
Sepuluh hari sudah dilalui Mutiara dirumah sakit, dokter sudah membolehkannya pulang, Tia dan mamihnya sedang sibuk packing membereskan pakaian. Mutiara mengenakan pakaian Tia yang tomboy tengah duduk di ranjang pasien merasa tidak enak berdiam diri, dia yang masih menggunakan infus turun dari ranjangnya menghampiri bu Sriyantika yang sedang packing di sofa.
“ E e e, kamu mau ngapain nduk?”
“Mau bantuin tante?”
“Eh gak boleh nduk, itu selang infus masih dipasang gitu, udah kamu duduk aja disitu.”
“Iya biarin aja Ra, lagian barangnya juga cuma dikit.” Cetus Tia menambahkan.
“Permisi.” suster datang sambil membawa kotak P3K stainless.
“Ya sus?” Tanya bu Sriyantika.
“ Ini bu saya mau buka selang infus pasien.”
“Owh iya monggo.”
Suster menghampiri Mutiara yang sedang duduk di sofa sebelah bu Sriyantika .
“Pinjem tangannya mbak.”
Mutiara langsung menyodorkan tangan kirinya, dia terlihat takut ketika perawat membukakan kotak P3K-nya yang berisi alat-alat medis.
“Tarik nafas ya mbak, mbak merem juga gak papa.” sahut suster mengoleskan alkohol pada tangan Mutiara.
Tia yang duduk di samping mamihnya langsung menutup mukanya merasa takut dan tak tega.
“Liat sini nduk.” sahut Bu Sriyantika sambil menggenggam erat-erat tangan Mutiara. “Ucap bismillah.” tambahnya, Mutiara mengangguk.
“Siap ya?” suster menekan jarum yang terpasang ditangan kirinya dengan kapas yang dibasahi alkohol.
"Satu dua....” Mutiara memegang tangan bu Sriyantika erat.
‘Bismilah’ gumam Mutiara.
“Tiga!”
Suster langsung mencabut jarum infus dengan cepat dan menutup bekas suntikan dengan kapas yang tadi ditekannya. Lengan Mutiara dihiasi perban kecil bekas jarum infus, terasa sedikit nyeri baginya ketika jarumnya ditarik lepas.
“Ini boleh dibuka sekitar satu jam lagi ya mbak!” Mutiara mengangguk dia mengelus-ngelus perban kecilnya.
“kKta sudah boleh langsung keluar kan sus? Tadi admin juga udah beres” tanya Tia.
“Owh ya mbak, boleh silahkan. Saya permisi dulu ya.” Ujar suster langsung keluar.
“Sayang kita pulang ya ke rumah tante ya?” Mutiara mengangguk diam, dia tidak terlalu banyak bicara, selalu terlihat bingung dengan semua yang terjadi.
TIDID TIDID. Tia memencet klason menunggu pakde No membukakan gerbang rumah.
Pria tua berusia 52 tahun tersebut berprofesi sebagai supir. Badanya yang masih bugar tidak membuat tenaganya berkurang. Kepalanya dihiasi rambut klimis berwarna putih karna uban.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap bu Sriyantika dan Tia.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ndoro, non?” Jawab mbok Sum.
Tak lama pakde No langsung datang, dia berdiri di samping mbok Sum, sepasang kakak adik ini sudah lama bekerja dirumah bu Sriyantika .
“Mbok, pakde, ini Mutiara mulai sekarang dia tinggal disini ya.”
__ADS_1
“Inggih ndoro.” jawab mereka berdua kompak.
“Mutiara, kalo kamu butuh sesuatu, bilang ke mereka berdua ya?”
“Iya, tante.”
“Kamarnya udah disiapkan mbok?”
“Sudah ndoro, disebelah sana.” Mbok Sum menunjuk kamar dekat tangga.
Rumah mewah ini mempunyai dua kamar tamu di bawah dan tiga kamar utama diatas, bu Sriyantika menyuruh Mutiara tidur dikamar bawah supaya dia tidak lelah harus naik turun tangga karna kondisinya yang baru pulih. Bu Sriyantika tidur di kamar utama di atas, disebelah kamar Tia. Kamar bu Sriyantika dan Tia sangat luas mereka mempunyai kamar mandi masing-masing. Ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan diisi dengan properti yang begitu elegant dan mahal.
#
TOK TOK. Ketukan Tia membubarkan lamunan Mutiara yang sedang duduk menghadap jendela melihat taman samping rumah.
“Boleh masuk?”
“Boleh.” Ujar Mutiara.
“Ini gue bawain baju, ini baru sedikit sih, gak gue bawa semua, nanti sisanya dianter sama mbok Sum ya!”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Tia?”
“Ya?”
“Saya mengucapkan makasih bayak, karna kamu udah merawat saya selama ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan kamu sama bu Sriyantika.” Ucap Mutiara tersenyum.
‘Loe gak harus berterima kasih ra, loe gini gara-gara gue, ini semua tanggung jawab gue yang udah bikin loe kaya gini.’ gumam Tia dalam hatinya menyesal.
“Tia?” tanya Mutiara lagi.
“Ya?”
“Owh gak papa, kok gue ... apa...ya ra ... gue ngrasa kaku gitu sama loe?”
“Kaku?”
“Iya !? saya kamu saya kamu, gimana kalo pak elo gue aja, biar akrab.”
“Hmm?”
“Bisa kan, cuma buat kita berdua aja?”
“Loe?” Mutiara tersenyum menyebut kata loe.
“Iya loe gue?”Tia ikut tersenyum tertawa renyah.
“Ok, loe gue.” Mereka tertawa bak adik dan kakak.
“Ra pokoknya elo jangan takut jangan khawatir, selama ingatan loe belum balik, loe jadi tanggung jawab gue.” Ujar Tia semangat, Mutiara tersenyum mengangguk.
“Gue ngucapin terima kasih sama elo.” Sahut Mutiara tertawa yang berasa asing menggunakan bahasa elo gue.
“Sip sama-sama.... ha ha ha.” Tia tertawa merasa lucu mendengar kalimat Mutiara yang canggung.
“Adududuh, rupanya ada yang lagi guyon disini, lagi ngomongin apa nih?” bu Sriyantika datang membawa beberapa lembar pakaian yang dilipat.
“Ini mih Tia ngasih baju buat Mutiara.”
__ADS_1
“Ini mamih barusan nyari pakaian yang ukurannya kecil udah gak muat di mamih buat Mutiara aja yah.”
“Iya tante, tante punya gaun kecil gak tan, yang udah gak ke pake? Soalnya basahan Mutiara gak ada tante, kayaknya ketinggalan dirumah sakit.”
“Basahan? Apa itu basahan?” tanya Tia.
“Itu lho nduk buat mandi, jadi kaya orang-orang jaman dulu kalo mandi mereka gak telanjang, masih pake sehelai kain atau selendang atau bisa jarik, nah selendangnya itu disebut basahan, yang suka mamih pake.”
“Owh pantesan dikamar mandi rumah sakit itu ada kain basah itu punya loe ra?, iya sih gak dibawa, sorry ya gue gak tau, gue kira itu buat lap basah malah, soalnya basah terus, ini mamih sama Mutiara punya kebiasaan yang sama ya?”
“Pake basahan itu bagus nduk, selain sama orang kita juga harus punya malu sama Allah, kita tetep harus menjaga dan menutup aurat kita...” ujar mamihnya.
“Sayang tante gak punya, tapi tante punya jarik, nanti sama tante dibawain ya?” tambah bu Sriyantika.
“Iya, tante, makasih.”
“Sekarang, ini kamu coba dulu pakaian punya tante.” bu Sriyantika menyodorkan beberapa lembar pakaiannya.
“Ikh mamih, mamih kan badannya gede, mana cukup lah lagian pakaian mamih gamis semua, kasian dia mih kalo lari gebyar-gebyer!”
“Ndak nduk ini mamih udah pilihin yang kecil-kecil kok, lagian pakaian kamu monoton aja terus, kalo gak kaos oblong, celana jins, kalo gak jaket, pakaian apa itu?” Gerutu mamihnya.
“Ya biarin mih tapi kan bagus-bagus, udah mih gak usah, yang itu kegedean.”
“Enggak enggak, coba Mutiara kamu berdiri dulu.” Mutiara berdiri lalu Bu Sriyantika mengukur pakaian yang dibawanya ke badan Mutiara, dan ternyata benar kata Tia pakaiannya terlalu gombrang.
“Tuh kan mih, mamih gak percayaan sih, orang dia pake pakean Tia aja masih longgar.”
“Iya ya,.....aduh maaf ya nduk, mamih kira ini muat di kamu.”
“Mamih sih gak sadar body.”
“Hush, kamu kalo ngomong yang baik tho nduk.”
“Iya mih, lagian mih harus sadar, ini Tia badannya kaya gini kan, anaknya siapa? Mamihnya lah.” cetus Tia memegang pinggangnya yang bongsor.
“Iya iya, eh nduk ini pakainya kalo di kamu kayaknya cukup loh, dipake ya?” Ujar bu Sriyantika pada Tia.
“Akhh gak mau gak mau.” Tia langsung kabur keluar kamar. Bu Sriyantika tertawa melihat tingkah anaknya. Mutiara ikut tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak ini.
“Sayang maafin tante ya, nanti kalo badan kamu udah fit, Insya Allah kita jalan-jalan ke mall, kita beli baju yang layak buat kamu.”
“Aduh tante, jangan minta maaf, segini saja saya sudah banyak berterima kasih sama tante, semoga Allah selalu menjaga tante.”
“Aaaamiiiin, gak papa nduk, kamu gak usah kawatir, selama ingatan kamu belum pulih kamu jadi tanggung jawab tante.” Mutiara tersenyum mendengar ucapan bu Sriyantika, tertawa menggelengkan kepalanya seraya lucu.
“Kenapa?”
“Tau gak tan?”
“Apa, kenapa nduk, ada yang salah sama ucapan tante?”
“Tante mirip banget sama Tia” bu Sriyantika mengerutkan dahi, penasaran.
“Apanya? Badannya?”
“Bukan tan, baru aja sekitar lima menit yang lalu sebelum tante masuk, dia ngucapin hal yang sama persis sama kaya tante.”
“Apa? emang dia ngomong apa?”
Mutiara bersiap-siap mengikuti gayanya Tia.
“Ra pokoknya elo jangan takut, jangan khawatir, selama ingatan loe belum balik, loe jadi tanggung jawab gue!” Bu Sriyantika tertawa melihat Mutiara yang mengikuti gaya Tia. "Foto kopiannya tante itu.”
__ADS_1
“Iya yah hahaha” Mereka tertawa akrab bak ibu dan anak.
#krisan