Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Ospek


__ADS_3

Suasana pagi dirumah Tia begitu ramai, bu Sriyantika sibuk memasak bahan-bahan gudeg, untuk Tia dan Rara di bawa ke Bandung. Sedangkan Rara dan Tia sibuk packing dikamar mereka. Rara memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper yang di pinjamkan bu Sriyantika, sedangkan Tia melamun melihat kotak diatas lemari pakaiannya. Dia menaiki bangku untuk bisa meraih kotak disebut. Ditaruh kardus berwarna coklat tua itu dilantai, di bukanya berisikan sebuah almamater kampus berwarna hitam. Di keluarkan dan lebarkan almamaternya, dan taruhnya diatas kasur. Di bawahnya ada badana jurusan berwarna hijau tua di dengan logo jurusan elektro di sablon yang sudah memudar. Lalu ada badana berwarna biru tua bercorak batik. Dia singkapkan bandananya, sehingga membentuk segi empat. Diliat ujung badana bertuliskan huruf kapital RSS. Tia mengusap tulisan yang tintanya sudah memudar. Seketika memorinya kembali mengingat pertemuannya dengan pemilik bandana.


💚💚💚💚💚💚💚💚


2010 Bandung


Tia dengan semeringah melihat kampus kesayangannya UPI. Butuh perjuangan besar baginya untuk bisa masuk ke universitas ini. Bukan karna faktor biaya, melainkan restu ibu yang begitu susah didapat. Bu Sriyantika menginginkan Tia untuk menjadi sosok lemah lembut, berbanding terbalik dengan keinginannya, dia selalu ingin masuk jurusan Teknik.


Kata "TEKNIK" yang indentik dengan kaum adam membuat bu Sriyantika tidak setuju, sedangkan Tia memandangnya sesuatu hal yang keren. Tidak mudah untuk masuk kejurusan ini karna membutuhkan passing grade yang tinggi, yang membuatnya harus belajar keras untuk mendapatkan nilai tinggi.


Tadinya dia ingin masuk ITB atau UNS jurusan teknik, tapi bu Sriyantika tidak menyetujuinya karna dia paham lulusan jurusan tersebut menarik putrinya bekerja di medan berat yang biasa dilakukan kaum adam. Kata Pendidikanlah yang akhirnya membuat bu Sriyantika menyetujui pilihan putrinya, Pendidikan teknik elektro. Jurusan ini akan mengantarkan dia menjadi seorang guru atau dosen, profesi yang bisa digeluti kaum hawa.


'Ini hari pertama Tia ospek pih, semoga Allah selalu menjaga papih.' Gumam Tia bungah.


Dia mengibas-ngibaskan badananya berwarna biru langit di pinggir koperasi kampusnya, tersenyum berjalan menelusuri pinggiran sungai. Tak sengaja seorang laki-laki menubruknya membuat badanannya jatuh ke sungai yang mengalir air cukup deras.


Agh


"Astagfirullah." ujar Tia.


Tiaa melihat kearah laki-laki yang menubruknya, tubuhnya tinggi berambut pendek, kulitnya putih alisnya tebal, wajahnya tampan. Dia mengenakan hoodi berwarna hijau tua.


"Ya Allah aa, itu bandananya."


"Maaf maaf saya tidak sengaja."


Tia panik bandananya terbawa arus, dia hendak turun ke sungai tapi laki-laki menahannya memegang lengannya.


"E..eee kamu mau ngapain?"


"Mau diambil a itu bandana saya keburu jauh." ucap tia panik.


"Gak usah nanti saya ganti!"


"A lima belas menit lagi saya disuruh kumpul di lapangan kampus, saya gak punya waktu."


Lelaki itu melihat Tia yang mengenakan kaos putih lengan panjang dan celana PDL, dia membawa ransel dan rambut panjangnya dikucir kuda. Ada pita hijau lumut mengiasi rambutnya. Dan kardus persegi panjang bertuliskan "Tia" yang dikalungkan.


"Kamu jurusan elektro kan? Saya tanggung jawab, kamu ikut saya!"


"Maaf a saya gak bisa!"


"Itu badananya udah gak keliatan, hayu ntar kamu telat!"


Tia terpaksa mengikuti laki-laki itu keluar kampus, di liatnya toko masih tutup pada jam pagi.


"A mau kemana toko masih pada tutup." tanya Tia semakin panik. "Astagfirulloh aa saya udah telat" matanya berkaca ketakutan karna telat mengikuti kegiatan ospek di hari pertamanya.


"Kamu yang tenang kita ke gedung FPTK dulu, aa punya bandana, ayo!"


Tia pasrah mengikuti nya ke gedung, setelah sampai di kelas, laki-laki itu mekeluarkan badana berwarna biru tua dari ranselnya.


"Pake ini!" tawarnya.


"A saya disuruh pake bandana biru langit bukan biru tua, aduh a saya bisa kena dihukum ini." keluh Tia mulai terisak. "Coba aja kalo aa ngebiarin saya ambil badananya tadi, pasti gak kan kaya gini!" Tambahnya menangis membuat si laki-laki tambah bersalah.


"Jangan nagis, jangan takut hayu ikut saya." ujarnya menarik lengan Tia.


Mereka berdua pergi ke lapangan FPTK, Tia yang telat tiga puluh menit menguatkan mentalnya untuk dihukum oleh kakak senior HME (Himpunan Mahasiswa Elektro).


Di lapang para maba sudah berbaris rapi, ada beberapa maba di pinggir lapangan sedang di hukum karna melanggar aturan. Tia gugup menghampiri senior yang sudah berbisik-bisik melihat kearahnya. Lalu ada sepasang senior menghampiri nya.


"Assalamualaikum kang Rio? kenapa kang, dia telat?" sapanya pada Laki-laki yang sudah menubruk Tia. Tia baru tau laki-laki yang disampingnya bernama Rio. Rio mengajak sepasang senior tersebut menjauh untuk mengobrol bernegosiasi sesuatu. Tak lama senior perempuan menghampiri Tia.


"Hei kamu, cepat masuk barisan!" ujarnya yang meloloskan Tia dari hukuman. Tia langsung berbaris rapi di barisan paling akhir kaum hawa.


Jurusan yang diambil Tia adalah Teknik Elektro yang sembilan puluh persen mahasiswanya laki-laki. Pembukaan ospek jurusan FPTK berlangsung dengan tenang dan tegang. Tia gabung dengan kelompoknya, team Mawar menjabat sebagai anggota.


"Hei kamu!" bentak salah satu teteh (kakak perempuan) senior memanggil Tia.


"Iya teh." Tia langsung berdiri sikap sempurna termasuk juga semua anggota lain, menghormati seniornya Yanti.


"Itu kenapa biru tua bandananya?"


"Siap teteh, bandana saya jatuh ke sungai, saya sudah dapat ijin dari teteh senior yang disana untuk pakai bandana ini." ucap Tia tegas.


"Lain kali jadi anak jangan ceroboh, baru masuk pertama aja udah buat salah!" bentak teh Yanti.


"Siap, Maaf teteh!"

__ADS_1


"Karna bandana kamu beda sendiri, kamu harus jadi ketua kelompok, PAHAM?!"


"Paham teteh!" ujar Tia mengiyakan intruksi seniornya.


"Saya tidak setuju teteh". potong Elin ketua team Mawar.


"APA? kamu berani menggugat keputusan saya!" teriak Yanti marah mendengar ucapan Elin.


"Maaf teteh maksud saya, saya hanya ingin menyelamatkan anggota saya." Elin mahasiswa baru yang idealis ini merasa keberatan posisinya digantikan Tia.


"Maksudnya?"


"Pada awal pelaksanaan saja Tia sudah ceroboh, saya takut kalau dia jadi ketua dia gak bisa memimpin kelompok dengan baik, saya merasa dia tidak kompeten." jelas Elin. Tia kesal mendengar penjelasan Elin yang menjelek-jelekan dirinya.


"Terus magsud kamu, kamu kompeten gitu?"


Elin diam tidak menjawab.


"JAWAB!!" teh Yanti berteriak tepat di depan muka Elin.


"Berdasarkan persiapan saya, dan belum ada kecerobohan yang saya lakukan, saya kompeten teteh." jawab Elin Pd.


"PD banget kamu! penilaian seorang pemimpin bukan oleh diri sendiri tapi menurut orang lain. Push up kamu lima puluh kali."


Elin yang berusaha mempertahankan jabatanya malah kena hukuman oleh senior, akhirnya dia mengambil posisi push up.


"Tia hitung!" ujar teh Yanti.


Tia menghitung Elin yang sedang push up, ada sedikit rasa senang pada dirinya. Orang yang menjelekannya malah kena hukuman. Elin yang awalnya ketua kelompok digantikan oleh Tia.


"Semua mahasiswa kembali berbaris seperti formasi semula dengan kelompoknya masing-masing!" sahut kang Toni kakak senior mengunakan Toa. "Ayo cepat cepat cepat!" tambahnya dengan suara lantang dan keras.


Tia berbaris terdepan di ikuti lima anggota mahasiswa perempuan. Dua diantaranya jurusan Pendidikan Teknik Elektro yaitu Elin atau nama panjangnya Elinda dan Tia, tiga jurusan Teknik Elektro Winda, Rima dan Sarah yang mengenakan hijab, dan satu D3 Jurusan elektro Yeni juga mengenakan hijab putih.


"Sekarang kalian lipat bandananya lalu tutup mata kalian yang kencang pake badana, kalo ada yang mengintip saya tidak akan segan-segan menghukum kalian!"


Dengan cepat para maba menutup mata mereka dengan bandana masing-masing.


"Sekarang silahkan kalian pegang bahu teman kalian yang ada didepan kalian, kalian tunggu instruksi dari pembimbing kalian masuk truk dengan tertib dan hati-hati, jangan buru- buru!" ujar kang Toni dengan suara semakin lantang.


Tia yang berdiri di barisan paling awal menunggu instruksi dari pembimbing, sampai ada seseorang menuntun tangannya untuk memegang bahu maba lainya, dia berjalan dengan hati-hati agar tidak terjatuh.


"Sekarang kalian semua berbaris perkelompok yang lurus, lalu berbaring merangkak maju ke arah depan dan ketua team silahkan memandu teamnya untuk merangkak kedepan." intruksi kang Toni lagi.


"Oke guys, ikuti aba aba gue, kita berhitungan satu dua satu dua yang keras, biar kita gak mencar." teriak Tia pada anggotanya.


Tia langsung mengambil posisi merangkak, telapak tangannya terasa basah. Tak peduli dia langsung jatuhkan tubuhnya ke tanah. Dia bisa merasakan badan bagian depan basah, bau rumput dan lumpur tercium begitu tajam. Tia yang biasa mendapatkan perlakuan manja dari mamihnya kini dia harus merangkak di lumpur dengan mata tertutup, dia menguatkan mentalnya menjalani ospek ini sesuai dengan kehendaknya.


"Oke kelompok mawar siap?" teriak teh Yanti.


"Siap teteh!" kelompok mawar menyahut teh Yanti kompak.


"Go!"


"Satu dua satu dua satu dua..." teriak Tia memandu anggotanya merangkak kearah depan, meraba-raba tanah dan lumpur. Sesekali kerikil tajam sakit tertekan telapak tangan. Mereka tidak bisa melihat bagaimana keadaan mereka, yang bisa mereka rasakan adalah beceknya lumpur dan rumput menyerbu badan mereka.


"Stop! Berdiri lalu luruskan barisan kalian kalo ada yang tidak lurus, saya hukum!" teriak teh Yanti ke team Mawar.


"Siap gerak!" Tia berteriak menyiapkan meluruskan barisan anggotanya.


"Lencang depan gerak... luruskan!"


Dia diam sejenak menunggu anggotanya untuk meluruskan barisannya.


"Sudah lurus?" tanya Tia.


"Siap sudah!" jawab anggotanya lantang.


"Tegaaaakk gerak!"


Kini kelompok mawar menunggu instruksi dari senior sambari menunggu team lain merangkak ke arah lapang. Tidak ada satupun anggota yang baris bengkok, semua tertib. Ada kesalahan sedikit, bentakan dan hukuman harus mereka dapatkan.


Setelah semua maba berkumpul, kang Toni menyuruh mereka membuka bandana masing-masing. Tia melihat dirinya berada di lapangan yang luas, di kelilingi pepohonan lebat. Semua baju dan wajah maba kotor karna lumpur. Tia yang melihat sekitar, perhatiannya teralih pada kang Rio yang membuat bandannya terhanyut ke sungai. Diliat dari setelanya yang mengenakan jaket almamater, ternyata dia salah satu panitia ospek jurusan.


Jam sebelas para maba di suruh menepati tenda yang sudah disiapkan, lalu mengganti pakaian untuk melaksanakan shalat dhuhur. Disitulah setiap anggota maba bisa berkenalan satu sama lain begitu pun dengan Tia dan anggotanya.


Ketidaksukaan Elin terlihat jelas oleh Tia. Elin sering mengacuhkan perintah Tia, bahkan dia menyerobot antrean ke toilet untuk mengganti pakaian salat dhuhur. Tia hanya bersabar mendapatkan anggota kelompok seperti dia.


Setelah salat dan makan siang, semua maba berkumpul kembali di lapangan. Para maba melakukan kegiatan kekompakan game dan membuat yel yel anggota. Tia good leader yang baik untuk teamnya, beberapa kali dia menang di beberapa game. Hampir semua anggota bersorak memberi selamat pada Tia, kecuali Elin. Elin amat sangat susah diatur, Tia harus membentaknya untuk membuatnya menurut.

__ADS_1


"Oke sekarang game terakhir, kalian punya bendera kelompok, kalian harus menghormati bendera team kalian. Gimana caranya buat tiang bendera dari tongkat dan tali yang ada di team kalian. Kalo tiangnya sudah jadi silahkan ketua dan wakil memasang tiangnya di depan lapang. Kalo bendera itu tidak bisa berdiri, terjatuh atau telat. Berarti kalian tidak bisa menghargai bendera kalian, jadi kalian harus dihukum kalau kalian gagal. Lima belas menit dari sekarang. Go!" ujar kang Toni.


"Oke gini. ini ada enam tongkat, kita bikin tiga sebagai kaki, dua tongkat sebagai penyangga tiang, dan satu tongkat sebagai tiang paham?" ujar Tia memberi intruksi.


"Siap paham." jawab anggota Mawar.


"Tapi apa kurang tinggi Ti? kenapa kita gak bikin empat tongkat sebagai kaki dan dua tongkat sebagai tiang." sahut elin yang ingin benderanya berkibar tinggi.


"Yang penting tiang bendera bisa berdiri, kenapa pake penyangga supaya keseimbangannya kuat, gak usah terlalu tinggi karna resiko jatuhnya lebih besar." jelas Tia, "Oke mulai, gue, Rima, Winda, dan Sarah menyambungkan bagian kaki-kaki tongkat dan tiang bendera, dan elo Yeni, Elin, buat dua tongkat jadi huruf T buat penyangga tiang. Go!"


Kelompok mawar begitu sibuk mentali-temali tiang bendera, berbeda dengan Elin terlihat kurang semangat.


"Elin yang bener dong." protes Yeni.


"Gue bener kok." bentak Elin pada Yeni.


"Lima menit lagi!" Teriak kang Toni.


"Gimana siap penyangganya Elin, Yeni?" tanya Tia.


"Siap." ujar Yeni. Mereka menyambungkan bagian bawah kaki tiang dengan penyangga. Hampir semua kelompok sudah mengumpulkan tiang mereka, hanya ada lima lagi yang belum termasuk kelompok Tia. Tia melihat ikatan penyangga Elin yang belum disimpul mati.


"Ini kenapa gak disimpul mati?" tanya Tia kesal.


"Gak usah kuat kok." ujar Elin santai.


"Kan gue bilang ikat yang kenceng dan kuat, gimana mau ..."


"Oke waktu hampir habis kumpulkan tiang didepan, sepuluh, sembilan,...!"


ujar kang Toni berhitung.


"Ayo cepet cepet kumpulin!" sahut anggota team Mawar ke Tia dan Elin. Tia tidak ada pilihan lain, dia dan Elin langsung mengangkat tiang ke depan lapangang. Tia menancapkan kaki-kaki bendera pada tanah sekuat tenaga, Elin hanya diam diri melihat Tia.


"Dua, satu. Udah cukup angkat tangan!" sahut kang Toni.


Tia mengangkat tangan tidak menyentuh benderanya, dan ternyata benar dugaan Tia. Satu ujung tongkat penyangga jatuh ke bawah karna kurang kuat. Tia deg-degan berharap benderanya tidak runtuh. Dua ujung tongkat masih kokoh menyangga tiangnya, dan tiang kelompok Mawar masih bisa berdiri sempurna.


Ada sekitar empat kelompok yang tiangnya tidak bisa berdiri, mereka mendapat hukuman push up, bentakan dan lainya. Kelompok mawar bersorak gembira karna mereka berhasil mengibarkan benderanya walaupun satu ujung tongkat penyangga terjatuh. Setelah itu semua maba berbaris sempurna, hormat berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan.


Waktu jam lima lebih menuju magrib, para maba di suruh merapat ke masjid. Termasuk team Mawar, tapi Tia malah menyeret Elin, menjauh dari tenda.


"Apa masalah loe?" ujar Tia ke Elin.


"Masalah apa?" ujar Elin santai.


"Hei Elinda! gue gak **** ya, dari awal mpe tadi games loe buat ulah terus, elo sadar gak sih elo hampir bikin kita di hukum tadi." bentak Tia marah, Elin diam cuek malah melihat sekitar tidak menggubris Tia.


"Apa masalah loe, jawab gue!" terial Tia mendorong bahu Elin kesal yang mengacuhkannya.


"Gak usah pake dorong dong, santai ja!" Elin mendorong bahu Tia balik.


"Ya udah loe jujur sama gue, apa masalah loe, kenapa loe gak kompak kaya yang lain?"


"Karna loe!" bentak Elin.


"Apa?"


"Gue pengen loe ngundurin diri dan rekomendasiin gue jadi ketua team!"


"Jadi tingkah loe dari pagi kaya gini cuma gara-gara pengen jadi ketua team? Loe sadar gak sih? barusan aja elo hampir buat anggota kita dihukum, gimana caranya gue bisa percaya kalo sikap buruk loe kaya gitu?"


"Apa buruk loe bilang?" Elin tak terima dengan omongannya, mendorong bahu Tia lagi sampai Tia terpental mundur beberapa langkah kebelakang.


"Iya buruk, kenapa? gue gak mau nyerahin kepemimpinan sama orang rendahan macam kaya loe!" Tia menunjuk-nunjuk dan mendorong bahu Elin lebih keras sampai Elin jatuh tersungkur ke tanah.


"Hei hei stop!" Rio memergoki mereka berdua berkelahi, dia membantu Elin berdiri. "Kamu gak papa?" tanya Rio.


Elin melihat ke arah Rio, jarang dia menemukan kakak senior yang baik tidak membentak adik yuniornya. Rio memang lebih halus pada kaum hawa, dia hanya membentak dan menghantam pada maba laki-laki saja, dia berasa tidak tega karna dia memiliki kakak perempuan.


"Ini ada apa, kenapa kalian masih disini?"


Tia dan Elin diam tidak menjawab.


"Ada apa kang?" sahut Yanti menyusul Rio.


"Gak papa, mereka cuma telat aja ke masjid, masih ngobrol disini." jelas Rio berbohong, tak ingin Tia dan Elin terkena hukuman oleh seniornya.


"Dasar kalian, cepat pergi kemasjid!" bentak Yanti, Tia dan Elin langsung berlari ke masjid.

__ADS_1


__ADS_2