
Sepanjang lorong toko Rara berjalan tersenyum bahagia, satu hal yang baik dia temukan pada masa lalunya. Hatinya berbunga-bunga bak seperti orang yang jatuh cinta. Rio di sampingnya senang melihat Rara tersenyum, sesekali dia menggoda Rara dengan melihat lihat-lihatkan wajahnya padanya.
“Apa aa?” Rengek Rara pada Rio. Rara yang biasanya ketus dan judes dia merengek manja pada Rio.
“Enggak, saya merasa senang melihat kamu tersenyum seperti ini, semoga Allah selalu melimpahkan kamu dengan kebahagiaan agar kamu bisa tersenyum manis seperti ini,” ucap Rio.
“Ha ha ha aaamiiin,” ujar Rara. Kali ini dia tidak marah Rio menggodanya. Hal yang jarang dia lakukan pada Rio, dan Rio pun bahagia Rara bisa bersikap ramah padanya.
Rara berjalan berdampingan mengobrol akrab, kali ini pun dia tidak menghindar ataupun menjauh menjaga jarak. Sepanjang jalan Rara pun bersikap ramah pada Rio, bahkan sesampainya mereka di food garden.
“Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu,” sapa Rara semeringah pada Tia dan Bu Sriyantika.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu,” jawab Bu Sriyantika dan Tia kompak.
“Cieee yang udah akur,” goda Tia melihat sikap ramah Rara pada Rio.
“Paan sih loe jangan mulai deh!” elak Rara.
“Iya nduk tante seneng liatnya kalian bisa akur gini,” tambah Bu Sriyantika.
“Owh iya tante, ini kerudungnya, tadi pake uangnya a Rio dulu,” ujar Rara mengalihkan pembicaraan.
“Makasih ya le,” sahut Bu Sriyantika pada Rio.
“Sama-sama tante,” balas Rio tersenyum manis.
“Hayu kita pulang,” ajak Bu Sriyantika.
💚💚💚💚💚💚💚
Bandung menjadi lebih indah pada malam hari, berhiaskan kemerlap\-kemerlip lampu jalan. Rio yang sedang menyetir lebih sering melihat wajah Rara dari kaca spionnya, dia begitu menikmati pemandangan yang jarang diliatnya yaitu senyum manis Rara. Rara dan Tia duduk di jok belakang. Rara yang melihat indahnya lampu malam menghiasi kota Bandung, tak henti\-hentinya tersenyum bahagia mengingat gadis kecil bernama Fita yang begitu menyukai kerudung pemberiannya.
“EHEERMM!” Goda Tia membuyarkan lamunan Rara.
“Ada yang lagi seneng nih bis jalan sama sang kekasih, pantesan aja lama.” Tia malah salah paham mengartikan senyumnya Rara. Bu Sriyantika menengok ke belakang melihat Rara.
“Tia, gak lucu tau!” ujar Rara kesal.
“Aduh mih gimana nih mih, ini anak gadis mamih lagi kasmaran,” tanya Tia pada mamihnya lanjut menggoda Rara.
“Mamih seneng kalo kalian berdua saling mencintai,” jelas Bu Sriyantika malah membuat Rara bingung dengan celotehnya tiba-tiba berbicara cinta. Sedangkan Rio tersenyum mendengar celoteh Tia dan bu Sriyantika.
“Enggak tante, tante sama Tia salah paham!” elak Rara tak terima dengan perkataan Bu Sriyantika.
__ADS_1
“Salah paham gimana orang elo senyam-senyum gitu, kaya orang yang lagi berbunga-bunga,” ujar Tia.
“Kalo mamih sih pengengnya gak usah pacaran-pacaran lah, langsung nikah aja,” lanjut Bu Sriyantika tanpa menggubris perkataan Rara. Rara malah tambah kaget dan kesal dengan ucapan Bu Sriyantika yang semakin ngaco pikirnya.
“Iya mih Tia setuju, ini gimana yang cowoknya, siap gak?” tanya Tia pada Rio.
“Siap, Rio malah seneng tante, sekarang Rio juga siap, tapi sayang?” ujar Rio.
“Sayang kenapa Rio?” tanya Bu Sriyantika heran. Rara malah tambah kesal seraya mereka bertiga sengaja mengerjainya, tapi Rara memilih menahan diri tidak ikut campur dengan pembicaraan mereka.
“Sekarang KUA nya udah tutup,” canda Rio membuat Bu Sriyantika dan Tia tertawa.
“Apa kita ke rumah pegawai KUA-nya aja tante, kita suruh mereka buka KUA-nya sekarang, jadi sekarang saya bisa nikah sama Rara.” Tambahnya.
“Ha ha kamu lucu Rio,” sahut Bu Sriyantika tertawa renyah mendengar celoteh Rio.
Sebaliknya dengan Rara lebih memilih memalingkan muka kesal ke arah jendela mobil, dia mencoba memejamkan matanya. Dia lebih baik tidur dari pada mendengar celoteh mereka bertiga yang semakin ngaco.
💚💚💚💚💚💚💚
Perlahan Rara membuka matanya terbangun dari tidurnya, samar\-samar terlihat pintu garasi. Rara bingung melihat pemandangan di depan matanya. Dia melihat kaca depan dan dua jok mobil, lalu dia menoleh melihat Rio tidur di sampingnya. Rara tertidur di pundak Rio.
“Astagfirullah hal Adzim.”
“Kamu udah bangun Ra?”
“Tante Sri, Tia mana?” tanya Rara mulai panik.
“Udah masuk duluan, kamu keliatan capek. Jadi saya gak berani bangunin kamu,” jelas Rio santai tersenyum.
Rara melihat alroji di tangannya waktu, menunjukkan setengah empat pagi. Rara tambah terkejut hampir tak percaya semalaman mereka berdua tidur di dalam mobil. Mata Rara berkaca-kaca, dia merasa sedih. Marah. Kesal.
“AA JAHAT!” teriak Rara langsung mendorong Rio. Rio kaget dengan yang dilakukan Rara yang langsung keluar dari mobil.
“Ra...Ra, Rara? Tunggu!” panggil Rio berusaha menahan Rara keluar dari mobil, tapi dia terlambat. Rio buru-buru membuka pintu di sebelah nya keluar dan mengejar Rara yang hampir mencapai teras rumah. Rio meraih lengan Rara dengan cepat.
“Ra kamu salah paham Ra, aa gak ngapa-ngapain kamu tadi di dalam, cuma jagain kamu aja gak lebih,” jelas Rio cepat.
“Lepas aa!” timpal Rara marah membuang lengan Rio dengan sekuat tenaga.
“Ra apa salah aa? Aa cuma nunguin kamu, itu aja gak lebih!” jelas Rio lagi mencoba membujuk Rara.
“Aa nanya apa salah aa?” Rara diam sejenak menatap Rio sinis “BANYAK A!” Bentak Rara kesal.
__ADS_1
“Kenapa aa gak bangunin saya? Kenapa aa malah nemenin saya tidur di mobil! Itu semua salah a!” jelas Rara lantang.
“Ra, tante Sri dan Tia tau kok, mereka gak tega bangunin kamu. Karna kamu keliatan capek banget jadi mereka nyuruh aa buat nunguin kamu sampai bangun,” lanjut Rio berusaha membela dirinya.
“Itu bukan penjelasan a, itu pembelaan!” jawab Rara marah dengan intonasi mulai merendah.
“Ra, sumpah demi Allah aa gak ngelakuin apa-apa sama kamu,” ujar Rio meyakinkan Rara yang takut salah paham dengannya. Rio merasa apa yang dia lakukan itu benar. Dan Rara makin kesal dengan tampang wajahnya yang merasa tak dosa itu.
“Aa punya adik perempuan?” tanya Rara pada Rio kesal, dia berusaha mengontrol emosinya untuk membuat Rio mengerti.
“Apa?” tanya Rio heran.
“Saya tanya apa aa punya adik atau kakak perempuan?” Rara mengulang pertanyaannya dengan suara lebih keras.
“Iya saya punya,” jawab Rio singkat.
“A, bagaimana kalo seandainya adik atau kakak perempuan aa tidur semobil...,” sembari tangan kanan Rara menunjuk-nunjuk ke arah mobil.
“Sama laki-laki yang bukan mahromnya seperti yang kita lakukan tadi, walaupun si laki-laki tidak melakukan apa-apa, dia hanya menunggui adik aa tidur di mobil dan ortu aa setuju dengan hal itu, apa aa ridho?”
“Ra, saya hanya...”
“JAWAB SAYA A! Apa aa ridho?” potong Rara cepat membentak Rio.
“Tidak, Saya tidak ridho Ra,” jawab Rio menggelengkan kepalanya perlahan.
“Menurut aa apakah yang dilakukan laki-laki itu benar? dengan menunggui adik aa tidur berdua di mobil dengan alasan tak mau membangunkan adik aa karna terlihat capek dan lebih memilih menungguinya semalaman di mobil berdua sampai adik aa terbangun?” tanya Rara emosi.
“Tidak, itu tidak benar.”
“Kenapa?” tanya Rara membuat Rio diam melihat Rara.
“Kenapa tidak benar A? JAWAB!” tanya Rara lebih lantang.
“Karna laki-laki itu bukan mahromnya, dan dia tidak menghormati adik saya sebagai seorang muslimah, dan harusnya dia bisa menjaga....” jelas Rio.
“ITU YANG SAYA RASAKAN A!” timpal Rara cepat.
“Aa tidak menghormati Rara seutuhnya sebagai seorang muslimah, walaupun maksud aa hanya menjaga saya, walaupun aa tidak melakukan apapun terhadap saya, tapi kita berduaan, hanya berdua! aa tau yang aa lakukan itu persis salah,” jelas Rara berteriak membuat Rio terdiam.
“Nduk ini ada apa, kenapa kalian ribut-ribut gini, gak enak kedengaran tetangga ini masih pagi?” ujar Bu Sriyantika menghampiri Rara dan Rio.
“Iya Ra, kok loe marah-marah sih sama a Rio, harusnya elo berterima kasih sama dia, udah nungguin elo,” tambah Tia datang menyusul di belakang mamihnya.
__ADS_1
Rara menatap kesal pada Tia dan Bu Sriyantika serasa tak percaya mereka mengizinkan hal itu. Dia langsung masuk menyelonong ke rumah tanpa menjawab pertanyaan mereka, marah. Rara masuk ke kamarnya lalu menjatuhkan badannya di kasur menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia menangis di balik selimut masih tak mempercayai apa yang dilakukan Tia dan tantenya pada dirinya. Mereka berdua yang selalu menjaganya dari kaum adam malah membiarkannya tidur berdua di dalam mobil semalaman dengan Rio.