Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
MIDNIGHT SALE


__ADS_3

Sabtu pagi, Rara yang biasanya menghabiskan pagi pada hari Sabtu di kantor sewaktu di Semarang. Kali ini dia lebih memilih berlari berkeliling kompleks, dia begitu menikmati dinginnya pagi kota Bandung. Udara dingin yang menancap membuat pipinya memerah merona. Sesekali dia berlari-lari kecil, sesekali dia berjalan sampai dia memutuskan berhenti di lapang kompleks rumahnya.


Rara duduk dipayungi tangkai-tangkai pohon rindang tinggi yang menjalar lebat. Di lapangan sudah penuh dengan anak-anak yang bermain bola. Ada beberapa lansia asyik bermain tenis meja, dan ada beberapa remaja bermain bulu tangkis. Rara menyelonjorkan kakinya ke tanah, tersenyum menikmati indahnya pagi ini.


‘Alhamdullillah hirobil a’lamin?’ gumamnya, bersyukur atas semua keberkahan pagi yang bisa dia nikmati.


💚💚💚💚💚💚💚


“Assalamualaikum Warohmatullahiwabarokatuh.” Suara lembut Bu Sriyantika menyapa di rumah Tia. Tia yang rebahan menonton TV menyadari itu suara mamihnya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabnya lantang. Tia langsung berlari menghampiri mamihnya.


“Mamihhh!” Tia membuka lebar tangannya memeluk erat mamihnya, girang.


“Tia?” Bu Sriyantika tersenyum lebar, menerima pelukan hangat putri semata wayangnya.


“Kamu sehat nduk?” Mamihnya menghujani wajahnya dengan ciuman gemas, Tia pun merasa geli dibuatnya.


“Hahaha sehat mih.” Tia mengambil koper mamihnya dan menariknya untuk masuk ke dalam, “Bi Atiik!” teriak Tia.


“Iya neng, eh nyonya,” ujar bi Atik datang dari arah dapur. Dia langsung mencium tangan majikannya. “Gimana nyonya sehat?”


“Alhamdulillah sehat bi, bi Atik tambah ngisi ya?” komen pertama Bu Sriyantika setelah sekian lama tak berjumpa.


“He he iya nyonya, nyonya mau minum apa?”


“Air putih aja cukup.”


“Baik, sebentar nyonya,” ujar bi Atik, lalu pergi ke dapur.


“Rara mana sayang, kerja?” tanya mamihnya. Tia menarik nafas lesu, seketika wajahnya berubah murung mendengar pertanyaan mamihnya.


“Kenapa nduk, kamu berantem sama dia?”


“Enggak mih, kantor Sabtu tutup, dia lagi lari keliling kompleks.”


“Terus, kenapa itu mukanya kaya gitu.”


Tia menjelaskan keadaan Rara yang trauma akan berbagai hal yang dia temukan mengenai identitasnya. Dia bercerita dimulai dari dosen genit, teman kampusnya, dan beberapa kliennya di toko yang mengenal Rara.


Bu Sriyantika beberapa kali beristigfar kaget mendengar cerita putrinya. Dia tak menyangka masa lalu Rara yang begitu diluar expestasinya. Selama ini mereka mengenal Rara, tak ada satu pun tanda-tanda yang menunjukkan dia perempuan yang tidak baik. Rara malah lebih menurut dibandingkan Tia putri semata wayangnya sendiri.


“Mih gini loh mih, maksud Tia tu baik kok mih. Kalo emang pada awalnya Rara atau Febby dia gak baik, kenapa dia gak coba apa ya...?” Tia menghentikan celotehnya, berfikir berancang-ancang menyusun kata-kata yang tepat.


“Gini gini gini! kenapa dia gak ngaku aja kalo emang dia Febby, dan ngerubah image Febby itu sendiri menjadi Febby yang baik gitu loh, Febby yang kaya sekarang?” lanjut Tia.


“Mamih rasa dia trauma nduk, mungkin dia syok.”


“Ya Tia paham mih, tapi kasian keluarganya yang nyariin dia kalo dia gak ngaku Febby. Gimana sama ortunya atau adiknya atau siapa ke, sodaranya, kalo dia terus ngaku-ngaku Mutiara?”


“Betul juga ya nduk,” bu Sriyantika menarik nafas dalam mendengar penjelasan putrinya.


“Tapi memang sulit nduk, nerima hal pahit yang sudah menjadi bagian hidup kita. Apalagi kalo mengakui kesalahan terbesar yang pernah kita lakukan, serasa tak percaya bahwa kita pernah melakukannya,” ucap mamihnya sedih. Tia bisa menebak mamihnya sedang mengaitkan masa lalunya dengan papihnya.


“Mih, kan mamih bilang sendiri. Bagaimana kita dimasa lalu itu sudah jadi bagian hidup kita, Rara udah berubah mih. Itu yang paling penting.”


“Iya nduk, Rara udah berubah. Itu yang terpenting jangan sampai dia kembali lagi ke masa lalunya yang kelam. Kita harus bantu dia nduk,” sahut mamihnya antusias.


“Iya mih,” ujar Tia tersenyum.


💚💚💚💚💚💚💚


“Gimana nduk gudegnya enak?” sahut Bu Sriyantika yang berdiri di samping meja makan melihat Rara dan Tia makan gudeg buatannya.


“Enak tante,” sahut Rara tersenyum tipis. Bu Sriyantika memperhatikan Rara sedari tadi memang lebih pendiam.

__ADS_1


“Kamu lagi baca apa nduk?” tanya Bu Sriyantika pada Tia yang sibuk makan sambil membaca selebaran.


“Ini mih tadi Rara bawa selebaran toko pas pulang lari, Murah-murah mih. Ada midnight sale di Yogya Kepatihan,” ujar Tia.


“Iya nduk kamu belum belanja ya? itu kulkas isinya kosong.”


“Hehe, iya mih.” Tia cengengesan menjawab pertanyaan mamihnya.


“Ya habis dua minggu ini kita sibuk, recuitment, training, terus keliling Bandung dealing. Ya walaupun kita sering ke toko tapi waktu kita mepet mih dikejar deadline. Sehari aja kita bisa keliling lima toko, belum macetnya yang ngabisin waktu mih,” tambah Tia mengeluh.


“Iya sayang, gak papa,” ujar mamihnya tersenyum.


“Ya udah tante, malem ni kita berdua belanja bulanan ke kapatihan,” sela Rara.


“Tapi jangan ngejar MIDNIGHT Sale ya, yang normal-normal aja belanjanya,” ujar bu Sriyantika memperingatkan.


“Enggak-enggak,” jawab Tia.


💚💚💚💚💚💚💚


MIDNIGHT SALE AT SATURDAY NIGHT!!!


Tulisan besar terpampang di swalayan Yogya kepatihan. Jam setengah delapan pengunjung sudah mulai ramai. Banyak promo dan diskon bertebaran di mall ini. Rara dan Tia sedang asyik belanja bulanan untuk keperluan rumah.


“Rame ya Ra?” sahut Tia melihat sekeliling mall, Rara menangguk tersenyum mengiyakan. Dia sedang mendorong troli yang penuh dengan barang belanjaan.


“Kita ke lorong susu ya, tante Sri nitip susu anlene,” ujar Rara.


“Oke.” Tia mengacungkan jempolnya sambil tertawa. “Ra?”


“Yah?” jawab Rara, mereka jalan menuju lorong susu.


“Nanti kalo ada yang kenal loe disini gimana?” Rara diam mendengar pertanyaan Tia langsung wajahnya berubah sedih.


“Ra kalo menurut gue ya, ini kalo menurut gue. Ya elo jujur dulu aja, jangan ngindar. Gue yakin kok elo gak seburuk yang elo pikirkan,” ujar Tia membuat Rara kesal karna tidak setuju.


“Nanti kalo yang ngenalin gue cowok, terus dia macem-macem gimana?”


“Ra ini tu indoor, gak mungkinlah ada orang yang macem-macem sama elo,” potong Tia meyakinkan, sembari melihat ke SPG susu yang sedari tadi melihat ke arah Rara.


“Lagian ada gue disini jagain elo,” lanjutnya.


“Febby?” sapa SPG susu pada Rara. Rara masih diam tak menjawab panggilanya, ragu.


“Teh kenal sama Febby?” sela Tia pada SPG itu bertuliskan name tag di sakunya ‘Ika’.


“Eh iya teh, initeh beneran Febby?” teh Ika menghampiri Rara dan mencoba meyakinkan penglihatannya.


“Iya kamu Febby, waduh apa kabar geulis (cantik), ikh kamu teh berubah geuning lebih cantik pake hijab?” ujar Ika antusias, ramah.


“Ba-ik teh.” ujar Rara terbata. Teh Ika mencium pipi kanan kiri Rara akrab.


“Meni awis teupang ( lama gak ketemu) kamu sekarang dimana? Atuh udah nikah belum?” tanya teh Ika.


“Sa-ya di agensi teh,” jawab Rara tersenyum kaku, bingung.


“Wah hebat, untung kamu fokus sama kuliah kamu Feb. Teteh mah udah yakin kamu mah bakal jadi orang sukseslah. Eh si Boy juga di sini, dia jadi SPB di lorong sebelah.” sahut Teh Ika yang perawakannya cerewet.


“Si Boy?” Rara mengerutkan dahinya heran.


“Iya partner kerja kita waktu di GIANT. Hahaha dia mah da baong (nakal) di DO dari kampusnya ge, teu ( gak) insaf-insaf. Tunggu disini sebentar, teteh panggil si Boy. Bodor budak etamah. ( lucu tu anak)” sahut teh Ika tertawa pergi ke lorong sebelah.


“Ti, Ti! kita pergi aja yuk!” Rara panik menarik-narik lengan Tia, takut kalau ada hal yang aneh lagi terjadi padanya.


“Eh Ra kenapa pergi? tunggu dong, itu si tetehnya ramah gitu. Baik kok keliatannya,” ujar Tia menenangkan.

__ADS_1


“Gak mau! itu siapa lagi si Boy, nanti kalo dia...,”


“HEI FEBBY! whats up girlll,” teriak lantang seorang SPB datang dengan gayanya yang pencicilan di depan teh Ika. Dia datang sambil menari-nari kocak gaya Michael Jackson. Rara terheran-heran melihat tingkah lakunya, sedangkan Tia tertawa melihat kelakuan SPB tersebut.


Si Boy mendekat lalu membungkuk seperti gaya seorang pangeran mengajak putrinya dansa, tangan kanannya diputar-putarkan beberapa kali di depanya perutnya.


“Apa kabarnya cantik?” ujarnya sambil menawarkan tangan yang diputarkan lagi. Dia mengenakan name tag, Joni. Teh Ika dan Tia tertawa melihat tingkah laku Boy.


“Tetep koplak Feb si Boy mah!” ujar teh Ika mendekat ke Rara yang tersenyum paksa kebingungan. Rara tak mau menjabat tangan Joni, dia hanya salim tanpa menyentuh tangan Joni. Joni mengangguk tersenyum tak merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan Rara.


“Wuzz siapa kah teteh cantik yang bertopi ini?” tanya Joni, menawarkan jabat tangan pada Tia.


“Ha ha, Tia a.” Tia menyalami Joni dengan kedua ujung jari saling bertemu.


“Ini teh temen kerja kamu Feb?” tanya Joni.


“Sepupu,” jawab Rara singkat. Teh Ika melihat pada Rara merasa aneh, merasa bukan Febby yang seperti dia kenal.


“Teh ini ada midnigtsale ya?” tanya Tia mencoba ramah.


“Owh iya atuh, hampir semua produk di diskon, malah ada yang beli satu gratis satu,” jawab teh Ika.


“Iya atuh teh, tapi masih lami (lama) atuh,” sela Joni masih dengan gaya pencicilan.


“Kalo midnight sale gini, saya teh jadi inget kita sering nongkrong di Braga mpe subuh ya Feb hahaha,” lanjut Joni membuat Teh Ika tertawa.


“Ya kamu mah da kalobaan (kebanyakan) nongkrong jadi weh di DO!” sindir teh Ika menepuk lengan Joni, Joni mengaduh kesakitan.


Rara sudah tidak nyaman dengan pembicaraan mereka tentang masa lalunya. Dia ingin segera pergi dari lorong tersebut, Tia melihat gerak gerik Rara yang sudah mulai gusar.


“Teh, Febby teh gimana orangnya bageur (baik)?” tanya Tia mencoba mengalihkan pembicaraan mencari hal yang baik tentang Febby.


“Euh bageur pisan (baik banget),” jawab teh Ika.


“Betul, Febby baik beut,” sahut Joni menambahkan.


“Owh iya gimana?” tanya Tia lagi.


“Banyak atuh teh, apalagi dia mah saking baiknya. Sering nganter teh Ika pas pulang malem. Tah sok ngabonceng teh Ika,” lanjut Joni.


“Ngebonceng?” tanya Tia


“Iya, nah pas pulang midnight gini nih kita suka ke klub,” ujar Joni malah membuat teh Ika cengengesan.


“Klub komunitas?” tanya Tia.


“Hahaha si teteh bodor, klub malam atuh. Davinci, jeb ajeb ajeb ajeb.” Si Joni mengacungkan jarinya di depan dahinya, lalu kepalanya digeleng-gelengkan seraya orang yang sedang clubing. Rara kaget mendengar celoteh mereka.


“Hahaha iya atuh Feb kamu inget ga?” tanya teh Ika pada Rara.


Rara tak tahan dengan pembicaraan mereka, netranya mulai berkaca-kaca. Sampai setetes air mata jatuh di pangkal pipinya.


“Permisi!” Rara tak kuat lebih memilih berlari meninggalkan trolinya.


“Feb! Febby?!” teriak Joni dan teh Ika memanggilnya.


“Teh? Febby kenapa?” tanya teh Ika pada Tia. Tia diam tak menjawab.


“Permisi.” Tia langsung pergi mengejar Rara merasa bersalah.


“Eleuh eleuh kunaon eta budak,” (aduh, kenapa tu anak?)tanya Joni heran.


“Euh da kamumah, sieun kukamu atuh,” (Tuh kan kamu tu, takut sama kamu tuh) ujar teh Ika menepuk lengan Joni keras.


Auww!

__ADS_1


Joni mengaduh kesakitan.


“Sieun kumaha ai si teteh, ( takut gimana teteh) orang saya gak ngapa-ngapain,” bela Joni.


__ADS_2