
“Sayang lagi apa? udah siap?” tanya Bu Sriyantika sedih, masuk ke kamar Rara membawa pasmina merah muda. Diliatnya di pojok kamar ada dua koper dan dua ransel yang sudah siap untuk di angkut.
“Tante jangan sedih, apa Rara suruh Tia disini aja ya temenin tante?”
“Eh kok gitu tante gak sedih sayang tante cuma kawatir sama kamu.” ujarnya membelai rambut Rara lembut.
“Kawatir kenapa tante?”
“Tante jadi gak bisa jagain kamu nduk, itu yang bikin tante kuatir.” netra bu Sriyantika mulai berkaca, Rara tidak tega melihatnya.
“Tante, kan ada Allah itukan yang selalu tante ajarin ke Rara, Rara gak takut tante, InsyaAllah enggak.”
Bu Sriyantika mengangguk perlahan, tersenyum bangga dengan ucapan Rara.
“Tante ingin kamu pake ini.” dia menyerahkan pasmina merah muda yang masih terlipat rapi.
“Semoga dengan ini Allah selalu menjagamu dimana pun kamu berada nduk.” air mata bu Sriyantika yang ditahannya akhirnya terjatuh ke pipinya.
“Iya tante Rara mau.” Rara ikut menangis menerima pasmina yang bu Sriyantika berikan, suasana kamar berubah menjadi haru.
“Sini nduk, tante pakain sayang.” Rara mengangguk mantap, Bu Sriyantika melebarkan pasminanya dan mengkudungkan pada Rara. Dia tersedu menangis melepas Rara seperti melepas putrinya sendiri, Rara pasrah, dia iklaskan hatinya untuk mengenakan hijab untuk menggapai ridho-Nya.
“Kamu ikhlas sayank?”
“Iya tante, Rara ikhlas.” Bu Sriyantika memeluk Rara hangat, Rara membalas pelukan bu Sriyantika . Tia yang melihat adegan tersebut di pintu kamar ikut menangis haru melihat adegan bak ibu dan anak.
“Ra ayo, pesawatnya bentar lagi berangkat.” ajak Tia.
Rara dan Tia pergi turun ke bawah di dampingi bu Sriyantika. Pakde No dan mbok Sum membantu membawakan koper, mereka berdua pamit, suasana rumah berubah menjadi haru mereka berangkat menggunakan mobil X-Trail bu Sriyantika diantar pakde No ke bandara.
Ini pertama kalinya bagi Rara menaiki pesawat, jantungnya berdegup kencang. Rara berzikir menyebut nama Allah meminta ketenangan. Rara meminta bertukar tempat duduk, dia tidak berani duduk seberang jendela.
Ketika pesawat landing terdengar suara gemuruh mesin dan riuhnya pesawat semakin lama bergetar dan bergerak kencang, Rara takut langsung memegang tangan Tia erat. Rara memejamkan matanya dan meremas tangan Tia semakin kencang dan menutup mulutnya menyebut nama Allah.
Tia yang melihat ekspresi Rara tersenyum geli, mungkin Ini pertama kalinya dia naik pesawat pikirnya. Setelah pesawat berada diatas, suara mesin mulai netral Rara membuka matanya perlahan. Dia menarik nafas dalam bersyukur hatinya mulai lega.
“Aw.” ucap Tia tersenyum geli menggoda Rara karna tangannya kesakitan masih di remas kencang oleh Rara. Rara kaget dia langsung melepaskan cengkeramannya.
“Aduh sorry sorry Ti.” ucap Rara meminta maaf.
“Hahaha deg-degan ya?” Ujar Tia geli.
“Hehehe.” ujar Rara tersenyum malu. “Kayaknya ini pertama gue naik pesawat deh.”
“Haha, tampang loe lucu tau.” ujar Tia tertawa menggelengkan kepalanya.
💚💚💚💚💚💚💚
Jam sembilan pagi mereka sampe di Bandung, Tia dan Rara berangkat naik taxi menuju rumah bu Sriyantika yang berada di Perum The Luxury. Jl Kendari B no 2, rumah mewah sedikit lebih kecil dari rumah Tia yang berada di Semarang. Rumah ini mempunyai empat kamar, dua dilantai bawah dua dilantai atas, dilantai bawah ada dua kamar utama yang mempunyai kamar mandi sendiri. Rara dan Tia memutuskan tidur sekamar. Satu ruang tamu dan ruang makan berada dilantai bawah, ada tv diruang tengah.
Bi Atik sang penjaga rumah menyambut kedatangan mereka. Dia yang selalu datang subuh untuk membersihkan rumah dan pulang ketika rumah beres jam delapan atau paling telat jam sembilan pagi.
“Assalamualaikum.” salam Tia.
“Waalaikumussalam neng, pak kabar? ya ampun neng udah lama gak kesini, bibi seneng neng kesini lagi.” ujar bi Atik semeringah menyambut Tia.
“Alhamdullillah baik, iya bi, eh kenalin bi ini Mutiara, pangil aja Rara.”
Rara dan bi Atik saling salim ujung jari jari tengah mereka bertemu.
“Ayo neng masuk, mari masuk.” ajak bi Atik.
Pada hari pertama mereka habiskan menata pakaian dikamar mereka, lemari besar yang memiliki empat pintu ini di bagi dua untuk menyimpan pakaian mereka.
“Ti?”
“Ya?”
“Dari pada boring gimana kalo nanti malem kita jalan, sekalian gue mau cari pasmina.”
“Itu elo yakin mau di hijab terus?” tanya Tia ragu.
“InsyaAllah, iya.” jawab Rara yakin. “Kan Alloh nyuruh kita berhijab, hijab itu kan kewajiban ti.” ujar Rara tersenyum.
“Ok, gue juga boring dirumah terus.”
“Ok!” jawab Rara semangat.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Pada malam pertama di Bandung mereka habis kan untuk jalan memakai mobil Avanza hitam milik bu Sriyantika di Bandung, mereka pergi ke PVJ salah satu mall terbesar di Bandung yang begitu mewah. Rara masuk ke toko hijab asik memilih hijab, Tia ikut antusias memilihkan hijab yang bagus untuk Rara.
“Ti kita ke swalayan dulu ya, kita beli jahe.”
“Loe gak enak badan?”
“Buat cadangan aja.”
“Gue tunggu dikasa ya loe cuma beli jahe aja kan?”
“Huum”
__ADS_1
Rara masuk swalayan dan masuk ke lorong food bagian bumbu dapur sibuk mencari jahe, dilihatnya dipajangan hanya tersisa empat ruas jahe merah.
“A jahenya cuma segini?” tanya Rara pada salah satu SPB.
“Iya teh udah habis itu tinggal sisanya.”
“Owh saya beli semua.”
Si aa SPB langsung membungkus jahenya, Rara langsung kebagian kasa.
“Gimana dapat?” Ujar Tia yang menunggunya sedari tadi di Kasa.
“Dapet nih.” Rara menyerahkan jahe ke pegawai kasa.
“Berapa mbak?”
“Tiga puluh dua ribu mbak.” sahut mbak kasa ramah.
“Owh ini.”
Rara menyerahkan selembar uang biru pada mbaknya.
DRRT DRRT hp Rara berbunyi, diliatnya bu Sriyantika menelpon video call.
“Ti ti Tia?” ujar Rara mengoyang-goyangkan lengan Tia panik.
“Apaan?”
“Tante Sri video call.”
“Aduh!" ucap tia ikut panik. "Kita cari background jangan disini, bisa abis diomelin kita.” ajak Tia yang takut maminya mengomel, karna di hari pertamanya di Bandung jam sembilan malam masih keluyuran.
“Ni mbak kembaliannya." sahut mbak kasa.
“Makasih mbak.”
“Ayo cepetan.” Tia menarik Rara cepat keluar dari swalayan.
“Mbak mbak!” panggil mbak kassa, Rara lupa membawa jahe yang dibelinya.
Tia buru-buru menariknya mencari background yang tepat, akhirnya mereka menemukan tembok putih seperti cat rumahnya. Rara langsung mentouch layar hp untuk menjawab panggilan bu Sriyantika.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh nduk, gimana kabarnya sehat?”
“Wa'alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu tante, sehat, tante.”
“Tia mana nduk kok dihubungi gak bisa?”
💚💚💚💚💚💚💚
Sementara itu Rio berlari masuk ke swalayan sedang berbicara dengan ibunya melalui gawainya.
“Iya bu ni Rio lagi diswalayan nyari jahe, tunggu sebentar ya!”
“Jangan lupa sama tehnya kasian Lia tenggorokannya batuk-batuk.” sahut ibunya di telpon.
“Iya bu wa'alaikumussalam bu.”
Rio sibuk mencari cari jahe, diliat di display dia tidak bisa menemukan satu pun ruas jahenya.
“A jahenya habis?” tanya Rio ke SPB.
“Iya a habis, baru aja tadi yang terakhir dibeli.”
“Owh ok!”
Rio langsung ke lorong minuman membeli sepak teh sariwangi, lalu dia bergegas berlari kekasa dan menyerahkan tehnya untuk discan.
“Ini aja a?” tanya mbak kasanya.
“Iya itu aja.” sahut Rio, diliatnya ada sebungkus jahe di meja kasa.
“Mbak itu jahenya saya beli sekalian bisa?”
“Aduh mas maaf jahenya udah punya orang a.”
“Aduh gimana ya teh, Lia tenggorokannya lagi sakit karna batuk, kasian dia masih kecil kalo bisa jahenya saya beli, gak papa saya butuh seruas aja buat malam ini.” ucao Rio memelas.
“Tapi masalahnya udah dibayar a pembelinya lupa bawa jahenya, saya takutnya dia balik lagi.”
“Gini aja saya tunggu foodcourt sana lima belas menit, kalo pembelinya balik lagi. Saya mau minta ijin jahenya saya beli, kalo dia gak mau ya udah papa. Masalahnya saya butuh banget mbak, soalnya kalo ke pasar kan pasti udah tutup, ke swalayan lain juga ini udah jam malam pasti udah mau pada tutup.” jelas Rio.
“Iya a.” ujar mbak kasa ramah.
💚💚💚💚💚💚💚💚
“Aduh, untung aja kita nemu ni tembok.” ujar Tia menarik nafas lega.
“Hahaha padahal ga papa keles gak usah kaya gini, toh tante Sri gak nanyain kita ada dimana?”
“Ya karna dia liat backgroundnya mirip tembok rumah ra, udah akh ayo pulang, udah dapet kan jahenya?”
__ADS_1
“Astagfirullah Ti, ketinggalan elo sih narik-narik gue, ayo balik lagi ke kasa!” ajak Rara.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚
“Permisi mbak saya mau ambil jahenya yang tadi ketinggalan.” sahut Rara pada Mbak kasa.
“Owh ini , tapi mbak...!”
“Ya kenapa?”
“Tadi ada aa aa, dia mau minta ijin beli jahe ini buat keluarganya yang sakit, itu dia lagi duduk disana, katanya seruas aja.” Mbak kasa menunjuk ke arah Rio yang sedang duduk asyik dengan gawainya.
“Yang mana?” tanya Tia.
“Itu mbak yang pake hoodie coklat.”
Tia kaget dengan orang yang diliatnya kakak tirinya Rio. Dia tak banyak berubah, hanya tubuhnya makan berisi dan rambutnya agak gondrong.
“Yang rambutnya agak gondrong mbak?” tanya Tia memastikan.
“Iya yang itu.”
“Owh ya sudah ga papa, ga usah dibeli biar kita kasihin jahenya ke dia aja." langsung sahut Rara santai.
“Eh jangan jangan jangan!” ujar Tia yang tak mau bertemu dengan Rio.
“Ti, dia lebih butuh dari pada kita.” jelas Rara.
“Bukan gitu maksudnya, jangan loe yang nganterin jahe, mbak kasanya aja yang anter.”
“Aduh mbak saya gak mungkin ningalin kasa.” ucap mbak kasa menolak.
“Aduh mbak saya minta tolong toh cuma bentar, ini demi pri kemanusiaan mbak juga nanti dapet pahala,” bujuk Tia.
“Kenapa gak kita aja sih yang nganter?” tanya Rara heran.
“Udah nanti gue jelasin, ya udah kita tinggal dulu ya, permisi.”
Tia langsung menarik Rara cepat melangkah cepat keluar mall.
Terpaksa si mbak kasa meminta ijin ke teman nya untuk mengantarkan jahe, dia menghampiri Rio yang masih asyik dengan androidnya.
“A ini jahenya.” tawar mbak kasa.
“Loh boleh dibeli?? berapa mbak?”
“Gak usah a, tadi itu dikasih sama mbaknya katanya aa lebih membutuhkan.”
“Alhamdulillah, yang mana mbak orangnya?”
“Udah pergi a, dia tadi buru-buru, permisi a saya harus kembali kekasa.”
“Owh ya mbak makasih ya”
“Sama-sama.”
“jazakillah.” Gumamnya pada orang yang sudah memberikanya jahe.
💚💚💚💚💚💚💚💚
“Ti kenapa sih kaya orang ketakutan gitu, itu tadi siapa?” tanya Rara pada Tia yang sedang menyetir menuju perjalanan pulang.
“Ga papa, itu kakak kelas gue, orangnya galak banget, gue males ketemu sama dia!”
“Owh dasar.” ucap Rara tertawa melihat tingkah laku Tia.
💚💚💚💚💚💚💚
“Alhamdullilllahirabil a'lamin” sahut Rara sambil menaruh belanjaannya di sofa. Jam sepuluh kurang mereka sampai dirumah. Tia ikut merobohkan badannya di sofa.
“Btw enak juga ya ga da mamih disini, kita pulang jam segini gak ada yang ngomel.” ucap Tia tersenyum.
“Hahaha dari tadi pertiga jam tante Sri nelpon kita, bebas dimananya?” celetuk Rara tertawa mendengar celoteh Tia.
“Iya juga ya, kalo dipikir pikir bebasan di Semarang ya?”
“Tapi gue seneng , gue berasa tante Sri ikut sama kita!” Eh by the way Wildan besok dateng jam berapa?”
“Jam sembilan katanya dia besok off.”
“Owh gitu, besok kita cari kontrakan wat kantor?”
“Iya gue udah tentuin budgetnya dia yang ngasih option ke kita tempatnya.”
“Itu gak papa ti? Gak ngerepotin dia?”
“Ya ga papalah dia tu temen gue, anak teknik tuk solidaritasnya tinggi Ra!” ucap Tia yang membangga-banggakan anak teknik.
“Iya iya anak teknik.” goda Rara. “Semoga besok kita dapat kantor yang bagus sesuai dengan keinginan kita aaamiiin.” tambahnya.
“Aaamiiin.” jawab Tia mengamini doa Rara.
__ADS_1