Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
I'M SORRY I LOVE YOU


__ADS_3

“Ra? ”sahut Tia muncul dari daun pintu kantornya.


“Ya?”


“Interview satu Tl lagi dong. Kos gue belum percaya sama Gilang dia kan baru jadi didampingi dulu lah! Itu pelamarnya udah nungguin elo di atas.”


“Ok.”


“Yang cepet ya, jam dua kan kita ketemu klien.”


“Iya,” jawab Rara singkat.


“Owh ya satu lagi, besok gue siapin satu kursi di ruangan elo wat staf kita, gak papa kan elo berbagi ruangan?”


“Buat Gilang ya? Gak papa sih, asalkan pintunya di buka aja terus.”


“Oke!”


Tia langsung keluar dari kantornya Rara.


Rara menjalani aktivitasnya seperti biasa setelah Bu Sriyantika pulang ke Semarang kemarin pagi. Sosok Rio sudah tak ditemuinya sejak makan malam karna pulangnya Bu Sriyantika. Dia merasa lebih leluasa dari biasanya, sesekali teringat memory flashback ketika dia bersama Rio, tapi berusaha dia halau dan menyibukkan otaknya dengan pekerjaan.


💚💚💚💚💚💚💚


Bada Isya Rara terlihat cantik mengenakan maxy dress hijau tak berlengan pemberian Bu Sriyantika untuk tidurnya, dia asyik mengetik laptop di depan jendela kamarnya. Rambutnya yang hitam terurai lebat, wajahnya bersih terlihat berseri\-seri merasakan bebasnya dari seseorang yang dia sangat tidak suka, Rio. Sesekali dia menoleh ke luar jendela kamar melihat berbagai tanaman hias yang indah disinari terangnya cahaya bulan. Rara terhanyut memandangi bulan, bulan yang bulat sempurna. Cahayanya terpancar menerangi bumi. Rara tersenyum mengagumi keindahan ciptaan sang Khalik.


Jepret! jepret!


Suara kamera Hp Tia membuatnya Rara setengah kaget. Dia melihat Tia begitu asyik memfoto dirinya. Rara heran dengan apa yang sedang dilakukan Tia.


“Aseeek,” ujar Tia bungah dengan gawainya.


“Loe lagi ngapain sih?”


“Ini ada yang minta foto,” sahutnya sambil merebahkan badannya di kasur.


‘Paling tante Sri, ’ gumamnya dalam hati. Rara mengacuhkan Tia kembali melihat bulan melalui jendela.


“Elo gak nanya siapa yang minta foto?” tanya Tia.


“Tante Sri?” tebak Rara.


“Bukan!”


“Siapa?”


“Rio.”


“APA?!”


Rara kaget, berani beraninya Tia mengirimkan fotonya dalam keadaan tak berhijab pada Rio. Dia cepat merebut Hp Tia langsung melihat layar hpnya, diliatnya chat Bu Sriyantika yang meminta foto Rara menanyakan keadaannya. Tia mengerjainya, dia tertawa puas melihat tingkah Rara yang parno.


“Maksud loe apa sih?!” Rara melemparkan hp Tia ke atas kasur. Kesal.


“Ngegodain orang yang lagi kangen aja,” ujarnya cengengesan.


“Kangen? siapa?”

__ADS_1


“Ya elo lah sama Rio, iya kan?”


“loe tu ya, ampun!”


“Ra, gue bikin status foto loe ya, Memandang bulan dalam merindukan kekasih. Ha ha ha,” ujar Tia puitis. Rara mengeleng-geleng kepalanya greget melihat jailnya Tia.


DRRT DRRT DRRT, gawai Rara berbunyi, dilihatnya nomor yang tak dikenal. Dia menswipe layar hpnya.


“Hallo Assalamualaikum?”


“Wa’alaikumussalam.”


Rara mengenal persis suara siapa yang ada di hpnya. Rio, bagaimana bisa dia mendapatkan nomornya?


“Rara desainnya saya udah kirim by email,” ujar Rio yang malah membahas pekerjaan. Tumben pikirnya.


“Owh i-ya a, saya cek sekarang!”


“Maaf ya ganggu malem-malem, soalnya Tia bilang dia males jadi perantara terus. Nyuruh saya langsung menghubungi kamu langsung.” Rara melihat ke arah Tia dengan kesal.


“Siapa?” tanya Tia penasaran. “A Rio ya?” tebak Tia.


Rara mengelak menggelengkan kepalanya, tak mau Tia menggodanya lagi.


“Iya, sebentar saya cek dulu,” jawab Rara. Dia yang fokus hendak mengecek email kaget dengan Tia yang tiba-tiba merebut hpnya. Tia melihat layar hp Rara tertera nomor yang dia kenal, nomor Rio.


“Halo a, ada yang seneng dapat telpon dari aa, kangen katanya,” ujar Tia tertawa berlarian. Rara langsung mengejarnya dan merebut hpnya balik.


“Tia loe apa-apaan sih!”


Tia malah tertawa tak menggubris perkataan Rara, pergi dari kamarnya.


“Ya?”


“Jangan di denger Tia jail.”


“Iya saya tau. Gimana emailnya udah ada?”


“Iya ini ada, besok saya komfirmasi ke klientnya.”


“Ok, wassalamualikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


Rara heran dengan perubahan Rio yang tak menggombalinya. Rupanya dia sudah merasa kehilangan gombalan Rio.


DRRT DRRT.


Hp Rara berbunyi lagi, diliatnya nomor Rio memanggil lagi.


“Hallo Assalamualaikum,” ujar Rara menjawab panggilan telepon.


“Wa’aikumussalam, Rara saya bisa minta tolong kamu keluar?”


“Ada apa?”


“Tolong keluar sebentar,” ujar Rio.

__ADS_1


“RAAA? RARA!” teriak Tia di depan rumah.


“Sebentar!” teriak Rara menjawab Tia.


Rara menutup ponselnya, dia mengenakan kerudung pasmina dan kardigan untuk menutupi lengannya. Setelah itu dia keluar kamar menuju teras. Tia di depan rumah tak henti-henti memanggilnya. Rara kaget matanya terbelalak, ternganga menutup mulutnya melihat Rio di depan gerbang rumah membawa karangan papan bunga besar mawar putih ada tulisan,


‘I’m sorry Rara by Rio’ dengan mawar merah.


“Romantis banget sih laki loe Ra.” Tia menyenggol lengan Rara malah kagum dengan yang dilakukan Rio.


Rio menghampiri mereka, tangan kanannya di sembunyikan dibelakannya.


“Aa ini apa-apan!” sahut Rara marah.


“Ini sebagai permintaan maaf saya,” ujar Rio tersenyum manis sembari mengeluarkan tangan yang disembunyikan yang dibelakannya. Rio menyerahkan boneka Tedy yang membawa love dengan tulisan,


‘I Love U’.


Rio memencet perut bonekanya, boneka tersebut mengeluarkan suara,


‘I’m sorry, I love you’.


“Ini buat kamu,” ujar Rio tersenyum.


“Aa lebai!” Bukannya kagum Rara malah marah.


“Saya masih bisa menahan diri kalo kamu marah, tapi kalo tidak bisa melihat wajah kamu saya tidak akan tahan,” gombalnya lagi.


“Apa?!” bentak Rara.


“Rara, saya akan mencari seribu alasan, seribu jalan untuk bisa ketemu kamu. Walaupun tante Sri sudah tidak ada disini dan saya tidak bisa sarapan atau makan malam bareng kamu lagi. Saya akan mencari cara agar bisa ketemu terus sama kamu, melihat wajah kamu.”


Rara merasa sangat kesal dengan ucapan Rio. Dia yang bersusah-susah payah menghindarinya, Rio malah mati-matian mengejarnya.


“A punteun( maaf) ini bunganya jadinya dimana?” sela si bapak tukang.


“Dibawa masuk aja bunganya pak,” jawab Tia


“Tia!” Rara marah pada Tia yang malah ingin memasukkan karangan bunga pemberian Rio ke dalam rumah.


“Ra, elo mau tetangga-tetangga yang lewat di depan rumah kita liatin nu bunga ini? ya gue mah sih santai. Paling elo yang malu, tuh nama elo terpampang gede di bunganya,” jelas Tia. Rara diam bergeming, benar apa yang dikatakan Tia.


“Saya pamit, wassalamualikum.”


“Wa’alaikumussalam,” jawab Tia dan Rara. Rio pergi dengan wajah semeringah, Rara malah makin kesal dibuatnya.


💚💚💚💚💚💚💚


“I’m sorry, I love you. I’m sorry, I love you. I’m sorry, I love you.”


Tia memencet bonekanya berulang-ulang sambil tertawa dikamarnya.


“Tiaaa berisik!” ujar Rara kesal yang berusaha tidur terganggu dengan Tia yang asyik memainkan boneka pemberian Rio.


“I’m sorry, I love you.”


Tia tidak menggubris Rara dia memencet sekali lagi bonekanya. Rara geram, dia merebut boneka nya dari Tia, lalu dilemparnya ke lantai.

__ADS_1


“Rara! gak sopan tau itu pemberian orang.”


“Berisik Tia tidur besok masuk kerja!” keluh Rara. Dia menutupi kepalanya dengan selimut mengusahakan dirinya untuk tidur.


__ADS_2