Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
ANTAR JEMPUT


__ADS_3

Seperti biasa Rara tengah sibuk dikantornya, sudah dua hari mejanya Rio kosong membuat gadis bertubuh mungil itu bekerja berasa lebih bebas dan nyaman. Dia membaca surel masuk, ada dua klien yang ingin join mengikuti event baru daerah Rancabali Ciwidey. Rara kaget melihat penyelenggara adalah agensinya, tertera nomor Tia di brosur.


“Ra?” panggil Tia tiba-tiba nongol dari daun pintu. “Gue pergi dulu ya...,”


“Tia, apa ini?” potong Rara membalikkan laptop ke arah Tia. Tia yang sudah rapi membawa ransel masuk ke kantor mendekat membaca layar laptop Rara.


“Owh itu proyek baru, Tablig akbar daerah rancabali.”


“Elo mau ngadain syukuran, ato gimana? Kok nomornya pake agensi kita? Ini Event gede ya? Ini ada dua klien kita yang mau join pas gue liat contack personnya ternyata nomor Loe.”


“Huum, itu programnya Rio sama temen- temennya.”


“Gimana?”


“Jadi Rio tu kan alumni ITB nah dia tu...,”


“Loh bentar-bentar loe bilang Rio kakak kelas elo, bukanya elo kuliah di UPI? ”potong Rara penasaran.


“Dia S2 di ITB Rara, dia mau ngadain program sosial pengajian daerah terpencil untuk meningkatkan pengetahuan agama orang desa, tadinya dia cuma mau ngadain sendiri buat satu hari lah, ternyata temen-temennya tertarik sama programnya, jadi aja dibuat event gede selama lima hari,” jelas Tia panjang lebar.


“Dia bisa ngadain tablig akbar sendiri?” tanya Rara heran untuk sekelas guru honorer.


“Huum, ya gak heran Ra, dia kan bisnisman, dia malah punya sekolah sendiri, dia juga punya bisnis di bidang kuliner.”


“Lah terus ngapain dia mau kerja freelance di sini di bayar murah?”


“Gak tau? demi elo kali hahaha,” ujar Tia cuek cengengesan. “Akh udah Ra gue tinggal ya? Dah telat nih gue ketemu klien dulu, kayaknya sampe sore nanti gue jemput loe pas jam balik, Wassalamualikum.”


“Wa’alaikumussalam,” Rara cukup kaget mendengar latar belakang Rio yang ternyata bukan orang biasa. Bagaimana mungkin seorang pembisnis mau kerja freelance di kantor kecil seperti ini pikirnya.


💚💚💚💚💚💚💚


Waktu menunjukkan jam lima sore, Tia belum kunjung kembali ke kantor. Beberapa kali Rara meneleponnya tapi tak diangkatnya.


‘Apa gue balik duluan ya?’ gumamnya.


“Assalamualaikum Rara,” sapa Rio dari daun pintu.


“Wa’alaikumussalam. Ya a kenapa?” jawab Rara jutek.


“Kita pulang yuk!” ajak Rio.


“Apa?”


“Tia nyuruh saya buat jemput kamu, dia pulang malam katanya.”


Rara diam mendengar celoteh Rio, dan lagi Tia berbuat seenaknya padanya. Rara berfikir bagaimana caranya bisa menolak ajakan Rio, dia masih kaget kejadian terakhir berdua dengan Rio di mobil, ketika Rio marah gara-gara cemburu pada Wildan.


“Ra hayu?” ajak Rio lagi.


“Ehem, a saya sepertinya gak bisa pulang, saya harus ke toko ada perlu, lagian saya bisa kok pulang sendiri pake taxi online,” elak Rara mencoba menolak Rio halus. “lagian arah toko yang saya datangi itu beda arah sama rumah kita jadi dari pada...,”


“Saya anter.” Potong Rio cepat.


“A bukannya gak boleh ya sepasang lelaki dan wanita yang bukan mahrom jalan berdua?”


“Loh emang apa bedanya kalo kamu naik taxi online, kan supirnya laki-laki?”


Rara bingung dia berasa dijebak dengan penjelasan Rio. Rara benar-benar kesal pada Tia yang menyuruh Rio menjemputnya seenaknya tanpa sepertujuannya. Karna dia tau betapa keras kepalanya Rio akhirnya dia mengikuti kemauannya. Rara akhirnya setuju untuk pulang bareng karna tak mau Rio berbuat nekat padanya. Rara memberanikan diri masuk ke dalam mobil duduk di jok belakang.


‘Bismillah‘ ujarnya dalam hati, sepanjang perjalanan Rara hanya bisa berzikir memohon perlindungan pada Rab-nya. Rio yang menyetir di depan sesekali tersenyum melihat kearah Rara melalui kaca spionnya, mereka terlihat seperti majikan dan sopirnya.


“Ini jadinya mau ke toko mana?” tanya Rio membuka percakapan.


“Gak jadi, kita pulang aja langsung,” jawab Rara judes membuat Rio tersenyum geli. Rio paham dari awal, alasan pergi ke toko hanya lah alibi yang dibuat Rara untuk menolak tawarannya.


💚💚💚💚💚💚💚


Sesampainya di rumah, bi Atik datang menyambut mereka di membukakan pintu.


“Eh neng Rara sama jang Rio, hayu atuh masuk,” tawar bi Atik. Rio mengikuti Rara masuk langsung duduk diruang tamu tanpa sungkan.

__ADS_1


“Neng sebentar ya, bibi lagi masak takut gosong,” ujar bi Atik. Rara mengangguk dan bi Atik langsung meninggalkan mereka. Gadis berkerudung moca itu melihat ke arah Rio yang tengah duduk santai di sofanya.


“A! aa kan udah nganter saya pulang. Kenapa aa gak pulang?” usir Rara pada Rio to the point.


“Saya masih kangen sama kamu Rara, bisakah saya di sini sebentar saja untuk melihat wajah kamu?” ucap Rio blak-blakan, gombalannya hanya membuat Rara muak.


“Saya capek a, saya mau istirahat!” timpal Rara kesal. Rio tersenyum menghela nafas mendengar jawaban Rara.


“Baik.”


Rio langsung bangkit dari kursinya dan berpamitan dengan Rara.


‘Alhamdullillah, akhirnya dia pergi juga.’ gumam Rara dalam hati tersenyum bahagia menutup pintu.


“Loh jang Rionya mana neng?” ujar bi Atik yang kembali membawa dua gelas minuman.


“Udah pulang bi, ini buat saya aja dua-duanya aus he he,” ujar Rara sambil cengengesan bahagia. “gimana bi sodara nya, udah pulang?” tanya Rara berjalan menuju ruang makan.


“Iya udah, makasih ya ngijinin bibi pulang. Ini bibi bikin goreng pisang, sodara bibi bawa banyak pisang. Eh nanti juga bibi mau ngasih ke jang Rio kasian dia tinggal sendirian,” sahut bi Atik. Celotehnya malah membuat Rara kesal, sejak kapan bi Atik bisa dekat dengan Rio?


“Neng jangan galak-galak atuh sama jang Rio, apalagi dia itu kan calon suami neng Rara,” sahut bi Atik menasihati yang bisa melihat wajah kesal pada Rara.


“APA?” teriak Rara.


“Astagfirullah neng kaget.” Bi Atik memegang dadanya kaget mendengar Rara berteriak.


“Bibi kata siapa itu?”


“Ya kata nyonya atuh.”


“Itu boong bi, itu gak bener saya gak mau jadi calonnya dia.”


“Loh kenapa neng? bukannya jang Rio tuh baik banget kan sama neng Rara. Apalagi waktu neng Rara sakit dia sabar banget ngerawat neng Rara.”


“Dia itu nyebelin bi, keras kepala, posesif, Rara gak suka! Lagian bibi jahat.”


“Jahat kenapa?”


“Kenapa waktu Rara sakit bibi gak mau nungguin Rara, jadinya Tia terpaksa minta tolong Rio.”


“APA?” teriak Rara lagi, kaget.


“Aduh neng kaget jangan teriak atuh.”


“Iya bi maaf, gimana bi? cerita sama Rara!”


“Ya waktu itu neng Tia bilang temannya aja yang jaga neng Rara. Bibi kira perempuan ternyata laki-laki, bibi juga sempet kaget neng, kok bisa ya neng Tia ngelakuin itu? Setau bibi gak pernah non Tia menyuruh laki-laki asing berlama-lama disini. Apalagi kalo sampe nyonya Sri tau, pasti neng Tia habis dimarahin sama mamihnya. Dimakan neng,” tawar bi Atik, bercerita sembari menawarkan pisang goreng pada Rara.


“Terus gimana bi?” ujar Rara terheran-heran sembari melahap pisang goreng buatan bi Atik karna lapar.


“Gimana ya? Owh iya pas nyonya dateng ternyata dia malah bersikap biasa aja, nyonya bilang ke bibi jang Rio itu calonnya neng Rara. Nyonya juga bilang gitu ke tetangga kompleks. Sebenernya ada yang masih ganjel di hati bibi tu pas nyonya ngebebasin jang Rio bolak balik masuk ke kamar neng Rara. Setau bibi nyonya agamanya kuat, dia gak akan ngebiarin hal itu. Tapi setelah bibi kenal jang Rio, ternyata orangnya baik banget, dia sering loh buat air do’a buat neng Rara di meja ini. Nyonya juga bilang bilang Rio tu anak sholeh, dia paham hukum agama dia gak kan macem-macem katanya, makanya dibiarin.”


“Gak macem-macem gimana?” potong Rara menggerutu.


“Gimana neng?”


“O-owh i-tu mak-sudnya saya kesel aja sama sikapnya Rio kadang dia suka keras kepala,” elak Rara tak mau bercerita hal-hal yang sering Rio lakukan padanya yang bertentangan dengan agamanya, berusaha menutup aibnya.


“Saya mah jujur neng, seneng pisan sama jang Rio, bibi kalo liat dia jadi inget kakaknya non Tia.”


“Loh Tia punya kakak?”


“Eh anu itu, maksudnya kakak sepupu neng Tia neng,” elak bi Atik pada Rara yang hampir keceplosan bahwa Tia mempunyai kakak tiri.


Adan magrib berkumandang, Rara langsung ke air mengambil wudhu untuk melaksanakan salat magrib, setelahnya dia melakukan dzikir memuji Tuhannya. Rara berdoa di dalam kebingungan dan memohon petunjuk atas apa yang terjadi dihidupnya mengenai Rio. Yang membuatnya dia lebih kaget ketika Tia dengan sengaja menyuruh Rio untuk merawatnya. Rara benar-benar tidak bisa memahami semua ini.


💚💚💚💚💚💚💚


Keesokan harinya meja Rio kosong, Rara bahagia akhir-akhir ini Rio sibuk dengan kegiatannya. Itu membuat dirinya bekerja lebih leluasa. Jam satu Rio datang dan menyapa Rara seperti biasa. Rara tak ingin berlama di ruangannya, dia langsung menghampiri kantor Tia.


“Ti mau kemana?” diliatnya Tia bersiap siap hendak pergi sudah rapi mengenakan blazer.

__ADS_1


“Mo ketemu klient sama Ani, elo pulang sama Rio ya.”


“Ti please jangan!”


“Gue ga bisa Rara, kemarin aja gue pulang malem, kayanya selama seminggu elo pulang sama dia. Programnya Rio gede jadi gue sibuk dealing klient Ra, belum lagi gue survei tempat. Pokoknya loe fokus aja sama event yang di Bandung ya. Lagian gue udah minta tolong sama dia kok wat anterin elo, dia setuju kok”


“Gue yang gak setuju Tia! please, gue bisa pulang sendiri, kalo gak gue pulang sama Dini ya ya ya,” bujuk Rara.


“Kasian dini dong, rumahnya juga gak searah sama kita. Jelas-jelas Rio tetanggaan ma kita. Ra gue gak ada waktu buat berdebat, gue berangkat ya, Wassalamuaalaikum warohmatullahiwabarokatu.” Tia langsung pergi keluar kantornya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab Rara pelan serasa tak percaya selama seminggu dia harus diantar Rio. Hal ini membuatnya serasa dia ingin menjalankan trik bodohnya Andri untuk menjauhkan Rio darinya.


Sudah tiga hari Rara diantar pulang oleh Rio, hal ini menjadi terbiasa bagi Rara, tapi dia tak ingin duduk di jok depan. Rara selalu menjaga dirinya dengan duduk di belakang.


“Assalamualaikum,” ucap Gilang meemberi salam ke dalam kantor Rara.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Rio dan Rara kompak.


Gilang tersenyum menyapa Rio, dan langsung menghampiri atasannya, Rara.


“Teh sekarang saya mau pergi kontrol event Sari udah nunggu di outlet, ini ‘kan event pertama, teteh mau ikut?” tawar Gilang pada Rara.


Rara tersenyum senang, kali ini dia menemukan cara agar tidak diantar Rio.


“Iya kita bareng, tunggu sebentar diluar,” ucap Rara pada Gilang.


“Baik teh.”


Gilang berpaling hendak pergi dari kantor, tapi Rara memanggilnya.


“Gilang sebentar! pak Rian ngasih beberapa option susunan display produk, kamu harus bisa pilih tatanan bagus dan tepat sesuai jumlah display.”


“Sa-ya teh?” ucap Gilang ragu karna dia belum bisa.


“Iya, kamu sudah harus belajar Gilang, tidak hanya mengecek dan dokumentasi aja, kamu harus bisa memilih tatanan yang bagus untuk strategi pemasaran juga.” Gilang diam belum paham tentang tantanan display produk, Rara tersenyum melihat dia kebingungan.


“Kamu jangan ketakutan gitu, duduk saya ajari!” Gilang duduk di kursi depan meja Rara. Rara mengajarkan pada Gilang tentang tatanan display yang produk yang bagus pada Gilang dengan laptopnya. Supervisor muda itu begitu serius menyimak atasannya, sesekali mereka tertawa kecil, bercanda, dan hal itu membuat Rio cemburu.


“Jadi teh kalo di bawah atau paling atas produknya gak kelihatan ya teh, wah saya gak tau bisa sejeli ini. Ha ha saya kira dimana aja bakal kelihatan. Habisnya kalo saya belanja, kalo gak tau tempatnya paling nanya aja sama SPG-nya,” ujar Gilang.


“Ya kamu badannya gede keliatan, orang produknya kecil-kecil gini, hahaha,” timpal Rara tertawa geli mendengar celoteh Gilang.


“EHEERRMM!” Rio mendehem menghentikan tawa renyah mereka, Rara paham itu kode Rio cemburu pada Gilang.


“Ya sudah kamu keluar dulu, sebentar lagi saya turun kita berangkat.”


“Oke teh.”


Gilang langsung pergi keluar.


“A saya mau monitoring dulu, aa pulang duluan aja.” Rara bangkit dari kursi sembari mencaltolkan tas di pundaknya. Dia hendak melangkah keluar kantor tiba-tiba Rio menghalau dengan memegang tangannya.


“Saya antar,” tangkas Rio.


“A lepas!” Rara membuang tangan Rio cepat. “A, saya tu kerja bukan jalan-jalan!” bentak Rara pada Rio.


“Kamu mau jalan berdua sama yang bukan mahrom kamu lagi,” tanya Rio malah mencecar Rara.


“A, apaan sih gj!”


“Saya anter! Saya gak akan biarin kamu jalan berdua sama Gilang,” ujar Rio keukeuh.


“Saya tu kerja, tolong jangan mempersulit saya dengan hal yang gak penting kaya gini!” bentak Rara hendak pergi dan lagi Rio menghalaunya memegang tangannya kencang.


“Rara, jangan membuat saya marah dengan kamu jalan dengan seseorang yang bukan mahrom kamu lagi!” bentak Rio dengan intonasi tinggi.


“Lepas a! aa aja gak nepati janji untuk gak nyentuh tubuh saya sembarangan!” Rara berusaha melepaskan cengkeraman Rio.


“Saya gak perduli!” Rio berjalan terus mendekati Rara membuat gadis bertubuh mungil itu berjalan mundur menghindari Rio. “Akan saya lakukan apa saja, apa saja Rara untuk membuat kamu mengerti walaupun hal itu membuat kamu membenci saya, saya gak peduli!” ancamnya tegas.


“MENGERTI APA?” bentak Rara terus melangkah mundur. Rio tak mau berhenti terus mendekat ke arah Rara, membuat badannya semakin terpojok mentok di dinding.

__ADS_1


“SAYA MELAKUKAN INI UNTUK KEBAIKAN KAMU!” teriak Rio kencang, kedua tangannya dipukulkan ke dinding. Rio menjebak tubuh Rara memepetkannya ke dinding. Tubuh mereka begitu berdekatan, Rara diam tak bergeming, mata mereka saling beradu. Rara bisa membaca mata garang Rio, marah. Jantungnya berdegup kencang antara kesal, marah, dan grogi karna tubuh mereka hampir menempel tidak ada jarak. Rara ketakutan dan membuang muka dari Rio. Cukup lama mereka saling menatap dalam diam, Rio menurunkan lengannya dan menjauh dari gadis itu.


“Saya antar kamu, saya tunggu kamu di bawah, titik!” ujar Rio dengan suara bass menahan amarah, dia memakai ranselnya keluar dari kantor. Rara yang masih menempel di tembok akhirnya bisa menghela nafas lega memegang dadanya, jantungnya masih berdegup kencang tak karuan. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan yang terjadi. Rara merasa sedih membuat matanya berkaca-kaca. Ya Tuhan, mengapa dia harus berurusan dengan orang senekat Rio. Rara menguatkan diri dengan beristigfar, dan berusaha mengontrol dirinya.


__ADS_2