
Citilink toko ketiga yang dikunjungi Rara jam dua siang, pada hari Sabtu pengunjung toko rame. Event produk kecantikan untuk rambut ini di gelar di empat toko terbesar di Bandung, salah satunya Citilink. Event ini berlangsung sepuluh hari dengan membuka salon gratis untuk creambat, cat dan hairsylist dengan syarat membeli produk Swarskoff.
“Rame ya teh,” sahut Wina pada Rara melihat place event mereka.
“Iya win, Gilang kamu kontrol sama Wina saya tunggu sini.”
“Baik teh,”jawab Gilang.
“Jangan lupa dokumentasi!” ujar Rara mengingatkan Gilang.
Rara melihat pengunjung yang sedang menikmati promo event mereka. Sampai matanya terhenti pada seorang laki-laki yang ia kenal. Dia mendekati SPG-nya dengan genit dan mencoba sok akrab, dia adalah cowok playboy yang waktu itu bu Sriyantika pukul karna berusaha mendekati dirinya. Rara mencoba mengingat-ingat ucapannya ketika dia memohon kepadanya memberitahukan dimana keberadaan beberapa orang.
Rara teringat sesuatu dia langsung meraih dompetnya dari dalam tas dan mengeluarkan foto pemberian Ranti, dan ternyata benar laki\-laki itu adalah Andri salah satu sahabatnya. Rasa keingintahuannya muncul, dia langsung menghampiri Andri yang sedang keramas di kursi creambath dilayani SPG yang sedang membasuh rambutnya.
“Andri?” sapa Rara.
Andri kaget melihat Rara langsung bangkit dari kursinya dan berdiri. Dia ingat ketika Rara menampar dirinya dan bu Sriyantika memukulnya dengan tas.
“Ee-e a, a, itu rambutnya belum dibilas,” sahut si SPG setengah kaget komsumennya langsung terperangah bangun.
“Ampun Feb! eh siapa namanya ampun!” ujar Andri panik menghindar dari Rara dengan rambut masih penuh busa. Rara melihat expresi Andri yang takut malah memberanikan diri mendekatinya.
“Andri sebentar!” sela Rara, mencoba menenangkan.
“Enggak-enggak ampun!” Andri berusaha menjauh dari place event, semua pengunjung tertawa melihat kepala Andri yang masih penuh dengan busa di kejar Rara. Rara langsung berlari kearahnya lalu mencengkeram kemeja Andri dengan kuat, menahannya.
“Andri please, jangan gini minimal loe bilas dulu rambut loe. Gue janji gak kan ngapa-ngapain elo!” bujuk Rara pada Andri.
💚💚💚💚💚💚💚
Andri mengesek\-gesekan handuk mengeringkan rambutnya, bagian atas kemejanya basah karna air bercucuran dari kepalanya. Dia melihat kesal pada Rara, mereka duduk berdua di foodcourt tak jauh dari tempat event.
“Akhirnya loe ngakuin elo Febby!” gerutu Andri kesal. “terus kenapa dulu elo nampar gue?” tanyanya sewot.
“Gue minta maaf Ndri, ceritanya panjang,” ujar Rara menyesal.
“Maaf-maaf sakit tau! Elo tau yang lebih sakit apa? elo ngelakuin itu di depan pacar gue yang ke tiga!” gerutunya lagi.
Rara malah mengerutkan dahinya mendengar celotehnya yang ceplas-ceplos di depanya, sesekali Rara dibuat tertawa karna gaya bicaranya yang pencicilan dan manja.
“Malu gue!” tambahnya.
“Ya udah gini deh, to the point, dimana Isti?” tanya Rara. Dia lebih menanyakan Isti karna dia tak enak pada Tania dari info Winni pernah merebutnya dari Tania.
“Feb, Elo gimana sih?”
“Gimana apanya?”
“Elo amnesia ya, elo tau kan gue kerja dimana? jauh di Kalimantan, di pedalaman Feb di pedalaman, gak ada sinyal gak ada kuota, gak ada pulsa, justru gue harusnya nanya elo dimana yang lain! Bertaun-taun gue lost contac sama kalian. Gue baru dapat cuti panjang tahun sekarang tau, seminggu lagi cuti gue abis,” jelasnya panjang lebar diiringi gerakan tangannya yang lucu. Rara tersenyum geli melihat gaya bicara Andri yang pencicilan.
“Iya.”
“Iya apanya?”
“Gue amnesia.”
“Tu tu tu kan, becanda loe gak lucu tau!” sahut Andri tak percaya.
__ADS_1
“Gue serius!” ujar Rara. Andri diam menatap wajah Rara serasa tak percaya, takut-takut sahabatnya menjailinya lagi.
“Nama gue sapa?” tanya Andri mencoba mengetes.
“Andri, kalo itu gue tau, gue dapat beberapa info dari temen gue.”
“Owh ya dari siapa?”
“Winni sama Arin.”
Ha ha ha
Andri malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar celoteh Rara.
“Duo gosip itu?” ujarnya berusaha menahan tawa. “gue yakin Feb, mereka lebih banyak ngegosip dari pada ngasih loe informasi!” ucap Andri.
“Duo gosip?” tanya Rara bingung.
“Iya mereka mah hobbynya ngerumpi, mulutnya itu loh lemesnya minta ampun,” jelas Andri. Ada perasaan gembira ketika Andri berkata seperti itu, berarti tidak semua yang dikatakan mereka benar, pikir Rara.
“Terus gue orangnya kaya gimana, siapa ortu gue? Loe tau dimana keluarga gue? Apa disini gue punya sodara?” tanya Rara panjang lebar. Andri mengerutkan dahi heran mendengar celoteh Rara yang terlihat serius.
“Feb?”
“Ya?”
“Ini elo beneran amnesia atau ngerjain gue?” tanyanya masih ragu.
“Beneran Andriii, gue serius!”
“Sumpah demi Allah?”
“Ndri?” sapa Rara melihat Andri yang malah melamun.
“Eh iya sorry, gue...,” Andri berdiam diri serasa masih tak percaya.
“Gue apa?”
“Gue turut berduka cita Feb.”
“Iya gak papa, ndri gue butuh bantuaan loe, dimana keluarga gue sekarang?”
“Feb loe disini ngerantau, keluarga elo di Solo,” jelas Andri diam sejenak melihat iba. “dan kalo sodara setau gue elo gak punya sodara disini, elokan ngekos. Dan yang tau dimana keluarga elo ya cuma Isti, elo tau dimana rumah Isti kan elo suka nginep disana.”
“Dimana?”
“Gue gak tau Febby, Feb gue gak tau ceritanya bakal kaya gini. Justru gue kesini mau nanyain keberadan kalian. Gue jadi PNS di daerah terpencil udah bertahun-tahun lost contact sama kalian, malah gue gak ikut wisuda Febby,” jelas Andri. Seketika wajah Rara menjadi murung, dia benar-benar buntu tidak bisa menemukan dimana keluarganya.
“Ya sudah elo ceritain gimana gue aja.”
“Mmm, loe itu galak iya, judes gak usah ditanyalah, jutek owh pastinya, tukang bolos lagi. Apalagi satu hal ini nih yang melekat dalam diri loe, keras kepalanya ampun!” ujar Andri memikirkan watak Febby dengan serius. Rara berasa tak suka dengan penjelasan Andri. Dia melihat sinis kearah Andri, Andri malah tertawa melihat tampang Rara.
“Andri Serius!” potong Rara kesal.
“Hahaha serius kok tapi elo baik Feb, pinter, rajin, giat, multitalen lah, care kok.”
“Gak bad girl?”
__ADS_1
“Apa?”
“Badgirl!” ulang Rara
“Badgirl gimana?” tanya Andri malah bingung.
“Lupain, dulu gue kuliah sambil kerja atau gimana?”
“Feb kita masuk kelas karyawan, kita kuliah cuma Jumat mpe Minggu. Gue kerja sebagai guru SD di Garut, dan elo macem-macemlah, pernah jadi operator dipabrik, admin, guru les bimbel, SPG yang terakhir setau gue loe ngajar disalah satu SMK sambil event. Elo orangnya pekerja keraslah, mungkin karna elo harus mencukupi kebutuhan elo disini, kan elo disini ngerantau,” jelas Andri, penjelasannya mirip dengan penjelasan Bagas.
“Gue, elo, Isti , Tania dan...,”
“Dan siapa?”
“Bagas.”
Jantung Rara berdegup kencang mendengar nama Bagas. Satu bulan lebih dia hidup tanpa Bagas, tapi hatinya masih merasakan sakit.
“Kita berlima sahabat deket, kita sering nongkrong di teras masjid kalo gak di DPR.”
“DPR?”
“Di bawah pohon rindang hahaha,” ujarnya sambil tertawa. “gue satu kelas sama Isti, dan elo satu kelas ma Tania dan Bagas. Dan sekarang gue gak tau dimana keberadaan mereka,” jelasnya.
“Persahabatan kita baik-baik aja?” tanya Rara.
Andri menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Pas akhir-akhir semester enggak.”
“Kenapa?”
“Panjang Feb ceritanya, tapi intinya itu karna Bagas suka sama elo, dia pacaran sama elo cuma sepuluh hari Feb, dan yang membuat dia pergi dari kita ketika gue pura-pura pacaran sama elo supaya bikin dia gak ganggu elo lagi. Tapi tu anak ambeknya bener-bener ngambek. Dia gak pernah nyapa gue sekalipun. Gara-gara dia cemburu sama gue, padahal kita gak ngapa-ngapain cuma ganti status Fb aja kita pacaran.”
“Kita pura- pura pacaran?”
“Huum, Tania dan Isti tau kok, malahan waktu itu gue sama Tania pacaran.”
“Jadi gue gak ngerebut elo dari Tania?” tanya Rara girang.
“Enggaklah, masa sih elo tega. Tapi ya emang bikin sekelas rame, elo disangka ngerebut pacar sahabat elo sendiri,” jelas Andri, membuat Rara tersenyum bahagia.
“Pantes aja,” ujar Rara mengingat Winni dan Arin mengklaimnya sebagai perebut pacar orang.
“Kenapa?”
“Enggak itu duo gosip.”
“Akh udah gak usah didenger mereka mah..., bentar- bentar loe tadi nanya gue badgirl maksudnya ini?”
“Iya sih, mereka bilang gue bad girl, palygirl, terus...,”
“Terus apa?”
“Mereka nanya gue ngelakuin itu di-ko-san.” ucap Rara terbata malu.
“Itu apa?”
Allahuakbar Allahuakbar! suara ringthone adan Andri berbunyi mengingatkan jadwal shalat Ashar. Andri diam sejenak menjawab adan di hpnya, Rara ikut menjawab.
__ADS_1
“Feb Shalat dulu aja yu!” ajak Andri. Rara mengangguk setuju, terbesit di pikirkannya kok bisa ya cowok se-playboy dia taat beragama tepat waktu dalam mengerjakan salat. Kini dia mengerti mengapa menjadikannya sahabat, karna ada hal baik yang tersembunyi dalam dirinya.