
“Alhamdulillah bagus Ris, wah makan-makan nih.” Ujar Tia mengecek laporan Haris supervisornya mengetahui beberapa event nya berhasil , Ayu dan Haris sedang di kantor Tia menyerahkan laporan mingguan.
“Aaamiiin.” Ujar Haris girang.
“Alhamdullilah target udah kecapai mbak, owh iya mbak Rara udah rekrut TL baru buat gantiin Bella?”
“Eh iya belum ada kabar sih, emang ini udah berapa hari?"
“Tiga hari mbak.”
“Yu? Rara gak ngomong apa-apa soal ini?”
“Belum sih mbak, mbak Rara juga gak merekrut TL ini malah nyuruh aku nyari lowongan buat SPG.”
“Aduh Ris belum ada kabar, kemana tuh anak, kok meeting lama banget ya?”
“Ya monitoring anak buahnya mbak Bella mbak bareng Fani.” ujar Ayu.
“Tu anak turun langsung?” tanya Tia kaget.
“Iya kan harus ada yang monitoring, emang mbak Rara gak cerita?” ujar Ayu.
“Ya enggak sih dia cuma bilang dia yang handle buat nyari TL baru.”
“Aduh mbak saya jadi gak enak, harusnya saya yang turun, kan Bella anak buah saya .” Ucap Haris minder.
“Ya pasti Rara nggak ngasih, kan elo lagi sibuk sama event beberapa produk lokal, gini aja yu coba gue minta data TL deh siapa tahu aja bisa di rolling gitu.” ujar Tia sembari sedikit memutar-mutarkan kursinya santai.
“Baik mbak.”
Ayu dengan cepat pergi keluar mengambil file yang diminta Tia dan kembali memberikan file pada Tia, cukup lama Haris dan Tia memilih dan mencari Tl yang bagus untuk pengganti Bella.
“Kalau gue liat sih ini yang track recordnya bagus tu Rani."
“Ya sih mbak, aku juga mikir gitu.”
“Ya udah oke, Ris besok loe suruh Rani ngadep Rara ya, jangan lupa bilang dulu sama dia.”
“Siap mbak.”
#
Keesokan harinya Rani Menghadap Rara dikantornya.
“Iya Ran kenapa ?” tanya Rara pada Rani dikantornya.
__ADS_1
“Aku disuruh mas Haris kesini, katanya mau disuruh ganti Bella?”
“Haris?” tanya Rara bingung dia merasa tak menyuruh Haris untuk memanggil Rani.
“Iya mbak.” Jawab Rani.
“Oh ya emang posisinya Bella emang belum ada yang ganti, tapi tetep kamu harus ikut tes dulu.”
“Tes dulu mbak? Emang ada kompetitor?”
“Ini bukan masalah ada atau enggak ada kompetitor, ini masalah layak atau enggak layak, kalau kamu layak masuk kualifikasi pasti kamu langsung di tempatin di situ. Kamu tetap harus ngikutin tes sesuai prosedur kalau kamu mau jam 9 hari Senin kamu bisa ikut tesnya.”
“Saya mau mbak saya ikut.” Ujar Rani semangat. Baginya ini merupakan salah satu kesempatan besar bisa memegang produk premium jika dia lulus.
Rani keluar dari kantor, Rara langsung menelpon Haris mengkonfirmasi mengapa dia memilih Rani untuk menjadi pengganti Bella. Haris menjelaskan bahwa itu adalah keputusan Tia, tak lama Tia datang ke kantornya.
“Cantik nih ada bekal titipan dari Bagas.” ucap Tia datang membawa bekal makan siang lezat, dia langsung duduk menjatuhkan badannya di atas sofa kelelahan.
“Ti elo yang nyuruh Rani buat gantiin Bella?"
“Huum, habis loe kelamaan sih, apalagi pas gue denger elo turun tangan ngurusin kerjaannya TL, elo tu dah sibuk Ra. Ngapain sih lah nambah-nambahin kerjaan segala, nggak capek apa?”
“Ya bukan gitu, gue kan harus pilih dulu yang bener yang mana, toh Senin depan juga ada test nya.”
“Udah gak usah pake test-test lah si Rani udah berpengalaman ini.”
“Owh ya ya, tapi kok loe gak buka lowongan TL? eh bentar elo udah punya kandidat?”
“Iya sih, tp …”
“Tapi kenapa? Ya udah gini aja, loe suruh si Rani test sama kandidat elo nah yang paling bagus yang kita ambil.”
“Ok bos.” ujar Rara girang sembari jarinya membentuk huruf O.
Hari Senin hari yang ditunggu-tunggu, Rara sedang asyik mempersiapkan tes untuk perekrutan Tl baru di ruang meeting.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. "Salam Vivi masuk ke ruang meeting.
“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. “ jawab Rara berbinar-binar mengetahui yang datang ke kantor nya adalah Vivi.
“Mbak saya gak telat ikut test nya?” ujar Vivi tersenyum canggung.
“Enggak kok kamu malah datang setengah jam lebih awal.” Ujar Rara tersenyum hangat melihat alrojinya.
“Kamu mau ikut test?"
__ADS_1
“Iya mbak.”
“Pacar kamu ngijinin?”
“Saya sama Erik udah putus mbak.” ujarnya, terpasang senyum lebar di wajah Rara. Dia merasa bangga pada keputusan yang Vivi ambil.
“Assalamualaikum?" sapa Rani masuk keruangan, Rara Dan Vivi membalas salam Rani.
“Loh Vi kok kamu ada disini?” tanya Rani yang merasa aneh salah satu anak buahnya, Vivi ada di ruang meeting gak masuk kerja.
“Rani, Ini Vivi kompetitor kamu, kalian akan ngikutin tes secara fair, dan hasil yang terbaik yang akan menggantikan posisi Bella menjadi TL produknya Pak Pendi.” jelas Rara.
Rani kaget ternyata kompetitornya adalah anak buahnya sendiri. Tapi dia merasa sedikit lega, ia merasa dirinya lebih baik dibandingkan Vivi anak buahnya dan dia yakin bahwa dirinya akan menang.
Tes berjalan hampir seharian, dimulai dari tes psikolog, tes pengetahuan, tes dan tes wawancara oleh Tia, Haris dan Rara. Dari segi pengalaman Rani memang jago tapi dari segi poin ke-3 test tersebut, 2 test Vivi lulus jauh lebih unggul dibandingkan Rani. Sehingga posisi TL di menangkan oleh Vivi. Dan keesokan harinya Rara memperkenalkan Vivi sebagai TL baru pemegang produk premium pengganti Bella.
Seminggu Vivi sudah menjabat sebagai TL anak buah Harris. Setiap hari dia datang ke kantor dan siangnya setelah dzuhur lanjut keliling toko monitoring anak buahnya. Dan hari ini pun dia seperti biasa mengantre bergantian shalat dzuhur di mushola sebelum monitoring. Dia menunggu di kitchen diliatnya ada Rara atasannya sedang mengisi air di tuperwarenya.
“Mbak?” sapa Vivi girang.
“Ya Vi?” ujar Rara selalu menjawab tersenyum hangat, entah kenapa Rara sangat menyukai Vivi yang merupakan sosok gadis pekerja keras ini. Tiba-tiba Vivi memeluknya, Rara sedikit kaget dengan apa yang dilakukannya.
“Makasih mbak makasih.” Ujar Vivi semangat sembari mengelus bahu Rara lalu melepaskan pelukannya.
“Buat?”
“Nasehat mbak, makasih.”
“Sama-sama Vi.” Ujarnya tersenyum. ”Udah berapa lama ngejomblo?” tanya Rara tertawa menggoda Vivi.
“Dua minggu mbak, waktu kita ngobrol di rooftop pas Erik minta putus. aku enggak nelpon dia balik, terus tiba-tiba besoknya dia nelpon aku minta balikan, terus aku ngomong langsung aja ke dia kalau aku mau udahan aja sama hubungan ini.”
“Owh yaa?” tanya Rara seakan gak percaya, Vivi mengangguk tersenyum semangat berulang kali.
“Jadinya kamu dong yang mutusin dia?” tanya Rara membuat Vivi tertawa geli. “Gimana testimoninya menjomblo dua minggu?” goda Rara lagi.
“Awalnya susah sih, aku sekuat tenaga istiqomah, berdoa, minta pertolongan sama Allah, Alhamdulillah sejauh ini seru kok. Aku jadi bisa fokus sama kuliah aku, aku juga bisa fokus sama kerjaan aku yang sekarang, jadi lebih tenang, serasa punya tantangan baru. Kalau bisa aku nggak usah pacaran aja Mbak, mendingan langsung nikah aja. Pacaran itu capek mbak, capek hati aku ngrasa gak ada manfaatnya.”
“Wah bagus itu, mbak dukung keputusan kamu. Semoga nanti yang mau sama kamu langsung ngelamar kamu. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari pada Erik.”
“Aaamiiin, semoga mbak Rara juga bisa mendapatkan jodoh yang terbaik ya mbak.”
“Aaamiiin.” Ujar Rara girang mengamini doa Vivi.
Realistis, pikir Vivi. Kali ini dia menggunakan logikanya. Dia tak mau cita-cita dan dunianya hancur oleh satu pria asing trempamental. Vivi memang mencintai Erik bahkan sudah menjadi budak cinta, tapi dengan melepaskannya itu hadiah terbaik yang bisa Vivi berikan untuk orang terkasihnya, di dalam sakitnya Vivi mendoakan semoga Erik bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik yang bisa merubahnya.
__ADS_1
Memang susah ketika hati dan akal sudah berperang, tapi spesialnya orang mukmin dia punya iman untuk mengontrol keduanya.