
Air mata yang mengalir di pipi Rara adalah air mata kebahagiaan yang paling indah yang pernah dia rasakan. Dia tak henti-henti mengucap syukur pada tuhannya sang Rab bada subuh atas informasi yang didapatkannya tentang masa lalunya. Gadis mungil itu memohon ampun karna sudah berburuk sangka pada Rab-nya atas semua kejadian yang terjadi didalam hidupnya, dan dia sangat bersyukur selama ini dia bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah. Do'anya kali ini semoga dia bisa istiqomah dalam menjaga kehormatannya, karna baginya kehormatan muslimah yang sejati adalah ketika seorang muslimah bisa menjaga dirinya dari berbagai hal yang dilarang oleh agamanya, seperti yang selalu diajarkan Bu Sriyantika padanya.
Rara berhenti membaca mushafnya menunggu Bi Atik yang belum datang sedari subuh diruang tengah, jam menunjukkan hampir jam enam. Dia langsung masuk ke kamar diliatnya Tia sedang tengah asik telponan dengan seseorang sambil tiduran.
“Tia, Bi Atik kok gak dateng ya. Ini belum belanja udah mulai siang?” potong Rara.
“Gue lupa ngasih tau elo, Bi Atik ijin dia mudik ada sodara jauhnya dateng ke Lembang katanya.”
“Ikh kenapa loe gak bilang dari tadi sih! gue ‘kan belum belanja, takutnya tukang sayur gak ada ini udah siang,” gerutu Rara.
“Bentar bentar Ra! kenapa a?” sahut Tia memotong pembicaraannya dengan Rara menelpon seseorang dihpnya.
“kata a Rio tukang sayurnya masih ada di depan rumahnya.”
“Elo lagi telponan sama Rio?”
“Huum, udah cepat kejar sana keburu pergi loh!” ujar Tia, Rara heran ngapain pagi-pagi Rio menelpon Tia. Tak mau ambil pedulia Rara langsung keluar rumah mencari tukang sayur, dan ternyata benar tukang sayur nya masih standby di depan rumah Rio. Rara langsung pergi menghampiri tukang sayur dimana dua ibu-ibu sedang berbelanja.
“Eh neng Rara belanja, Bi Atik nya kemana?” tanya bu Sukma, salah satu tetangganya.
“Mudik bu ke lembang ada sodara jauh datang katanya,” jawab Rara ramah mengeluarkan senyum manis khasnya.
“Neng kapan Bu Sriyantika kesini lagi?” tanya bu Teti.
“Belum tau tante soalnya kan baru aja kemarin Rabu pulang.”
“Owh gitu, neng gimana atuh kapan undangannya dicetak sama si ganteng?” tanya bu Sukma.
“Undangan? Si ganteng?” tanya Rara heran dengan pertanyaan bu Sukma.
“Iya sama Rio?” lanjut tanya bu Teti menggodanya sembari tangannya sibuk memilah sayur.
“Gimana tante?” tanya Rara yang belum menangkap pembicaraan mereka.
“Kan Bu Sriyantika sendiri yang bilang Rio itu calon kamu, makanya dia sering ke rumah kamu iya kan?” tambah bu Teti membuat Rara terperangah kaget. Dia berfikir kenapa Bu Sriyantika bisa berbohong sejauh itu pada tetangga kompleks.
“Iya loh, Rio romantis Ra kamu beruntung, kemarin aja ngirimin karangan bunga besar buat minta maaf sama kamu, kamu habis marahan ya sama dia? saya aja sama suami saya gak gitu-gitu amat, wah saya jadi iri loh. Hahaha.” ujar bu Sukma.
“Kok tante tau?”
“Hahaha Rara Rara semua orang tau atuh, orang tulisannya aja gede ngejeblag gitu, ya tetangga-tetangga pada tau atuh.” sahut bu Sukma.
__ADS_1
Bu Teti dan si emang sayur ikut tertawa renyah mendengar celoteh bu Sukma, Rara hanya diam bisa tersenyum paksa. Tak lama Rio keluar dari gerbang rumahnya, dia sudah terlihat segar pagi-pagi mengenakan celana pendek selutut dan kaos hitam.
“Assalamualaikum pagi semua,” ujar Rio menyapa hangat.
“Wa’alaikumussalam,” jawab ibu-ibu.
“Eh si ganteng udah keluar mau belanja ya?” tanya bu Sukma.
“Iya tante,” ujar Rio sambil tersenyum.
“Kasian jadi gak bisa sarapan bareng calonnya gak ada Bu Sriyantika ya a Rio?” tanya bu Teti.
“Iya tante, kan gak enak kalo sering sering takut jadi fitnah,” ujar Rio.
Rara malah bingung mendengar percakapan mereka.
“Padahal mah gak papa atuh sarapan bareng di rumah Bu Sriyantika ‘kan ada neng Tia,” timpal bu Sukma.
“Iya lho neng Rara, kasian Rio nya tiap belanja kalo gak nuget, ya sosis, kalo gak mie, gak sehat atuh! diajakin sarapan bareng juga gak papa, ya setidaknya di masakin atuh calonya, ” sahut bu Teti pada Rara yang kebingungan. Dia hanya bisa diam menggigit-gigit bibirnya.
“Tetep aja gak enak tante, doain aja mudah-mudahan saya sama Rara bisa cepet-cepet satu rumah,” bela Rio, Rara mengerutkan dahinya kesal dengan celoteh Rio.
“Aaaamiiiin,” sahut ibu-ibu mengamini doa Rio. Rara mengaruk-garuk pangkal halisnya bingung dan kesal mendengar percakapan mereka.
“Ayam potong pejantan sekilo, tempe, tahu, bahan sayur sop, kentang sekilo, telur sekilo sama mi gandumnya,” ujar Rara cepat ingin buru-buru pergi dari situ.
“Banyak banget belanjanya neng Rara,” tanya bu Teti tersenyum.
“Iya kan bi Atik mudiknya dua hari jadi saya setok makanan buat besok juga tante, ” jawab Rara. Tukang sayur menyiapkan pesanan nya, Rara cepat membayarnya.
“A Rio bantuin bawa tuh kasian neng Rara nya bawa belanjaan banyak!” ujar bu Sukma.
“Iya tante, mang kesiniin aja,” sahut Rio.
“A gak usah saya bisa kok,” tolak Rara.
“Gak papa atuh neng Rara, kalo saya mah seneng belanjaannya dibawain sama suami saya,” bela bu Sukma pada Rio. Rara hanya tersenyum tak bisa menolak, dia tidak bisa berbuat apa-apa di depan para ibu-ibu. Rara dan Rio pamit, mereka menuju rumah Tia.
Sesampainya di depan pintu rumah, Rara meminta belanjaannya dari Rio. Rio menyerahkannya dihiasi senyum manisnya, bahagia karna bisa bercengkerama pagi\-pagi dengan Rara.
“A, aa kan bisa masak waktu ngerawat saya kenapa aa makannya cuma nugget sosis , sama mie?” tanya Rara mulai kepo.
__ADS_1
“Itu saya beli Ra, keahlian saya cuma merebus ayam membuat kaldu dan motongin sayur lalu...” Rio menghentikan omongannya.
“Lalu?”
“Kamu yang masaknya,” lanjut Rio tertawa, Rara kesal dibuatnya. “Ra kalo ada hal yang paling ingin saya lakukan sama adalah masak bareng kamu.” Ujar Rio menatap mata Rara dalam seakan memohon. Ra diam mendengar celoteh Rio.
“A saya masuk dulu, permisi wassalamualikum,” Rara pamit menghindar.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Rio.
Rio pergi dari rumah Tia, beberapa kali dia menoleh pada Rara melemparkan senyum pada Rara seakan tak rela pergi dari situ.
“Aa sebentar,” panggil Rara tiba-tiba.
“Ya?”
EHERM
Rara mendehem canggung. “M-mm ha-ri ini ada acara?” tanya Rara terbata ragu bertanya.
Rio tersenyum menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Rara.
“Nanti siang ikut saya ke cek event, aa bawa laptop lanjutin desainnya di sana, aja biar nanti saya menghubungi kliennya gampang kalo ada aa!” Bukannya mengajak Rara terdengar seperti menyuruh Rio ikut dengannya, rupanya Rara malu kalo harus meminta.
“Saya kan bisa ngerjain desainya di rumah!” sahut Rio seakan-akan dia menolak ajakan Rara. Rara kaget mendengar jawaban Rio yang tak mau ikut dengannya.
“O-owh o-ke.” Sahut Rara jutek, di dalam hatinya kecewa dengan penolakan Rio tapi dia tak mau memohon ataupun memaksa, gangsinya lebih besar. Sepertinya rencana Rara mempertemukan Rio pada Andri gagal. Rio tersenyum geli melihat tampang Rara yang jual mahal.
“Iya saya mau,” ujarnya sambil tertawa, Rara kesal pada Rio yang seakan-akan mempermainkannya.
“A? kok disini, kenapa gak masuk?” sahut Tia tiba-tiba baru keluar masih mengenakan piama panjangnya.
“Iya ini Rara ngajak ngedate.”
“Wah masa?” tanya Tia, Rara kaget dengan perkataan Rio.
“A kok gitu! enggak enggak ti dia boong,” elak Rara, tapi Rio malah tersenyum santai.
“Hahaha, iya udah kalian masuk! A bantuin kita masak, lebih tepatnya bantuin Rara masak kos saya gak bisa masak,” tambah Tia.
“Siap!” sahut Rio antusias.
__ADS_1
Kali ini Rara tak protes ketika Tia mengajak Rio masuk ke rumahnya. Rara mencoba bersikap baik, agar Rio mau ikut dengan ke event untuk dikenalkan pada Andri. Ini adalah salah satu misi terpenting untuk membuat Rio menjauh darinya