
KELUARGA SURYADI
“Mau salat nduk?” tanya bu Sriyantika yang baru saja memergoki Mutiara wudhu dini hari.
“Iya tante.”
“Tia ada?”
“Ada tan masih tidur, saya gak berani bangunin dia.”
“Ndak papa nduk nanti dia bangun sendiri paling setengah jam lagi dia bangun. Tadi malem dia kawatir sama kamu nduk, jadi tidurnya pindah dikamar kamu.” Mutiara tersenyum tipis mendengar perkataan bu Sriyantika . "Ikut tante yuk, kita salat jamaah diatas.”
“Muti ambil mukenanya dulu ya?”
“Gak usah dikamar tante punya banyak mukena, yuk?”
Setelah salat subuh, mereka berdoa bersama. Dzikir dan selawat nabi ikut menghiasi doa-doa mereka. Bu Sriyantika membalikkan badanya menghadap Mutiara. Dia sapa wajahnya Mutiara dengan senyum khasnya yang ramah.
“Kamu mau tidur lagi?” Mutiara menggelengkan kepalanya. “Tia kalo bis salat subuh dia suka tidur lagi trus bangunya siang.” Mutiara ikut tersenyum, mendengar celoteh bu Sriyantika .
“Nduk maafin tante ya kalo selama ini ada perbuatan ato perkataan tante sama Tia yang nyakitin kamu?” Bu Sriyantika masih kuatir masalah tadi malam, dia takut ada perkataannya yang menyakitinya yang tidak sengaja dia lakukan sehingga membuat Mutiara ingin pergi.
“Tante, tante gak usah minta maaf, kalian baik sama Mutiara, saya yang harus minta maaf udah ngerepotin kalian.”
“Iya sayang sudah gak papa, kamu tuh kewajiban tante sayang, wajar tante ngelakuin ini semua.” Mutiara tersenyum mendengar ucapan tante
“Mirip Tia, tante.”
“Eh Tia yang mirip tante, tante kan ibunya.” ungkapnya sambil tertawa.
“Sebenernya Tia tu anak yang baik, mirip papihnya. Owh sebentar!” Bu Sriyantika mengambil album yang cukup besar berwarna coklat dari meja yang tak jauh dari dia tempat duduk. Dibukanya hal pertama ada tulisan latin bertinta emas Suryadi Family.
“Liat ini album masa kecil Tia, pasti kamu tertawa kalo liat dia.”
Dibukanya lembar pertama ada foto Tia yang berusia sekitar tujuh bulan, di foto pertama sebelah kanan atas Tia telanjang tengkurap hanya menggunakan popoknya, Mutiara tersenyum melihatnya. Foto dibawahnya bu Sriyantika semasa muda menggunakan hijab merah mengendongnya.
Satu halaman album dihiasi dua sampai tiga foto, Mutiara begitu asyik memperhatikan foto- foto semasa kecil Tia, ada yang menggunakan kaos , ada yang mengenakan gaun cantik bak princess kecil, ada yang menggunakan baju Kartini pas Tia berusia lima tahun, sesekali Tia difoto bareng dengan bu Sriyantika, tapi fotonya lebih banyak dengan seorang pria tampan berkulit coklat berambut pendek matanya mirip dengan Tia.
‘Itu pasti papinya Tia.’ gumamnya, terlihat banyak foto mereka yang menggambarkan kedekatan ayah dan anak, ada yang digendongnya, ada foto yang Tia sedang menyuapinya.
“Ini Tia tante?” telunjuk Mutiara mengarah ke beberapa foto Tia mengenakan pakaian feminim.
“Iya, dulu Tia gak setomboy sekarang sayang, dulu dia juga suka pake rok dan hijab.”
Bu Sriyantika membuka sekitar dua lembar album foto menunjukkan foto Tia yang mengenakan hijab.
“Nah ini pas semasa SMP sayang, tapi ya gitu kalo sekolah dia pake hijab, karna sekolahnya mewajibkan mengenakan hijab, pas udah dirumah dilepas hijabnya pas dia SMA dan kuliah di Bandung pyur dia gak mau pake hijab, malah makin tomboy.” keluh Bu Sriyantika mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalo ini papihnya Tia ya tante?”
“Huum, mirip ya?”
“Iya, papihya Tia kemana tante?”
“Tante sama papihnya Tia sudah bercerai sejak lama nduk, dia orang sangat baik, penyayang, tante merasa beruntung mengenalnya. Hanya saja takdir berkata lain sayang, kita berdua berpisah.” jelas bu Sriyantika santai menceritakan masa lalunya.
Dilembar foto terakhir ada foto yang cukup besar bu Sriyantika yang mengenakan hijab dan gamis biru yang cerah, Tia yang digendong papihnya. Gedung sate yang menghiasi latar foto tersebut. Mutiara dengan seksama memperhatikan foto tersebut.
“Tante boleh dibuka?”
“Boleh sayang.” bu Sriyantika membuka plastik penahan album, diserahkannya foto tersebut ke Mutiara.
Mutiara terus melihat fotonya penasaran, mengkerutkan dahinya seakan iya ingin mengetahui sesuatu. Bukan foto Tia, bu Sriyantika dan papihnya yang dia perhatikan, tapi latar gedung sate yang iya lihat berasa tak asing, dia mencoba mengingat ingat sesuatu.
“Auww.” Mutiara memegang kepalanya mengaduh kesakitan.
“sayang nduk, kamu kenapa?”
“Auww tan-te-sak-it tante.” Ucapnya terbata kesakitan. “Awww!” Mutiara membungkuk bersujud, kedua tangannya memegang kepalanya kesakitan. Sekilas terlihat gambaran gedung sate dalam memorinya, bukan gambar fotonya, tapi seperti gedung sate asli. Bu Sriyantika panik dia langsung memegang kepala Mutiara. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan doa.
“As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim. Ayyasy Fiyaki”
“Mih Mutiara kenapa mih?” Tanya Tia datang menghampiri panik mengusap-ngusap punggung Mutiara, karna suara Mutiara mengaduh kesakitan terdengar sampai luar. Bu Sriyantika menggelengkan kepalanya menjawab tidak tau, dia masih memegang kepala Mutiara masih mendoakannya.
“As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki.”
“Mih kita bawa ke rumah sakit mih.” Ungkap Tia panik. Mutiara menggelengkan kepala seraya mengisyaratkan tidak setuju, dia sudah mulai terlihat tenang.
‘As alullohal adzim robbul ‘arrsyil adzim, ayyasy fiyaki.’ terdengar suaranya yang lirih mengikuti do'a yang dilantunkan bu Sriyantika.
Cukup lama mereka berdiam diri, bu Sriyantika melanjutkan doanya dengan suara yang lirih, Mutiara berbaring diatas sajadah yang sudah acak-acakan. Kepalanya disandarkan dipaha bu Sriyantika menyamping, pandangannya kosong tak tahu melihat kemana. Wajahnya sayu, terlihat garis air mata dari matanya menahan rasa sakit tadi, perlahan dia mengedipkan matanya membuat sisa air mata yang bergelayutan terjatuh.
“Nduk kamu udah baikan?” tanya Bu Sriyantika cemas.
Mutiara bangun dari pangkuan bu Sriyantika menarik nafas dalam, mengangguk.
“Ra, kita ke rumah sakit ja yuk sekarang!” ajak Tia keukeuh.
“Engga ti, ini cuma butuh istirahat aja.”
“Betul kata Tia nduk, kamu harus chek ke rumah sakit.”
“Muti pengen tidur dulu tante.” ujarnya memegang dahinya menahan sedikit rasa sakit.
__ADS_1
“Ya udah ayo gue anter, loe istirahat dikamer gue aja, biar loe gak usah turun ke bawah. Nanti siang kita cek ke rumah sakit.” Mutiara mengangguk menyetujui Tia. Dia di papah oleh Tia dan bu Sriyantika disebelah kanan dan kirinya ke kamar Tia.
#
“Kamu gak berangkat kerja nduk?” Tanya mamihnya yang membawakan jus apel untuknya. Tia yang sedang mengotak-atik laptopnya duduk di sofa ruang tengah lantai dua.
“Enggak mih, kan Tia mau nganter Mutiara ke rumah sakit.”
“Ya kan Mutiara bisa dianter sama mamih, itu gak papa kamu sering bolos dari kantor.”
“Enggak mih, biar Tia aja, lagian Tia kan bosnya terserah Tia dong mau masuk ato enggak.” Ucapnya cengengesan. “Kalo soal kerjaan Tia masih bisa kontrol via ini sama ini.” Telunjuknya menunjukkan ke hp dan laptopnya.
“Bos Putri Tyaningsih Suryadi pemilik CV Zoe Agency.” ejek mamihnya tertawa. “Gimana sih itu nama berbanding ke balik gitu.” tambahnya.
“Akh mamih.” Rengek Tia manja.
Tia melihat kearah pintu kamarnya yang terbuka, disana Mutiara berdiri ikut tertawa. Sepertinya dia sudah lama mendengar percakapan mereka berdua.
“Lho ra, loe ngapain disitu.e..e..e!” Tia berlari menghampiri Mutiara cepat hendak bermaksud memapahnya.
“Stop! mau ngapain?” ucap Mutiara tertawa melihat tingkah laku Tia. Tia kaget menghentikan langkahnya.
“Ya mau bantu elo lah.” Ujarnya kuatir.
“Gak usah.” Mutiara menggelengkan kepalanya dan memainkan telunjuknya mengisyaratkan dia tidak mau. “Gue bisa sendiri.”
“Mau kemana loe?”
“Mau ke sana.” menunjuk kearah kursi ruang keluarga.
“Ayo gue papah?” Tia besiap-siap memegang badanya.
“Tia gue bisa sendiri.” Mutiara keukeuh.
“Miihhh.” rengeknya melihat ke arah mamihnya.
‘Biarin’ bisik mamihnya. Tia membiarkan Mutiara melaju bejalan dengan santai menuju sofa, Tia dibelakannya mengikutinya. Tangannya diangkatnya barsiap-siap menahan takut Mutiara terjatuh. Mutiara Sesekali melihat ke belakang tertawa melihat tingkah Tia yang begitu mencemaskannya. Dia duduk dikursi sebelah sofa bu Sriyantika .
“Gimana sayang uda baikan?” tanya Bu Sriyantika tersenyum ramah.
“Udah tante.”
“Ya udah bis dhuhur kita ke rumah sakit ya?” tanya Tia.
“Gak usah ya, kan kemarin baru pulang dari rumah sakit.”
“Tia bener sayang, kamu harus kontrol.” bujuk bu Sriyantika.
“Gini aja, Mutiara kan disuruh kontrol ke rumah sakit per minggu, nanti aja pas udah seminggu kita kesananya.”
“Insya Allah enggak papa.”
“Ya udah gue telpon suruh dokternya kesini ja ya?”
“Eh kok gitu?”
“La elo susah banget diajak ke rumah sakit.”
“Iya mamih setuju.” Ungkap mamihnya.
“Tante, Tia, Mutiara bosen dirumah sakit, baru aja Mutiara keluar dari sana, masa disuruh kesana lagi, gini deh kalo sakit kepala Mutiara muncul lagi kaya tadi, Mutiara mau deh kontrol ke rumah sakit.” Tia dan mamihnya saling bertatapan heran, masih cemas.
#
Sehabis salat ashar Mutiara asik menonton tv lantai bawah, disebelah nya Tia tengah asyik dengan laptopnya mengerjakan kerjaan kantornya. Bu Sriyantika datang membawa cemilan frienfries.
“Akh!” teriak Tia memukul pahanya, mengagetkan Mutiara dan mamihnya.
“Eh kenapa kok teriak-teriak gitu nduk?”
“Ini mih si Dian kok power pointya belum timing, ini Tia mau nge slide show otomatis gak bisa, aduh ini gimana cara ngetimingnya?”
“Balikin lagi aja ke dian suruh ngetiming.” celetuk mamihnya.
“Pasti lama tu anak.” gerutu Tia.
“Sini gue coba.” Mutiara menawarkan jasa.
“Emang bisa?”
“Gini aja, kalo emang takut file nya rusak, dicopy dulu lalu gue edit copianya, gimana?”
Tia mengkopi filenya dan menyerahkan laptopnya ke Mutiara. Mutiara dengan sangat cepat mengotak-atik laptopnya. Dia buka power pointnya melihat slide per slide, lalu dia mengklik menu toolbar. Jarinya dengan lugas mengoperasikan aplikasi power point, seakan dia memang sudah biasa menggunakannya.
“Ini mau pake soundtrak?” tanya Mutiara.
“Iya.”
“Lagunya filenya dimana?”
“Di D, musik”
“Ini pilih mau lagu apa?” Mutiara menyodorkan laptop menyuruh Tia memilih lagu.
__ADS_1
“Oke gini pas gue klik rehearse timing waktu berjalan, nah ini timernya,” telunjuknya meunjuk ke pojok atas kiri laptop. “Nah loe yang nentuin durasinya, kalo loe pikir cukup loe bilang cukup, gue yang ngeklik kursornya.” Tia mengangguk.
Mutiara mulai menekan kursor , timing di slide pertama berjalan sekitar 12 detik karna animation yang cukup banyak.
“Cukup.” ucap Tia
“Cukup. “ ucap Tia lagi beberapa detik kemudian.
“Cukup.”
Bu Sriyantika yang tengah asyik duduk di sofa memperhatikan mereka berdua bahagia, dia berasa mempunyai dua putri yang sedang belajar bersama.
TING TONG, suara bel berbunyi, mbok Sum dengan langkah cepat menghampiri pintu depan.
“Ndoro dokternya sudah sampe.”
“Owh suruh kesini saja mbok.”. Mutiara yang tengah asyik mengoperasikan laptop terhenti mendengar kata dokter.
“Tante manggil dokter?”
“Bukan tante, tapi Tia.”
Mutiara langsung melihat ke arah Tia, meminta penjelasan.
“Eh bukan gue, tapi dokternya yang mau kesini sendiri.” Elaknya.
“Gimana bisa?”
“Ya bisa lah tadi gue telpon,
“Dok ini gimana ya Mutiara tadi subuh tiba-tiba kepalanya sakit, itu kenapa ya?”
“Owh datang kesini aja!”
“Iya dok masalahnya dianya gak mau ke rumah sakit.”
“Owh ya sudah, nanti sore habis jam pulang, saya yang kesitu , alamatnya dimana?”
“ Tuh kan gue gak nyuruh dia datang kesini dianya aja yang mau!!” Tia menirukan percakapannya tadi siang dengan dokter, dengan suara dokter yang di basskan. Bu Sriyantika tertawa melihat tingkah laku anaknya.
“ Udah nduk ga papa periksa aja ya, biar kita tau keadaan kamu.” Bujuk bu Sriyantika tersenyum.
Tak lama dokter spesialis tersebut datang memeriksa Mutiara.
“Mbak Mutiara ini kalo dari pemeriksaan fisik, Alhamdullilah baik-baik saja. Apa yang terjadi tadi pagi, bisa saja itu pertanda awal yang baik akan kembalinya ingatannya. Kembalinya memori seseorang itu tergantung dari pasiennya itu sendiri, bisa cepat bisa lama, bahkan ada yang membutuhkan waktu belasan tahun. Hal ini akan sering terjadi, jadi kamu harus sabar ya menahan rasa sakitnya.” Jelas Dr. Agung panjang lebar.
“Baik dok.” Ucap Mutiara.
“Mbak, ingatan itu bak air yang mengalir, jangan ditahan atau dipaksa untuk mengingat nanti malah kepalanya yang sakit. Biarkan air itu terus mengalir maksudnya biarkan ingatan itu datang dengan sendirinya, diiringi dengan terapi yang akan mbak lakukan itu merupakan bentuk ikhtiar untuk mengembalikan ingatannya. Saya tuliskan obat penahan nyeri, ini diminum ketika sakitnya muncul.” Dokter menyerahkan resep ke Tia.
“Kalo gitu saya pulang dulu ya? Sehat ya mbak Mutiara, Semoga Allah memberikan kesembuhan pada mbak Mutiara.”
“Aaaamiiiin makasih ya dok.”
“Sama-sama.”
“Mari dok saya anter.” Ucap Tia. Dokter beranjak dari kursinya Tia mengantarkan dokter ke pintu depan.
“Kamu yang sabar ya nduk?”
Mutiara mengangguk, tersenyum.
“Tante, ajarin Mutiara doa.”
“Doa apa?”
“Itu tan yang tadi pagi, mmm, owh As Alullohal ... hal Adzim ..."
“ Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki” sambung bu Sriyantika.
“As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki.” ucap Mutiara lancar seakan akan dia kenal dengan doa tersebut.
“Itu doa yang papihnya Tia ajarkan ke tante, jadi kalo ada bagian tubuh yang sakit, Mutiara baca doa tersebut paling sedikit tujuh kali, sambil menyentuh atau menepuk-nepukan ke badan yang sakit Insya Allah dengan kehendak Allah sakitnya langsung sembuh. Dari dulu Tia kecil sampe sekarang tante sering pake doa ini.”
“Artinya apa tante?”
“Aku memohon atas nama Allah tuhan yang Maha Agung, pemilik singgahsana yang Agung,....”
“Agar menyembuhkanmu.” sambung Mutiara.
“Kok tau nduk?”
“Cuma nerka aja tan.”
Bu Sriyantika melihat heran ke arah Mutiara. Tak lama Tia datang dari ruang tamu.
“Udah pergi nduk dokternya?”
“Udah mih, mih Tia pergi dulu ya mau beli obatnya.”
“Nanti aja Tia, ini selesain dulu kerjaanya.” elak Mutiara
“Kan dah beres, gue pake yang tadi loe edit aja, hasilnya me-muas-kan.” ujar Tia
__ADS_1
mengancungkan jempol. “Udah akh, dah dulu ya, Assalamualaikum.”
“Walaikumussalam warohmatullohi wabararokatuh” ucap bu Sriyantika dan Mutiara kompak.