Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
7 PROPOSAL


__ADS_3

Perumahan Kencana Resident berjarak setengah jam dari pusat kota Semarang adalah rumah bu Sriyantika tinggal, yaitu perumahan Elit yang asri dan rindang tidak membuat suhu Semarang yang panas membuat perumahan bersuhu adem karna banyaknya pohon didalamnya. Jalan Dahlia Blok C4 adalah rumah megah berlantai dua pintu utama yang lebar berkayu jati. Dihalamanya depan terdapat pohon mangga dan tanaman hias yang membuat rumah ini bertambah sejuk, halaman depan yang luas bisa menampung tiga sampai empat mobil.


Bu Sriyantika yang berbisnis dibidang kuliner, dan mempunyai toko oleh-oleh khas Semarang bukanlah orang biasa. Ditambah lagi dia mempunyai perusahaan warisan dari orang tuanya. Tia satu-satunya anak semata wayangnya tidak mau menyentuh properti mamihnya. Dia merasa bangga atas apa yang didapatnya dan dikerjakannya sekarang. Dia bukan anak manja yang selalu menggunakan fasilitas ortunya, dengan usahanya dibidang EO dia mempunyai tabungan dan membeli mobil sendiri, sesekali Bu Sriyantika menggunakan jasa EO-nya Tia untuk menyenangkan hati anaknya.


Dilantai dua, ada seorang gadis yang berdiri di depan kaca merapikan baju dan rambut hitam yang lurus bagian atasnya dan bawahnya sedikit ikal, itu adalah rambut aslinya tidak di catok atau di keriting gantung seperti gadis kota jaman sekarang. Rara mempunyai Rambut yang indah hitam mengelebat tebal. Jam setengah empat sore Rara sudah terlihat cantik, wajahnya yang cantik dihiasi bedak tipis dan lipblam. Dia memakai kemeja feminim berlengan panjang bercorak bunga ping yang ia beli bersama bu Sriyantika sebulan yang lalu. Rara langsung turun ke bawah menuju ruang keluarga dimana Tia dan Bu Sriyantika berada.


“Cie yang udah wangi, mau kemana?” goda Tia pada Rara tersenyum malu menghampirinya.


“Kamu mau pergi nduk?” Tanya Bu Sriyantika yang sedang asyik membaca mushafnya terhenti.


“Iya tante, seijin tante tapinya, nanti bang Bagas mau kesini mau minta ijin sama tante.” Rara menepuk kaki Tia yang berselonjor dikursi panjang mengisyaratkan dia ingin duduk.


“Boleh tapi inget bertiga ya, dan selalu kabari tante, ndak boleh pulang malem-malem, kamu udah shalat ashar?” Bu Sriyantika mengusap-usap merapikan rambut Rara yang terlihat kurang Rapi.


“Udah Tante.”


“Tia kok kamu gak siap- siap, nanti Bagas sela (keburu) datang tho.”


“Kali ini yang ngancai (nemenin) bukan Tia mih.”


“Lho siapa?”


“Adiknya Bagas.”


“Owh, yo wes, Tia besok minggu kamu ndak ada acara? Ikut mamih yuk ke rumah temen mamih?”


“Mau ngapain mih nyomblangin,?? males akh,” celetuk Tia yang sudah bisa menebak rencana ibunya.


“Kok kamu gitu ngomongnya nduk?”


“Mih kalo mamih mau jodoh-jodohin Tia, Tia gak mau!” tegas Tia kesal sambil memainkan remotnya.


“Kamu tu dah gede nduk, yang ngurus kamu sapa nanti kalo mamih udah ndak ada?” ucapnya lirih lembut.


“Mih cukup Tia gak mau debat masalah ini!” Tia beranjak dari kursinya memilih kabur.


“Lho kamu mau kemana, mamih belum selesai?” panggil mamihnya mencoba menghadang Tia.


“Mau salat Ashar, bis itu mau mandi trus mau dikamar, coz banyak kerjaan,” teriak Tia sambil menyelonong pergi ke kamarnya mengacuhkan mamihnya.


Bu Sriyantika menarik nafas dalam kesal, keras kepala sekali pikirnya.


“Sabar tante, tante yang sabar, kalo tante ngejar terus nanti Tia-nya lari,” sahut Rara sambil mengelus-ngelus pundak Bu Sriyantika.


Bu Sriyantika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Tia, usia dua puluh delapan bukan lagi usia yang muda untuk berexplore ria menurutnya. Dia ingin putri satu satunya segera menikah, beberapa kali Tia dikenalkan dengan anak temanya dia selalu menolak. Pernah sesekali Bu Sriyantika diam-diam mempertemukan putrinya ta’aruf, lalu ditinggalnya bu Sriyantika, Tia diam-diam selalu kabur.


Bu Sriyantika wanita salihah yang baik yang Rara kenal, dia selalu menjaga salatnya. Rara sangat menginginkan sosok ibunya seperti bu Sriyantika, lembut, hangat, dan selalu penuh perhatian. Hiburannya adalah mushafnya yang selalu di baca dikala subuh, siang dan petang. Mushaf yang tua tidak terlalu mewah, Bu Sriyantika bilang itu mushaf pemberian papihnya Tia ketika menikahinya. Mantan suaminya sosok orang yang soleh dan sederhana, dia seorang guru agama. Prinsipnya dalam berislam sanggatlah kuat, beliau selalu menjalankan sunah rosul. Mengenal beliau adalah salah satu hal terindah dalam hidupnya, walaupun diakhiri dengan perceraian.


Rara tidak mengerti apa yang terjadi pada keluarga ini sehingga Tia terbentuk menjadi sosok yang berbanding terbalik jauh dengan orang tuanya. Tia bukan anak durhaka yang selalu bersikap kasar pada mamihnya, hanya saja dia begitu keras kepala, tomboy, dan arogant. Sering kali bu Sriyantika menyindir Tia menyuruhnya untuk berhijab, tapi itu tidak dilakukannya.


“Maaf non den Bagas udah datang,” sahut mbok Sum dari ruang tengah.


“Ra kamu bantuin mbok sum ambil air, biar Bagas yang nemuin Tante duluan.” Ujar bu Sriyantika beranjak dari kursinya.


“Assalamualaikum tante,” sapa Bagas dan adiknya yang langsung menyambut tangannya Bu Sriyantika untuk salim.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawaban bu Sriyantika lengkap membuat Bagas malu. “silakan duduk.” Tangan bu Sriyantika mengarahkan ke sofa mempersilahkan mereka duduk.


“Pa kabar Mil? Lama kamu ndak main ke rumah tante?”


“Eh iya tante Maaf Mila lagi sibuk nyusun skripsi, minta doanya ya tan agar semuanya lancar?” ungkap Mila degan logat bataknya. Gadis medan berwajah oriental berkulit putih kuliah di Undip jurusan ekonomi.


“Iya tante doain, semoga Allah selalu mengabulkan doa-doa Mila, dan melancarkan skripsi Mila,” ujarnya tersenyum ramah.


“Aaaamiiiin,” ujar Mila dan Bagas kompak. Bagas mengelus-ngelus kepala Mila, menunjukkan dia bangga pada adiknya.


“Aaamiiin,” ucap Rara datang ikut mengamini membawa dua cangkir teh manis Jawa. Dia ikut menyahut karna renyahnya percakapan mereka bisa terdengar dari jauh. Bagas yang terpesona melihat kecantikan Rara, tersenyum kepadanya.


“Silakan diminum?” tawar Rara ramah. Bagas dan Mila meminum minuman yang Rara sajikan.


“Jadi gini Tante, saya sama Mila mau minta ijin ngajak Rara jalan, ada perlu, boleh gak tan?” tanya Bagas sambil menaruh gelasnya di atas meja.


“Boleh Kok, pulangnya jangan malem-malem ya, ini kalian jalan bertiga toh?” tanya bu Sriyantika, dia begitu takut Rara akan ditinggal berdua sama Bagas.


“Iya tante, aku siap menemani abangku ini sama mbak Rara dua puluh empat jam?” tangannya hormat ke arah bu Sriyantika, menunjukkan dia siap jadi bodyguard akan mengikuti kemana pun mereka pergi.


“Ya sudah, tante tenang dengernya.”

__ADS_1


“ Kalo gitu kita langsung pamit dulu ya tan?”


“Eh minumnya abisin dulu,” sela bu Sriyantika.


Mila sama Bagas langsung mengikuti instruksi bu Sriyantika menghabiskan minumannya.


Bagas, Mila dan Rara langsung pergi menggunakan mobil Bagas. Mobilnya yang mewah menunjukkan dia orang yang berkecukupan dalam finansial. Rara yang duduk di depan sesekali mencuri pandang pada Bagas yang sedang menyetir, dia adalah lelaki yang Rara cintai selama ini. Bagas lelaki asal Medan berprofesi kantoran dan berusia tiga puluh tahun, lelaki tampan berbadan bidang, dan berkulit putih ini, adalah satu satunya pria yang berharga dihidupnya. Dia bersyukur pada tuhan yang masih memberikannya seseorang yang bisa mencintainya dan menerimanya apa adanya. Rara berharap Bagas bisa mencintainya seperti pak Dito mencintai istrinya, cinta karna Allah.


“Jadi hari ini mau kemana bang?” tanya Rara, melihat mobilnya melaju cepat ke arah Semarang Kota.


“Kita ke Paragon ya , kita nonton dulu!” jawab Mila semangat dari kursi belakang.


“Oke jelek,” candaan Bagas merenyukkan suasana. Rara ikut tertawa renyah mendengar pertengkaran kakak adik ini.


PARAGON XXI. Tulisan mewah besar gold Itallic berada di belakang resepsionis. Bioskop mewah ini begitu elegan dengan karpet motif berwarna coklat berada dilantai 3. Antrian tidak begitu penuh karna ini hari kamis bukan wekeend.


“Oke gini! Rara sama Mila pilih filmnya ya, diusahakan durasinya jangan lebih dari satu setengah jam ya, biar kita bisa shalat magrib. Abang mau antri beli popcorn sama minuman, kalo dah selesai samperin abang yah”. Jelas Bagas


Mila memilih film Drama komedi Laundry Show, film yang diperankan Boy William dan Gisel Anastasya. Film garapan sutradara Rizky Balky ini membuat penonton tertawa terpingkal terbahak-bahak. Mila tertawa begitu renyah sampai-sampai air matanya keluar. Selesainya mereka menonton film Mila dan Rara berpisah menuju mushola wanita yang terpisah dengan mushola kaum adam.


Selesai salat Rara bermunajat pada sang Khalik, dia berdoa meminta ampun dan bersyukur atas semua yang dia dapatkan selama ini, dan tidak lupa dia berdoa untuk orang-orang terkasihnya yang tak tau dimana keberadaannya. Terlihat Mila sedang duduk mengotak ngatik hp touchscreennya dikursi tunggu sedari tadi sedang menunggu.


“Lama ya mil?” Tanya Rara sambil memasang sepatu flatnya.


“Owh enggak kok. Ini lagi chatan sama abang.”


“Ayo, ada dimana dia? kita samperin.”


“Ayo!” sahut Mila girang menarik tangan Rara.


Mereka berjalan lorong mal menuju eskalator turun mengobrol akrab, Mila sangat menyukai sosok Rara. Kedekatan mereka terlihat seperti adik dan kakak. Mila tiba-tiba menghentikan langkahnya melihat ke sebuah toko perhiasan FRANK N CO. Dia menarik Rara untuk masuk ke toko ini.


“Loh loh mil, mau ngapain?” tanya Rara heran.


“Bentar mbak aku mau liat-liat,” ujarnya tersenyum.


“Tapikan kasian abangmu nunggu lama nanti.”


“Udah gak papa cuma sebentar.”


Mila langsung menghampiri salah satu karyawati, Rara lebih memilih menjauh berjalan hendak duduk di sofa. Dia langsung mengeluarkan hpnya mengirim pesan ke Bagas.


(Wa’alaikumussalam, di foodcourt)


(Bentar ya bang ini Mila malah mampir ke toko perhiasan, mau liat liat katanya.)


(Owh iya ga papa, biarian aja, mau pesen makanan apa?)


(Bebas)


“Mbak ayo, bantuin Mila pilih-pilih!” ujarnya menarik tangan Rara memaksanya ikut untuk memilih perhiasan di etalase.


“Liat ni Mbak banyak kan? bagus-bagus Mila jadi bingung, menurut mbak, mbak suka yang mana?” Jarinya menunjukkan kearah kejeran cincin indah yang dipamerkan di etalase.


Semuanya begitu indah, begitu berkilau. Rara memperhatikan semua perhiasan yang ada didepanya, bagus semua pikirnya, tiba-tiba matanya terhenti pada sebuah cincin simple bermata satu elegan disebelah kananya.


“Yang ini.” Telunjuk Rara menunjuk ke sebelah kanan.


“Wah bagus mbak, yakin?” Tanya Mila. Rara mengangguk.


“Emang wat sapa sih?” tanya Rara.


“Ya wat Mila lah,” jawab Mila girang tanpa ada rasa curiga dari Rara mendengar jawaban polosnya Mila. Kakaknya yang borju bukanlah hal yang berat untuk membelikan adiknya barang mewah pikirnya.


“Mau dicoba dulu?” tanya mbak SPG sembari mengeluarkan cincin yang dipilih Rara hendak memasangkan cincin tersebut di jari Rara. Rara menghindar menyembunyikan tangannya dipunggungnya.


“Lho mbak bukan buat saya,” elak Rara. Mila langsung menarik tangan kanan Rara yang disembunyikan dibelakannya.


“Enggak papa mbak aku pengen liat,” ucapnya mengambil cincin dari mbak SPG dan memasangkannya di jari manis Rara.


Rara pasrah atas apa yang dilakukan Mila, kini cincin berlian itu terpasang indah dijari manisnya. Rara memperhatikannya dengan seksama. Dia sangat menyukainya, cincin berlian berdesain polos terdapat satu mata berlian yang cukup besar 24 karat yang begitu elegant.


“Pas, bagus!” ujar Mila. “Ya udah mbak saya pesen ya ini yang ukuran 13, kalo yang ini kekecilan buat aku.”


“Aduh maaf mbak untuk yang ini cuma ada yang dipajang aja.”


“Hmm kalo pesen bisa?”

__ADS_1


“Bisa paling seminggu, tapi mbak harus bayar dp dulu paling, dan saya butuh ktp mbak.”


“Ya sudah saya tunggu di sofa nanti mbak panggil saya ya kalo udah selesai masalah adminnya.” Mila langsung menyerahkan ktpnya. Rara sibuk melepaskan cincin mengembalikan pada ke mbak SPG.


“Ok mbak.” Ujar Mila. “ayo, mbak.” Mila menarik tangan Rara mengajaknya duduk sofa.


“Mil? Ini gak papa kasian bang Bagas lho, mbak samper bang Bagas duluan gitu ya?” Ucap Rara mencemaskan orang yang dicintainya.


“Owh iya bener gitu aja kali ya. Ciee kangen ya?” Goda Mila.


“Enggak gitu, ya udah gak jadi deh lagian mbak khawatir sama kamu.”


“Ikh mbak emang Mila anak kecil, udah samperin bang Bagas sana. Kasian lho, ini Mila takutnya lama, nanti dia ngomel ma Mila, pacarnya lama dipinjem.” Godanya lagi tersenyum.


“Bukan gitu, mbak malah kasian kedianya nunggu lama, kamu yakin berani gitu.” Mila mengangguk mantap. “Ok kamu hati-hati ya, kabari mbak kalo ada apa-apa.” Rara keluar dengan tergesa menuju food court.


Hatinya dipenuhi rasa penasaran akan tujuan Bagas mengajaknya keluar pasti ada sesuatu yang penting pikirnya, apakah tentang amak? Otaknya menerka-nerka.


“Hei?” sapa Rara pada Bagas.


“Hei Mila mana?”


“Masih disana.”


“Owh ya udah biarin aja. Ini makanannya dimakan ya.” Bagas menyodorkan makanan favorit Rara, chiken steak sama frend fries, plus manggo juice, seakan akan dia hapal dengan makanan favorit kekasihnya.


Dia begitu perhatian, terkadang Rara merasa canggung karna belum terbiasa dengan perhatian Bagas. Rara memahami apa yang dilakukannya karna Bagas begitu mencintainya.


“Bentar dulu, jadi ada yang penting yang perlu diampaikan?” tanya Rara tak sabar.


“Sama siapa?”


“Aku?”


“Enggak kok.”


“Hah?” ucapnya kaget.


“Hah apanya?”


“Ini abang cuma ngajak jalan aja nih? Tadi bilangnya ada perlu?” ucapnya mengorek info.


“Iya, cuma mau ngajak kamu nonton, abang bosen dirumah terus,” ujar Bagas tersenyum manis membuat jantung Rara berdegup.


Rara kebingungan dengan sikap Bagas, biasanya Bagas yang selalu datang ke rumah bu Sriyantika kalo hanya sekedar untuk menemuinya. Kalaupun di ajak keluar pasti diajak bertemu amaknya kalo gak keluar di mal meeting masalah kerjaan bareng Tia.


Bu Sriyantika sangat ketat menjaga Rara, didalam hidupnya tidak ada kata pacaran. Begitu pun dia menjaga Rara untuk tidak berdua-duaan dengan Bagas selama belum menjadi mahrom. Jadi aneh bagi Rara kalo Bagas mengajaknya keluar tanpa ada keperluan apapun.


“Udah cepet makan!” ucapnya membuyarkan lamunan Rara, tak lama Mila datang menyapa. Rara langsung mengambil pisau dan garpunya lalu melahap makanannya.


#


Jam delapan malam Mila terbangun ketika mobil Bagas sudah terparkir didepan rumah Bu Sriyantika. Rara hendak keluar membuka engsel pintu mobil. Bagas menahan Rara dengan menarik lengannya.


“Ra tunggu!” ucap Bagas. “Abang mau ngomong sebentar.”


“Oke aku tunggu didalem ya. Aku masuk duluan,” ucap Mila sembari menyelonong keluar.


“Apa gak ngomongnya didalem aja bang, gak enak sama orang yang lewat,” ujar Rara yang tak enak berlama-lama berduaan di mobil.


“Enggak sebentar kok gak lama, ini kacanya dibuka aja kalo enggak enak!” Bagas berusaha membuat Rara nyaman.


“Owh ya udah.” Rara langsung membuka kaca mobil lebar-lebar.


“Ra?”


“Ya?” Bagas tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari saku kanannya, sampai terlihat jelas oleh Rara sebuah kotak perhiasan warna merah terang, Bagas membuka kotak tersebut didepan muka Rara. Rara terkejut melihat isi kotak tersebut, sebuah cincin berlian yang indah yang tadi dipilihnya. Bagaimana bisa pikirnya?


“Would you marry me?”


Rara diam mendengar ucapan Bagas, dia bingung, terharu, senang, gembira, perasaannya begitu berwarna campur aduk.


‘Ya Allah ya Rab apa yang harus saya katakan,’ gumamnya dalam hati.


Lelaki yang selama ini dia cintai melamarnya, haruskah dia menerima lamaran Bagas dan meninggalkan keluarga yang selama ini sudah merawatnya?


Bagas memperhatikan expresi Rara takut memaksa.

__ADS_1


“Ra, abang sayang sama Rara. Abang ingin bisa miliki Rara sepenuhnya, bisa menjadi imamnya Rara, jadi pelindung Rara.” Bagas diam sejenak, matanya berkaca-kaca, dia merasa bingung dengan keadaan ini. Entah mengapa dipikirkannya terbesit wajah Tia.


“Abang tidak harus menerima jawabannya sekarang, cincin ini Rara pake, dimana suatu hari Rara merasa tidak setuju dengan keputusan ini, silahkan kembalikan cincin ini, Rara tau dimana abang tinggal, dimana abang kerja,” ungkap Bagas sambil menyerahkan cincin pada Rara.


__ADS_2