Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
KERUDUNG FITA


__ADS_3

Bada magrib, mereka pergi ke salah satu mall terbesar dibandung “ CIWALK”. Rio jalan berdampingan dengan Bu Sriyantika sedangkan Rara dan Tia mengikuti di belakang. Bu Sriyantika membeli beberapa makanan tradisional Bandung untuk oleh-oleh. Rio sebagai kaum adam tak sungkan membantu membawa belanjaan Bu Sriyantika.


Rio melihat arlojinya, waktu menunjukkan jam tujuh lebih. Adan tak terdengar di dalam mall karna gaduh. Rio mengingatkan untuk salat isya terlebih dahulu, dia memang selalu mengusahakan sholat nya ontime, dan hal itu yang paling Bu Sriyantika suka darinya.


Setelah itu mereka beristirahat di salah satu restaurant. Rio dan Bu Sriyantika duduk berdampingan, sedangkan Tia berdampingan dengan Rara. Rio duduk berhadapan dengan Rara, hal ini membuatnya bebas menikmati wajah cantik Rara. Rio tak henti-hentinya memandang Rara, sebaliknya Rara selalu membuang pandangan menghindari tatapan Rio. Terkadang beberapa kali mata mereka berpapasan, Rara benar-benar dibuat salah tingkah oleh Rio. Rara memutuskan sibuk dengan gawainya mengacuhkan Rio, mengecek beberapa email yang masuk.


“Rara mau pesen apa nduk?” tanya Bu Sriyantika.


“Samain tante,” jawab Rara sopan tersenyum. Dia menaruh sebentar gawainya menjawab pertanyaan Bu Sriyantika.


“Kamu Rio mau pesen apa?”


“Saya chiken steak dan jus mangga aja.”


“Ya udah Rara, tante samain kaya Rio ya?”


“Iya tante.” Rara tak banyak komen mengiyakan.


“Rio, kamu sering jalan- jalan kaya gini?” tanya Bu Sriyantika.


“Dulu sering tante, tapi sekarang jarang.”


“Nanti mah bakal sering a, kalo udah nikah,” sela Tia.


“Apalagi nikahnya sama Rara, hobinya shopping tuh,” ejek Tia sembari menyenggol lengan Rara.


Rio dan Bu Sriyantika tertawa mendengar celoteh Tia, seraya mereka seru menggoda Rara. Sedangkan Rara masih asyik dengan gawainya mengacuhkan Tia yang sedari tadi menggodanya.


“Ra loe ngapain sih?” tanya Tia merebut hp Rara.


“E-e itu email email,” ujar Rara hendak meraih hpnya, Tia menghindar mengangkat hpnya tinggi-tinggi.


“Udah nduk, inget tante bilang dibatasi kerjanya, ndak bagus lho. Kan lagi makan malem,” ujar bu Sriyantika menasihati.


“Iya tante.” Rara langsung menuruti perkataan Bu Sriyantika. Tia mengembalikan hpnya menaruhnya tepat di depan Rara.


“Ra, tapi gue kasian loh sama suami elo nanti,” ujar Tia menggoda Rara lagi.


“Apaan sih, elo ngomong apa?” tanya Rara kesal.


“Kasian kenapa nduk?” tanya mamihnya ke Tia.


“Ya kasian aja, yang jadi lakinya entar, dicuekin terus dia nya kan workaholic, apalagi Rara galaknya minta ampun,” jelas Tia cengengesan.


“Iya ya nduk bener tuh kata Tia nduk, harusnya kamu rubah sifat kamu nduk lebih lembut,” ujar Bu Sriyantika berkomentar.


“Iya tante,” jawab Rara singkat berusaha tak ingin banyak komen.


“Jangan iya iya ja dong buktiin!” sahut Tia memancing Rara.


“Tia buktiin gimana, elo mah gak masuk akal, gue kan belum nikah gimana caranya gue buktiin?”


“Ya abisnya, kalo elo ngomong sama a Rio galak sih, kalo gak juteknya minta ampun,” timpal Tia balik.


“Ya wajar lah, orang dia bukan sapa-sapa gue. Kalo gue istri a Rio, ya mana berani lah gue memperlakukan imam gue kaya gitu,” timpal Rara cepat, kesal.


Mendengar celoteh Rara Bu Sriyantika dan Tia saling pandang lalu tertawa renyah, Rio pun ikut tertawa. Rara langsung menutup mulutnya, keceplosan bilang kalo dia jadi istrinya Rio.


“Kalo gue istrinya a Rio.” Tia menekan ulang kalimat tersebut mengejek, Rara langsung menutup muka karna malu.


“With my pleasure,” timpal Rio balik tersenyum.


“Gimana Rio?” tanya Bu Sriyantika.


“Kalo Rara jadi istri saya, Rio seneng tante,” jelas Rio.


“Don’t try!” timpal Rara sinis pada Rio.


“I won't,” balas Rio ke Rara.


“Apa?” tanya Rara, ada perasaan senang Rio mengucap kata tersebut seraya dia setuju untuk tidak menjadikannya istrinya.


“Don’t try to stop loving you, I won’t.” lanjut Rio membuat Rara tambah kesal. Rio mengerjai Rara dengan rayuannya.


“Kalian berdua romantis,” ujar Bu Sriyantika tertawa bahagia bak melihat sepasang suami istri yang bertengkar.


Selama makan malam, Rara lebih mengontrol dirinya untuk diam karna takut salah ngomong lagi. Dia hanya menjawab pertanyaan dengan jawaban iya atau tersenyum.


“Nduk tante bisa minta tolong gak?”


“Minta tolong apa tante?” ujar Rara sambil mengaduk-ngaduk minumannya yang hampir habis.


“Beliin tante kerudung dua, yang bagus ya untuk seusia kamu buat kado, tante cape kalo harus turun ke bawah lagi, gak papa kan?”


“Iya tante, bisa.”


“Rio temani Rara ya?” ujar Bu Sriyantika pada Rio.


“Baik tante,” jawab Rio girang.


“Loh gak usah tante, Rara bisa kok sendiri,” elak Rara.


“Kamu gimana sih nduk, kamukan perempuan gak baik jalan sendirian, apalagi kan kamu cantik nduk, nanti kalo ada yang godain kamu gimana?” jelas Bu Sriyantika membuat Rara berfikir bagaimana caranya agar Rio tidak ikut.

__ADS_1


“Rara sama Tia aja ya?” usul Rara.


“Aduh Ra, pegel nih. Udah ma Rio aja ya!” keluh Tia menggeliatkah tangan dan badannya. Rara kesal, dia yakin Tia sengaja berpura-pura.


“Udah sana keburu malem nih, kasian mamih besok berangkat pagi!” tambah Tia.


“Iya Ra hayu.” Bujuk Rio


💚💚💚💚💚💚💚


Sepanjang perjalanan, Rio berjalan berdampingan dengan Rara, betapa sulit bagi Rara untuk menjaga jarak karna Rio selalu mengikuti langkah kakinya.


“A?”


“Ya?”


“Aa jalan duluan saya ngikut di belakang!” ujar Rara yang tak ingin berjalan berdampingan.


“Saya kan gak tau tokonya dimana?” elak Rio.


“Ya udah nanti kalo ada toko kerudung kita berhenti, masa aa gak tau toko kerudung?” ujar Rara kesal membuat Rio tersenyum.


“Baik.”


Tak lama mereka masuk ke toko kerudung, Rara asyik memilih kerudung yang cocok untuk seusianya. Rio di belakangnya berdiri menunggui Rara.


“Ini bagus gak?” tanya Rara menanyakan model kerudung yang dipilihnya. Dia lupa jika yang di belakangnya itu Rio, dia pikir itu Tia.


‘Aduh!’ gumamnya menyesal bertanya.


“Bagus,” jawab Rio singkat tersenyum. Rara membalas senyuman Rio dengan tersenyum paksa. Dia berfikir bagaimana caranya agar bisa terlepas dari Rio sebentar saja.


“A saya bisa minta tolong?”


“Ya?”


“Tolong bayarin ke kasa, saya tunggu sini, bisa?” Rara menyerahkan dua kerudung yang terdiri satu kerudung segi empat berwarna milo dan satu pasmina berwarna purple.


“Bisa,” jawab Rio mengambil kerudungnya.


“Owh iya ini uangnya,” Rara mengeluarkan dompetnya dari tasnya.


“Gak usah, pake uang saya aja. Nanti biar tante Sri yang bayar ke saya langsung.” Rara mengangguk setuju, lalu Rio pergi ke kasa.


Rara tersenyum bahagia hendak pergi dari toko meninggalkan Rio.


“Teh Febby!?” panggil anak kecil lantang langsung memeluknya tiba-tiba. Dia terlihat seperti anak kelas 6 SD.


Rara kaget dengan tingkah anak kecil tersebut. Lalu si anak kecil lucu itu langsung meraih dan mencium punggungnya tangan Rara.


“Fita lagi apa disini? Terus kesini sama siapa?” tanya Rara kuatir pada Fita berkeliaran sendirian.


“Fita kesini mau beli kerudung buat sekolah, kerudung yang teh Febby beliin buat Fita udah pudar warnanya, udah bolong-bolong sama peniti. Kata mamah kerudungnya udah gak bisa di pake lagi. Jadi aja Fita harus beli kerudung yang baru, padahal itu kerudung kesayangan Fita, kan teh Febby yang ngasih,” jelas Fita gemas. Rara tersenyum bahagia mendengar celoteh Fita yang membelikan kerudung sekolahnya.


“Terus Fita kesini sama siapa?”


“Sama mamah.”


“Mamahnya mana?”


“Itu!”


Fita menunjuk ke belakang pada seorang perempuan yang Rara kenal. Teh Ika yang pernah ditemuinya di jogya kepatihan, dia langsung menghampiri.


“Febby geulis pa kabar?” sela teh Ika, Rara langsung berdiri, bingung. Teh Ika mencium pipi kanan dan kiri Rara akrab.


“Teh kayaknya teteh salah paham, maksud saya teteh salah orang,” elak Rara tak mau mengaku dirinya sebagai Febby karna masa lalunya yang buruk. Dia juga takut keburu Rio datang dan teh Ika berbicara yang aneh-aneh di depan Rio.


“Aduh geulis (cantik) Febby, sok jujur ka teteh, teteh punya salah apa sama kamu? kenapa kamu jadi kaya gini. Terus kenapa waktu kemarin di toko kamu malah kabur, nangis? Jujur geulis, teteh gak enak diginiin sama kamu?” tanya teh Ika karna tingkah laku Febby yang berubah.


“Teh, teteh gak ada salah, saya kira teteh cuma...,”


“Mah ada apa?” seorang laki-laki paruh baya menghampiri teh Ika.


“Eh si papah, kenalin ini Febby teman kerja mamah waktu di Giant pasteur, tapi sayang pah sekarang tokonya udah rata sama tanah,” canda teh Ika, sembari tertawa.


“Saya Tisna suami Ika, mah ini teh si teteh yang bantuin Fita waktu di rumah sakit tea kan ya?”


“Astagfirullohhaladzim, mamah lupa. Eh a?” sapa teh Ika ke belakang Rara. Rara langsung menoleh rupanya Rio sudah kembali dari kasa.


“Ini teh suami kamu geulis?”


“Bukan teh, dia temen kerja saya,” jawab Rara, Rio melempar senyum ramah pada teh Ika dan Tisna.


“Owh kenalin atuh saya Ika dan ini suami saya Tisna.” Teh Ika menyodorkan tangannya, tapi Rio bersalaman tanpa menyentuhnya, lalu dia menjabat tangan Tisna.


“Saya Rio,” ujar Rio pada sepasang suami istri tersebut.


“Terus anak manis ini namanya siapa?” tanya Rio pada Fita sembari menyolek pipi cubynya.


“Fita a?” jawab Fita imut.


“Owh ya sebentar geulis.” Teh Ika meraih dompet dari dalam tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah.

__ADS_1


“Ini geulis, satu juta sok atuh diitung dulu.” Teh Ika menyodorkan uang pada Rara.


“Ini uang apa?” tanya Rara heran.


“Kamu mah pohoan (pelupa), kan dulu si Fita sakit sampe masuk rumah sakit, teteh pinjem uang sama kamu.”


“Iya, saya bersyukur waktu itu teteh mau bantuin, makasih ya teh,” tambah Tisna.


“Udah sok ini diambil atuh.” Teh Ika mengambil tangan Rara dan menyelipkannya uang di tangannya.


“Teh sebentar saya kira ini ada salah paham,” Rara mencoba mengembalikan uang dengan mengambil tangan teh Ika balik tapi teh Ika berhasil menghindar.


“Eh kamu mah, salah paham salah paham terus, teteh mah jadi bingung. Apa jangan-jangan, kamu gak mau nerima uang ini karna sekarang gajinya udah gede ya? Aduh tenang Feb, kan teteh sekarang udah di Panbe, gajih teteh juga gede atuh. Malahan teteh makasih udah bantuin masukin teteh kerja di sana,” jelas teh Ika cerewet.


“Iya teh udah diterima aja, lagian itu kan hutang. Hutang kan wajib dibayar teh, kasian sama kami atuh kalo gak ngelunasinya, dosa.” ujar Tisna membela istrinya. Rara diam mendengar penjelasan Tisna yang ada benarnya, kini dia tidak bisa mengelak.


“Teh Febby temenin Fita cariin kerudung yuk!” pinta Fita sambil mengoyang-goyangkan tangan Rara.


“Iya Feb eta si Fita sama kerudung kamu teh meni resep kabina-bina (suka banget) gak mau diganti geura sampai kerudungnya leucek (rusak), padahal kan kerudungnya udah mang taun-taun dari kelas satu SD sampe sekarang kelas lima, susah pisan ( banget) suruh beli kerudung teh, udah dibeliin yang baru malah dikasihin ke babaturana (temennya) , ampun eta budak ( ampun tu anak),” jelas teh Ika.


“Iya Fita?” tanya Rara pada Fita, terharu mendengar cerita teh Ika.


“Iya teh, Fita selalu berdoa sama Allah semoga teh Febby ngasih Fita kerudung lagi. Eh Alhamdullilah do’a Fita terkabul, sekarang ketemu sama teh Febby disini,” jelas Fita girang.


Rara bahagia dengan ucapan Fita, matanya berkaca-kaca membuat satu tetes air matanya jatuh pada pangkal pipinya. Dia bahagia karna akhirnya ada hal baik yang bisa dia temukan dari dirinya di masa lalu.


“Teh Febby kenapa nangis? Kalo teh Febby gak mau ya udah gak papa kok, Fita gak maksa. Teh Febby jangan sedih,” ucap Fita merasa bersalah menyeka air mata Rara.


“Enggak sayang, teteh gak sedih. Teteh bahagia ketemu kamu disini, teteh mau kok nemenin Fita beli kerudung,” ujar Rara tersenyum.


“Hore!” Fita memeluk Rara erat. Rara pun memeluk Fita balik dengan hangat.


“Sama teteh Fita beliin kerudung yang banyak ya!”


“Asiikkk!” Fita berloncat-loncatan girang.


“Eh jangan atuh, ngerepotin kamu geulis, ” ujar teh Ika.


“Gak papa teh saya malah seneng kok.” timpal Rara.


💚💚💚💚💚💚💚


Fita dan Rara berkeliling lorong mencari kerudung, sedangkan teh Ika, suaminya dan Rio mengobrol menunggu mereka.


“Fita di sekolahnya seragamnya ada berapa?.”


“Empat teteh, ada baju merah putih, pramuka, batik sama muslim buat Jumat,” jelasnya tersenyum.


“Teteh beliin per seragam dua ya, biar Fita bisa ganti. Kalo seragam putih kerudungnya putih kan?”


“Iya teh.”


Rara langsung mengambil dua kerudung putih dari display. Rara begitu antusias memilihkan kerudung untuk Fita, tidak hanya kerudung sekolah dia juga membelikan banyak kerudung untuk sehari-hari buat Fita di rumah.


“Mamaah.” Teriak Fita menghampiri mamahnya girang, bahagia.


“Mamah liat Fita dibeliin banyak kerudung sama teh Febby.” Fita menunjukkan dua kantung keresek penuh dengan bangga.


“Ya ampun eta si Febby, kamu teh beliin ato ngaborong toko?” Rara tersenyum mendengar celoteh teh Ika.


“Iya teh banyak pisan,” tambah Tisna tak enak.


“Teteh gak enak kalo gini mah, udah akh sama teteh diganti,” ujar teh Ika hendak mengeluarkan dompetnya.


“Eh jangan teh.” Rara menahan lengan teh Ika.


“Udah gak papa teh, saya seneng kok ngelakuinya.”


“Owh ya udah atuh, Fita sayang bilang apa sama teh Febby?” sahut teh Ika pada anaknya.


“Makasih teh Febby,” ujar Fita tersenyum.


“Sama-sama sayang, jangan lupa berterima kasih juga sama Allah.”


“owh iya Fita lupa.” Fita memukul jidatnya sendiri. “Alhamdullilllahirabil alamin.”


“Teh saya pamit dulu ya, soalnya saya ditungguin.” Rara melihat jam menunjukkan waktu jam sembilan lebih.


“Iya atuh, nuhun nya geulis. Semoga kagentosan ku nu langkung ku Allah nya.” ( semoga di ganti yang lebih sama Allah)


“Aaamiiin,” ujar Rara mengamini doa teh Ika.


Teh Ika pamit mencium kedua pipi Rara.


“Feb kamu mah dari dulu emang gak berubah, tetep bageur ( baik),” tambah teh Ika membuat Rara mengangguk tersenyum bahagia.


“Sayang teteh pulang dulu ya, kamu jadi anak yang rajin ya, ikuti kata-kata mamahnya semoga kamu jadi anak sholehah,” ucap Rara pada Fita.


“Iya teh Febby.”


Fita mencium kedua pipi dan tangan kanan Rara. Dia juga meraih dan mencium punggung tangan Rio. Rara senang dengan sikap sopan Fita terhadap orang dewasa.


“Wassalamualikum, dadah,” ujar teh Ika, Tisna dan Fita pergi dari toko kerudung.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam dadah.”


Rara melambaikan tangan pada Fita antusias. Dia memandangi mereka pergi sampai mereka berbelok ke salah satu lorong.


__ADS_2