
“Dia menolak lamaran saya.” ujar Bagas sedih. Tia kaget mendengar Bagas melamar Rara. “Dia mengembalikan cincin yang saya beri untuknya.” Mereka berbincang di kantor Tia.
“Alasannya apa?”
“Dia sudah menganggap kamu sebagai kakaknya, dia takut jika dia menerima lamaran saya, dia akan menyakiti hati kamu.”
“Maksudnya gimana?” tanya Tia heran.
“Bu Sriyantika bakal lebih sering mengejar kamu untuk menikah, dan memaksa kamu untuk menikah dengan orang yang tidak kamu cintai. Sebenarnya dia gak nolak banget, dia cuma nyuruh saya lebih bersabar sampai kamu bisa menemukan pasangan hidup yang kamu cintai.”
“Itu serius?” tanya Tia kaget.
Bagas mengangguk mengiyakan, Tia sempat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bagas. Begitu besar perhatian Rara padanya sehingga dia menunda lamarannya.
#
“Ra mau ke mana?” ujar Tia yang melihatnya sudah rapi menggunakan kemeja pink.
“Mau jalan sama Ayu.” jelas Rara santai.
“Udah ijin belum sama mamih?”
“Udah.”
“Gue ikut!”
“Itu serius ato bercanda?”
“Ya serius lah!”
“Tumben mau ikut, kegiatan kita bosenin loh!”
“Gak papa, gue suntuk dirumah.” Ujar Tia.
Ayu datang menjemput Rara dan Tia, mereka bertiga pergi jalan-jalan ke mall mencari kuliner malam. Setelah itu mereka ke simpang lima Semarang. Rara dan Ayuk sedang asyik menggoseh sepeda sambung yang dihiasi lampu meteran berwarna-warni cantik, sedangkan Tia sedang asyik mengotak-atik hpnya duduk di bangku.
“Mbak mbak pelan-pelan!!!” ujar Ayu tertawa. Rara tidak menghiraukan Ayuk, dia tertawa terus menggoseh sepedanya dengan cepat. Mereka bermain sepeda girang bak anak kecil.
“Adududuh mbak, jatuh iki jatuh iki, AAAA.” teriak Ayu. Seketika Rara mengerem sepedanya tiba-tiba, dia tertawa geli melihat Ayu yang ketakutan.
“Mbak ki ojo guyon toh.”( mbak ru jangan bercanda dong) Protes Ayu.
“Sorry sorry sorry.” ujar Rara, ayu bernafas terengah-engah kelelahan.
“Capek??” tanya Rara, Ayu mengangguk.
“Ya wes kita istirahat dulu ya kita samperi mbak Tia.”
“Ayo, mbak Tia ki kenapa kat mau (dari tadi) dia diem wae?” tanya Ayu melihat ke arah Tia.
“Gak tau, capek kali! ayo.”
“Eh mbak liatin! Mbak Tia melamun, kita kagetin de’e (dia) yuk, dari belakang.” Rara mengangguk setuju. Rara dan Ayu perlahan berjalan diam-diam ke arah Tia, sesampainya di belakang kursi, Rara dan Ayu bersiap-siap mengagetkannya.
“DARRRR!!” teriak mereka girang, Tia kaget memegang dadanya.
“Apa-apaan sih kalian berdua, kaget tau?” gerutu Tia.
Rara dan Ayu cengengesan mendengar celoteh Tia, Rara duduk di samping Tia.
“Ayu beliin siomay, isinya gue mau pangsit dua, tahu baksonya dua ,kentang, kembang kol sama telur, sambel kacangnya dipisah ya, di java mall situ. Disana ada siomay favorit gue loe juga beli kalo mau ini uangnya.” Tia mengeluarkan dompet dan memberikan lembar uang merah padanya. Ayu yang hendak duduk tidak jadi karna Tia menyuruhnya membelikan jajanan.
“Mbak ki nyuruh ato ngerjain, kenapa ga disini aja belinya.” protesnya sewot.
“Yang disini kurang enak, ya ya plis.” bujuk Tia.
“Mbak Rara kancani.” rengek Ayu ke Rara.
“Eh jangan! Rara nemenin gue, ada yang perlu gue omongin masalah penting nih, masalah masa depan.”
“Bilang aja mau ditemenin mbak’e, takut tho disini sendirian?”
“Iya iya, cepet nih lapar gue.”
“Enggeh putri solo.” candanya Ayu pada Tia, Ayu menyeberang berjalan menuju arah Java mall.
__ADS_1
“Ra?”
“Ya?”
“Gimana hubungan loe sama Bagas?”
“Mmmm ba-ik.”
“Loe suka sama dia?”
“Suka.”
“Cinta?” tanya Tia lagi.
“I-ya sih. Ini kenapa sih?” Rara menerka ada yang aneh dari sikap Tia.
“Enggak, cuma pengen tau ja.”
“Owh kirain apa?” ujar Rara santai.
“Kirain gue nanyain alasan kenapa loe nolak lamaran Bagas ya?”
Rara diam terkejut mendengar celoteh Tia, tau dari mana pikirnya.
“Denger ya ra sebelum gue kenal loe, gue udah sering diuber-uber mamih buat nikah. Ini semua yang gue mau, gak da hubungannya sama elo.”
“Tapi kan...”
“Gue kecewa, loe nunda lamaran loe sama Bagas cuma gara-gara gue, gue ngerti loe peduli sama gue, tapi gak gini caranya paham?”
“Tia?” Rara mencoba menyela, tapi Tia tidak memberinya kesempatan.
“Ra, gue kan udah bilang, selama ingatan loe belum balik loe jadi tanggung jawab gue, begitu pun setelah loe nikah loe tetep jadi adik gue, dan seandainya loe udah balik ingatannya, loe tetep sodara gue.” Rara terharu dengan ucapan Tia, dia memeluk Tia.
Itulah hal yang paling dia takutkan selama ini, Rara takut kehilangan kasih sayang keluarga yang selama ini merawatnya. Dia sudah sangat terlanjur nyaman dengan keluarga Tia, akh baginya dia bisa kehilangan cinta tapi tidak bisa kehilangan kehangatan sebuah keluarga.
“Ti, gue beruntung dapet sodara kaya elo?” ucap Rara haru.
“Gue yang beruntung ra.” ucap Tia menepuk-nepuk bahunya.
“Walaikumussalam.” Rara menatap Tia, Tia menyuruhnya duduk kembali.
“Assalamualaikum, eh ada si ganteng.” uar Ayu dengan suara lantangnya yang baru kembali. “ Mas ganteng mau siomai?” tawar Ayu pecicilan, Tia berdiri menarik tangan Ayu.
“Ikut gue yu kita makan disana!” ujar Tia sambil menarik Ayu menjauh dari Rara dan Bagas.
“Lho mbak ini siomainya mbak Rara.”
“Udah buat elo aja, kita nonton dari sana.”
“Nonton apa?”
“Drama korea! Ayo ikut aja.” ujarnya menyeret tangan Ayu.
“Mbak gimana sih? kok ngebiarin mereka berduaan tho, tante Sri tau dimarahi nanti.”
“Alah cuma bentar, nglerusin kesalah pahaman aja nanti kita balik lagi kesana.” Ujar Tia santai.
Ayu langsung diajaknya ke bangku yang tak jauh sekitar sepuluh meter dari keberadaan Rara. Bagas duduk disebelah Rara membuatnya menjadi salah tingkah melihat Bagas yang tiba-tiba datang.
“Kok tau saya disini?” tanya Rara heran
Bagas tersenyum menghiraukan pertanyaan Rara, dia langsung merogoh kotak perhiasan merah kecil yang cantik dari kantungnya.
“This is the second time, I wont never give up to you, will you marry me?”
Bagas membuka kotak cincinnya, yang masih berisikan cincin yang sama yang Rara kembalikan.
Rara diam, air matanya terjatuh menangis haru. Orang yang dia cintai begitu sabar menghadapinya, dan dia bersyukur atas apa yang terjadi padanya. Dia merasa beruntung begitu banyak orang baik yang mencintainya.
“ I do.” jawab Rara, mereka tertawa bahagia Rara mengambil cincin dari Bagas.
Tak jauh dari situ Ayu dan Tia terharu melihat kejadian tersebut.
“Mauuu.” rengek Ayu pada Tia manja.
__ADS_1
“Ya loe suruh aja pacar loe ngelamar loe” ujar Tia santai memakan siomainya.
“Yo ndak mungkin to mbak, akukan cewek.”
“gak mungkin gimana?”
“Ya moso bilang mbe ndene, mas’e lamar aku ya lamar aku, ( ya masa saya bilang ke dia, mas lamar aku mas ya lamar aku) dimana harga diri ku dimana mbak dimana?” gerutu Ayu gemas.
“Ya elo yang anggun dong, kaya bunda Saidina Khadijah, melamarnya lewat perantara seseorang.”
“Emoh aku takut. Takut ditolak aaakkkhh.” rengeknya.
Tia tertawa mendengar celoteh karyawannya.
#
Gerimis menghiasi kota Semarang, Rara yang sedang duduk di depan jendela sedang asyik melihat pemandangan luar. Sesekali dia melihat tangan kanan mungilnya, lebih tepatnya melihat jari manisnya. Disana terpasang cincin pemberian Bagas, senyum diwajahnya terpasang beberapa kali. Dia usap-usap cincinnya dengan expresi berbunga-bunga.
“Cie yang bentar lagi mau nikah.” ujar Sinta salah satu staf kantor Tia.
“Lho kapan kamu masuk ta?”
“Dari tadi ngucapin salam didepan pintu tak ada yang buka jadi aku masuk aja, kata mbak Tia mbak Rara ada disini, lagi ngelamunin mas Bagas ya?” Goda sinta dengan logat bataknya.
“Hahaha, maaf ya mbak gak denger ta, ada apa?”
“Mau ambil semua laporan kantor mbak yang saya kasih kemarin, kata mbak Tia mbak Rara kan mau nikah dua minggu lagi. Jadi jangan terlalu sibuk.”
“Ini yang soal anak-anak saya kasihin ke supervisor, kalo soal proyek gak papa saya masih bisa atur kok.”
“Lah tadikan mbak Tia nyuruh bawa semuanya mbak?”
“Gak papa Ta, biar nanti saya bilang ke Tia.”
“Ya sudahlah, tapi kalo mbak Tia marah bantuin ya, aku tak tanggung jawab aku.”
“Iya iya.”
DDRT DDRT handphone Rara, berbunyi, tertera nama tante Sri dilayar handponenya. Dengan cepat Rara menjawab teleponnya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh sayang Rara?” suara lembut medok terdengar ditelinga Rara.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya tante?”
“Kamu siang ini jadi kan fiting baju pengantin?”
“Iya tante, jadi.”
“Oke kalo gitu tante jemput ke kantor sekarang ya.”
“Ya tante, boleh.”
“Ya sudah kalo gitu wassalamualikum warahmatullahi wabarakatuh”
“Waalaikumusalam warohmatullahiwabarokatu.”
Rara melihat layar hpnya dia hendak menekan menu layar utama, tapi bunyi “ping” pesan masuk dari Bagas keburu masuk. Dia menekan logo hijau bulat tersebut diliatnya pesan dari Bagas.
Assalamualaikum ra, nanti siang jadi kan fiting bajunya?
Walaikumussalam bang, InsyaAllah jadi sama tante Sri.
nanti kamu pilih baju yang kamu suka, abang ikut aja, abang fitingnya besok gak papa kan?
iya gak papa😀
terus EO-nya nanti datangnya dua hari lagi buat dekor rumah tante Sri , nanti pilih yang kamu suka ya.
Rara berfikir sejenak sebelum membalas.
bang, kalo soal biaya, Rara boleh ikut bantu?
gak usah, kamu gak usah mikirin itu, itu abang yang tanggung kamu fokus aja sama diri kamu, ok?? 😉
Rara tersenyum membaca jawaban Bagas, d9ia merasa beruntung, bersyukur karna sudah memberikan pasangan yang baik, perhatian dan berkecukupan.
__ADS_1