Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
TINTA KITA


__ADS_3

Rara pagi ini terlihat cantik mengenakan tunik putih gading mengenakan pasmina purple, dia sedang melamun melihat rangkaian bunga besar pemberian Rio di ruang tengah. Dia ingat pemberian mawar pertamanya yang selalu ada di vas rumah sakit dari Bagas. Dia ingat ketika mbok Sum membawa karangan bunga mawar putih ke meja makan. Dia juga ingat beberapa kali Bagas memberinya setangkai mawar putih, yang Rio lakukan malah mengingatkan dengan hal\-hal yang berhubungan dengan Bagas.


“Woi!” Tia mengagetkan Rara.


“Bagus ya? Banyak lagi, gue kira bunga mawar pemberian Bagas gak ada apa-apanya dibanding ini,” celoteh Tia. Rara merasa tidak nyaman Tia membicarakan Bagas.


“Ayo berangkat, gue yang nyetir,” ujar Rara tak banyak komen.


Sesampainya mereka didepan kantor. Rara melihat mobil yang tak asing di parkiran, serasa kenal dengan pemilik mobil tersebut. Tapi dia menghalau pikirannya dan langsung masuk ke kantor. Rara hendak masuk ke ruangannya, diliatnya daun pintu ruangannya sudah dalam keadaan terbuka. Dia kaget menemukan Rio duduk kursi staf tepat di depan mejanya.


“Assalamualaikum Rara,” sahut Rio menyapa tersenyum.


“Wa’alaikumussalam.” Rara yang tadinya mau masuk dia langsung keluar, dan pergi ke ruang Tia.


“Tia!” panggil Rara kesal.


“Kenapa tu anak ada dikantor gue?”


“Siapa?” ujar Tia mengenyeritkan jidatnya pura-pura tidak tau.


“Menurut elo siapa?” timpal Rara sewot.


“Rio?” Rara mengangguk mengiyakan.


“Kan kemarin gue udah bilang, elo berbagi ruangan sama salah satu staf kita.”


“Gue kira Gilang Tia!”


“Gilang gabung sama ruang TL, biar dia bisa ngawasi anak buahnya langsung.”


“Gue gak mau seruangan sama dia. Gue tukeran ruangan sama Gilang!”


“Ya kalo gitu elo ngrusak struktur dong, Ra please deh yang profesional! Kalo loe marahan sama Rio jangan dicampur adukan dengan urusan kerjaan dong! Lagian dia freelance, gak tiap hari juga dia standby disitu,” jelas Tia, Rara benar-benar kesal dibuatnya.


Akhirnya dia pasrah, Rara memberanikan diri masuk kantornya. Rara langsung duduk di mejanya langsung mengeluarkan laptopnya tak menoleh sedikit pun pada Rio.


“Rara?” panggil Rio yang ingin berbincang dengannya.


“A saya mau kerja! tolong jangan tanyakan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan!” ujar Rara tegas.


“Baik,” ujar Rio tersenyum.


Rara mengacuhkan Rio yang ada di hadapannya selama jam kerja berlangsung, dia asyik dengan laptopnya. Gadis itu hanya meladeni karyawan yang keluar masuk ke kantornya.


Hari pertama Rio kerja, mengundang banyak perhatian kaum hawa. Tak sedikit Tl dan SPG berlalu-lalang di kantor Rara memperhatikan bahkan menggodanya mengajak berkenalan dengan Rio, tapi dia malah cuek asik mengedit desain. Satu hal yang mengalihkan perhatiannya adalah Rara. Sering Rio memandang Rara menikmati wajah cantiknya. Rara ngeh Rio memandanginya, tapi dia lebih baik diam mengacuhkan Rio dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tidak hanya itu Rio bahkan berani menggombalinya terus-terusan.


Pada jam sepuluh Rio ikut join rapat. Rara yang sedang presentasi di depan merasa risih dengan satu pandangan, tatapan Rio. Tatapan yang beda dari yang lain. Rara yang merasa kikuk berusaha santai, dia mencoba fokus presentasi dengan white boardnya. Ketika dia menghapus tulisannya di white board, tulisannya tak bisa di hapus. Rara membaca spidolnya memastikan bukan spidol permanen yang dia pakai. Dan memang benar itu spidol biasa, dia mencoba menghapus lagi dengan menekan keras berharap tulisannya bisa terhapus, tapi tetap tidak bisa. Aneh pikirnya.


Melihat Rara yang kesulitan menghapus white board Rio langsung berdiri menghampirinya membantu Rara.


“ Sini aa liat spidolnya?” ujarnya.


Rara langsung menyerahkan spidolnya, canggung.


Rio mencoret acak di white board dan menghapusnya, ternyata sama coretannya tidak bisa dihapus. Dia memperhatikan spidolnya dengan seksama.


“Ini sih spidol biasa, tapi di isi pake tinta kita. Jadi gak bisa dihapus.” jelas Rio datar.


“Tinta kita? Memang ada tinta merk tinta kita?” tanya Rara serius yang tidak pernah mendengar merk tinta kita.


“Ada tinta kita, tinta permanen. Cinta yang tak pernah terhapuskan,” gombal Rio membuat seisi anggota rapat tertawa gaduh. Ada yang bersiul menyoraki mereka berdua. Tia ikut andil tertawa dan menggoda mereka. Rara kesal, di hari pertama Rio berani menggombalinya di depan karyawannya pada saat rapat.


Setelah rapat mereka kembali ke ruangannya, Rara duduk di kursinya kesal mengacuhkan Rio. Rio duduk sebentar memandangi Rara lalu bangkit dari kursinya menghampiri Rara.


“Ada apa?” tanya Rara jutek.


“Saya mau Jum’atan dulu, dan ini makan siang buat kamu,” ujar Rio tersenyum menyerahkan kotak makan siang premium dari salah satu restaurant. Dan lagi Rara teringat akan makan siang yang selalu Bagas berikan padanya.


“A sebentar!” Rio yang hendak pergi memalingkan tubuhnya menghadap Rara.

__ADS_1


“Ya?”


“Saya tidak suka sama aa, jadi tolong jauhi saya dan tolong bersikap profesional, jangan kasih apa-apa lagi ke saya!” ujar Rara to the point, agar Rio bisa menjauhinya.


“Ini bukan masalah suka tidak suka Rara.”


“Magsudnya?”


“Ini masalah jodoh.” Rara terdiam antara kaget, bingung dan illfeel dengan celoteh Rio. Dia berfikir bagaimana caranya menjelaskan padanya untuk sedikit saja menurunkan Pd nya Rio yang selangit.


“A gini...!”


“Insya Allah kamu jodoh saya,” lanjut Rio dengan senyumnya yang cool. PD-nya yang tinggi malah membuat Rara muak.


“A saya serius ya!”


“Saya juga serius.”


“Oke! a denger baik- baik! Saya gak akan menyerah. Kalo aa mencari seribu jalan wat ketemu saya, saya bisa cari jutaan cara untuk menjauh dari aa!” ancam Rara pada Rio.


Rio tersenyum mendengar celoteh Rara.


“ Saya jum’atan dulu, takutnya telat, wassalamualikum warohmatullahiwabarokatu.”


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab Rara lantang, kesal. Rio malah tersenyum lalu pergi keluar kantor.


💚💚💚💚💚💚💚


Tak lama setelah Rio pergi, Rara langsung keluar ruangan membawa nasi kotak pemberian menuju resepsionist.


“Dini?”


“Ya teh?”


“Ini buat kamu.” Rara menyerahkan nasi kotaknya pada Dini. Dini dan Arum heran saling bertatapan.


“Kenapa gak suka makanannya?”


“Iya teh aku juga dapat,” timpal Arum.


“Ya udah tolong kasihin ke mang Ikin!”


“Dia juga udah dikasih teh, semua staf dikasih sama a Rio,” jelas Dini.


“Gak papa kasihin dia ja, sapa tau dia mau lagi,” ujar Rara keukeuh.


Rara langsung menuju kantor Tia.


“Tia makan diluar yuk?” ajak Rara.


“Gue udah dikasih makanan sama a Rio. Emang elo gak dikasih? semua staf dapet kok, dia kan lagi syukuran.”


“Dikasihin mang Ikin, syukuran apa dia?”


“Syukuran bisa satu ruangan sama pujaanya katanya,” goda Tia.


“Serius Tia!” ujar Rara sewot.


“Iya serius, tadi dia bilangnya gitu ke gue.”


“Au akh! gue ijin keluar bentar mo cari makan.”


“Jangan jauh-jauh,” ujar Tia menghawatirkan Rara.


“Iya,” jawab Rara singkat. Tia mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rara.


💚💚💚💚💚💚💚


Rara langsung menyetir mencari kafe tak jauh dari kantornya, dia ingin mencari kafe yang tak terlalu ramai dan akhirya “Axelia cafe.” Cafe yang tidak terlalu banyak orang, sepi. Dia benar-benar ingin menyendiri dulu, menenangkan diri. Rara melihat pemandangan luar sambil mengaduk minumannya yang hampir habis, jalanan begitu ramai pikirnya.

__ADS_1


“Rara?” Tiba-tiba Wildan menyapanya datang bersama teman kantornya.


“Eh mas?”


“Ikh kebetulan!” ujar Wildan tersenyum lebar.


“Kebetulan apa mas?” tanya Rara heran.


“Inj gue mau ngasihin ini ke Tia, gue serahin elo aja ya biar gue gak usah ke kantor, nangung nih.”


“Iya boleh-boleh.” sahut Rara.


“Wil gue duluan atuh ya,” sela temannya ke Wildan.


“Iya bro, sorry ya!” Wildan menepuk bahu temanya akrab.


“Santai aja bro! mari teh.” Temannya Wildan pamit pada Rara.


“Kamu dari tadi disini?” tanya Wildan duduk melihat piring Rara yang sudah kosong.


“Iya mas, sebentar ya mas, A?” Rara memanggil waiters.


“Iya teh?”


“Bisa tolong bersihin mejanya?”


“Iya teh.” Sang waiter melap dan merapihkan piring bekas makan Rara.


“Mas Wildan mau pesen?” tawar Rara.


“Gak Ra, udah kenyag tadi makan siang.”


“Ya udah, a saya mau minum dua,” sahut Rara.


“Iya, sebentar teh,” ujar si waiters langsung pergi membawa nampan bekas makanan Rara.


“Gimana mas?” tanya Rara pada Wildan.


“Jadi gini, ini ada daftar yang pencapaian target toko yang dikirim ke Tia bulan lalu, saya cuma stok delapan SPG lalu...,”


DRRT DRRT. Hp Rara berbunyi.


“Sebentar ya mas.”


Wildan mengangguk mempersilahkan Rara mengangkat telponya.


“Tia,” ujar Rara ke Wildan memberitahukan siapa yang menelpon.


“Hallo Ti, Assalamualaikum?”


“Wa’alaikumussalam, Ra elo dimana?”


“Masih di caffe, owh ya ini gue ketemu mas Wildan di sini. Kayaknya gue balik ke kantornya agak lama, mau bahas kerjaan dulu.”


“Cafe mana Ra?”


“Cafe Axelia.”


“Loe berdua sama Wildan?”


“Iyaa, kebetulan tadi...,”


TETT. Tia langsung memutuskan telepon.


“Kenapa?” tanya Wildan.


“Gak tau mas langsung putus, lanjut aja ya. Tadi gimana?”


“Oke, jadi kantor saya cuma stok delapan SPG, sedangkan ada beberapa toko yang gak masuk target bulanan Ra....”

__ADS_1


Mereka berdua antusias membahas pekerjaan. Rara menyimak Wildan, dia begitu sopan. Masih ingat pertemuan pertama kali saat Wildan mengantarkan ke mesjid menyelamatkannya dari Bagas, dan ketika Wildan menawarinya jas di Semarang. Lelaki itu begitu perhatian, baik dan memperlakukan Rara bak seorang muslimah yang terhormat. Akh andai saja Rio seperti ini.


__ADS_2