia di Bandung, di mana ya? kayaknya gue kenal gitu tapi gue lupa.” ujarnya berbelit, berusaha mengingat.


“Akh elo mah.” gerutu Tia.


“Emang kenapa gitu?” tanya Wildan heran.


“Loh kenapa mang?” tanyanya tambah heran.


“Nanti aja jelasinnya.” ujar Tia.


Tak lama Rara datang menyerahkan jas yang pernah di pinjamnya pada Wildan, dan Wildan pun langsung pamit pulang.


💚💚💚💚💚💚💚💚


Pada hari kedua, Rara dan Tia langsung membuka lowongan pekerjaan untuk BackOffice, satu officeboy dan satu sekretaris. Sisanya dia membuka lowongan untuk Tl dan SPG nyang dibutuhkan pak Rian. Karna kepercayaan pak Rian ke pada agensi yang dikelola Rara, dia mengenalkan kliennya pada CV. Zoe. Mereka mendapatkan dua proyek produk untuk penempatan SPG reguler di Bandung. Esoknya mereka sibuk menginterview para pelamar, dan akhirnya mendapatkan satu OB namanya pak Sodikin, laki\-laki berusia 45 tahun tersebut lolos kualifikasi, dia begitu ramah dan humble.


Selanjutnya sekretaris kantor Dini, gadis 20 tahun tersebut sopan dan mengenakan hijab ditambah lagi dia mahir dalam mengoperasikan komputer untuk tingkat SMA. Rara begitu kesulitan mencari SPG, di Bandung gadis cantik bukanlah hal yang sulit didapat, menurutnya cantik bukanlah syarat utama dalam pekerjaan ini. Ketekunan kegigihan dan enteurpenerlah yang dibutuhkan.


“Ti gimana ya? kok gue kurang sreg sama SPG yang ngelamar, dari penampilan sih ok tapi gue ragu ya?” ujar Rara yang sedang duduk di sofa kantornya Tia.


“Iya sih, padahal tadi mereka cantik-cantik lho masa gak ada satu pun yang masuk kualifikasi elo?”


“Gimana ya, mereka sih berpengalaman tapi mannernya yang kurang, kaya gak sopan gitu, gue sih butuh orang yang butuh di pekerjaan ini dan serius, apalagi ini SPG reguler pasti kontraknya panjang.” keluh Rara.

__ADS_1


“Apa kita pasang iklan lagi aja dikoran besok?”


“Kelamaan Ti, ini kan dua minggu lagi, belum lagi nambah budget. Gini aja gue ke kampus-kampus aja ya, kampus yang ada kelas karyawan, pasti banyak tuh mahasiswi yang butuh!”


“Loe emang gak ke ganggu jadwal kuliah ya?”


“Kan mahasiwa karyawan ti mereka masuknya biasanya wekeend, kalo weekday mah mereka biasanya nganggur. Udah gitu aja, sekarang gue mau bikin brosurnya, besok pagi gue mau keliling.” ujar Rara semangat.


“Oke.” ujar Tia tersenyum.


💚💚💚💚💚💚💚


Keesokannya Rara dan Tia mengelilingi kota Bandung dari kampus ke kampus menempel lowongan pekerjaan di mading.


“Habis ini ke mana Ra?”


“Daerah Bandung utara ada kampus UPI itu ada kelas karyawannya gak? eh itu dulu kampus loe ya?” tanya Rara yang menyetir, mengingat-ingat kampus yang di searchnya tadi malem.


“Huum, kalo UPI sih gak ada, tapi kita pasang aja wat SPG event, iya udah lama gue gak kesana kangen gue, mau napak tilas.” ujar Tia tersenyum.


“Ok habisi tu ke Bandung barat ada MARANATA, TTDC, STKIP PASUNDAN, UJANI banyak dech.” ujar Rara membuat Tia mangut-mangut.


“Kita ke UPI dulu bis itu ke yang lain.”


💚💚💚💚💚💚


Sesampainya UPI, Rara mengagumi kampus yang luas ini. Diliatnya gedung tingkat tinggi menjulang dihiasi pepohonan rindang, banyak mahasiswa berlalu lalang. Rara melihat ke sekitar terkesima melihat keindahan arsitektur gedung yang berbeda-beda.


“Bagus ya?” ujar Tia.


“Huum luas. Pasti mahal kuliah disini ya?”


“Enggak juga, karna gue jurusan teknik ya yang mahal beli bahan buat praktek. Hayu kita ke kantin dulu.” ujar Tia menarik Rara menuju kantin.


Kantin yang sangat luas, banyak kedai menjual berbagai kuliner. Tia langsung memesan karedok dan nasi ayam plus jus alpukat, sedangkan Rara memesan nasi goreng dan jus mangga kesukaannya, mereka duduk berhadapan.


Sesekali Tia melihat ke sekeliling, tak banyak berubah pikirnya. Hanya beberapa gedung yang direnovasi semakin bagus. Sampai pandangannya terhenti tepat pada sungai depan kantin. Sungai mengalir air jernih di hiasi pohon kersen yang sama. Dia ingat akan bandana biru langitnya yang tercebur mengalir dibawa arus sungai. Dia ingat akan kakak tirinya Rio, yang kemarin baru saja dia liat di PPJ. Tia ingat papihnya. Akh sedih.


“Hei?” sahut Rara menjentikkan jemarinya di depan muka Tia. “Mikirin apa?”

__ADS_1


“Enggak jadi inget jaman kuliah.” elak Tia tersenyum, berbohong.


__ADS_2