
“Trik?” tanya Tia, Rara mengangguk dengan wajah sedih. “Maksudnya gimana? trik apa?” sambung Tia heran.
Rara menceritakan kejadian barusan yang dialaminya dengan Rio, wajahnya memerah karna malu. Tia yang tadinya serius menyimak cerita Rara, malah tertawa puas bak orang melihat drama komedi. Tia benar-benar merasa geli mendengar celoteh Rara.
“Ri stop dong stop!” ujar Rara kesal melihat tingkah Tia.
Hahaha
Tia masih tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata.
“Elo lucu Ra hahaha.”
Rara kesal membuang muka melihat Tia tertawa terbahak-bahak. Tia mencoba mengontrol dirinya menahan tawanya untuk bisa berbicara.
“Eherm, tapi elo jahat Ra haha!” sambung Tia yang berbicara sambil tertawa.
“Kok jahat?”
“Ya iya lah, mancing mancing dia. Cuma php doang, Rio kan punya hasrat apalagi dia suka sama elo, wajar aja dia malah narik elo mau nyium elo, gimanapun juga dia cowok normal Rara, orang yang mancing cewek yang disukainya. Apalagi adegan ciuman hahaha serasa dapet rezeki gede dia hahaha.”
“Tapi kata Andri, dia tipe cowok alim. Dia bakal ngedorong dan illfeel sama gue kalo gue ngelakuin itu. Dia bakal ninggalin gue terus bakal milih cewek lain yang lebih baik dari gue,” jelasnya polos masih percaya dengan omongan Andri.
“Ya bedalah, pikiran orang itu berbeda-beda. Itu juga teori bodoh si Andri aja. Gue yakin si Andri juga cuma main tebak-tebakan.” Rara kesal mendengar penjelasan Tia, yang masuk akal juga pikirnya. “Tapi gue bersyukur banget Rara,” sambung Tia.
“Bersyukur kenapa?”
“Ya untung aja elo ngelakuin itu sama Rio, kalo seandainya ada cowo lain nyang ngejar-ngejar elo kaya Rio terus elo dinasehatin gini sama si Andri elo juga bakal lakuin?”
Rara kesal atas pernyataan Tia, asal ngomong seenak jidat.
“Kenapa harus bersyukur? elo mikir dong kenapa gue sampe ngelakuin hal bodo kaya gini. Gue bukan cewek murahan yang mau ngelakuin hal ini ke sembarang cowo, kalo bukan karna elo yang terus terusan ngejebak gue berhubungan terus sama tu anak, gue gak mau ngelakuin trik bodonya Andri. Ti elo sadar gak sih, dia selalu saja agresif ngelakun hal aneh-aneh sama gue, dan itu semua elo anggap biasa!” gerutu Rara marah, gadis itu langsung mengambil tasnya di atas meja lalu pergi meninggalkan Tia.
“Ra ? Rara? eh Ra gue belum selesai Ra,” panggil Tia. Rara tak menggubris malah menangis pergi.
Seperjalanan pulang Tia yang dari tadi tertawa, menjadi diam tak bergeming. Dia memahami Rara yang melakukan hal seperti itu, bagaimanapun Tia ikut andil dalam apa yang dilakukan Rio pada Rara. Tia menjadi merasa bersalah, sesekali dia melemparkan senyum mencoba meriuhkan suasana di taxi, tapi Rara tetap mengacuhkannya lebih memilih melihat pemandangan kota melalui jendela mobil.
Sesampainya di kompleks rumah, dari kejauhan terlihat mobil Rio parkir di depan rumah Tia. Rio duduk bersandar di depan bemper mobilnya, seraya dia sengaja menunggu Rara pulang.
“Tia, gue malu, gue gak mau ngomong sama dia!” ujar Rara. Tia mengangguk setuju, Rara cepat turun dari taxi dan langsung menyelonong menuju rumah, Rio dengan cepat menghampirinya.
”Ra? Rara Ra?” panggil Rio hendak meraih lengannya tapi dengan cepat Tia menghalaunya.
“A, a, bentar a bentar bentar bentar,” ujar Tia menahan tubuh laki-laki berbadan bidang itu. Rio melihat Rara berlari tidak sedikit pun menoleh padanya dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Tia saya mohon saya harus bicara sama Rara, ini ada...,”
“A saya tau apa yang terjadi, aa yang tenang dulu kita ngobrol dulu,” potong Tia cepat menenangkan Rio. Rio menghela nafas berusaha menenangkan dirinya, mereka mengobrol di depan rumah.
Cukup lama Tia dan Rio berbincang, Rara sesekali mengintip dari jendela kamar. Akhirnya suara mobil Rio terdengar sampai kamar, menandakan dia sudah pergi. Rara tengah duduk di meja rias melihat bayangan dirinya di cermin, dia menangis menyesal karna sudah melakukan hal bodoh yang dilarang agamanya, Rara beristigfar memohon ampun pada Rabb-nya. Dia menunduk malu menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya. Tak lama Tia datang langsung masuk ke kamarnya.
“Hahaha trik membuat cowok alim menjauh, gue suka triknya si Andri hahaha,” goda Tia mencoba merikuhkan suasana. Diliatnya Rara yang masih menutup wajahnya terisak, Tia langsung menghampiri memegang bahu Rara.
“Ra, hei kenapa loe nangis?” sahut Tia. “ Udah dong Ra, loe jangan kaya gini. Lagian Rio nya juga gak papa kok, dia nya juga biasa aja,” jelas Tia menenangkan Rara. Rara membuka wajahnya yang basah di penuhi air mata, Rara langsung menyusut air matanya dan mencoba menenangkan diri dengan menghela nafas.
“Gue nyerah Ti gue gak bisa, gue resign, gue balik lagi ke Semarang atau kemana lah?” ujar Rara kesal.
“APA? Udah sejauh ini loh Ra loe mau balik lagi ke Semarang? ini kenapa sih? Gara-gara Rio? Rio udah gue jelasin tadi, paling besok dia gak papa balik seperti biasa.”
“GUE GAK SUKA SAMA DIA TIA! Itu yang harus elo ngerti! Harusnya elo sadar kenapa gue bisa ngelakuin trik bodoh si Andri. Karna gue berasa gak ada harganya di depan dia Tia!” teriak Rara marah.
“Ra...?” sahut Tia memandang Rara iba.
“Gue gak tau lagi gimana caranya membuat dia menjauh dari gue,” potong Rara menurunkan intonasinya. “sedangkan elo sendiri terus-terusan ngebantuin dia buat deket sama gue. Gue kaget banget pas tau ternyata elo nyuruh bi Atik pulang waktu gue sakit, dan nyuruh Rio dengan sengaja dari awal buat ngerawat gue.”
Rara menarik nafas panjang menjelaskan kejengkelannya yang selama ini dia rasakan.
“Tia, yang gue kenal dari dulu, yang selalu ngejaga gue dari laki-laki kurang ajar. Tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat di depan Rio. Elo ngebiarin dia bertingkah seenaknya sama gue, dan itu semua bikin gue syok Tia. Gue berasa Siti Nurbaya, gue gak bisa gue nyerah,” keluh Rara sambil terisak.
“Hahaha, siti Nurbaya itu dijodohnya sama saudagar kaya aki aki. Lah ini elo, Rio mah jauh atuh, udah mah muda, kaya, ganteng soleh lagi,” ujar Tia tersenyum mencoba menenangkan Rara.
“Tiaaaaa!” Rengek Rara pada Tia yang berasa mempermainkannya.
__ADS_1
“Iya iya iya, bentar.”
Tia berjalan menghampiri dan membuka lemari pakaian mengambil sebuah map biru, lalu diserahkannya pada Rara.
“Apa ini?” tanya Rara.
“Loe buka terus baca!”
Rara membuka amplop tersebut, ada dua buah fotokopi akta atas nama Rio dan Tia.
“Ni akta elo, ini akta Rio? maksudnya gimana?” tanya Rara yang tidak memahami maksud Tia.
“Loe baca baik-baik kedua aktanya," ujar Tia tersenyum.
Rara membaca dengan seksama kedua aktanya, dilihat nama ayah Tia dan Rio sama, tapi nama ibu yang berbeda. Di tambah lagi mereka mempunyai nama belakang yang sama.
“I-ni, elo sama Rio?” ucap Rara masih bingung.
“Rio kakak tiri gue,” jelas Tia cepat, Rara terdiam masih mencoba mencerna semuanya.
“Mamih tau?” tanya Rara berfikir mungkin tante Sri mencoba menjodohkannya dengan anak tirinya.
Tia menggelengkan kepalanya, “enggak, dia gak tau kalo Rio anak tirinya,” jelas Tia yang membuat Rara bingung.
“Gue tau udah lama dari awal kuliah, pertamanya juga gue gak suka sama dia padahal dia baik sama gue. Mungkin gue gak terima karna status gue sebagai adik tiri, waktu jaman kuliah diem-diem gue sering dateng ke rumahnya hanya untuk liat papih dari jauh, cuma sekedar gue pengen nengok papih,” jelas Tia, lalu diam sejenak.
“Waktu kecil gue deket banget sama papih, sampai akhirnya kita pindah, kita pisah dan gak ada kabar dari papih. Mamih juga gak pernah cerita, jujur gue bingung. Gue kangen banget sama papih, gue nyari cara biar bisa balik ke Bandung buat nyari papih dengan kuliah di sini.” Tia bercerita dengan wajah haru sembari melemparkan senyum pada Rara.
“Pas awal semeter gue gak sengaja ketemu dia, gue liat waktu itu papih hidup bahagia dengan keluarga barunya, dan yang bikin gue kaget adalah bukan keluarga baru tapi dengan keluarga lamanya. Diam diam gue cari info lewat akta itu, liat akta dan tanggal nikah mamih sama papih ternyata mamih istri kedua papih gue.”
Air mata Tia mulai pecah menceritakan hiruk pikuk status keluarganya. Rara membaca tahun kelahiran Rio dan Tia dengan sesaksama di akta yang masih dipegangnya.
“Gue gak tau apa yang terjadi Ra, mungkin istri pertamanya tau papih punya istri kedua lalu menyuruh papih buat ninggalin gue sama mamih, apalagi papih punya dua anak dari istri pertamanya,” isak Tia sedih. Rara menyimpan map dipinggir kasurnya, lalu dia mengambilkan tisu mengelus-ngelus lengan Tia.
“Ra kota Bandung adalah kota yang paling gue hindarin, tapi pas elo minta balik kesini gue mencoba lapang dada menerima takdir. Mungkin memang takdir gue bisa liat papih lagi, gue gak tau harus senang atau sedih pas balik sini. Mamih selalu bilang papih orangnya baik dan gue harus percaya itu walaupun berat buat gue percaya, masalahnya papih gak pernah nyari atau nengok gue sekali pun. Awalnya gue acuh Ra, gue kesini mo fokus aja sama elo, bantuin loe, karna mau gimanapun elo tetep tanggung jawab gue. Pas suatu hari gue gak sengaja ketemu Rio lagi dan ternyata dia suka sama elo Ra. Itu bisa gue manfaatin buat gue nyari info keberadaan papih, tapi selama ini gue gak pernah nanya apa-apa tentang papih sama Rio. Entah kenapa bibir gue berat sekali kalo nanya soal keluarganya, antara benci sama mereka karna udah misahain gue dari papih atau malu karna status keluarga gue sebagai penghancur keluarga mereka. Entahlah Ra gue gak bisa bayangin apa yang terjadi kalo Rio tau papihnya nikah lagi dan punya anak dari wanita lain.”
Rara menyimak dengan serius, air matanya sudah mulai mengering sedari tadi. Kini malah gantian Rara merasa iba pada Tia.
“Ya itukan cuma ceritanya mamih Ra, bisa saja mamih boong. Selama ini gue diem karna kejadiannya udah lewat bertaun-taun, gue gak mau ribut sama mamih, yang gue punya cuma mamih Ra, sedangkan papih gue pergi memilih hidup dengan istri lamanya,” jelas Tia tersenyum tipis.
“Awalnya gue benci sama Rio, tiap kali liat dia gue inget papih, tapi gue mikir lagi selama ini Rio baik sama gue. Toh ini juga bukan sepenuhnya salah Rio, yang salah kan papih. Gue juga yakin Rio juga gak tau kalo papihnya punya anak dari wanita lain. Ya lama-lama gue suka, mau gimana pun Rio keluarga gue, dia kakak gue.”
Tia menyeka air matanya meraih kedua lengan Rara.
“Ra please, jangan buat gue memilih diantara elo atau Rio. Kalian berdua tu orang-orang yang gue sayang, elo udah gue anggap sodara sedangkan Rio dia juga sodara gue. Mungkin gue terlalu semangat ngejodohin kalian dan ngebebasin Rio bertingkah seenaknya sama elo, tapi di samping itu gue percaya sama dia Ra, gue kenal dia dah lama,” ucap Tia memohon.
“Kenapa dia bisa suka sama gue?” tanya Rara heran.
“Gara-gara jahe.”
Tia tersenyum menyeka air matanya.
“Jahe?” Rara mengerenyitkan dahinya, bingung.
“Inget gak waktu kita pertama jalan ke PVJ? Waktu pertama kita datang ke Bandung.”
Rara mengangguk perlahan.
“Waktu itu Thalia sakit, Rio udah susah bolak balik nyari jahe malem-malem, kebetulan dapet dari elo. Dia tau elo yang ngasih jahenya, semenjak itu dia suka sama elo, karna secara tidak langsung elo udah nolong keluarganya dia.”
Rara baru ngeh lelaki yang di PVJ yang gak mau Tia temui adalah Rio.
“Kok sampe segitunya sih, aduh Ti jangan-jangan!”
“Jangan-jangan apa?”
“Dia bikin nazar, kalo yang nolongnya cowok bakal dia jadiin sodara, kalo yang nolongnya cewek bakal jadiin dia istri.”
Rara berceloteh sembari memeluk tubuhnya sendiri merasa merinding.
“Iya,” jawab Tia cepat.
__ADS_1
“Hah? Yang bener itu, seriusan?” tanya Rara kaget.
“Hahaha ya ampun, elo tu ya kalo udah halu mirip mamih,” sahut Tia malah mengerjai Rara. “ya enggaklah. Ini semua cuma bentuk ikhtiarnya dia aja buat deketin elo.”
“Dia tau dari mana gue yang ngasih jahenya, kan waktu itu, kita gak samperin dia?”
“Dari gue.”
“Akh elo serius!”
“Hahaha, iya serius, ya masa dia nanya gue gak jawab. Waktu itu gue bilang sebelumnya pernah liat dia di PVJ nyari jahe, ya dia bilang makasih buat yang ngasih jahenya kalo aja dia tau siapa yang ngasih dia seneng, ya gue bilang elo yang ngasih.”
“Ish padahal gak usah dikasih tau jadi beribet gini kan urusannya!” protes Rara.
“ Ra emang Rio sejelek itu ya dimata elo? Mpe loe benci banget sama dia?”
“ Enggak Ti dia baik ko cuma gue tu...,”
“Tuh kan baik, udah deh. Jadi gimana elo tertarik gak sama kakak tiri gue?” tanya Tia tersenyum malah mempromosikan kakak Tirinya.
“Tia gue belum selese ngomong! Denger dulu dong gue paling gak suka kalo dia udah seenaknya, nyentuh-nyentuh gue.”
“ Cuma di bagian itu kan, sifatnya, gayanya elo suka kan?”
“I-iya suka, tapi...,”
“Nah loh elo suka kan sama dia?” Potong Tia menggoda Rara.
“Aduh Ti, denger ya gue suka sebagai temen, Kalo urusan cinta gue tutup buku dulu!”
“Loh kenapa? Ra Rio tu baik dan elo akuin itu,” Potong Tia cepat.
“Ya tetep aja gue gak suka kalo ia suka berbuat seenaknya sama gue.” timpal Rara.
“Iya iya gue janji gue bakal bilang sama dia buat jaga sikap sama elo, habis itu elo mau kan deket sama dia?” ujar Tia keukeuh masih membujuk Rara.
“Tia, bukan itu maksud gue, intinya gue rasa inimah guenya yang gak siap. Gue ngrasa gue masih...,”
“Elo takut terluka lagi kan? Rara please, coba aja buka sedikit hati elo buat dia, loe lupain kejadian buruk waktu sama Bagas. Jangan takut ngebuka hati loe untuk Rio, mamih juga suka kok sama dia. Ini tinggal elonya yang masih takut.”
Rara diam menyerap omongan Tia yang ada benarnya. Ya dia masih sangat takut membuka hati, kejadian Bagas membohongi nya menorehkan luka dalam dihidupnya masih sangat mengenang.
“Gue tau elo terluka sama Bagas, bukan berarti elo nutup diri loe, Loe harus berani nerima takdir, buka lembaran baru. Loe bisa bahagia Rara, elo berhak bahagia Ra,” ujar Tia membuat hati Rara terenyuh.
“dan yang hal yang paling gue seneng kalo elo jadi istri Rio adalah?” tambah Tia.
“Apa?”
“Elo bisa dapetin adik ipar cantik kaya gue,” canda Tia membuat Rara tertawa renyah.
“Enak aja!” sahut Rara memukul Tia dengan gulingnya.
“Hahaha susah tau dapetin adik ipar sebaik gue.”
Tia memukul balik Rara dengan bantal sembari tertawa.
“Haha Pede banget sih loe,” ujar Rara memukul balik lagi, mereka tertawa bak kakak adik yang sedang bermain perang guling, girang.
Benar kata Tia, ini jadi bahan intropeksi bagi Rara.
Setiap hati pernah terluka, setiap hati pernah hancur.
Bukan satu dua kali, ada yang ratusan bahkan ribuan kali.
Hidup ini bukan tentang berapa kali dan bagaimana kita terluka dan jatuh.
Tapi tentang bagaimana kita bangkit setiap kita jatuh.
Tentang bagaimana caranya kamu bertahan menahan sakit dan perih.
Untuk menemukan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.
__ADS_1
Yaitu kebahagiaan.