
ALLOHUAKBAR ALLOHUAKBAR, adan subur berkumandang. Rara terbangun, dilihatnya Tia tidur disampingnya.
“Tiaaaaa!” ucap Rara gemas memeluk kencang bahagia, sampai Tia terbangun. Dia bahagia karna bukan Rio yang dia temukan ketika dia bangun.
“Hmmm kenapa sih?” gumam Tia.
“Gue kangen banget sama loe tau.”
“Hahaha gue ngangenin ya?” jawab Tia cengengesan masih dengan mata terpejam.
“Loe jahat jahat jahat!” Tiba-tiba Rara mencubit-cubit lengan Tia.
“Ini kenapa sih bentar-bentar bilang kangen, bentar bentar-bentar bilang jahat?” gerutu Tia.
“Habisnya, masa loe nyuruh Rio jagain gue, Tia loe sadar ga sih dia itu cowo Tia. Dia bukan mahrom gue, apa kata tante sri kalo dia tau abis loe diomelin!”
“Ya jangan dikasih tau atuh!” sahut Tia malas masih memejamkan matanya logat bicara berubah nyunda.
“Ya udah pokoknya hari ini, ga usah pake Rio Rioan lagi, gue bisa kok jaga gue sendiri!” pinta Rara, Tia masih tidur tak menggubris omongan Rara.
“Ti? Tiaaa? Loe denger gak sih?” Rara menggoyang-goyang lengan Tia, membangunkannya.
“Aduh apaan sih Ra ngantuk tau!”
“Gue minta jangan nyuruh Rio jagain gue!”
Tia bangun dari tidurnya, dia meraih termometer digital milik Rio yang ada di samping mejanya, ditembaknya termometer tersebut ke telinga Rara.
“37,8 derajat, Alhamdulillah suhu loe udah mulai turun, Rio ngerawat elo dengan baik,” ujarnya tersenyum tipis.
“Jadi?”
“Ya jadi loe harus tetep dijagain sama dia, kan kata dokter minimal tiga hari.”
“Tiaaaa, gue gak mau gue gak setuju!”
“Ini pemberitahuan bukan minta persetujuan!”
__ADS_1
“Ti loe sadar gak sih apa yang loe lakuin?” ujar Rara kesal.
“Ya gue sadar Rara, gue bingung, siapa lagi coba yang bisa jagain loe. Ra gue kenal Rio dari jaman kuliah dia baik kok orangnya, loe percaya deh dia gak kan macem-macem, gue gak mungkin ninggalin loe sendiri, paham?”
“Ti coba loe liat tu pintu, itu ulahnya Rio.”
“Gue tau, a Rio udah jelasin semuanya !”
“Tia! dia yang loe bilang baik bukan playboy cap kodok, tapi playboy cap buaya. Arif aja, dia masih ada sopan-sopannya sama gue. Dia gak pernah tuh nyentuh-nyentuh gue, la Rio dia kemarin kurang ajar masa dia gendong-gendong gue dari depan ke sini.”
“Gue udah tau Raraaaaa, Rio cerita dari A sampe Z, dia lakuin itu karna loe hampir pingsan kepanasan nyuruh dia pulang, iya kan? dan yang lebih parah lagi, elo laporin dia ke polisi. Rara loe sadar gak sih apa yang loe lakuin itu jahat, sungguh terlalu!” ujar Tia menirukan gaya Dian Satro di film AADC2 dan suara Roma Irama.
“Kok gue yang jahat, dia yang jahat!” elak Rara tak terima.
“Elo yang jahat Rara, niat dia nolongin elo eh malah loe laporin polisi. Anak kecil juga tau siapa yang jahat.”
“Gue gak kan lapor kalo...,”
“Rara udah deh, elo masih tanggung jawab gue, loe lagi sakit tiga hari harus rehat dan tiga hari ini gue kerja otomatis gue gak bisa jagain elo. Gue gak mungkin lepas tanggung jawab, gue harus nyariin orang wat jagain elo dan gue pilih Rio orangnya. TITIK!!” jelas Tia panjang lebar.
“Dia cowo Tia!”
Sehabis salat subuh Tia menyuruh Rara tidur lagi, Rara tertidur pulas masih ada pusing dikepalanya. Tia membangunkan Rara jam setengah tujuh untuk sarapan bubur buatan bi Atik, setelah itu Rara minum obat dan Tia menyuruh Rara kembali untuk tidur.
“As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki.”
Samar-samar Rara mendengar doa yang sering diucapkan bu Sriyantika kepadanya, Rara bisa merasakan sebuah tangan memegang dahinya. Rara memegang tangan yang berada di dahinya.
“Tante Sri. ” gumam Rara membuka matanya perlahan, dilihatnya dia memegang tangan Rio. Rara menyangka Rio adalah bu Sriyantika, dengan cepat Rara melepas tangan Rio, kaget.
“Kenapa?” tanya Rio.
“Doanya...?”
“Iya saya ngedoain kamu, tadi itu doa meminta kesembuhan,” ujar Rio membuat Rara diam berfikir, apakah Tia yang ngajarin doa itu ke Rio?
“Kamu tidur lagi aja, ini masih jam delapan, Tia baru aja berangkat,” tambahnya.
__ADS_1
Rara melihat selimutnya sudah diganti selimut tipis berwarna hijau muda.
“Ini selimut siapa?”
“Selimut saya, selimut yang kamu pake terlalu tebal nanti panasnya malah balik ke badan kamu.”
Rio mengeluarkan termometer digitalnya dan hendak menembaknya ke telinga Rara.
“Saya bisa sendiri!” ujar Rara sewot, langsung merebut termometer dan mengukur suhu tubuhnya.
“37, 7!” tambahnya jutek.
“Alhamdulillah turun,” ujar Rio lalu dia pergi ke dapur mengambil gelas tinggi yang berisi penuh air putih.
“Minum?” tawar Rio, Rara diam melihat tingkah laku Rio. “Mau saya minum dulu?”
“Gak usah!” dengan cepat Rara mengambil gelas dan meminumnya sedikit demi sedikit.
“Rara, saya minta maaf jika ada tindakan saya menyakiti kamu dari kemarin. Saya tau kamu marah, tapi yang saya lakukan itu untuk kebaikan kamu, jadi saya harap kamu paham,” jelasnya menatap mata Rara dalam.
Sopan, ya baru kali ini Rio meminta maaf bersikap sopan. Mereka saling menatap dalam hening. Rara terhanyut dengan tatapannya, begitu lembut, seakan tulus. Mata yang indah, sangat indah.
‘Astagfirullohhaladzim, gak boleh Rara. Apa pun alasannya tetap salah!’ elak Rara dalam hati.
“Saya mau tidur dulu!” ujar Rara jutek, menghindar. Rio mengangguk lalu Rara menyelimuti seluruh tubuhnya. Jantungnya berdesir, dia malu bersembunyi di dalam selimut.
“Rara sebentar.”
Rara langsung membuka selimutnya.
“Apa?” tanyanya ketus.
“Kamu pindah ke kamar sebelah ya, nanti ada Abah Aji, mau benerin pintu. Terus kalo kamu keluar kamar ketemu sama dia jangan lupa pake kerudung, dia kan bukan mahrom kamu,” ujar Rio menyerahkan pasmina hijau pada Rara. Rara lupa dia tidak memakai hijab lalu dipakainya pasmina tersebut.
“Terus aa mahrom gitu?” tanya Rara balik.
“Insya Allah iya,” jawab Rio dengan senyumnya yang cool.
__ADS_1
Wah sengklek ni anak, Akh sudahlah terserah Rio mau berfikir apa. Jawabannya selalu saja membuat kepala Rara tambah pusing. Rara males berdebat dengan Rio, dia langsung beranjak dari kasurnya dan pindah ke kamar sebelah. Malah Rio menawarkan jasa hendak memapahnya tapi Rara marah menatapnya sinis. Entah harus bagaimana lagi, dia hanya bisa pasrah di hari kedua harus di rawat Rio lagi, yang bisa dia lakukan adalah sabar dan menjaga jarak untuk mempertahankan kehormatannya.