
"Lowongan pekerjaan ya teh?" tanya salah satu mahasiswi ke Rara dan Tia yang sedang sibuk menempelkan brosur mereka di mading kampus UNJANI.
"Iya buat SPG reguler." jelas Rara tersenyum membuat mahasiswi muda itu manggut-manggut perlahan.
"Dek itu disebelah sana kampus juga?" tanya Tia sambil mengibas-ngibaskan brosurnya karna udara panas di siang hari.
"Iya itu kampus juga misah kok sama ini."
"Kenapa Ti mau kesana sekalian?" tanya Rara.
"Iya sekalian ja, mumpung sebelahan." ujar Tia.
Setelah selesai, mereka masuk ke kampus sebelahnya. Di depanya ada patung macan yang sedang merangkak yang di bawahnya ada tulisan Siliwangi. Kampus ini begitu sederhana, mungkin hanya ada tiga gedung memanjang dan satu gedung panjang dua lantai, satu aula, satu masjid kecil, dan satu lapangan futsal kecil. Kampus ini terlihat seperti bangunan SMA atau SMK, karna sedikitnya fasilitas yang ada. Rara dan Tia langsung menuju mading kampus, yang tertera lowongan pekerjaan lain.
"Ra?" tanya Tia sibuk melihat sekitar.
"Yup?" sahut Rara yang asyik menempel brosur.
“Loe gak inget ini dimana? ini kampus loe!” ucap Tia.
“Masa sih?” sahut Rara yang sedikit kecewa, karna kondisi kampusnya.
“Iya, mana coba fotonya?”
Telapak tangan Tia menagih seraya tidak sabar ingin melihat foto yang diberikan Ranti. Rara mengeluarkan dompetnya, dia mengeluarkan foto pemberian Ranti.
"Tuh kan bener ini backgroundnya, liat itu tulisan STKIP SILIWANGI.” jelas Tia antusias.
Rara melihat ke sekitar tak ada satu pun yang bisa dia ingat tentang kampus ini. Dia hanya bisa menerka dirinya berasal dari keluarga seperti apa kalo dia hanya bisa kuliah di kampus kecil ini.
"Kita ke tanya yu, kita bisa cari identitas loe."
"Tapi Ti."
"Hayu."
Tia menarik tangan Rara tak sabar, mereka langsung menuju TU.
"Permisi bu kalo mau liat data alumni di mana ya?" tanya Tia ramah.
“Owh ada di perpus, sebelah sana." saut ibu-ibu paruh baya.
Mereka masuk ke perpustakaan kecil untuk ukuran kampus, tidak terlalu banyak buku dipampang disana. Sampai mereka menemukan buku alumni angkatan 2012 sesuai dengan foto yang ada Ranti berikan, karna Rara tidak ingat dia masuk jurusan apa, mereka mencari satu per satu per halaman, tak ada satu pun mahasiswa bernama Febby Febriani untuk angkatan 2012.
"Ti kita pulang aja yu, percuma data kita kurang kongkret." ajak Rara yang udah mulai lelah.
"Iya ya, tapi masa disini gak ada yang kenal loe sih?"
"Ya kalo mahasiswa kan ribuan ti, sapa gue bisa dikenal disini?"
"Ya udah yuk."
Mereka berjalan melewati lorong kampus, sampai ada seorang bapak paruh baya menegur Rara.
"Febby?" sapanya, membuat Rara dan Tia bertatapan, "Kamu Febby kan Febby Febriani?" sahut bapak gendut yang kepalanya bagian atasnya botak, tingginya se Rara. Dia mengenakan kemeja bergaris vertikal navi biru putih membawa beberapa lembar map.
"I-iya pak."
"Wah pa kabar? sekarang kamu berubah ya pake kerudung makin cantik." ujarnya semeringah mengangkat angkat halisnya akrab, entah terlampau akrab.
__ADS_1
"Ba-ik pak." jawab Rara canggung.
"Pak kita bisa minta bantuan gak?" tanya Tia antusias tak sabar.
"Bantuan apa?"
"Gini pak Rara, eh maksud saya Febby ini amnesia karna kecelakaan, jadi dia gak inget tentangnya sama sekali, tadi udah cek dibuku alumni tapi gak ketemu!"
"Astaga, bener itu Feb?" tanya bapak tercengang.
"Iya pak." jawab Rara.
"Ya sudah kamu ikut saya." ajaknya.
Rara dan Tia dibawa kesalah satu ruangan jauh di ujung lorong paling belakang. Disebelah ruangan tersebut ada sekitar tiga kelas, mereka duduk di depan meja si bapak, menunggu si bapak tersebut mengambil buku alumni. Ada papan nama bertuliskan Nanang, S.Pd, disebelah nya tempat ATK, yang berisikan bayak spidol dan ATK lainnya. Tak lama si bapak datang menyerahkan buku alumni angkatan 2010.
"Loh Febby angkatan 2010 pak?" tanya Tia.
"Iya, coba buka jurusan pendidikan bahasa inggris." ujarnya sembari duduk di kursi putarnya.
Rara dan Tia menemukan data Febby Febriani, lahir di Panjalu, 11 September 1992, alamat Jl. Radio Moch Toha no 20. Fotonya masih lugu belum mengenakan hijab, diliat moto hidupnya.
" The power of pray protect me."
Rara langsung memfoto data alumni tentang dirinya dengan gawainya.
"Wah pak makasih ya." sahut Rara girang.
"Sama-sama, Febby." sahut pak Nanang sambil memegang tangannya genit.
Rara kaget refleks menghindar menarik tangannya tersenyum paksa. Pa Nanang malah bangkit dari kursinya berdiri ke belakang kursi Rara.
“Feb kamu gak inget?” tanya pak Nanang yang bolak-balik di belakang kursi Rara dan Tia.
“Inget apa pak?”
“Hubungan kita?” Rara dan Tia bertatapan heran mendengar celotehnya. Pak Nanang mengambil tangan Rara, dan lagi Rara langsung refleks menghindar.
“Hubungan apa ya?” dia memutar badanya melihat ke pak Nanang.
“Kamu jangan takut Feb, kita punya hubungan spesial lho, kita sering jalan bareng, nonton bareng. ujar pak Nanang masih mondar-mandir di belakang kursi Rara lalu dia mendekati Rara. “...dan karokean bareng.” tambahnya.
Tia menatap Rara mengisyaratkan untuk pergi dari ruangan ini dengan matanya, Rara mengaguk setuju.
"Pak kayanya kita pamit deh?" ujar Rara langsung berdiri.
“Eeee mau kemana, mending kamu istirahat dulu aja, kita ngobrol-ngobrol aja dulu.” sahut pak Nanang sambil memegang pundak Rara dan menurunkan badanya Rara ke kursinya kembali.
Pak Nanang malah makin berani dia duduk di pingiran kursi Rara dan merangkul kan tangannya dibahu Rara. Tia yang tambah jijik sudah menyiapkan kepalan tangan ingin menonjok bapak tersebut. Sedangkan Rara yang menahan kesal dari tadi tidak nyaman dengan bapak tersebut yang menyentuh tubuhnya, langsung mengambil tangan bapak tersebut dari bahunya lalu dipelintirkannya ke belakang punggung si bapak. Tia kaget dengan yang dilakukan Rara yang bisa memasang kuda-kuda seperti pertahanan bela diri melumpuhkan musuhnya.
"Aduuududuh." ujar pak Nanang mengaduh kesakitan.
"Bapak jangan macem-macem ya sama saya, jangan bohong." ujar Rara dengan suara lantang.
"Feb feb lepas lepas siapa yang boong emang bener kita punya hubungan spesial." ujar pak Nanang kekeuh sembari mengaduh kesakitan.
Mendengar ucapan bapak tersebut Rara merasa tambah jijik, dia memelintir lagi tangan si bapak tambah keras.
"Pak inget ya! bapak jangan kurang ajar ya, saya menang amnesia tapi saya gak bodo! Tia ambil spidol, corat-coret mukanya!"
__ADS_1
Tia antusias tersenyum senang langsung mengambil spidol dari wadah pensil di atas meja mencari spidol permanen.
“E-e-e mau ngapain kamu? jangan kurang ajar ya saya ini dosen disini, aduh!” ujarnya.
"Gak percaya." ujar Rara lantang. "Ini sebagai pembelajaran sikap bapak yang genit sama cewek-cewek, ti corat-coret mukanya!"
“Eh eh jangan berani macem-macem ya kamu.”
Tia tidak menggubris omongan pak Nanang, dia malah asik tertawa mencorat-coret muka si bapak, lalu Rara mendorong bapak tersebut ke meja dan mereka berdua lari keluar ruangan. Pak Nanang terpental ke arah meja mengaduh lalu memegang mukanya. Dia langsung berkaca di almari, mukanya penuh dengan coretan spidol permanen.
"KURANG AJAR!" teriaknya di dalam ruangan tidak berani keluar mengejar mereka, karna kondisi mukanya.
Sedangkan Tia dan Rara berlarian di lorong kampus pergi jauh sampai ke parkiran berhenti di depan mobil Tia, mereka terenggah-engah tiba-tiba Tia tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa?” tanya Rara yang masih ngos-ngosan.
“Elo tadi gila ya bisa ngelakuin itu, jangan-jangan loe bisa karate?” ujar Tia yang berusaha mengatur nafas dan tawa.
"Tau ah, ayuk pulang." ujar Rara sebal.
“Feb?”
Salah satu laki-laki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahunan menyapa Rara diparkiran. Matanya merah, bau parfumnya begitu menyengat, rambutnya rapi menggunakan pomade, seperti terlihat habis keramas. Dilihatnya ada papan nama kecil di baju batiknya bertuliskan "Mukti".
Rara melihat kearahnya."Iya?"
"Hei Pa kabar? Sekarang kamu beda ya udah pake hijab." ujar pria tersebut langsung mengulurkan tangannya, Rara yang awalnya ragu jabat tangan. Perlahan mengulurkan tangannya, tapi Mukti dengan cepat menghampiri tangan Rara, dengan senyum semringah.
Lalu dia menggoyang-goyangkan tangannya, terus telunjuk tersebut digoyang-goyangnya seperti menggelitik genit telapak tangan Rara. Rara kaget langsung melepas tangannya dan masih memandangnya dengan heran.
"Ini siapa?" tanya Mukti. Tangan yang baru dilepasnya, ditawarkan ke Tia.
"Ini Tia" sahut Rara.
Tia menjabat tangan Mukti mantap, dan Mukti melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ke Rara, menggelitik telapak tangan Tia dengan telunjuknya. Tia langsung refleks menarik tangannya, marah.
"Gimana? dimana sekarang? Masih jadi SPG?" ujarnya hamble sok akrab tangannya dimasukkan kesaku celananya. Sepertinya si bapak ini tau seluk beluk Febby.
"Di CV ZOE a jadi GM." sahut Rara.
“Aduh saya seneng dipanggil aa sama kamu Feb, kapan atuh kita jalan lagi?”
“Apa? jalan?” tanya Rara kaget dengan pertanyaan Mukti.
"Iya jalan? ya karokeanlah?"
"Maaf saya permisi saya buru- buru." ujar Rara langsung masuk ke mobil, tak mau meladeni Mukti mengobrol.
Dengan cepat, mobil mereka melaju keluar kampus. Rara menghela nafas kesal atas kejadian yang menimpanya. Ada raut kecemasan diwajahnya, Tia merasa kuatir dengan apa yang Rara pikirkan.
"Gak usah dipikir ra, itu paling dosen-dosen genit, jangankan di kampus kaya ini, di kampus gedhe juga ada yang kaya gitumah."
Rara tersenyum mengiyakan tak mau banyak komentar, dia ingin fokus dengan pekerjaannya sekarang.
"Ra mau ke alamat ini gak? ini daerah Moch Toha sekalian kita ke Universitas Telkom, pasang brosur disana."
Rara mengangguk setuju.
Mereka mencari rumah di Jl Radio No 20 dan ternyata itu sebuah kosan besar yang mempunyai ratusan kamar. Mereka tidak menemukan data apa pun tentang Febby karna durasi terlalu lama. Febby lulus tahun 2014 di data alumi, sedangkan ini sudah berjalan lima tahun. Rasa penasaran Rara semakin menggebu akan identitasnya, tapi mereka buntu. Si penjaga kosan pun tidak bisa memberikan banyak informasi, karna banyaknya penghuni kosan yang bergonta-ganti tiap tahunnya.
__ADS_1