Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
BERUBAH


__ADS_3

Rara masih menunggu Bu Sriyantika dan Tia pulang, dia sudah rapi terlihat segar memakai blouse cream dan celana panjang. Rambutnya terurai lebat, bibirnya sudah terlihat merah merona menandakan kesehatannya sudah pulih. Rara terlihat cantik di pagi ini duduk di meja makan di temani bi Atik. Jarum jam sudah menunjukkan jam sembilan lebih, tapi Bu Sriyantika dan Tia belum kunjung datang.


“Bi?” tanya Rara pada bi Atik sedang sibuk menyiapkan gudeg yang dibawa tante Sri dari Semarang.


“Ya non?”


“Udah lama kerja sama tante Sri?”


“Owh udah atuh non, dari neng Tia kecil malah.”


“Dulu tante Sri tinggal disini?”


“Iya non dulu nyonya sama neng Tia tinggal disini. Neng Tia waktu kecil sekolah di Bandung, malah sari sewaktu jaman nyonya sama bapak masih bareng.”


“Wah lama juga ya bi, terus sekarang papihnya Tia kemana bi?”


“Setau bibi sih masih ada, tapi dimananya bibi gak tau. Sempet beberapa bulan lalu bibi kaya liat papihnya neng Tia di Bandung, tapi bibi gak mau nyapa takut salah orang hehehe.” Rara tersenyum mendengar celoteh bi Atik.


“Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu.” Suara lembut Bu Sriyantika menyapa rumah.


“Wa’aikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Rara dan bi Atik kompak.


Rara bangkit dari kursi berlari menghampiri mereka tiba-tiba langkahnya terhenti, melihat sosok yang seseorang yang paling dia hindari.


“Rio sini masuk nak,” ujar Bu Sriyantika ramah pada Rio di belakangnya. Dia datang mengenakan kaos navi dan celana joger berwarna hitam, terlihat tampan. Rio melihat ke arah Rara dan mengagumi kecantikan ciptaan Sang Khaliq.


“Assalamualaikum Rara, Masya Allah kamu cantik sekali pagi ini.” Rio memujinya di depan bu Sriyantika.


“Wa’alaikumus-sa-lam,” jawab Rara terbata. Dia sadar tidak mengenakan hijab, langsung berlari ke kamarnya mencari kerudung segitiga dan memakainya dengan peniti kecilnya.


‘Itu perasan gue atau emang tante Sri biasa aja?’ gumam Rara bermonolog di depan cermin bingung dengan sikap bu Sriyantika yang terlihat biasa pada Rio. Rara langsung keluar kamar, memastikan.


“Eh Rara sayang sini kita makan gudeg,” sahut Bu Sriyantika yang duduk di kursi utama meja makan. Tia dan Rio duduk di sebelah kanan dan kirinya.


“Cepet sini gudegnya keburu kehabisan loh!” ujar Tia pindah satu kursi agar Rara bisa duduk di samping mamihnya.


“Jadi Rio, ini tu sebenernya sih bukan makanan khas Semarang tapi khas Jogya, ini tante buat sendiri loh! Tante paling suka buat gudeg kalo ke Bandung,” ujar Bu Sriyantika sembari menuangkan gudeg di atas piring lalu ditawarkan pada Rio. Rara semakin bingung, kaget melihat tingkah laku Bu Sriyantika yang semakin ramah pada Rio.


“Soalnya inget papihnya Tia suka gudeg,” lanjutnya.


“Tante?” bisik Rara pada Bu Sriyantika.


“Ya Rara?”


“Itu dia, A Rio!”


“Iya tante tau,” ujarnya malah tersenyum.


‘Tante dia yang selama ini jagain Rara ’ bisiknya lagi persis di dekat telinga bu Sriyantika. Bu Sriyantika mengangguk melempar senyum pada Rara.


“Owh iya Rio, tante ngucapin makasih udah bantuin Tia buat jagain Rara. Kalo ga ada kamu aduh gak kebayang deh.” Rara semakin tercengang dengan ucapan Bu Sriyantika yang berubah seratus delapan puluh derajat.


Bu Sriyantika yang semenjak tadi malam marah-marah sama Tia sekarang malah menyambut Rio dengan ramah dan hangat, dia yang harusnya memarahi dan mengomeli Rio malah mengucapkan terima kasih.


“Dan makasih juga udah gendong Rara waktu itu, kalo enggak kasian kan Rara bisa pingsan,” tambahnya.


“Iya tante sama-sama,” timpal Rio.


“Satu lagi, tante minta maaf sebesar- besarnya karna Rara udah laporin kamu ke polisi, maklum Rio dia semacam apa ya? Trauma, kaget lah, karna selama ini memang dia dididik oleh saya untuk menjaga diri dari kaum adam. Jadi dia cuma salah paham Rio, dia kira kamu mau menyakitinya, gak papa kan?”


“Owh iya tante gak papa.” sahut Rio melempar senyum manisnya melihat ke arah Rara.


Kaget, Rara langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tercengang, bingung dengan apa yang terjadi, seakan tidak percaya. Diliat Tia malah asyik cengengesan melihat tingkah laku mamihnya. Dia berasa tak tahan memutuskan beranjak dari kursi hendak pergi.


“Rara sayang mau kemana?”


“Tante, Rara cuma sedikit itu...?” Rara memutar-mutar telunjuknya di samping teliganya.


“Apa pusing?” terka bu Sriyantika.


“Iya pusing, Rara istirahat dulu, permisi.”


“Kamu gak papa? mau saya temani?” tawar Rio. Rara kaget Rio berani berbicara seperti itu di depan Bu Sriyantika.

__ADS_1


“Iya nduk mau ditemani Rio?” Tawaran Bu Sriyantika malah membuat Rara lebih kaget. Dia diam, bergeming memaku, semakin bingung membuat kepalanya pusing, berfikir. Rara melihat ke arah Tia masih cengengesan seakan-akan meledeknya.


“GAK U-Sah!” jawab Rara ketus pada Rio. Dia langsung menyelonong ke kamar dan menutup pintu kesal.


“Gak papa Rio, ayo dimakan lagi gudeknya!” tawar Bu Sriyantika, Tia malah tertawa melihat tingkah Rara.


“Ikh sebel sebel sebel, Astagfirullohhaladzim ya Allah, kenapa sikap tante Sri bisa berubah banget. Itu lagi Tia kenapa malah cengengesan. Masasih Rio pake pelet? Astagfirullah gak mungkin Rara, gak gak gak boleh suudzon, apalagi kan tante Sri sering dikir pagi petang, ini ada yang aneh ini, gue harus cari tau kenapa?” celoteh Rara memonolog sendiri di kamar.


“Bentar bentar, mikir Ra mikir, gue tau banget tante Sri gak kan seramah ini sama cowok kalo gak sama sodara nya, apa Rio sodara, anak ato sepupu tante Sri ya? tapi masa dia ngebiarin anaknya jagain gue? gue kan juga bukan mahromnya. Ada apa ya aduh Astagfirullah Astagfirulloh, ya Allah tolong beri hambamu ini petunjuk!” ujarnya gemas pada dirinya sendiri.


💚💚💚💚💚💚💚💚


Tok tok tok “Assalamualaikum Ra buka pintunya?” ujar Rio mengetuk pintu.


Rara tidak memberikan jawaban dia fokus membaca mushafnya dengan suara lirih.


“Assalamualaikum nduk, sayang ini tante?” mendengar suara bu Sriyantika, Rara langsung berhenti membaca dengan cepat membuka pintunya. Diliatnya Rio masih berdiri di belakang bu Sriyantika.


“Ya tante?”


“Nduk Rio ketuk-ketuk kamar kamu kok kamu diem aja, ndak elok membiarkan orang yang manggil kita?” ujarnya menasihati membuat Rara malu.


“Ya ada apa A?” tanya Rara.


“Saya mau mengecek suhu kamu!” jelas Rio sambil menujukan termometernya.


“Gak usah a, Alhamdulillah aku dah baikan.”


“Kamu ndak boleh gitu sayang, kamu tetep harus diperiksa. Ayo sekarang lepas hijab kamu terus biar Rio cek suhu kamu.” Rara melebarkan bola matanya kaget dengan ucapan Bu Sriyantika yang menyuruhnya melepas hijab di depan Rio. Hah? Kok bisa?


“Rio tante tinggal ya? tante capek tante mau istirahat dulu.”


“Iya tante.” jawab Rio.


“Ta-tapi tante...,” Rara hendak mengelak tapi Bu Sriyantika keburu menyelonong pergi.


“Ayo kamu duduk saya cek suhu tubuh kamu.”


Rara merebut termometer yang dipegang Rio, menatap tajam ke arahnya.


“36.4 normal kan?!”


“Iya Alhamdulillah normal, tunggu disini saya bawa air minum dulu.”


Rara kesal mengepalkan tangannya meninju-ninju gemas pada Rio yang berbalik membelakanginya hendak pergi.


“Owh iya Rara!” ujarnya berbalik lagi, Rara yang berasa terpergok dia langsung inisiatif merubah gaya tinjunya jadi menjadi menggeliatkah tangannya seperti orang streaching. Rio merasa geli memperhatikan Rara.


“Apa liat-liat?! Ujar Rara ketus.


“Gak papa, kamu udah minum obat?” tanya Rio.


Rara mengangguk cepat membuang pandangan, Rio pergi ke dapur dan kembali ke kamar dengan segelas air putih.


“Ini minum, ini udah saya doa in.”


Rara mengambil gelas dan langsung meminumnya.


“Tia mana?”


“Udah berangkat kerja.”


“Sekarang aa keluar saya mau istirahat.” Rio mengangguk dan keluar dari kamar Rara.


Perubahan Bu Sriyantika makin jelas terasa oleh Rara, dia membiarkan Rio seharian menjaga Rara. Bu Sriyantika malah tidak keberatan beberapa kali Rio keluar masuk kamar Rara untuk melayaninya dan salat berjamaah. Rara merasa ada janggal dengan semua ini, tapi dia tidak cukup bukti untuk berspekulasi. Rara hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Jam setengah delapan malam Rara yang tak ingin keluar kamar berdiam diri asyik dengan gawainya. Rio masih mengobrol di ruang tamu ditemani Bu Sriyantika dan Tia.


ToK! Tok! Tok!


“Nduk?”


“Ya tante?” ujar Rara sembari membuka pintu kamar.

__ADS_1


“Nduk keluar yuk? dari tadi di kamar terus, gak baik tau kamukan lagi penyembuhan.”


Rara mengangguk menyetujui ajakan Bu Sriyantika. Dia ikut gabung ke ruang tamu bersama Rio dan Tia.


“Nah gitu dong Ra, kaya burung di kamar melulu, sesekali keluar.” ujar Tia cengengesan. Rara merasa tidak senang dengan ejekan Tia padanya. Dia duduk di sofa di samping Bu Sriyantika, sedangkan Tia dan Rio duduk di kursi terpisah.


“Nak Rio, nak Rio rumahnya disini juga kan?”


“Iya tante cuma terhalang sepuluh rumah dari sini.”


“Owh nak Rio tinggal sama siapa?”


“Sendiri tante.”


“Loh kalo makan gimana? Beres-beres rumah gimana?”


“Kalo beres-beres rumah suka ada yang ke rumah, kalo masak saya masak sendiri tante, kalo cuci piring buat satu orang itu mah mudah kok tan.”


“Wah kamu hebat mandiri sekali, laki-laki bisa masak. Tia aja yang perempuan disuruh masak susahnya minta ampun.”


Rara tersenyum mendengar celoteh Bu Sriyantika, dia menoleh ke Tia menertawakannya.


“Apaan sih mih kok jadi bawa- bawa Tia?” ujar Tia kesal.


“Bercanda sayang, Rio kalo kamu mau mulai besok pagi selama tante disini kamu bisa sarapan disini, makan malem juga disini aja ya, biar suasana rumah jadi Rame.”


Rara yang tadinya cengengesan, kaget dengan tawaran Bu Sriyantika pada Rio. Kini giliran Tia yang cengengesan ke arah Rara.


“Iya a biar Rame, iya kan Ra?” Tia malah mengejeknya meminta persetujuan Rara. Rara tidak menjawab pertanyaan Tia, malah meruncingkan matanya menatap sinis pada Tia.


“Iya tante, kalo tante memang gak keberatan Rio mau.”


“Enggak kok tante gak keberatan.”


Rara makin pusing mendengar percakapan mereka, dia memilih kembali ke kamar.


“Tante Rara capek, besok Rara mau berangkat kerja, Rara tidur duluan ya tante,” ujar Rara pamit.


“Owh iya nduk.”


💚💚💚💚💚💚💚


Rara sangat kesal, sekalinya keluar kamar. Dia malah melihat sikap Bu Sriyantika yang begitu manis pada Rio, dan itu hanya membuat dirinya pusing berfikir menerka-nerka. Dia tidak langsung tidur karna di hantui rasa penasaran. Rara menunggu Tia masuk dan ingin sekali meminta penjelasan darinya.


Satu jam kemudian, Tia masuk ke kamarnya, dia melemparkan badannya ke atas kasur. Rara yang sedari tadi terjaga langsung bangun melihat Tia datang.


“Eh loe belum tidur?”


“Belum.”


“Owh iya Ra, event pertama pak Rian sukses loh, hasil trainingan loe ke anak-anak keren. Tau gak tadi siang banyak email yang masuk ke kita mau pake agensi kita, kayaknya besok bisa ambil supervisor deh.”


“Maksud loe apa?” tanya Rara ketus.


“Gimana?”


“Maksud nya apa, loe, tante, terus Rio, maksudnya apa?”


“Gue gak ngerti maksud omongan loe?”


“Aneh ti aneh, kenapa sikap tante Sri berubah drastis?”


“Ya gak tau, mungkin mamih ngerti sama penjelasan gue, gak salah paham kaya loe.”


“Ti gue tau ya tante Sri tu kaya gimana! masa dia bisa sih, sebaik itu ke Rio.”


“Mungkin dia suka sama Rio.”


“Tiaaa, gak masuk akal. Masak cowok playboy cap buaya gitu disukai sama tante Sri?”


“Playboy? enggak akh, itu perasaan loe aja kali, udah hayu akh tidur. Loe besok mau kerja ato masih mau dirawat Rio?” Tia malah menghindar dengan pengaduan Rara.


“Ya kerja lah.”

__ADS_1


“Ya udah tidur.” jawab Tia santai.


Beribu-ribu pertanyaan terbesit diotak Rara, dia berusaha santai menghadapi semua ini. Akh sudahlah, sudah berakhir. Toh sudah tiga hari, dia tak harus di rawat Rio lagi. Setidaknya besok dia bisa masuk kerja dan jauh-jauh dari Rio, pikirnya.


__ADS_2