
#CERBUNG
#ROMANCE
#CINTA_KARNA...
#PART_12
“no, dadi iku sing (jadi itu yang) sering dijenguk ndoro?”
mbok Sum dan pakde No sedang berbincang-bincang di dapur membicarakan penghuni baru dirumah tersebut.
“huum yo, selama ni aku ndak tau mbak, saya cuma ngater sampe besment kalo ndak nunggu di taman rumah sakit.”
“wong'e ayu yo, mesake aku, ra kebayang no, ra ngerti de' e sopo, ra ono keluargane dia pasti linglung.”(orangnya cantik ya, kasian dia gak kebayang ga tau siapa dirinya , gak ada keluarganya, dia pasti bingung)
“iyo yo mbak, tapi alhamdulillah, dia ditemuke sama ndoro Sri sama non Tia, mereka baik sama mbak Mutiara”
“iya No mereka semua orang baik, semoga gusti Allah membalas kebaikan mereka.”
“ Aaamiiin.” Ucap pakde No mengamini doa kakaknya.
#
Bada shalat magrib bu Sriyantika turun dari kamarnya, diliatnya mbok Sum yang tengah sibuk mempersiapkan makan malam di meja makan.
“Mbok, Mutiara belum keluar kamar?”
“owh tadi keluar sebentar pas Ashar ndoro, habis itu masuk lagi, mungkin dia kecapean ndoro.”
“coba tolong panggilkan ya mbok, biar saya yang siapkan ini.”
“baik ndoro.”
Cukup lama mbok Sum memanggil Mutiara, Bu Sriyantika menunggu dengan sabar sembari mempersiapkan obatnya Mutiara, ‘kok lama ya?’ gumamannya. Tak lama mbok Sum datang seorang diri.
“lho Mutiaranya mana mbok?”
“anu ndoro, udah tak panggil panggil dia endak keluar, apa dia masih tidur ya?”
“masa sih?” bu Sriyantika mengerutkan dahinya heran, melihat jam sudah hampir Isya, jangan sampai tertidur dulu pikir bu Sriyantika, Mutiara belum makan untuk minum obat. “coba saya yang panggil, mbok lanjutin ini ya?”
Tok Tok Tok. “Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, nduk ini tante?”
Lama bu Sriyantika menunggu tak ada jawaban.
“nduk tante masuk ya?” bu Sriyantika perlahan membuka pintu, diliatnya Mutiara sedang berbaring terisak, dia menangis tersedu-sedu tidur tertelungkup. Bu Sriyantika kuatir dengan cepat dia menghampirinya.
“nduk, sayang, mutiara kenapa? kok nangis?” tuturnya lembut.
Mutiara masih diam menghiraukan pertanyaan bu Sriyantika menangis semakin menjadi-jadi, seakan ada amarah yang tertahan dalam dirinya.
“kenapa nduk, kamu mimpi buruk?” tanya Bu Sriyantika sembari mengelus-elus bahunya.
“tante?” ujar Mutiara bangun, wajahnya dipenuhi air mata, matanya merah dan sembam.
“iya sayang kenapa nduk, cerita sama tante?” bu Sriyantika menyeka air matanya, dia merapikan yang rambut Mutiara yang sudah tak karu karuan.
“tante saya mau pergi...”isaknya.
__ADS_1
“loh loh, mau pergi kemana?” Tanyanya heran.
Mutiara diam lama tidak menjawab pertanyaan bu Sriyantika, sesekali dia melihat wajah bu Sriyantika, sesekali dia melihat ke bawah meremas-remas tangannya kesal. Bu Sriyantika masih mengelus-ngelus pundaknya, mencoba menenangkan Mutiara.
“tante muti ara ma u per gi, se karang ju ga.” isaknya kesal.
Dia berbicara terbata-bata greget. Bisa terlihat jelas rasa marah yang dirasakan Mutiara.
“sayang nduk, tante gak mungkin ngelepas kamu dalam keadaan kaya gini, kamu lagi gak tenang nduk.” Mutiara masih menangis membisu, dia memandang wajah bu Sriyantika.
“ gak elok nduk kamu pergi dalam keadaan seperti ini, kamunya harus tenang dulu.”
“sini sini.” Bu Sriyantika memeluknya dengan hangat, “kamu mau pergi ke mana nduk?” Ujar bu Sriyantika, Mutiara masih terdiam menangis deras dipelukannya.
“kamu udah salat magrib??” Mutiara menggeleng kepalanya perlahan.
“ya sudah gini aja, kamu salat dulu, biar kamunya tenang, kan hanya dengan kita mengingat Allah hati kita bisa menjadi tenang, nanti kalo udah selesai salat, tante janji, Insya Allah kemanapun kamu mau pergi tante anter.”
Mutiara menyeka air matanya, dia mengangguk setuju.
Dia berdiam diri sejenak berusaha menenangkan diri mengontrol emosinya.
Mutiara merapikan rambut dan bajunya yang kusut, tangan lembut bu Sriyantika ikut menyapu-nyapu merapikan.
“sudah siap?” tanya bu Sriyantika, Mutiara mengangguk.
Tia yang sedang asyik duduk menikmati apel di meja makan terheran-heran melihat mamihnya menggandeng bahu Mutiara, dia melihat wajah Mutiara begitu sembam.
‘Kenapa?’ bisik Tia ke mamihnya. Mamihnya menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Tia untuk diam.
Selepas salat magrib Mutiara berzikir menyebut asma Allah mencari ketenangan batin. Bu Sriyantika yang duduk di samping ranjang Mutiara menghampirinya yang tengah duduk diam terlihat melamun diatas sajadahnya.
Mutiara mengangguk, dia memperhatikan bu Sriyantika yang tengah asyik membuka buka lembaran mushaf kesayangannya. Dia membaca lima ayat terakhir surat Al-Baqarah, Mutiara dengan seksama mendengarkannya, menikmati lantunan Al Quran yang dibacakan bu Sriyantika, sehingga membuatnya lebih tenang.
“Mutiara semua yang terjadi kepada kamu, ini semua ujian sayang. Ujiannya Mutiara, semua orang yang hidup didunia ini pasti diuji sama Allah Subhanohhuwata’ala, bahkan termasuk tante dan Tia.” Mutiara diam fokus mendengar syiar bu Sriyantika . Bu Sriyantika membuka lembaran mushafnya mencari-cari ayat yang ditujunya.
“ wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khoufi wal-juu'i wa naqshim minal-amwaali wal-anfusi was-samaroot, wa basysyirish-shoobiriin. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, Surat Al – Baqarah ayat 155.”
“allaziina izaaa ashoobat-hum mushiibah, qooluuu innaa lillaahi wa innaaa ilaihi rooji'uun”
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Al – Baqarah ayat 156.”
“kita semua milik Allah nduk, hanya kepada-Nya kita akan kembali , jadi kamu harus sabar sayang menghadapi semua ini, Insya Allah selalu ada hikmah dibalik semua ini.” Bu Sriyantika kembali membalik balik lembaran mushaf, satu ayat terakhir surat Al Baqarah dia baca.
“laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tuaakhiznaaa in nasiinaaa au akhthonaa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin”
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. Al – Baqarah ayat 256.”
“Mutiara, Allah tidak akan membebani seseorang dengan ujian yang tidak sesuai dengan kesanggupan kita. Apa yang terjadi sama kamu bukan keinginan kita semua, bukan keinginan kamu, tante, Tia, bahkan keluarga kamu, tidak ada orang satu pun yang mengingin kan ini semua terjadi. Ini semua sudah kehendak yang di Atas itu yang harus Mutiara pahami. Dan ini ujian ini diberikan karna Allah tau kita bisa kita mampu melewatinya. Yang bisa kita lakukan pada saat ini sabar tabah dan berserah diri. Ikhlaskan sayang, InsyaAllah semua akan baik-baik saja.” Mutiara terenyuh mendengar siar bu Sriyantika , dia menangis haru. Bu Sriyantika menyimpan mushafnya lalu memeluknya.
“ tenang sayang ada Tante, ada Tia, ada Allah, Dia Maha Mengetahui, Mutiara harus ikhlas ya sayang?”
“iya tante Mutiara ikhlas.” Ucap Mutiara mengangguk terisak-isak parau. Mutiara sadar kecelakaan yang dialaminya sudah kehendak yang di Atas benar kata bu Sriyantika tidak ada orang yang mau kejadian ini terjadi, dia harus ikhlas pikirnya.
Selalu berusaha berfikir positif, ketika sebuah ujian menghampiri orang mukmin. Begitulah cara Allah mencintai Hamba-Nya, Dia akan menguji hamba-Nya. Bukan kita yang tidak bisa, bukan kita lemah justru karna Allah tau kita mampu, karna Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.
ALLOHUAKBAR ALLOHUAKBAR
“Alhamdulillah, udah Isa nduk. Gimana?? kamu udah baikan cantik?” Mutiara mengangguk perlahan.
__ADS_1
“kalo gitu kita Isa dulu habis itu kita makan, lalu tante anter Mutiara.”
“tante?”
“ ya?”
“Mutiara gak jadi pergi tante.”
“kenapa? emang tadi Mutiara mau pergi kemana nduk?”. Mutiara diam malu mendengar pertanyaan bu Sriyantika.
“ya sudah kalo Mutiara gak mau jawab , gak papa, kita isya dulu habis itu kita makan ya?”
“tante, Mutiara malu kalo harus ikut ke meja makan kaya gini, tiara di kamar aja ya tan, mau sendiri dulu.”
“boleh sayang, tapi kamu tetap harus makan, kamu kan harus minum obat, nanti tante bawa makanannya ya!” tuturnya tersenyum lembut.
“Iya, makasih tante.”
Bu Sriyantika keluar kamar masih dengan perasaan cemas menerka\-nerka apa yang terjadi dengan Mutiara.
“gimana mih? Kenapa tadi Mutiara mih?” Tanya Tia kuatir mondar-mandir didepan pintu kamar Mutiara.
“mamih gak tau sayang, tadi pas sudah salat magrib? mamih sapa dia udah nangis-nangis dikamarnya, dia kaya orang yang kecewa, marah, mamih pikir mungkin dia mimpi buruk.”
“terus sekarang dia gimana mih?”
“alhamdulillah dia udah agak tenang sayang, sekarang dia lagi shalat isya”
“mih Tia masuk ya, Tia kuatir?”
“eh jangan nduk jangan, kamu harus ngasih space untuk dia nenangin diri dulu.”
“miiiih gimana ini? dia gitu gara-gara tiiaaaa.” rengek Tia manja, sedih merasa bersalah.
“eh udah sayang udah, sekarang mending kita Isya dulu habis itu kita makan malem.” Tia mengangguk menuruti perkataan mamihnya.
#
Jam sepuluh malam, Tia tidak bisa tidur karna mengkuatirkan Mutiara. Dia keluar kamarnya menghampiri kamar Mutiara.
“Tia mau kemana? Kok belum tidur.” Tanya Mamihnya yang memergokinya keluar kamar.
“Tia mau ke kamarnya Mutiara mih, Tia kuatir!”
“mamih juga gak bisa tidur, baru pertama kali mamih liat dia seperti itu, tadi dia ngerengek-rengek mau pergi.”
“pergi kemana mih?”
“gak tau dia gak bilang, lagian mamih gak mau maksa, masa sih dia mimpi buruk?”
“bisa jadi mih, kan waktu di Rs aja dia sering ngigau pas malemnya. Ya udah mamih istirahat lagi naik ke atas, biar Tia yang nemenin Mutiara di kamarnya takutnya dia kaya gitu lagi.”
Bu Sriyantika mengangguk menuruti anaknya. Tia diam-diam membuka pintu kamar Mutiara yang tidak terkunci, dilihatnya Mutiara sudah terlelap . Tia dengan sangat hati-hati melangkah agar Mutiara tidak terbangun, lalu membetulkan selimutnya yang menutupi setengah badannya. Tia naik ke atas ranjang tidur di samping Mutiara.
Dilihatnya wajah polos yang begitu sayu, matanya sebam. Dia terhanyut dengan lamunannya dengan mata yang berkaca- kaca, dalam hatinya terdapat penyesalan begitu menggebu-gebu, tanpa sadar sebaris air matanya mengalir.
“sorry” satu kata yang mempunyai arti begitu dalam baginya terlontar dimulutnya.
ALLOHU AKBAR ALLOHU AKBAR, azan subuh membangunkan Mutiara. Diliatnya wajah Tia sedang tertidur pulas disampingnya. Lama Mutiara memperhatikan Tia dengan begitu seksama, seolah-olah beribu ribu kata terlintas dipikirkannya tentangnya.
__ADS_1
"I’m forgive you.” sebuah kalimat terlontar dari mulutnya dengan suara parau.