
#CERBUNG
#ROMANCE
#CINTA_KARNA...
PART_14
LIVE MUST GO ON
Hampir dua pekan Mutiara berada dirumah bu Sriyantika, hari-harinya disibukan berbagai aktifitas rumah, paginya dia membantu bu Sriyantika menyiapkan sarapan, menyiram tanaman, kadang ikut ikutan Mbok Sum belanja ke pasar. Siangnya dia istirahat dikamar, kalo gak jalan-jalan keliling komplek. Bada magrib Mutiara selalu mendengar bu Sriyantika mengaji mendengarkan siarnya, yang paling dia suka ketika mendengar cerita wanita wanita suri tauladan dalam Islam. Dan kalau mau tidur dia masuk ke kamar Tia membatu sedikit pekerjaan Tia, Tia selalu menyuruhnya tidur sekamar dengannya.
"Mutiaranya mana mbok?" tanya Bu Sriyantika yang sibuk mengupas buah.
“Lagi nyapu didepan ndoro, saya panggilkan enggeh ndoro?"
“mbok udah jangan dibiarin Mutiara macem-macem, kasian dia kalo kecapean dia kan tamu dirumah ini!"
“enggeh ndoro, saya sudah melarangnya berkali-kali, tapi dia nekad ndoro."
"Itu kayanya dia jenuh deh mih." ujar Tia yang mencomot buah pir.
"Iya juga ya."
"Tia ajak dia ke kantor aja ya mih?"
"Emang gak papa? gak kan ganggu?"
"Enggalah mih."
"Hei?" Mutiara datang dengan tangan yang kotor seperti habis mengobrak-abrik tanah.
“Ya ampun Mutiara itu tangannya kenapa kotor gitu? Kamu abis ngapain sih nduk?”
“Habis benerin tanaman didepan tante, Mutiara cuci tangan dulu ya!” Mutiara pergi ke dapur mencuci tanggangnya yang kotor.
Pagi yang cerah di perumahan kencana Resident, keluarga Sriyantika sedang asyik mengisi perut mereka untuk bekal kegiatan awal hari ini. Pagi ini Bu Sriyantika memasak nasi goreng favorit Tia, Tia begitu lahap memakan nasi goreng mamihnya. Tak lama Mutiara datang dengan tangannya yang basah duduk di samping Tia.
“Sini ra, sarapan dulu, loe pasti ketagihan sama nasi goreng mamih.”
“Owh iya?” Mutiara langsung melahap nasi goreng.
‘Bismilah’ gumamnya. Dia mengunyah mencari inti sari rasa nasi goreng buatan bu Sriyantika . “Emm enak banget tante, ajarin Mutiara ya tan?”
“Iya nduk, coba aja yang satu lagi minta diajarin, tante pasti seneng kalo dia mau nyentuh dapur.” sindir mamihnya ke Tia.
“Apaan sih mamih, nyesel Tia muji-muji nasi gorengnya.”
“Tanpa loe puji nasi gorengnya emang enak.” Mutiara ikut membela bu Sriyantika .
“Udah deh kalian udah pantes jadi ibu dan anak, sekalian aja bikin KK baru, tambahin anak ke dua, Mutiara.”
Bu Sriyantika dan Mutiara tertawa mendengar celoteh Tia.
Setelah sarapan Tia mengajak Mutiara ke kantornya, mereka melaju menggunakan mobil Avanza milik Tia. Setengah jam mereka lalui, Tia menceritakan panjang lebar tentang kantor dan karyawannya sepanjang perjalanan. Tak lama sesampainya di kantor, mereka turun dari mobil disusul Ayu datang dengan motor scoopy dan helm bogonya.
“Mbak? mbak Muti?” Ayu berteriak kencang girang meliat Mutiara.
“Owalah, pak kabar?” Ayu memeluk Mutiara erat.
“Heh heh heh, lepas! lepas itu kasian!” Tia menepuk-nepuk tangannya Ayu.
“Aduh, sakit mbak?” tanya ayu menyesal ke Mutiara.
“Nggak ngucap salam lagi.” ujar Tia memperingatkan, Mutiara tersenyum melihat tingkah laku Ayu.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Walaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab Mutiara dan Tia.
“Mbak masih inget aku tho?”
“Iya masih Esperansa kan?” canda Mutiara.
“Owalah seneng aku lho mbak.”
“Udah udah kita masuk.” ujar Tia.
‘yu kalo karyawan nanya siapa dia, bilang aja sepupu gue, jangan bilang dia amnesia.’ bisik Tia ke Ayu, Ayu mengangguk setuju.
Mereka bertiga masuk ke kantor, hawa adem Ac menyambut mereka. Tia langsung mengenalkan ke empat karyawan BackOffice\-nya.
Setelah itu Mutiara diajak ke kantor utama Tia diatas, suhu AC lebih dingin dibanding kantor yang lain. Mutiara duduk disofa melihat-lihat majalah, sedangkan Tia asyik bekerja dengan laptopnya.
TOK TOK TOK, ‘‘Assalamualaikum.” ucap Ayu datang.
“Walaikumussalam masuk yu?”
“Hai mbak Muti, lagi apa?” Sapanya pada Mutiara pecicilan.
“Lagi baca-baca aja yu.” Jawabnya tersenyum ramah.
“Mbak, gimana mbak udah balik ingatannya?” Ayu duduk disamping Mutiara.
__ADS_1
“Mmm." Mutiara bingung menjelaskan.
“Hei! ini mau laporan ato mau ngobrol?” potong Tia, tak ingin membuat Mutiara sedih menjawab pertanyaan Ayu.
“Eh iya?” ujar Ayu cengengesan langsung berdiri menghampiri Bosnya.
“Monggo mbak ini laporan keuangan, laporan event yang masih jalan, yang udah selesai dan yang baru sama lain-lain.” Menyerahkan beberapa map.
TOK TOK TOK, tak lama Dian muncul “Permisi mbak itu ada Pak Agus di bawah.”
“Aduh!” keluh Tia yang mengetahui salah satu klien yang rempong datang, sudah hampir sebulan event pak Agus berjalan tapi belum ada target yang bisa tercapai.
“Ayu loe hadapi Pak Agus, kalo loe bisa lobi biar dia masih pake jasa kita, kalo dia gak mau udah gak papa.”
“Loh kok aku sih mbak? kan aku bukan TL mbak?” Ayu panik mendengar permintaan bosnya.
“Loe kan staffnya! loe kan yang ngurusi administrasinya, udah gak papa belajar lobi.”
“Lho lho, mesti gitu, mbak bukannya aku gak mau ngehadapi dia lho mbak. Cuma itu lho aduh kalo Pak Agus marah tuh, kaya ada gempa itu lho pak suaranya minta ampun.”
“Ayu?” Tia menatapnya tajam mengisyaratkan dia harus menghadapinya.
“Iya iya, tapi aku minta ditemani mbak muti ya ya ya?”
“Ngapain bawa-bawa dia segala?”
“Mbak gak kan diapa-apain kok, cuma ngancani aku, biar mentalku bagus gitu lho mbak biar aku gak grogi.”
“Anaknya juga pasti gak mau yu?”
Ayu langsung menghampiri Mutiara yang duduk dibelakannya.
“Mau ya mbak mau ya ya.” bujuk Ayu memelas, Mutiara mengangguk mengiyakan.
“Tuh tuh kan mbak de’e (dia) mau.”
“loe yakin ra?”tanya Tia
“udah udah jangan ditanya lagi, Ayu mbak?” ajak Ayu ke Mutiara cengengesan.
Ayu dan Mutiara turun masuk keruang meeting menemui pak Agus. Diliatnya raut wajah pria paruh baya itu merah seperti bersiap\-siap ingin meluapkan amarahnya.
“selamat pagi Pak Agus.” sapa Ayu ramah.
“MBAK!!!” bentaknya memukul meja kayu didepanya, membuat Ayu dan Mutiara kaget .
“Saya gak mau basa basi lagi! Ini udah tiga minggu mbak tiga minggu, masa gak ada satupun target yang kecapai, agensi macam apa ini? saya udah bayar sembilan puluh persen, KALIAN MAU MEMPERMAINKAN SAYA!!!” teriaknya.
“Saya gak butuh sabar, target mbak target!!” ujarnya geram menunjuk map yang berisi laporan. “SAYA MAU KELUAR!!” ujarnya nafas terenggah-enggah karna emosinya.
“kalo gitu bapak akan rugi.” celetuk Mutiara. Ayu melihat ke arah Mutiara heran.
“DISINI SAYA AJA SUDAH RUGI!” teriaknya kencang.
“rugi 90%, paling besar 100%, kalo bapak keluar dari sini pake agensi lain paling kecil bapak akan rugi sekitar 140%, karna bapak udah bayar di kita, itupun kalo bapak bisa nyampe target dalam dua minggu lagi. Kalo agensinya sebelas dua belas sama kaya kita, bapak bisa rugi dua kali lipat, untuk modal training, itupun kalo bapak tidak masalah dengan modal yang harus dikeluarkan dari nol lagi, bagaimana kalo agensinya lebih parah dari kita?” laki-laki itu diam mendengar penjelasan Mutiara. Ayu ternganga mendengar Mutiara berceloteh yang sepertinya mengetahui seluk beluk dunia agensi ini.
“Yang terbaik yang bisa bapak lakukan adalah, bapak lanjutkan event ini pake agensi kita dan benahi bagian dalamnya.” jelas Mutiara membuat pak Agus perlahan duduk kembali, matanya menatap Mutiara tajam.
“Saya mau ganti leader!” ungkapnya.
“Tindakan yang bagus.”
“Kamu siapa?”
“Dia leader baru pak.” celetuk Ayu tiba-tiba.
“Oke, saya serahkan sisa event ini pada mbak!! mbak...?”
“Mutiara.” jawab Ayu memperkenalkan.
“Permisi”. Pak Agus keluar dari kantor sinis, Ayu dan Mutiara bertatapan.
\#
“APA???” teriak Tia marah pada Ayu. “ Ayu loe jangan cari masalah ya, gue bilang loe lobi, kenapa malah jadiin Mutiara Tl?”
“Ya itu kan udah dilobi mbak, lagian mbak Mutiara kok yang lobinya bukan aku.”
“Wah loe ya...”
“Udah gak papa ti,” tangkas Mutiara menenangkan."Gue siap kok.”
“Enggak semudah itu Ra, emangnya gampang menuhin target harian produk premium yang baru?”
“Ya caranya mau gak mau kita training lagi SPG-nya, cari kesalahannya dimana? kita pelajari produknya, kita temuin konsumen yang tepat biar kita gak cape-cape promosi salah sasaran. ” Tia mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Mutiara, seakan-akan di tau seluk beluk dunia retail.
“ Gini gue gak minta bayaran ini cuma bantuan aja, gimana?”
“Yo moso tega mbak muti kerja gak dibayar.” celetuk Ayu, Tia melihat Ayu dengan sinis mengisyaratkannya untuk diam.
“Apa kata mamih Ra? Mamih aja suka ngomel kalo loe bantuin Mbok Sum, apalagi kalo elo kerja?”
"Nanti gue yang jelasin."
__ADS_1
"Gue tetep gak setuju, Yu cari leader lain, bilang ke Pak Agus Mutiara gak bisa, alasanya apa kek terserah!"
"Iya mbak." Ayu cemberut keluar kantor.
Mutiara sedih mendengar keputusan Tia yang tidak memberinya kesempatan. Tia yang melihat expresi wajahnya jadi ikut merasa bersalah. Dia bangkit dari kursi kerjanya menghampiri Mutiara.
"Ra, dengerin gue?" Tia mengambil tangan Mutiara mengusap-usapnya.
"Loe tu tanggung jawab gue, loe udah gue anggap adik sendiri, gue gak bisa ngebebanin loe dengan hal-hal kaya gini."
"Tia gue malu, gue bukan anak SD yang harus mamih dan loe tanggung kehidupannya, bukan masalah tanggung jawab, tapi gue udah gedhe.” Ujar Mutiara.
"Loe denger kata dokter kemarin? Ingatan gue bakal balik gak tau kapan jangka waktunya, bisa cepet bisa lambat.”
"Magsud loe?"
"Mau sampai kapan gue hidup kaya gini terus, nyusahin semua orang? Sedangkan gak ada kejelasan kapan ingatan gue balik, Gue harus maju, gue harus hadapi ini semua dengan membuka lembaran baru kehidupan baru, salah satunya gue harus nyoba hidup mandiri dengan gue kerja." Tia diam benar apa yang dikatakan Mutiara. Dia tetap harus melanjutkan hidupnya.
"Ti walaupun seandainya loe gak ngasih kerjaan, gue juga pasti nglamar ke perusahaan lain wat nyari kerja karna gue gak mau hidup ngrepotin orang."
Sejenak Tia berfikir, meresapi perkataan Mutiara.
"Ok, gue setuju, event Pak Agus gue serahin ke loe.” Mutiara tersenyum girang memeluk badan Tia kencang.
"Makasih."
"Sama- sama." ucapnya menepuk-nepuk badan Mutiara.
Keesokan harinya Mutiara mulai bekerja sebagai leader SPG event, dia mengumpulkan teamnya men-training ulang anak buahnya.
"Coba mbak promosinya gimana?" Tanya Mutiara ke salah satu SPG-nya.
"Permisi mbak kita dari Adara, kita lagi ada promo...."
“Stop!!” ujar Rara memotong.
"Ketika kalian punya senjata promo harga dan tester, tester nya dulu yang kalian tawarkan, itu akan menarik perhatian konsumen, karna pada dasarnya kita suka sesuatu yang gratis, jangan ungkap identitas dulu ,tawari dulu testernya, contohnya selamat siang silahkan mbak dicoba tester susunya, habis konsumen nyobain tester dia nanya ini susu apa berarti kalian udah dapet perhatian konsumen yang pertama...." Jelas Mutiara panjang lebar.
Tia memperhatikan Mutiara, dia begitu luges dalam mengarahkan anak buahnya, apa mungkin dia dulu seorang SPG? Ato TL pikirnya?
“Wes cewe cantik, sapa TL baru ya mbak?” Arif datang di belakang Tia mengejutkannya.
“Jangan berani macem-macem ya sama dia, dia sepupu gue!” Tia mengepalkan tangannya ke arah arif.
“Loh kok mbak gak pernah bilang punya sepupu cantik kaya gitu?”
“Ngapain gue harus bilang sama loe, gue gak rela ngasih sepupu gue sama playboy cap kodok kaya loe.” ungkapnya judes.
“Berarti kalo sama cowo setia ngasih dong.”
“Maksudnya??”
“Demi dia gue pasti setia, kenalin donk mbak.”
“Ogah, jangan ngarep ya! Loe udah nyelesain laporan loe belum?”
“Ya udah lah.” sela arif santai. Laki-laki berusia tiga puluh tahun ini berprofesi sebagai supervisor di agensinya Tia. Dia cowok playboy yang selalu menggombali wanita cantik, apalagi SPG yang sedang kuliah. Meskipun dia playboy, tapi kalo urusan kerja arif selalu profesional.
“Tia, kayaknya gue mpe sore deh, loe mau duluan pulang, gue bisa sendiri?” ujar Mutiara menghampiri Tia yang sedang ngobrol dengan Arif.
“Enggak, gue tunggu aja.”
“Ehem.” arif mendehem mengkode agar Mutiara melihatnya, Mutiara tersenyum padanya.
“Manis?” tanya Arif ke Mutiara.
“Gimana?”
“Nama kamu manis kan?”
“Bukan.”
“Owh kirain, soalnya senyum kamu manis.” gombalnya membuat Mutiara diam mengangkat dua halisnya heran.
“Saya Arif?” Arif menyodorkan tangannya ingin berkenalan.
“Dia Mutiara.” Tia langsung menjabat kencang tangan arif sebelum Mutiara menjabatnya.
“Mbak Tia jangan kuatir, mbak pulang aja, biar saya yang nganter Mutiara.” ujar Arif memegang tangan kanannya linu karna Tia menekanya dengan keras. “Lagian kan saya supervisornya.” Tambahnya pecicilan.
“Mutiara langsung disupervisorin sama gue.” ujar Tia ketus "Ra loe lanjut training anak-anak gue tunggu disini!”
“Ok.” Mutiara pergi meninggalkan mereka berdua.
\#
Jam lima Mutiara selesai mentraining anak-anak. Dia begitu humble sehingga anak buahnya tidak sungkan bertanya padanya.
“Ra, loe jangan deket-deket ya sama playboy cap kodok tadi.” sahut Tia memperingatkan sambil menyertir perjalanan pulang.
“Maksudnya Arif?”
“Iya, banyak SPG yang jadi korban gombalnya, loe jangan ikut-ikutan.”
“Siap bos.”
Dihari pertama event dia terjun langsung mengontrol anak buahnya, sesekali dia ikut promo membantu anak buahnya. Tia yang mengikutinya sibuk memperhatikan Mutiara kerja, Tia melarang Mutiara untuk promosi, takut Mutiara kecapean. Event pertama yang Mutiara jalani sukses mencapai target. Pak Agus puas, dia meminta Mutiara untuk selalu memegang produknya di setiap Event.
__ADS_1