
Rara tertidur pulas adan dhuhur membangunkannya. Dia merapikan pasmina dikepalanya lalu keluar kamar mengecek situasi, dilihatnya pintu kamar yang engselnya masih rusak.
“Udah bangun Ra?” Rio membawa centong sayur mengecek Rara.
“Makan dulu yuk, kamu mau makan di kamar atau di meja makan?” tawar Rio dengan senyum khasnya.
“Meja makan!” jawab Rara jutek. “Itu yang benerin pintu gak jadi?”
“Owh abah lagi keluar beli engsel pintu dulu katanya, soalnya yang itu udah ga bisa di pake.”
“Ya iyalah didobrak,” sindir Rara membuat Rio tertawa kecil.
“Sekali lagi saya minta maaf, kita kemeja makan yuk, saya udah siapin sup ayam buat kamu!”
Rara mengikuti Rio berjalan ke ruang makan. Tersaji makanan seperti nasi, rebusan sayur dan sup kaldu ayam, dan potongan bawang daun di atas meja makan.
“Ini saya masak nasinya lembek biar mudah dicerna sama kamu, ini ada sup kaldu. Kalo saya sakit, ibu suka buat sup ayam, makan sup dan nasinya dipisah. Jadi sesendok nasi di celupin ke sup yang di tabur bawang daun. Wah rasanya pasti anget di badan.”
Rara tidak fokus dengan celoteh Rio, dia terus memperhatikan makanannya. Secercah ingatannya kembali diiringi rasa sakit kepala samar- samar. Dia ingat akan supnya, imajinasinya mulai bermain ketika dia melayani seseorang menyajikan sup dan tangan mungilnya cekatan menaburkan bawang daun ke dalam sup. Rara tersenyum kepada orang tersebut, lalu memorinya terhenti. Rara mencoba mengingat kembali tapi yang ada rasa sakit kepalanya semakin terasa.
‘Astagfirullah’ gumamnya sembari tangan kirinya memegang kursi menahan badanya. Berusaha tegap berdiri. Rio yang melihat tingkah laku Rara langsung merasa kuatir.
“Ra, kamu kenapa?” tanya Rio cemas. Rara menggelengkan kepalanya mengisyaratkan baik-baik saja. Dia terus menatap supnya. Rara membiarkan ingatannya mengalir diiringi rasa sakit yang makin menjadi, dia mencoba keras mengulang-ulang ingatannya lagi.
“Ra kita makan dikamar aja yu?” ajak Rio menghampirinya.
Auww!
Rara merintih kesakitan. Dia jatuh ke lantai meremas kepalanya dengan kedua tangannya. Kini dia tidak bisa mengingat apa-apa, hanya ada rasa sakit luar biasa yang tersisa. Rio langsung berlari memdekatinya.
“Ra kenapa?” tanya Rio panik.
“Sa-kit a Auww!”
“Kita ke kamar!”
Rara menggelengkan kepalanya tidak setuju, tapi Rio tidak menggubris langsung memangkunya ke kamar. Rara yang masih kesakitan di baringkan di atas kasur. Rio memegang kepala Rara, mulutnya mulai berkomat-kamit berdoa untuk kesembuhan Rara.
“Bismilah, bismilah, bismilah, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki....” doa yang dilantunkan Rio.
💚💚💚💚💚💚💚
Beberapa saat kemudian Rara sudah mulai tenang berbaring di pangkuan Rio. Mulut Rio tak henti-hentinya masih berdoa. Kemudian Rara bangun dari pangkuan Rio merasa sungkan dengannya. Di pangkal matanya masih ada setetes air mata yang tertinggal bekas rasa sakit tadi. Rio hendak menyeka, tapi Rara menghindar. Rara menyeka air matanya dengan tangan mungilnya.
“Udah baikan?” tanya Rio, Rara mengangguk perlahan.
“Kamu makan di kamar aja ya?” Rara mengangguk yang kedua kalinya. Rio hendak menyuapinya, tapi Rara menolak. Lalu Rio keluar kamar dan kembali dengan segelas air penuh.
“Habis makan kamu minum obatnya ya!” ujarnya membuat Rara mengangguk pelan.
“A tolong keluar saya mau makan,” ucap Rara yang membutuhkan privasi.
“ Yakin?” tanya Rio kuatir.
“Iya a, saya mau sendiri dulu.”
“Ya udah, jangan dikunci ya?” Rara mengangguk mengiyakan. Rio langsung menurutinya, keluar kamar menunggunya di balik pintu. Siaga, takut-takut Rara butuh sesuatu. Memanggilnya.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Rara membereskan bekas makan menaruh piring dan gelas di atas nampan. Setelah meminum obat dia mulai bisa beraktivitas seperti semula. Ketika dia membuka pintu, diliatnya Rio standby di depan kamar.
“Mau ke mana, ini biar saya saja yang bereskan?” Rio hendak mengambil nampan yang dipegang Rara.
“Ga usah a, saya bisa sendiri.” Ujarnya cuek melaju dapur. Rio dengan cepat mengikuti langkahnya bersiap-siap seperti takut Rara terjatuh lagi. Mirip persis seperti yang dilakukan Tia saat pertama Rara sakit kepala dulu.
“Aa gak usah ngikutin!”
“Tapi saya kuatir Rara,” ujar Rio membuat Rara menarik nafas dalam.
“Aa udah makan?”
“Belum.”
“Aa makan dulu, habis itu kita jamaah.”
Rio tersenyum mendengar ucapan Rara.
“Baik.” Ujarnya girang.
Rara mengambil wudhu menyiapkan dua sajadah di kamarnya. Dia sudah mulai terbiasa diimami Rio. Setelah Rio makan, dia langsung mengambil wudhu dan menuju kamar sebelah. Diliatnya Rara sudah siap mengenakan mukenanya, dan mereka pun Salat dhuhur berjamaah.
__ADS_1
💚💚💚💚💚💚💚
“Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu.” sapa lelaki paruh baya di teras masuk rumah.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu.” jawab Rio dan Rara kompak yang sedang berzikir sehabis salat.
“Itu paling Abah Aji Ra, kamu disini aja!” Rio keluar kamar.
“Bah?” sapa Rio hangat.
“Eh ujang, ini maaf lama susah cari barang yang serupa.” ujar abah Aji memakai jaket Abri dan celana panjang katun hitam. Rambutnya dihiasi uban banyak, dia selalu tersenyum ketika berbicara.
“Iya gak papa abah, abah atos tuang(sudah makan)?”
“Owh atos atuh tadi di jalan.” Mereka menghampiri pintu kamar utama yang rusak. Rara mengintip dari kamar sebelah, abah pun memergokinya.
“Eh eneng?” Rara tersenyum kepadanya hendak menghampirinya.
“Eh sudah eneng sudah.” Mengulurkan tangan kanan menghentikan langkah Rara, mengisyaratkan untuk Rara berhenti.
“Jangan kesini eneng ‘kan lagi sakit, udah biarin jangan kesini!” tambahnya.
“Iya Ra kamu di kamar aja.” tambah Rio.
“Punteun abah,” ujar Rara tersenyum pamit masuk ke kamarnya.
“Butuh apa lagi abah?” tawar Rio.
“Obeng ada, palu ada, gergaji kecil juga ada, udah cukup,” sahut si abah dengan tawa kecilnya.
Abah Aji laki-laki berusia lima puluh tahun itu, orangnya ramah dan humoris. Dia bekerja sebagai supir di rumah Rio, Rio yang selalu santun tak pernah bersikap kurang ajar pada abah, dan selalu memperlakukan abah selayaknya keluarga.
“Jadi kumaha (gimana) si eneng teh, udah baikan?”
“Udah mendingan abah, gimana keadaan Lia dan Ilham?”
“Baik-baik, mereka sering nanyain ujang, kangen kayaknya.”
“Iya bah saya juga kangen.”
“Ujang yang sabar dulu aja, fokus dulu aja sama si eneng abah doa in semoga eneng cepet sembuh.”
“Aaamiiin, Iya abah makasih.“
“Ujang abah langsung pulang atuh ya?”
“Iya abah teu sawios.” ( iya abah gak papa)
“Kalo gitu nanti salam buat si eneng.”
“Iya abah nanti saya sampaikan.”
“udah gak usah di anter, jagain aja si eneng, wassalamualikum,” ujarnya pamit.
“Wa’alaikumussalam.”
Abah pergi membawa mobil Nissan navarra. Rara langsung keluar dari kamarnya.
“Itu siapa?”
“Abah Aji, dia supir bapak saya.”
“Owh, emang rumah aa dimana?” tanya Rara mulai kepo.
“Rumah siapa? Saya ato bapak?”
“Misah?” tanya Rara sedikit terkejut mengetahui Rio sudah tak serumah dengan orang tuanya.
“Iya, mau ke rumah?” tawarnya tertawa geli.
What?! nyesel Rara nanya.
“Gak jadi deh, gak penting!” ujar Rara kesal. Rio tersenyum geli seakan sukses mengerjai Rara.
“Rumah saya deket Rara, di kendari A nomor dua belas,” lanjutnya, membuat Rara mengernyitkan dahinya heran.
“Kendari A nomor dua belas disini?” tanyanya kaget.
“Iya Kendari ini.” Rio mengangguk cepat tersenyum.
“Itu mah bukan searah lagi tapi tetanggaan, pantesan aja Tia sering nebeng.” Rio tersenyum mendengar celoteh Rara.
__ADS_1
💚💚💚💚💚💚💚
Bada Ashar mereka kembali berjamaah di kamar utama. Rara sudah pindah kembali ke kamarnya.
DRRT DRRT suara gawai Rara berbunyi, diliat layarnya bu Sriyantika video call.
“A bisa keluar dulu ini saya mau angkat telpon.” Rio mengangguk cepat dia membereskan sajadahnya, lalu keluar kamar.
“Hallo, Assalamualaikum Warohmatullahiwabarokatu nduk, gimana keadaan kamu? sayang tante kuatir loh, katanya tadi sakit kepala kamu kambuh?” ucapnya panjang lebar menyerbu Rara dengan pertanyaan.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu, iya tante tapi sekarang udah baikan, tante tau dari mana?”
“Ya dari orang yang tinggal sama kamu lah sayang, besok tante ke Bandung liat tu packingan tante sudah beres. Besok tinggal berangkat deh.” Bu Sriyantika memperlihatkan dua buah kopernya yang sudah ready.
“Maksudnya dari Rio?” Rara kaget dengan celoteh bu Sriyantika yang mengira bu Sriyantika tau dan setuju jika dia berdua di rumah dijaga Rio.
“Rio siapa Rio? ya Tia lah nduk kamu gimana sih nduk, siapa itu Rio?”
“Orang yang jagain Rara selama Rara sakit tante.”
“Maksudnya?” tanya bu Sriyantika yang belum menangkap pembicaraan Rara.
“Iya jadikan Rara sakit tante udah periksa ke dokter sih, harus istirahat di rumah tiga hari. Nah Tia kerja gak bisa jagain Rara, jadi Rara dijagain Rio. Tante tolong bilang ke Tia suruh Rio pulang. Rara ngomel ratusan kali gak di denger sama Tia, masa Rara berduaan di rumah sama dia. Ya walaupun dia cuma ngerawat Rara tapi kan gak boleh kan tante?” Rara merengek manja pada bu Sriyantika.
“Rio itu perempuan atau laki-laki?” tanya bu Sriyantika polos, berhusnuzon. Toh zaman sekarang banyak perempuan menggunakan nama laki-laki pikirnya.
“Ya yang namanya Rio laki-laki lah tante.”
“ASTAGFIRULLOH HALADZIM.” Suara lantang bu Sriyantika mengagetkan Rara. dia tak pernah mendengar bu Sriyantika berteriak sekencang ini. Marah.
“Itu kamu serius?”
“Ya serius tante, masa Rara boong.”
“Coba liat mana orangnya?”
“Bentar.”
Rara mengubah kamera depan menjadi kamera belakang lalu perlahan membuka pintu kamar, agar tidak menimbulkan suara. Hpnya disorotkan ke Rio yang sedang sibuk membereskan meja makan.
“ASTAGFIRULLOH RARA CEPAT MASUK KE KAMAR!” Suara lantang bu Sriyantika keluar dari hpnya, Rara cepat menutup pintu kamar.
“Rara sekarang kamu keluar kamar, usir dia dari rumah!” ujar bu Sriyantika marah.
“Susah tante, udah Rara usir. Dia keras kepala banget. Rara juga udah manggil polisi malah.”
“Terus?”
“Ya malah Rara yang dimarahin sama pak polisinya, tante pokonya ini jalan keluarnya, tante ngomong sama Tia suruh Rio pulang,” rengek Rara lagi.
“Kamu yang tenang nduk, kamu kunci kamar kamu, tante ke Bandung malam ini juga! Sekarang tante telpon Tia, tante marahin tu anak. Bener-bener keterlaluan dia, wassalamualikum.”
“Wa’alaikumussa-lam.”
Rara tersenyum girang mendengar bu Sriyantika marah, akhirnya Rio bisa diusir juga, pikirnya.
“Ra, Rara?” Rio mengetuk pintu kamar.
“Bentar!”
Rara membuka pintu kamarnya diliatnya Rio membawa nampan berisi camilan kurma dan segelas air madu. Dapat kurma dari mana dia, pikir Rara.
“Nyemil dulu ya, biar kamu cepet sembuh. Kurma bagus loh buat kesehatan kamu.” tawarnya.
“Makasih.” ucapnya tersenyum mengambil nampannya. Rio senang melihat senyum Rara. Hati Rara memang sedang berbinar, karna tak sabar menunggu kedatangan bu Sriyantika untuk mengusir Rio.
“Kamu kalo mau foto saya gak usah sembuyi-sembunyi,” ujar Rio tiba-tiba.
“Gimana?” tanya Rara heran.
“Tadi kamu foto saya kan? harusnya kalo mau foto saya, bilang aja nanti saya kasih yang banyak!” ujarnya tersenyum Pd. Rupanya Rio menyadari ketika Rara menyorotnya tadi.
‘Astagfirulloh Gr banget sih nih anak, siapa yang mau juga foto dia.’ gumamnya kesal dalam hati.
Rara sempat tak habis pikir, kenapa Rio bisa memiliki kepedean tingkat tinggi. Walaupun Rio tampan, tapi itu berlebihan menurutnya. Apa ini yang di sebut istilah, Pd tingkat tinggi hanya berlaku bagi orang ganteng. Akh sudahlah pusing dipikirnya.
“A bisa keluar saya mau makan dulu?”
“Baik,” jawab Rio.
Selama Rio merawat Rara mereka memang jarang berbincang. Rio memasuki kamar Rara hanya untuk mengirimkan makanan, salat berjamaah atau membacakan doa untuk Rara. Sikap Rara yang ketus tidak memberi kesempatan Rio untuk mengobrol banyak dengannya.
__ADS_1
Rara benar-benar tak sabar melihat bu Sriyantika mengomeli Rio dan Tia. Sebenernya dia tak tega melihat Tia dimarahi mamihnya, tapi Rara sadar apa yang dilakukan Tia itu salah. Jadi mau gak mau Rara mengadukan hal ini ke bu Sriyantika.