Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
17. Bagas


__ADS_3

Bagas


Sesampainya Mutiara dikantor, Ayu menyerahkan box makan siang, makanan yang mewah dari Bagas untuk Rara. Tapi Rara tak mau menerimanya malah memberikannya pada Ayu.


“Mbak Rara mbak Rara?” Mutiara heran kenapa ayu sudah memanggilnya dengan nama Rara.


“mau makan siang toh ayok kita cari makan bareng yuk?” ajak Ayu.


“Loh bukanya tadi udah gue kasih makanan.”


“Itu steaknya malah diembat mbak Tia.” Gerutunya.


“Mbak Mutiara, mbak?” Pak dito memanggil Mutiara. “Mbak itu anu, tadi malem ada yang nanya alamat mbak Muti, katanya mau ngirim bunga, jadi saya kasih alamat mbak Tia.” ujarnya.


“Jadi pak Dito yang ngasih alamatnya? Pak dito lain kalo ada yang nanya alamat tapi pak Dito gak kenal orangnya, jangan langsung dikasih, lebih baik hubungi mbak Tia ato orang yang bersangkutannya langsung, kalo orangnya berbuat macam-macam gimana?” ujar Mutiara menasihati.


“Owh iya maaf ya, soalnya dia bilang dia pacarnya mbak Rara eh maaf Mbak Mutiara magsudnya, namanya Bagas.”


“Mas Bagas yang ganteng itu, aduh mbak romantis banget sih orangnya, udah gateng, perhatian, romantis lagi, aku juga mau cowo yang kaya gitu.” ujar Ayu genit malah memuji Bagas.


“Tu ra ayu aja mau masa loe gak mau?” celetuk Tia cengengesan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


“Apaan sih loe, ayo yu kita cari makan”. Mutiara yang langsung menarik tangan Ayu kabur dari Tia. Dia tidak suka apabila Tia menggodanya dengan Bagas. Ada rasa takut yang begitu mendalam dalam dirinya.


#


Hampir jam delapan malam, Mutiara yang masih mengenakan mukena masih berzikir menyebut nama Allah dengan tangan mungilnya. Beribu-ribu kebingungan dan rasa takut menggundah-gulanakan hatinya. Bagas yang sudah menunggunya dilantai bawah dia hiraukan. Dia takut bagaimana kalo Bagas tiba-tiba mengambilnya dari keluarga ini, dari keluarga yang sudah merawatnya selama ini. Haruskan dia percaya dengan omongan Bagas begitu saja? Mutiara sama sekali tidak mengingat Bagas, semakin dia mencoba malah semakin sakit kepalanya.


Suaranya yang lembut terdengar lirih, dia mengobati rasa resah dengan asma-asma Allah. Hanya berzikir yang bisa dia lakukan saat ini, untuk mencari obat hati yang terombang-ambing.


“Nduk?” sapa bu Sriyantika dikamarnya.


“Ya tante?”

__ADS_1


“Tadi mbok sum udah dua kali lho manggil kamu, kok gak turun-turun?” Mutiara diam, matanya yang indah tiba-tiba berkaca-kaca.


“Sayang, tante tau kamu shok, kamu takut, tapi ini semua harus dihadapi sayang.” Bujuk bu Sriyantika.


“Gimana kalo dia ambil Mutiara dari disini tante, Mutiara gak mau tinggal dengan orang yang gak muti kenal.”


“Aduh kok kamu mikirnya kejauhan sih?” bu Sriyantika tertawa mendengar ucapan Mutiara.


“Ya mana mangkinlah tante ngasih kamu ke dia gitu aja, kan tante dah bilang selama ingatan kamu belum pulih kamu tanggung jawab tante, terkecuali...”bu Sriyantika menghentikan omongannya sejenak.


“Kecuali apa tante?”


“Kecuali kalo kamu nikah sama dia, ya tante sudah gak berhak”. Air mata Mutiara terjatuh dengan cepat mendengar penjelasan bu Sriyantika , dia menangis tersedu-sedu menutupi wajah dengan tangannya, seolah-olah kecewa dengan penjelasan bu Sriyantika.


“Aduh nduk kok malah nangis, kenapa sayang, ada yang salah sama omongan tante?” bu Sriyantika mengusap-ngusap bahunya mencoba menenangkannya.


“Mutiara gak mau nikah sama dia tante, jangankan cinta kenal aja muti enggak, Mutiara gak mau turun tante.” rengeknya.


“Nduk nduk denger tante, sayang, tante gak mungkin maksa-maksa kamu nikah sama dia kalo kamu gak cinta.”


“Tapi tadi tante bilang Mutiara nikah sama dia!” isaknya.


“Ya itu kan kalo kamu cinta, ya kalo enggak ya gak bisa lah.”


“Jadi gimana tante?”


“Ya udah pokonya kamu sekarang siap-siap dulu, itu kasian dia nunggu kamu hampir satu jam.” Ujar bu Sriyantika ikut menyeka air mata Mutiara.


“Tapi muti gak kan disuruh nikah sama dia kan tante?”


“Ya enggaklah sayang. Udah yuk kasian tamunya.” Mutiara mengangguk mendengarkan perkataan bu Sriyantika. Dia bersiap-siap merapikan dirinya untuk menemui Bagas.


#

__ADS_1


“Bagas, begini, sepertinya Mutiara masih kaget dengan semua ini, ini semua ujian buat hubungan kalian, kamu harus sabar dengan semua ini, Rara harus mengenal kamu dari awal lagi itu yang harus kamu pahami, jadi...”


“Assalamualaikum.” Rara datang dengan kemeja biru dan rok abu, dia terlihat cantik. Dilihatnya Bagas menggunakan kemeja polo coklat dan celana katun.


“Walaikumussalam, eh si cantik udah datang sini nduk duduk sini.”


“Maaf menunggu lama.” Sahut Mutiara pada Bagas canggung.


“Iya gak papa.”


“Jadi bagaimanapun Rara tanggung jawab kami.” lanjut bu Sriyantika. “ Dia sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri disini, kalo nak Bagas mau mengenalnya kembali, atau sebaliknya Rara mengenal Bagas dari awal, nak Bagas bisa menemuinya disini, dirumah ini, nak Bagas paham??”


“Iya tante saya mengerti.” Sahut Bagas.


“Ra?” Mutiara melihat Bagas menyaut panggilannya. “Maafin abang ya kalo ini semua membuat kamu takut, Insya Allah abang akan sabar menghadapi kamu. Kamu mau kan mengenal abang dari awal lagi?” Mutiara menangguk perlahan.


“Gini besok abang mau bawa seseorang dari keluarga abang, dia adik abang Mila namanya. Kadang kamu sama dia suka ngobrol by video call, sapa tau aja kamu masih inget dia.”


Pada pertemuan pertama Rara bertanya mengenai dirinya ke Bagas. Bagas tidak memberikan banyak informasi, dia hanya memberitahu perwatakan Rara seperti apa, Dia bilang Rara orang yang tangguh, dulu dia sekampus dengan Rara dikelas karyawan karna mereka sama-sama kuliah sambil kerja. Bagas juga bilang tidak heran Rara sekarang jadi bergerak didunia retail atau event, karna dunia itu yang Rara geluti sewaktu masih kuliah, terkadang Rara menjadi pengajar di beberapa bimbel maupun home visit ke rumah. Bagas juga bilang dulu Rara pernah bekerja di pabrik tekstil sebagai operator dan admin.


Statusnya sebagai mahasiswa yang membuat Rara bergonta-ganti pekerjaan, karna jarang perusahaan yang mau menerima karyawan sambil kuliah, karna bayaknya jadwal kuliah yang berbentrokan. Bagas bilang Rara datang ke Bandung untuk merantau meningkatkan kualitas hidupnya, orang tua Rara tidak mampu membiayainya kuliah, sehingga membuat Rara harus mencari biaya kuliah sendiri. Dan itu semua Bagas ketahui semejak menjalin hubungan dengan Rara.


Di pertemuan kedua Bagas mengajak Mila adiknya Bagas mahasiswi Undip, berharap ada secercah ingatan Rara yang masih ada. Tapi sayang Rara sama sekali tidak bisa mengingat sedikit pun tentang semuanya, semakin dipaksanya dia untuk mengingat semakin sakit kepalanya. Bu Sriyantika membujuk Bagas agar lebih sabar, dan lebih baik mengulanginya dari awal. Mila bercerita terkadang mereka sering video call by Whatsapp, Mila menunjukkan nomor sama Bagas berikan sebelumnya, hanya saja nama contak yang tertera ‘mbak Rara’. Selain itu Bagas juga memperlihatkan beberapa foto dan scrennshoot percakapannya di media sosial.


Bagas setiap hari kerja mengirim makan siang untuk Rara. Terkadang dalam seminggu sekali atau dua kali Bagas menemuinya dirumah bu Sriyantika ba’da isya ditemani Tia, dan pulang pada jam sembilan paling larut jam setengah sepuluh itupun mereka lebih sering bahas pekerjaan karna Bagas memakai agensy Tia. Bagas boleh mengajak keluar jalan Rara dengan syarat harus ditemani Tia. Sesekali gantian Mila yang menemani mereka.


Di bulan ke tiga mereka bertemu, Bagas mengajaknya ke kantornya tempat ia bekerja tidak jauh dari simpang lima, terus dia diajaknya bertemu dengan amaknya diapartementnya. Amaknya Bu Hasian begitu baik, di usianya yang tidak lagi muda dia tinggal di Semarang bersama Bagas dan adik nya Mila. Terlihat dari dia memperlakukan Rara, dia sangat menyukainya dan menganggap anaknya sendiri.


Setiap kali Rara diajak keluar, Bagas selalu perhatian pada Rara. Diperlakukannya Rara bak ratu, kadang Tia baper melihatnya. Bagas yang selalu bersikap sopan dan menghormati Rara, dia tidak pernah bersifat kurang ajar seperti laki-laki hidung belang. Sesekali dia memberikan hadiah , bunga, coklat, pernah Bagas memberikan perhiasan tapi Rara menolaknya dengan alasan dia merasa belum berhak. Hadiah termahal yang pernah Bagas berikan berupa laptop kerja untuk Rara.


Semakin lama perhatian Bagas yang diberikan ke Rara semakin membuat Rara jatuh hati padanya. Dan Bagas pun bahagia terkadang Rara memberi perhatian dengan mengingatkan dia Shalat atau mengingatkan untuk jangan lupa makan. Pernah sesekali Rara memberikan dia hadiah kemeja atau dasi, dan dengan senang hati Bagas menerimanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2