Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Love your self


__ADS_3

Haris terus menswipe foto Bella salah satu anak buahnya sembari mengaduk-ngantuk mie yang dibuatnya di kitchen. Dia makan antara nafsu dan tak nafsu, baru saja dia selesai monitoring anak buahnya, kaget ketika Tia langsung memanggilnya memberitahukan salah satu kasus anak buahnya. Haris benar-benar dibuat malu olehnya. Tiba-tiba Rara datang ke kitchen hendak mengisi tuperwarenya.


“Mbak Rara!” ujar Haris menyapa atasannya berdiri. “Ya ampun mbak dari tadi saya nyariin.” ujarnya panik.


“Kenapa gitu mas Haris?”


“Aku bener-bener minta maaf mbak soal Bella, owh iya ini kita ngobrolnya disini ato nanti saya keruangan mbak?”


“Gak usah udah disini aja, mas lanjutin aja makannya, kita ngobrol santai.”


“Iya mbak, mbak mau makan? mau mie?” tawar Haris.


“Enggak makasih.” ujarnya sembari mengisi air di tupperware.


“Saya baru tau tadi pagi dari mbak Tia Bella dipecat mbak.” ujarnya sembari mengaduk mie nya sedih. “Saya juga pasti ngelakuin hal yang sama mbak, kita pasti di cut ya mbak sama klien?”


“Gak tau sih mas, besok mbak Tia mau nyoba lobi.”


“Iya tadi saya nawarin diri buat loby pak Pendi, tapi mbak Tia nolak. Katanya saya disuruh fokus sama event. Aduh lagian ada-ada aja tu si Bella, padahal saya tuh dah sering loh mbak cerewet nasihatin dia,” gerutunya.


“Udahlah emang udah kejadian, toh anaknya juga udah dikasih punishment.”


“Jadi ini aku gak tau ya harus rekrut TL ato enggak? Kan gak tau kelanjutannya apa pak Pendi mau lanjut ato enggak?.”


“Mas Haris gak usah mikirin Itu udah fokus sama eventnya aja dulu, soal perekrutan biar saya yang ngatur.”


“Makasih ya mbak udah bantuin saya,” ujar Haris tersenyum sembari melahap semangat mie nya, karna bebannya berkurang.


“Eh ada mas Haris sama mbak Rara, eh Mas Haris itu bikin mie nya sendiri?” sapa Pak Dito yang baru datang ke kitchen.


“Iya pak Dito, udah santai aja gak papa. Owh iya pak Dito makan pak?” tawar Haris.


“Owh Alhamdullilah udah mas tadi, mbak Rara mau dibuatin mie?” tawarnya sembari meracik minuman.


“Gak usah pak Dito makasih, tadi udah makan,” ujar Rara.


“Owh ya sudah kalo gitu, aduh Mas Haris saya gak enak mas buat mie nya sendiri, soalnya saya baru pulang tadi.”


“Santai pak, jadi pak Dito itu pulang tu buat makan di rumah?”


“Iya mas, kasian istri udah masak, kalo gitu saya permisi lagi ya, saya mau nganter ini buat mas Arif. Mari mas, mbak,” ujarnya pamit membawa segelas es teh dingin.


“Iya ya pak Dito,” ujar Haris santai, Pak Dito langsung keluar.


“Wah hebat ya pak Dito, pasti istrinya sholehah itu mbak, bikin pak Dito pulang terus buat makan masakannya,” pujinya, membuat Rara tersenyum.


“Owh iya mas, Vivi itu anak buah mas ya?”


“Vivi Vivi Vivi? Vivi mana? gak ada TL yang namanya Vivi mbak?”


“Dia SPG mas.”


“Owh iya tau Vivi SPG sasa ya? anak buah Rani, kenapa mbak?”


“Kalo dia orangnya kaya gimana sih?”


“Dia bagus mbak kerjanya, Rani sering cerita ke saya. Promosinya bagus lagi.”


“Owh gitu, punya kontak nya gak?”


“Ada nanti saya kirim ke mbak.” Ujar Haris tersenyum.


💚💚💚💚💚💚💚💚


(Ra Alhamdullilah event nya dilanjut, pak Pendi mau kerja sama kita. Loe siapin TL yang bagus ya 😆, gue udah janji sama Pak Pendi mau ngasih TL bagus.)

__ADS_1


Pesan singkat dari Tia by WA membuat Rara tersenyum bahagia. Hamdalah terlontar dari mulutnya. Dia mengambil map biru diliatnya data Vivi Fadillah salah satu SPG nya, track recordnya bagus. Rara memang berniat merekrutnya menjadi TL pengganti Bella.


TOK TOK TOK, seseorang mengetuk pintu kantornya.


“Masuk!” ujar Rara, diliatnya Vivi datang sudah mengenakan seragam kerjanya.


"Silahkan duduk vi?” tawarnya Vivi langsung duduk di kursi di depannya.


“Ada apa mbak?” tanya Vivi.


“Kamu mau gak jadi TL?” tawar Rara to the point.


“TL?”


"Iya TL, mau?”


“Klo saya jadi TL saya gak akan di Giant lagi?”


“Ya enggaklah, ya paling kamu kesana buat ngecek anak buah aja,” jelas Rara, Vivi masih diam berfikir.


“Ya udah gini, kalo kamu mau kamu tetep harus ikut test, wawancara dan sebagainya. Test nya minggu depan hari Senin jam sembilan pagi. Kalo setuju kamu datang kesini.”


“Iya mbak, makasih mbak,” ujarnya tersenyum.


“Iya sama-sama kamu boleh keluar.”


“Iya mbak, permisi.” Vivi keluar dari kantor.


Rara bisa membaca jelas wajah bingung seperti Vivi sedang memikirkan sesuatu. Aneh pikirnya, biasanya kalau ada karyawan yang ditawari untuk naik jabatan mereka senang, lebih antusias dan excited tapi berbeda dengan Vivi yang seperti berpikir seribu kali untuk mengambil jabatan ini.


Sehabis dhuhur Rara seperti biasa mengisi air tuperwarenya di kitchen, Tiba-tiba pak Dito datang dengan wajah panik.


“Mbak Rara, mbak mbak!”


“Ya Pak Dito? Kenapa?“ tanya Rara yang melihat kepanikan di wajah OB-nya.


“Bingung kenapa?”


“Tadi saya beres-beres diatas, di rooptop, tapi saya ketemu sama salah satu karyawan kita. Dia lagi nangis-nangis nelpon sama seseorang. Mau saya tegur saya nggak enak ini gimana ya mbak ya?”


“Loh siapa Pak Dito?” tanya Rara heran.


“Itu mbak-mbak yang kemarin ngobrol sama mbak di sini!”


“Yang kemarin ngobrol sama saya disini?” tanya Rara yang masih tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Pak Dito.


“Iya mbak, aduh saya makin kuatir, soalnya tadi dia kayak nangis histeris gitu! Saya takut kenapa-napa mbak!”


“Owh ya sudah biar saya yang ke atas aja pak Dito.”


“Iya iya mbak, makasih mbak.”


Rara langsung meluncur ke lantai atas rooptop kantornya, ternyata Vivi yang dimaksud pak Dito. Dia sedang menangis tersedu-sedu, perlahan Rara mendekatinya.


“Vivi?” Tanya Rara memegang pundaknya. Vivi menolehkan wajahnya dipenuhi air mata, riasannya hancur luntur gak karuan. Terlihat jelas oleh Rara sebuah luka memar biru di pangkal pipinya, seperti dia sudah ditampar atau ditonjok.


“Astaghfirullahaladzim Vivi kenapa?” tanya Rara kuatir hendak menyentuh luka memar di pangkal pipi Vivi. Vivi kaget, dia menghindar membalikkan wajahnya menyeka air matanya.


“Nggak papa Mbak, nggak papa!” elaknya sambil terisak tidak mau mengakui kesedihannya.


Rara berdiri di belakangnya menunggu Vivi bersiap diri agar bisa berbicara dengannya. Vivi sekali menoleh ke belakang dilihatnya atasannya masih berdiri stand by. Rara sadar Vivi merasa tak enak hati, dia menghampirinya, lalu duduk disampingnya. Vivi membalikkan wajahnya kali ini benar-benar terlihat jelas itu merupakan luka lembam, Rara baru sadar. Jadi selama ini yang kemarin dia kira itu noda ternyata luka lembam yang Vivi sembunyikan dengan make-upnya. Rara perlahan menyentuh lukanya mengusapnya sedikit.


Aww!


Vivi mengaduh kesakitan.

__ADS_1


“Sakit ya?” tanya Rara. Vivi mengangguk mengiyakan. Rara meraih kedua tangan Vivi menggemgamnya.


“Kenapa Vi? Siapa yang lakuin ini sama kamu?” tanya Rara, Vivi diam tertunduk malu.


“Vi, kalau kamu ada masalah, kalau kamu lagi ada apa-apa cerita jangan kaya ini?”


Vivi masih diam sesekali terisak mencoba menenangkan hati mengontrol emosinya.


“Pak Dito tadi bilang kamu lagi nelpon sama seseorang nangis-nangis, ada apa? ada masalah keluarga atau ada masalah apa? cerita? siapa yang udah ngelakuin ini sama kamu?” tanya Rara lagi.


Vivi masih diam tak berkutik bingung antara mau atau tak mau cerita, dia malah menangis semakin deras. Rara memeluknya menenangkannya mengelus-ngelus pundaknya.


Rara menunggu Vivi menangis meluapkan perasaannya, sampai dia melepaskan pelukannya dalam keadaan lebih tenang. Dia mengambil tisu dari pounch-nya dan menghapus air matanya, Rara masih diam sabar menunggu Vivi siap bercerita.


“Itu tadi pacar aku mbak,” ujarnya malu.


“Terus itu pipinya kenapa?” tanya Rara, Vivi diam lagi tak menjawab. Rara menerka-nerka apakah pacarnya yang melakukan itu padanya.


“Itu pacar kamu yang ngelakuin? dia yang nampar kamu?” tanya Rara to the point. Kali ini Vivi mengangguk perlahan, Rara menarik nafas dalam, benar dugaannya. Mereka diam sejenak, Rara mengelus-elus bahunya care seraya menunggu penjelasan Vivi.


“Dulu saya gadis desa biasa Mbak, cita-cita saya ingin punya pekerjaan bagus,” ujarnya menahan tangis.


“Saya ingin banget berubah menjadi orang yang lebih baik, bisa jadi orang yang sukses biar bisa bantuin Abah sama emak di kampung,” jelasnya, dia diam sejenak lagi.


“Waktu pertama kali saya ke Bandung saya nggak kenal siapa-siapa, saya ngelamar kerja online tapi agak ada panggilan. Sampai saya kenal sama seorang laki-laki, dia yang bantuin saya selama ini. Dia yang bantuin saya cari kerjaan, dia juga bantuin saya banyak hal, menjamin uang, ngasih makanan pas saya gak punya apa-apa, yang bantuin saya nyari pendaftaran buat kuliah, dia juga support saya untuk jadi lebih maju. Sampai saya jatuh cinta sama dia, Erik namanya,” ujarnya tersenyum tipis, mengingat masa-masa indah mengenal pacarnya.


“Awalnya dia baik, perhatian, sayang sama saya. Kita semakin dekat, saling bantu, kalo saya gak punya uang saya dipinjami sama dia, dan kalo dia pas gak punya uang, saya yang suka minjemin dia. Kita ngerasa kita udah mengerti satu sama lain, kita jatuh cinta terus pacaran. Tapi tiga tahun kita pacaran, saling support satu sama lain. Makin lama dia berubah, sikapnya makin lama semakin temperamental, dia sudah tidak bisa menghargai saya.” jelasnya menangis, sudah tidak bisa membendung kesedihannya.


“Sampai suatu hari dia meminta saya untuk memutuskan hubungan ini tapi saya terlalu sayang terlalu cinta sama dia. Dia laki-laki pertama yang mengenalkan saya pada cinta, rasanya berat buat saya hidup tanpa dia. Saya minta Erik untuk jangan putus, dia terima tapi tingkahnya semakin kasar tak menghargai saya. Banyak teman-teman saya yang bilang kalo dia punya pacar lagi. Entah saya gak mau percaya atau memang saya gak percaya. Saya selalu meyakinkan diri saya kalo cinta ini memang untuknya, meskipun dia kasar ato sering marah saya ikhlas. Gak papa saya pikir, toh dulu dia baik sama saya, sering bantuin saya, gak masalah kalo dia berbuat itu sama saya. Saya terlalu cinta sama dia mbak,” ujarnya semakin terisak menceritakan sakitnya mencintai seseorang yang tak mencintainya lagi, Rara masih diam mendengarkan.


“Dia sering minta uang sama saya, saya ikhlas toh selama ini saya mampu. Terus kemarin dia juga minta uang lagi sama saya, cuma kali ini saya nolak. Saya bilang saya gak punya tabungan lagi, dan memang lagi kosong sebagian uang saya dikirim buat bantuin abah sama emak bantuin adek sekolah. Saya minta buat dia bersabar, tapi dia malah marah, dia mukul saya, dia bilang saya sudah enggak sayang sama dia, gak peduli sama dia. Terus tiba-tiba tadi dia minta putus, saya panik, saya gak rela, saya sakit mbak, saya mohon sama dia jangan putusin saya. Saya juga bilang sama dia, saya ditawari naik jabatan jadi TL, saya bilang InsyaAllah saya naik gaji, nanti saya punya cukup uang buat dia. Dia bilang kalo kaya gitu, malah saya makin gak peduli sama dia, karna saya ninggalin dia, gak satu outlet lagi, jarang ketemu, makin susah kalo dicari kalo butuh apa-apa, dia mutusin saya lagi. Terus Erik tutup telpon saya, saya telpon lagi gak diangkat sama dia. Saya bingung mbak, saya panik, saya cinta banget mbak sama dia,” isaknya.


Rara melihat iba pada Vivi yang sudah menjadi budak cinta pada seseorang yang salah. Sudah tidak bisa berpikir logis, tidak tau mana yang benar mana yang salah.


“Kamu mencintai dia lebih dari kamu mencintamu orang tua kamu? Melebihi keluarga kamu? Ato diri sendiri?” tanya Rara lembut.


“Saya gak tau mbak?” ujarnya menggelengkan kepalanya. "Mungkin iya.” Air mata Vivi terjatuh lagi deras mengiyakan pertanyaan Rara seraya ironis pikirnya, dibutakan cinta.


“Kok bisa? Kok bisa kamu lebih mencintai dia?”


“Gak tau mbak, mungkin karna dia dulu baik sama saya,” ujarnya menyeka air matanya.


“Kalo menurut mbak kalo kamu bisa sangat mencintai Erik karna kebaikannya yang dulu, harusnya kamu bisa lebih mencintai abah dan emak karna kebaikan mereka lebih besar dari pada Erik. Kamu pikir abah sama emak gak sedih anaknya diginiin sama cowok?” tanya Rara, Vivi diam hatinya merasa tersindir.


“Bukan cinta kalo didalamnya ada rasa sakit. Dia sudah menyakiti hati kamu, dan kamu bertahan bukan karna cinta, tapi nafsu ingin memiliki, rasa takut yang berlebihan sehingga kamu bisa menjudge diri kamu kalo kamu gak bisa hidup tanpa dia. Hanya tiga tahun kamu pacaran, sedangkan berapa lama kamu bisa hidup tanpa dia sebelum kenal dia? kamu baik-baik aja, bisa tersenyum, bisa bahagia, bisa tertawa, hidup kamu indah, iya kan?”


“Mungkin kamu takut karna kamu sudah menancapkan opini pada diri sendiri dan setan mempermainkan hati kamu yang menakut-nakuti kamu kalo kamu enggak sama dia gak kan bahagia, atau berpikir dia cinta pertama kamu dan harus jadi cinta terakhir kamu. Padahal kamu sudah tau, sudah jelas-jelas dia salah, sudah jelas-jelas terasa sakit tapi kamu menutupi itu semua dengan kebaikannya yang cuma gak seberapa. Bahkan dia sudah menghambat kamu, sudah gak support sama mimpi kamu. Kamu masih mencoba ngejaga perasaan Erik, tapi abah sama emak masih berdoa buat kamu, masih support buat kamu, tapi apa kamu gak mikirin perasaan mereka? Kamu pikir mereka gak sakit liat anak gadisnya dilukai sama orang asing entah siapa? datang dari mana? Tiba-tiba datang cuma nyakitin anaknya yang mereka sayang dari kecil, yang mereka jaga dari kecil?” tanya Rara, membuat hati Vivi terenyuh.


Vivi mulai menggunakan logikanya, berpikir benar apa yang dikatakan Rara.


“Vi kalo seandainya pacar kamu melarang kamu untuk maju, terus nyakitin kamu kaya gini, nampar kamu, kamu pikir dia masih cinta sama kamu? Kamu emang gak sayang sama diri kamu? hidup kamu udah diacak-acak sama dia?” Rara diam sejenak memberi space Vivi untuk berfikir.


“Coba kamu pikir-pikir lagi Vi? Itu bukan cinta.”


“Kamu cerdas Vi, kamu anak baik, tentunya kamu bisa memutuskan sesuatu hal yang baik yang terpenting yang akan menjadi bagian hidup kamu, untuk kebaikan hidup kamu.” Rara menyentuh pundak Vivi menepuk-nepuk kecil bahunya.


“Tinggalkan Erik, ikhlaskan, yakinkan hati kamu kalo kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik, mendapatkan yang terbaik dalam hidup kamu. Habiskan waktu kamu untuk perbaiki diri sendiri dalam menggapai cita-cita kamu dan yakinkan kamu akan mendapatkan ganti yang jauh lebih baik yang menginginkan kamu, yang mencintai kamu tidak hanya didunia tapi di akherat di Surga-Nya Allah, itu cinta sejati Vi.”


“Aku udah pernah coba mbak ngejauh dari Erik, rasanya sulit, berat, keingetan dia terus, susah hati ini buat berpaling dari dia....”


“Emang sulit Vi, emang sakit, pasti berat, ya itulah perjuangan, harus ada pengorbanan," potong Rara cepat .


"Kalo kamu masih sangat berat, sulit ato merasa mustahil ya kamu minta sama Sang Penjaga hati, coba dekati Allah, minta sama Dia supaya dipermudah bisa ngelupain Erik. Bukankah buat Allah itu mudah membolak-balikan hati seorang hamba?” tanya Raara meyakinkan hati Vivi..


“Kamu harus berani melepaskan orang yang jelas-jelas dia gak cinta sama kita Vi. Karna kalo kita paksa untuk bertahan, yang ada hanya ada luka dan rasa sakit Vi,” tambah Rara.

__ADS_1


“Love your self vi, dengan ngejauhi Erik, biar hati kamu gak terluka terus menerus. Cintai diri kamu dengan terus belajar menjadi lebih baik walaupun sulit, walaupun bersusah payah. Love your self with Allah, minta pertolongan-Nya, dekati Allah dengan menjaga shalat kamu, minta di sepertiga malam, curhat sepuasnya, minta kekuatan. Dekati Sang Pengendali hati, Insya Allah akan mudah buat kamu ngelupain Erik. Dekati Sang Pencipta Cinta, dia akan memberi kamu cinta yang indah di waktu yang tepat .”


Vivi terdiam mendengar penjelasan Rara, benar mungkin sulit baginya terlepas dari Erik karna dia sudah jauh dari Allah, dia teringat akan nasehat abahnya yang selalu meminta pertolongan pada Allah pada saat masa sulit sekalipun.


__ADS_2