Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
BAD GIRL


__ADS_3

Hari kamis hari yang sangat melelahkan bagi Rara dan Tia yang sudah mulai mobile ke beberapa toko retail di daerah Bandung utara dan barat untuk penempatan SPG reguler. Mereka sedang istirahat makan siang di foodcourt City Link untuk lunch.


“Ti, Bandung macet beut, ini mah gak kan selese sehari,” keluh Rara sambil melahap makanannya. Dia mengenakan kerudung cream satin dan blazer berwarna coklat.


“Huum, cuaca sih gak separah Semarang, tapi macetnya dari dulu gue kuliah sampe sekarang tetep aja macet, malah tambah macet, hadeuh,” gerutu Tia menggeleng-gelengkan kepala. Dia terlihat modis dengan jas hitamnya.


“Febby?” sapa seorang perempuan muda sepantaran Rara menyapanya, dia mengenakan name tag visitor sama yang dikenakan Rara dan Tia.


“Iya loe Febby kan? Wah pa kabar?” sahut perempuan yang satunya membawa botol Aqua langsung mencium pipi kanan dan kiri Rara akrab. Rara menerima salam hangat mereka berusaha untuk tidak canggung walaupun dia tak mengingatnya. Wajah keduanya full make up.


"Ba-ik,” ujar Rara.


“Sini sini duduk,” tawar Tia ramah pada mereka, Rara ikut tersenyum ramah. Mereka berempat duduk melingkar di meja bundar.


“Loe kok bisa disini? Loe masih kerja di dunia retail?” tanya perempuan yang mengenakan baju biru tersebut mempunyai rambut lurus di smooting sebahu.


“Iya ma-sih , Gue GM salah satu agensi,” jelas Rara berusaha santai.


“Wah hebat donk, GM, kita aja baru jadi supervisor,” ujar perempuan berambut panjang dikacir kuda mengenakan kemeja hitam ketat. Dia mempunyai tato kupu-kupu kecil di bagian leher.


“Feb kenalin dong,” sela Tia melirik pada Rara. Rara bingung dengan sikap Tia, padahalkan Tia tau kalo dia amnesia.


“Ya udah gue kenalan sendiri ya, by the way kenalin gue Tia sepupunya Febby,” ujar Tia beracting.


Tia menyodorkan tangannya ke salah satu dari mereka. Kini Rara sadar, kali ini Tia ingin melakukan strateginya untuk jangan memberi tahu mereka soal amnesianya.


“Gue Erin,” ujar perempuan berambut pendek tersebut menjabat tangan Tia.


“Gue Winni,”sahut perempuan bertato tersebut.


“By The Way itu loe visit juga ya?” tanya Erin ke Rara yang melihat name tag yang dikenakan Rara.


“Iya buat penempatan SPG reguler,” jelas Rara tersenyum manis.


“Loh kok gak sama supervisor?” tanya Winni.


“Jadi agensi gue tu agensi baru, ini cabang dari Semarang. Karna kita masih baru, proyek kita juga belum banyak di sini. Ya kita belum rekrut supervisor,” jelas Rara.


“Jadi selama ini loe di Semarang?” tanya Winni.


“Iya, sama sepupu gue.”


“Owh pantesan udah lama gue gak liat loe, habis loe di sosmed gak aktif sih,” sahut Erin membuat Rara tersenyum canggung.


“By the way kalian temen kerjanya Febby?” tanya Tia.


“Kita tu temen kuliahnya Febby,” timpal Erin.


Rara dan Tia bertatapan mendengar pernyataan mereka, Tia tersenyum mengangkat halisnya senang. Akhirnya mereka bisa mencari sumber yang tepat untuk mengorek informasi tentang masalalu Rara.


“Owh ya, By The Way Febby dulu orangnya kaya gimana sih?” tanya Tia lagi. Erin dan Winni bertatapan tertawa mendengar pertanyaan Tia.


“Aduh aduh aduh! jangan deh, loe tanya langsung aja ma orangnya. Takut si Febby marah,” sahut Winni tertawa geli.


“Gak papa ceritain aja semuanya, gue sama dia terbuka kok,” ujar Rara santai.


“Yakin loe, ini sodara loe loh,” sahut Erin tertawa pada Rara.


“Loh emang gimana?” tanya Tia yang makin penasaran.


“Bener nih?” Winni melihat kearah Rara seraya meminta persetujuannya, Rara pun mengangguk setuju.


Ehem!


Winni mendehem, wajahnya di dekatkan pada mereka seraya bersiap siap bercerita tentang Rara.

__ADS_1


“Bad Girl,” bisiknya.


“Maksudnya?” tanya Tia heran.


“Dia tu waktu kuliah playgirl, beberapa cowo yang sekelas sama kita udah jadi korbannya dia. Jangankan temen sekelas, asdos, dosen malah pacar sahabatnya sendiri aja diembat.”


Rara tercengang mendengar penjelasan Winni seraya tidak percaya.


“Massa?” tanya Tia yang ikut tidak percaya.


“Kalian gak lagi gak bercanda kan?”


“Seriuslah, tanya aja sama orangnya, kalo gak temen deketnya deh Tania,” sahut Erin menambahkan tersenyum. Mereka tertawa menjelaskan masa lalu Rara seperti bahan candaan mereka. Rara pun hanya bisa tersenyum paksa mendengar mereka.


“Eh Tania masih di retail?” tanya Erin pada Rara.


“Erin loe tu gimana sih? kan pacar Tania yang diembat Febby, si Andri, mana mungkin lah Tania masih mau temenan sama Febby,” potong Winni cengengesan.


“Enggak juga akh, gue masih liat kok Febby sering jalan akrab sama Tania bis kejadian itu. Malah gue sering liat Febby event bareng sama Tania,” jelas Erin.


“Massa? Wah sabar banget tu si Tania, Wah wah loe Febby, bener-bener badgirl masa sahabat sebaik itu loe kerjain juga,” sahut Winni tertawa pada Rara. Rara hanya diam tersenyum canggung mendengar celoteh mereka.


“Udah deh itu kan massa lalu, masa kuliah. udah lewat juga kali,” bela Erin.


“Iya sih, tapi gue gak nyangka sama bakat loe, loe aja bisa bikin Andri sama Bagas kress cuma buat rebutin elo, padahal kaliankan sahabatan,” jelas Winni menambahkan yang terus asik bercerita mengorek masa lalu Rara.


“By the way loe sekarang masih single atau udah nikah?” tanya Winni.


Rara terdiam masih kaget dan bingung harus menjawab apa. Mulutnya hanya bisa tersenyum paksa mendengar penjelasan mereka, di dalam hatinya hancur mendengar itu semua. Dia hanya diam sembari meremas celana menahan kecewa.


“Udah nikahlah pasti,” terka Erin.


“Kan lo dilamar kang Dirga yang asdos jurusan matematika kalo ga salah. Iya kan?”


“Riki Km kelas sebelah, yang alim-alim itu? Loh elo udah pernah jadian sama Riki?” tanya Erin pada Rara heran.


“Alim dari mana?" potong Winni.


"Ikh bukan jadian lagi, tapi...,” Winni menghentikan celotehnya melihat ke arah Rara.


“Tapi apa?” tanya Tia ikut penasaran.


Winni bersandar pada kursinya melihat ke Rara tersenyum tipis seraya meminta persetujuan melanjutkan ceritanya.


“Gak papa lanjut aja!” sela Rara pada Winni menahan amarah, dia ingin mendengar hal apa lagi yang lebih parah dari pada ini.


“Itu!” jelas Winni singkat membuat Tia bingung, makin penasaran.


“Itu apa?” tanya Erin ikut penasaran.


“Di kosan itu lho! Elo paham lah maksud gue,” ujarnya melihat kearah Erin mengangkat-angkat kedua halisnya genit.


“Loe ngomong kira-kira dong!” protes Erin memukul lengan Winni tertawa.


“Euh serius, tanya aja Febby. Iya kan Feb?”


Winni bukan lagi memberikan informasi, dia malah mencari pembenaran atas argumennya pada Rara.


“Orang kita ketemu kok di kosan Rangga, kan kamar Riki sebelah kamar Rangga,” jelasnya tersenyum.


"Ya gue juga akuin gue juga iya, tapi kan sekarang Rangga jadi laki gue, udah punya anak lagi sama dia,” lanjut Winni mencari pembenaran atas kesalahan di masa lalunya.


“Ini itu maksudnya apa ya?” tanya Tia yang belum mengerti topik pembicaraan Winni.


“Making love,” jawab Rara to the point. "Itukan yang loe maksud?”

__ADS_1


Winni mengangguk tersenyum paksa. Tia tercengang mendengar maksud dari pembicaraan mereka. Dia naik pitam langsung berdiri mengambil air jusnya yang baru di minumnya seperempat dan disebrotkan ke arah Winni, Erin pun yang duduk disebelah nya ikut ke sebrot. Mereka berteriak kaget atas tingkahnya Tia.


“Loe kalo ngomong dijaga ya jangan kurang ajar!” teriak Tia menyimpan gelasnya kasar sembari memukul meja marah pada Winni. Semua pengunjung menatap ke arah meja mereka.


“Elo gila ya?!” Winni langsung berdiri meladeni Tia.


“Denger ya, apa loe liat dengan mata kepala loe sendiri dia ngelakuin itu?” Tangan tia mendorong bahu Winni kencang.


“Tapi kan dia ada disana dan...,” Winni langsung membalas mendorong bahu Tia.


“Sumpah demi Allah, loe liat dengan mata kepala sendiri mereka ngelakuin itu?” teriak Tia lagi, kesal pada Winni


Tia langsung menarik kerah Winni, dia yang sudah biasa hidup keras semasa kuliah jurusan teknik, bukan hal sulit baginya bertengkar dengan kaum hawa.


“Ya enggak tapi kan itu di kosan dan gue...,” bela Winni berusaha melepaskan cengkeraman Tia. Erin sibuk berusaha melerai keduanya. Rara hanya diam di kursi berusaha tegar menahan air matanya.


“Jangan samain Febby kaya elo, karna pola pikir loe bukan pola pikir orang lain. Loe mungkin bisa lakuin itu di kosan, Febby belum tentu. Jangan cuma karna loe papasan sama dia di sana, bukan berarti dia ngelakuin hal yang sama persis seperti yang elo lakuin sama cowo loe! itu namanya fitnah ****!” teriak Tia meremas mulut Winni.


Winni tidak pernah berhadapan dengan perempuan kuat Tia. Dia pasrah atas apa yang dilakukan Tia padanya, yang bisa dia lakukan adalah berusaha melepaskan cengkeraman Tia.


“Feb! Feb! bantuin dong itu sepupu loe, kan loe sendiri yang minta cerita di depan sepupu loe,” bisik Erin membujuk Rara.


Rara melihat ada satpam yang berlari menuju ke mejanya. Dia menyeka setetes air matanya langsung berdiri menghampiri Tia.


“Lepas ti, ayo kita pulang,” ujar Rara dengan tatapan dan tersenyum dingin. Tia langsung melepaskan cengkeraman tangannya di mulut dan kerah Winni. Dia mendorong Winni ke belakang membuat Winni tersungkur, Erin menahan tubuhnya. Mereka berempat saling bertatapan, Winni yang masih kesakitan memegang mulutnya. Rara dan Tia langsung pergi keluar foodcourt.


💚💚💚💚💚💚💚


“Ra gue harap loe jangan kemakan sama omongan tu anak,” jelas Tia menyetir. Mereka sudah di dalam mobil melanjutkan perjalanan.


“Enggak ti, biasa aja, sekarang kiri,” sahut Rara datar dan sibuk mengarahkan google mapnya pada Tia.


“Ini loe yakin mau lanjut?” tanya Tia.


“Iya tanggung tinggal satu swalayan lagi, biar besok kita bisa ke Bandung timur,” ucap Rara berusaha santai melupakan kejadian tadi.


Sampai mereka di Bandung barat, lalu mereka berhenti di satu swalayan. Mereka langsung masuk ke bagian HRD.


“Loh Febby?” tanya salah satu bapak staf HRD baru masuk.


“Iya pak?” Rara langsung berdiri menyapanya, diliatnya lelaki tersebut memakai name tag Anton di sakunya.


“Kirain siapa? soalnya waktu di hp kamu bilangannya Mutiara,” jelas pak Anton, membuat Rara tersenyum canggung.


"Kamu udah jadi GM?”


Rara mengangguk menjawab pertanyaan pak Anton.


“Padahal dulu kita terakhir ketemu kamu masih SPG ya?” tambahnya ramah. Rara hanya bisa tersenyum mendengar celoteh pak anton.


“Owh dulu pas terakhir saya liat kamu di Navy, saya mau sapa tapi takut kamu sibuk sama temen-temen kamu.”


“Navy pak?” tanya Rara heran.


“Iya Navy karaoke,” ujar pak Anton Rara mengangguk tersenyum datar.


“Iya pak, perkenalkan ini Tia dia owner agensi CV ZOE,” ujar Rara mengalihkan pembicaraan.


“Anton.” Pak Anton mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Tia.


“Saya Tia pak,” ujar Tia ramah.


“Jadi gimana SPG-nya berapa hari yang mau dititipi disini?” tanya pak Anton langsung membahas pekerjaan.


Meeting tidak membutuhkan waktu lama, Pak Anton mempunyai perawakan yang dewasa dan sopan. Setengah jam mereka diskusi, pak Anton langsung meng\-ACC kontrak mereka, setelahnya mereka pulang ke rumah mereka jam tiga sore.

__ADS_1


__ADS_2