
“Ti pak Rian nanya kita punya editor gak?” tanya Rara. Tia melamun mengaduk-aduk makanannya. Mereka sedang sarapan pagi di hari minggu ditemani berbagai lauk pauk yang dibuat bi Atik.
“Tia?” panggil Rara lagi membuyarkan lamunannya.
“I-ya kenapa Ra?”
“Ikh pak Rian nanya, kita punya editor gak wat bikin brosur event? Kita jawab aja kita biasa ke percetakan gitu ya?”
“Jangan-jangan, jawab aja punya!”
“Loh biasanya kita ke percetakan, kenapa gitu?” tanya Rara heran.
“Ra, terlalu mahal kalo tiap event kita mondar-mandir ke percetakan, mending kita rekrut editor frelance aja, itu lebih murah!”
“Emang ada? bukannya lebih mahal ya ngereckrut desainer, kan kita bayar per desain?”
“Gak gak, gak harus gitu, gue ada punya kenalan yang bisa kok, dia frelance.” ujar Tia menatap Rara serius.
“Lulusan SMA/SMK?”
“Enggak S1 kok.”
“Mahalah Ti. Kita bayar dia kan per proyek, kenapa gak ke percetakan seperti biasa?”
“Enggak, lebih murah kok.”
“Beneran?” tanya Rara ragu.
“Beneran Ra, besok pas meeting kita ketemu dia. Sekalian loe harus paksain beli laptop jangan pake komputer kantor terus, kan gak praktis. Gak bisa dibawa ke mana-mana, dari kemarin gak jadi terus belinya."
“Oke,” jawab Rara.
Setelah laptop pemberian Bagas dikembalikan Rara memang menggunakan komputer kantor sebagai penunjang kerjanya. Dia belum sempat beli laptop karna sibuknya kegiatan yang dilakukan semenjak datang ke Bandung.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Seminggu sudah dilewati oleh Rara dan Tia, hari Senin ini mereka meeting untuk mempersiapkan event untuk hari jum’at minggu ini
. Kedai KFC dekat BEC, tempat yang dipilih pak Rian untuk meeting, Tia dan Rio sudah menunggu duluan di sana. Tia merekrut Rio sebagai editornya, dia terus memandangnya serasa tak percaya kakak tirinya harus menjadi editor untuk membantu memajukan cabang perusahaannya. Tak lama Rara datang dan Feni menghampiri Tia dan Rio.
“Assalamualaikum, pak Rian belum datang?” tanya Rara yang duduk disebelah Tia. Dia terlihat cantik dengan tunik abu dan kerudung segitiga berwarna biru langit, Rio terus-terusan melihat Rara.
“Wa’alaikumussalam, belum.” jawab Tia.
“Ini aa nya sebagai editor?” tanya Rara ke Tia memandang Rio.
“Iya,” jawab Tia singkat.
“Perkenalkan saya Mutiara,” ujar Rara ramah, memperkenalkan diri pada Rio menjulurkan tangan menawarkan jabat tangan.
Rio malah diam melihat tangan Rara. Lama Rara menunggu sampai tangannya kemang, tapi Rio malah melihat Rara dengan mata berkaca-kaca.
“Permisi.” Rio pergi meninggalkan mereka, Rara melihat ke arah Tia bingung dengan sikap Rio.
“Kenapa?” tanya Rara pada Tia heran.
“Bentar.” Tia langsung pergi menyusul Rio.
“Itu aanya kenapa ya teh?” tanya Feni ikut bingung.
“Gak tau Fen,” jawab Rara.
Tak lama Pak Rian datang, Rara menyambutnya dengan ramah. Selang lima belas menit mereka mengobrol tiba-tiba Tia datang diikuti Rio dibelakangnya. Tia langsung menyapa pak Rian dan memperkenalkan Rio sebagai editor.
“Owh jadi ini editornya,” ujar pak Rian ramah.
“Iya pak, saya Rio.” Rio menjabat tangan pak Rian, humble.
“Ini mbak Tia, sama pak Rio udah lama saling kenal?”
“Udah pak, kami satu kampus dia kakak tingkat saya,” jelas Tia.
“kalo sama mbak Rara? ” tanya pak Rian ke Rara. Rio ikut melihat Rara yang berusaha beberapa kali menundukkan pandangnya menghindar tatapan Rio. Rara sadar sedari tadi Rio terus menatapnya membuatnya salah tingkah.
“Enggak pak saya baru kenal disini,” jawab Rara santai, terlihat netra Rio berkaca kembali mendengar jawaban Rara.
“Wah mas Rio ini liatin mbak Rara terus, orang Semarang manis ya mas?” ujar pak Rian.
__ADS_1
“Iya pak cantik, kaya bidadari.”
Rara terkejut dengan pujian Rio yang terlalu berlebihan menurutnya. Membuat pak Rian dan Tia tertawa renyah, Rara ikut tertawa paksa merenyukkan suasana.
“Mas Rio ini humoris sekali ya?” timpal pak Rian tertawa.
“Saya serius pak.”
“Wah berarti mas Rio suka dong ma mbak Rara ini, gimana tuh mbak Rara ditembak langsung nih?” goda pak Rian.
“Maaf pak, saya sudah ada yang punya.” ujar Rara santai tersenyum tegas, berbohong. Membuat strategi agar Rio tidak menggodanya lagi.
“Owh ya? siapa Ra, gue baru tau?” Rara kaget dengan jawaban Tia yang polos seraya mengacaukan rencananya.
“A-da, gue be-lum bilang a-ja sama loe,” jawab Rara terbata tersenyum paksa.
“Gimana kalo kita bahas kerjaan, jadi berapa SPG pak yang dibutuhkan buat event ini pak?” tanya Rara mengalihkan pembicaraan.
“Ya kira-kira, satu toko lima sampe enam lah, ini TL-nya mbak ini ya?” tanyanya pada Feni.
“Owh iya maaf, sampe lupa ngenalin, ini mbak Feni pak TL-nya, ini cv mbak Feni,” timpal Rara menyerahkan cv pada pak Rian.
Rapat berlangsung cukup lama, Rara dan Tia begitu serius membahas project pertama Cv Zoe cabang Bandung ini. Mereka tidak mau klien pertamanya kecewa, jadi mereka sangat berhati-hati dalam mengatur strategi Event.
Setelah rapat, Pak Rian langsung pamit pulang. Tinggal mereka berempat yang masih tinggal membahas Event.
“Ra?” sahut Tia.
“Ya?”
“Loe sama a Rio cari laptop sekarang, gue sama Feni nunggu disini kita mau bahas event, ok?”
“Gak usah Ti, gue bisa cari sendiri.” elak Rara tidak mau ditemani Rio.
“Ra, a Rio anak IT, dia paham soal laptop apa yang loe butuhin.”
“Tapi....”
“Ayo, eventnya kan tinggal tiga hari lagi, mumpung ini masih di BEC,” timpal Rio.
“Iya, saya gak mau lho. Kalo nanti saya harus nyamper ke kamu, ngajak jalan buat beli laptop,” ujar Rio.
What? Ini anak kenapa?
Pd beut!
Siapa juga yang mo di samper!
“Ok!” jawab Rara menahan diri berusaha dibawa santai, tak mau ambil ribut.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Rio dan Rara berjalan menuju eskalator. Sesampainya di awal tangga eskalator, Rio menawarkan tangan agar Rara bisa berpegangan padanya. Rara tersenyum paksa langsung naik eskalator mengacuh tangan Rio. Mereka berjalan berdampingan dilorong. Sebisa mungkin Rara menjaga jarak, tapi Rio malah mendekatinya terus-menerus, memepetkan diri. Mereka terlihat seperti seorang kekasih yang sedang marahan di bujuk oleh kekasih prianya.
“Yo?” sapa laki-laki berkemeja putih garis biru ditemani seorang wanita muda berhijab sepantaran Rara.
“Hei kang, Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu?” ujar Rio menjabat tangan hangat lelaki tersebut.
“Wa’alaikumussalam Warohmatullahiwabarokatuh, gimana kabar yo?” Mereka berpelukan bak teman akrab.
“Wah, Alhamdullilah baik-baik kang Feri, ini istrinya?” tanya Rio menunjuk ke wanita di sampingnya.
“Ini adik yo, mau cari hp katanya,” jelas Feri sembari menyentuh bahu adiknya yang mungil.
“Punten (permisi) teh.” Rio memberi salam tanpa menyentuh tangan wanita tersebut. Dia hanya mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya. Wanita tersebut membalasnya dengan senyuman.
‘Ke cewek lain bisa sopan, tapi kenapa kalo ke gue sikapnya kurang ajar ya?’ gumam Rara heran melihat tingkah laku Rio.
“Lagi apa nih disini?” tanya kang Feri.
“Ini biasa ada perlu, sekalian mau cari laptop buat dia.” Mata Rio melirik ke arah Rara.
“Eh teh punten.” Kang Feri begitu sopan, dia memberi salim tanpa menyentuh Rara sama seperti yang Rio lakukan. Rara pun membalasnya dengan senyum.
“Wah yo, itu istri kamu ya,” ujar Feri salah sangka. Rio tersenyum melirik Rara.
“Iya kalo punya istri cantik, belanja harus tu ditemenin, bahaya kalo sendirian mah,” ujar Feri menggoda Rio membuatnya tertawa.
__ADS_1
“Dimana sekarang kang?” tanya Rio mengalihkan pembicaraan.
“Saya masih di PT Ceres, kamu sekarang dimana, masih ngajar?”
“Masih kang.”
“Eh anak-anak mau ngadain reunian bulan puasa, ikut kan? Tahun kemarin kamu gak ikut lho!”
“Insya Allah, kang kalo tanggal reuninya pertengahan, Insya Allah saya datang, reunian tahun kemarin kan pas mau mendekati Idul Fitri, jadi saya keburu mudik.”
“Owh iya Insya Allah nanti saya sama anak-anak tentuin awal kalo gak pertengahan bulan, jangan lupa ajak istrinya ya!” ucap Feri menoleh ke Rara.
Rara hanya diam tersenyum paksa, dia sangat kesal pada Rio yang tidak menyangkal kalo dia bukan istrinya.
“Yo saya buru-buru, bentar lagi masuk kantor, saya tinggal dulu ya!”
“Ya mangga‐mangga kang.” Mereka berdua berpamitan sembari merangkul akrab. Feri dan adiknya pergi menuju lantai bawah.
“Kenapa gak disangkal?” tanya Rara ketus.
“Apanya?”
“Tadi dia kira saya istri aa kenapa gak disangkal?” ucap Rara kesal.
“Maaf kalo kamu ngrasa gak nyaman, saya hanya tidak ingin memberi kesempatan buat adiknya.”
“Gimana?” tanya Rara bingung.
“Saya itu ganteng Ra, saya takut kalo adiknya nanti suka sama saya,” jawabnya membuat Rara terkejut.
‘Ini orang PD-nya tingkat langit ya,’ gumam Rara kesal dalam hati.
“Sedangkan hati saya sudah ada yang punya seseorang yang halal saja, dan InsyaAllah hanya untuk dia,” lanjut Rio datar. Rara mengerut dahi mendengar celoteh Rio.
Ni anak kenapa ya?
Aneh!
Tanpa Rara tanya sudah bercerita tentang perasaan.
“Owh!” jawab Rara singkat.
“Mau tau?” tanya Rio.
“Apanya?”
“Hati ini buat siapa?”
“Heh?”
Aneh pikir Rara, baru kali ini dia bertemu dengan cowo seaneh Rio.
“Bukan heh, tapi tanya siapa!” ujar Rio membenarkan.
“Siapa?” tanya Rara. Tak mau ambil ribut dia langsung mengikuti instruksi Rio untuk bertanya.
“Kamu,” jawab Rio tersenyum membuat Rara kaget lagi, dia merasa tak nyaman dibuatnya.
“Apa?!” ucap Rara kesal.
“Kenapa, saya terlalu ganteng buat kamu? kamu juga cantik kok kamu pantas buat saya,” ujarnya Pd. Datar.
Rara benar-benar tak habis pikir, baru pertama kali dia bertemu dengan orang yang PD-nya tingkat dewa. Dia memang tampan tapi sikapnya membuat Rara kesal dari tadi terus-terusan menggombalinya membuatnya salah tingkah. Rara bingung harus bagaimana bersikap.
“Ha ha iya aa bercandanya lucu.” Rara tertawa mencoba merenyukkan suasana.
“Saya gak bercanda saya serius!” potongnya lagi datar, akh expresinya memang cool sih, pikir Rara.
“A dimana toko laptop yang bagus?” ujar Rara berusaha menghentikan gombalan Rio. Rio diam bergeming tak menjawab, masih menatap Rara dalam dan lagi membuat Rara canggung.
“Halooo?” Rara mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rio.
“Dimana a?”
“Ikut saya.”
Rio berjalan Rara mengikutinya di belakang, kesal. Dia berusaha profesional dengan Rio yang terus mencoba menggombalinya.
__ADS_1