
RANCA UPAS, lokasi bumi perkemahan ospek Jurusan Teknik. Udara segar selalu tersedia di lokasi ini, ditambah suhu dingin menusuk di pagi hari. Jangankan maba, penduduk aslinya pun selalu menggigil kedinginan karna suhu teramat dingin yang selalu menusuk tulang.
Di hari ketiga semua maba bersiap-siap membereskan perlengkapan mereka untuk pulang. Termasuk team mawar, Tia yang masih di hantui rasa penasaran ke mana pergi sabuk dan topinya sesekali dia menari-cari walaupun dia sudah mempunyai atribut baru. Sedangkan diluar tenda, terlihat kang Rio dari jauh mendekat ke tenda putri.
“Assalamualaikum.” Sapa Rio ke semua maba putri.
“Siap Wa’alaikumussalam akang.”
Semua maba putri berdiri sempurna menghormati Rio sebagai kakak seniornya.
“Tia nya ada?” tanya kang Rio.
“Ada kang, sebentar.” Sarah masuk ke tenda memberi tahu Tia yang asyik mempacking ranselnya.
“Tia ada senior yang nyariin elo.” ujar Sarah yang nongol separuh tubuhnya ke dalam tenda. Tia langsung keluar tenda, dia tak mau kakak seniornya menunggu lama. Diliatnya Rio menunggunya, semua anggota berbisik-bisik menerka apa yang akan Rio lakukan pada Tia, mereka mengagumi ketampanannya.
“Siap kang ada apa?” tanya Tia.
“Kamu ikut saya.” ujar Rio, Tia di belakangnya mengikuti langkah Rio menjauh dari tenda.
“Tia? ”ujar Rio.
“Siap kang?” ujar Tia lantang.
Rio tersenyum mendengar jawaban Tia, yang menegakkan tubuhnya seraya menghadap bapak pembina.
“Kamu yang biasa aja, jangan seperti itu.”
“Iya kang,” suara Tia sudah mulai melembut layaknya suara kaum hawa.
“Saya mau minta maaf sekali lagi, saya harap bandananya tidak membuat kamu dihukum terus-terusan karna beda warna.”
“Gak papa a...” Tia menutup mulutnya keceplosan. “Magsud saya kang.”
“Gak papa kamu bisa panggil saya aa kalo diluar ospek.” tambah Rio tersenyum ramah.
“Iya a, gak papa nanti pas selesai ospek saya balikin.”
“Gak usah, itu buat kamu aja, anggap aja sebagai ganti bandana kamu yang jatuh ke sungai, saya permisi dulu Wassalamualikum.” ujar Rio pergi meninggalkan Tia.
“Wa’alaikumussalam.”
Tia senang dengan perhatian Rio, dia berasa punya kakak sebagai penjaga. Berbeda dengan gadis lain yang akan menganggap perhatiannya sebagai rasa suka atau cinta, Tia lebih memilih menganggapnya sebagai sodara, karna didikan mamihnya yang tidak membolehkannya untuk pacaran. Tia hanya ingin fokus dengan kuliah yang di pilihnya tanpa dibumbui perasaan yang akan membuat kuliahnya buyar.
💚💚💚💚💚💚💚
Jam dua belas siang para maba merapat ke masjid, setelah itu mereka berkumpul di lapang untuk makan siang. Makan sederhana dan bergizi selalu terasa enak, karna rasa lapar yang dirasakan gara-gara kegiatan ospek ini begitu menguras tenaga. Semua anggota team mawar menuju lapangan untuk bersiap-siap menyantap makanan.
“Tia ikut gue!” ujar Rima, menyeret Tia kembali ke tenda.
“Ada apa?”
“Loe inget kemarin gue ngilang waktu ngantri mau mandi?” bisik Rima dengan wajah serius.
“Iya napa?”
“Gue liat dengan mata kepala gw sendiri, Elin masukin topi ke tasnya, gue curiga kenapa Elin punya dua topi, sempat gue mau bongkar tas Elin tapi gue takut salah.” Rima melirik kanan kiri melihat keadaan takut Elin datang.
“Terus?” tanya Tia yang belum menangkap pembicaraan Rima.
“Terus tadi pagi pas gue habis mandi, gue liat ada sedikit ujung sabuk ngejuntai keluar ransel Elin gitu, gue tambah kepo, gue liat aja, ternyata diujung sabuk ada nama elo, Tia.”
__ADS_1
Tia kaget, dia langsung masuk tenda mencari-cari tas Elin, di dalam tenda ada tiga maba putri dari kelompok lain sibuk sedang packing.
“Girls, kalian jadi saksi gue.” ujar Tia pada ke tiga cewek itu, melihat tingkah laku Tia membuat mereka bingung.
“Kemarin gua kehilangan topi sama sabuk, ini tas temen gue Elin, gue mau bongkar ni tas!” ujarnya kesal, tanpa ijin Elin Tia langsung membongkar isi tas Elin.
Dia keluarkan barang-barangnya, sampai di pertengahan tas, dia menemukan sabuk dan topinya. Tak lama Elin datang masuk tenda.
“Apa-apaan ni, ngapain elo bongkar tas gue?” bentak Elin sewot.
Tia langsung menyeret lengan Elin dan mendorong Elin keluar tenda.
“MAGSUD LOE APA INI!” Bentak Tia menginginkan penjelasan dari Elin.
“Elo kalo ngomong baik-baik dong.” ujar Elin mendorong Tia balik.
“Hei! gimana caranya gue bisa ngomong baik-baik, ini sabuk dan topi gue, kenapa bisa ditas elo?”
“Mana gue tau, gue gak ngeh bisa jadi gue ga sengaja masukin topi sama sabuk loe.” elak Elin lantang.
“Gue gak bodo ****! gimana caranya topi dari tas Yeni bisa jalan sendiri ke tas elo, dasar banci.”
Tia mendorong Elin sampai jatuh tersungkur ke tanah.
“Apa loe bilang?!” teriak Elin tak terima, berdiri langsung menarik rambut Tia yang dikucir kuda.
Tia tak mau kalah dia menarik rambut Elin, mereka berdua bertengkar, sampai tersungkur ke tanah berguling-guling. Para maba malah menonton menyoraki mereka. Sampai dua senior datang dibantu maba putri memisahkan mereka.
Plak Plak !
Dua tamparan mendarat di pipi Tia dan Elin oleh teh Yanti.
"ADA APA INI!?” mereka berdua diam tidak menjawab.
“Ini teh Elin nyembunyiin topi sama sabuk saya.”
“Bener itu Elin?” tanya Teh Yanti lantang.
“Saya tidak tau teh, mungkin saya kurang konsentrasi tidak sengaja masukin sabuk sama topi nya ke tas saya.” jelas Elin mengelak.
“Bohong teh! buktinya Rima, dia liat sendiri Elin sengaja masukin topi saya ke tas diam-diam, padahal topi saya ada ditas Yeni.” jelas Tia.
Yeni, Rima dan tiga maba putri dari kelompok lain jadi saksi kronologi atas hilangnya barang Tia tapi Elin tetep keukeuh tidak mau mengaku. Dia berdalih kalo itu merupakan ketidaksengajaan, Tia benar-benar di buat kesal olehnya.
Plak Plak !
Elin mendapatkan dua tamparan kedua pipinya.
"Mau sengaja atau enggak! tetep kamu salah!" ujar teh Yanti lantang. "Gara-gara kecerobohan kamu orang lain jadi kena imbasnya!" tambahnya, teh Yanti berjalan perlahan memutari Elin menatap sinis.
“Tia! beri dua jenis hukuman buat Elin, karna dia sudah nyembunyiin dua barang milik kamu. Bebas hukumannya apa aja!" ujarnya melirik Tia.
"Saya harap kamu bijak dalam memberikan hukuman biar dia jera.” tambah teh Ina.
Tia berasa senang, dia tersenyum puas pada Elin. Akhirnya pikirnya. Tia meremas\-remas tangan kanannya seraya berancang\-ancang menyiapkan tangannya ingin menampar wajah Elin sekeras\-kerasnya. Tia mengayuhkan tangannya cepat sampai Elin memejamkan matanya kaget, sakit pasti, pikir Elin.
Cukup lama Elin memejamkan matanya, tapi tamparan Tia tak kunjung datang. Sampai dia memberanikan diri membukan satu matanya perlahan. Dilihatnya telapak tangan Tia berhenti di dekat pipinya berjarak satu centimeter. Tia tak jadi menampar Elin. Tia malah mendekatkan wajahnya ke telinga Elin.
“Terlalu suci tangan gue nyentuh pipi elo yang kotor.” bisik Tia sinis pada Elin, membuat Elin muak.
“Pertama saya ingin dia berlari dari tenda ke tenda mengumpulkan sampah sebanyak dua kantong sampah.” ujar Tia lantang tersenyum puas.
__ADS_1
“Elin ambil kantong sampah!" ujar teh Yanti.
Elin langsung mengikuti instruksi teh Yanti mengambil dua kantong sampah. Lalu dia berlari dari tenda ke tenda mencari-cari sampah. Butuh sekitar setengah jam lebih baginya bisa mengumpulkan dua kantong sampah penuh. Lalu dia simpan kantung sampah ditempat pembuangan sampah dan kembali ke tempat awal.
“Kedua pa ti?" tanya teh Ina.
“Saya pengen kamu melayani saya dan teteh Senior disini, buatin minuman sesuai permintaan mereka, di warung sana!” ujar Tia menunjuk ke sebuah warung kecil dekat masjid. "Kamu sendiri yang harus buat minumannya.”
Teh yanti dan teh Ina tersenyum berasa senang, mendengar hukuman kedua yang diberikan Tia.
“Jangan kuatir ini uangnya, saya yang bayar tanya tetehnya mau minum apa? Saya goodday capucino anget, teh Yanti dan teh Ina mau apa?” tawar Tia ramah.
“Susu bendera anget putih.” ujar teh Yanti.
“Gue sama gooday capucino.” ujar teh Ina.
Elin pergi ke semua senior cewe lain menawarkan minuman. Mereka merasa senang dengan hukuman yang berikan Tia pada elin. Sesuai instruksi Tia, Elin pergi ke warung membuat pesanan para seniornya.
“Kamu cerdas Tia, saya rasa hukuman fisik gak akan membuatnya jera.” ujar teh Yanti, Tia tersenyum mengangguk.
Elin mengantar minuman yang di buatnya dengan nampan perlahan. Dia membagikan minumanya pada seniornya dengan hati-hati. Ketika gelas terakhir dia hendak menyerahkan minumannya pada Tia, tiba-tiba Elin jatuh menumpahkan kopinya pada badan Tia. Tia bisa merasakan air panas merembes ke tubuh bagian depan, dengan cepat dia mengibas-ngibaskan bajunya. Kaos Tia yang berwarna putih kotor gara-gara kopi yang ditumpahkan Elin. Tia kesal hendak memarahinya, tapi dilihat Elin yang sudah tergeletak pingsan.
Beberapa maba putri dan senior mendekatinya lalu mengangkutnya ke tenda P3K. Tia sebagai ketua kelompok merasa bertanggung jawab ikut membopong anak buahnya. Di tenda P3K yang tadinya penuh dengan pasien, kini hanya ada satu pasien, Elin. Senior putri langsung mengambil tindakan sampai Elin tersadar dan memberinya minum.
“Masih pusing?” tanya teh Putri anggota P3K, Elin menganggukkan kepalanya perlahan.
"Kamu disini dulu ja, gak usah ikut upacara penutupan, kalo udah baikan baru kamu keluar.” ujar teh Putri meninggalkan Elin, tinggal ada Tia, Sarah dan Rima.
“Rim, Sar bisa tolong ambilin tas gue?” ujar Elin parau, lemah. Mereka mengangguk memenuhi permintaan Elin.
“Ti ditinggal dulu ya.” ujar Rima tak enak hati harus meninggalkannya berdua dengan Elin. Tia tersenyum manggut santai, mereka berdua keluar tenda.
Tia memperhatikan Elin, ada rasa bersalah di hatinya sudah membuat anggotanya pingsan seperti ini. Tiba-tiba Elin bisa bangun sempurna dari tidurnya dengan wajah sinis bak tokoh antagonis di sinetron, Tia kaget dengan kelakuan Elin serasa mempermainkannya.
“Gue lebih baik pura-pura pingsan dari pada ngelayanin orang macam loe?” ujar Elin tersenyum sinis.
“Jadi loe sengaja numpahin kopi ke baju gue?" bentak Tia lantang. "GILA YA LOE! Loe tu..!"
“Ada apa?” ujar teh Putri refleks langsung masuk mendengar suara Tia yang menggelegar.
“Ada apa put?” susul teh Yanti dan teh Ina ikut masuk ke tenda P3K. Tia menarik nafas menahan kesal, dia benar-benar tidak percaya apa yang barusan dihadapinya, Tia berasa di jebak beberapa kali. Dia tidak pernah menghadapi orang sepicik ini.
“Teh saya mau keluar, kata Elin dia udah baikan, dia keukeuh mau ikut upacara penutupan, dia maksa bangun, padahal udah saya larang.” ujar Tia balik mengerjai Elin.
“Ya sudah, Elin kalo kamu ngerasa baikan kamu ikut upacara penutupan!” ujar teh Ina salah satu senior yang terkenal galak. Elin menatap Tia sengit, Tia tersenyum kecut pada Elin yang berhasil mengerjainya balik. Tia berasa menyesal, kenapa tadi dia gak jadi menampar Elin.
💚💚💚💚💚💚💚
"Sengklek kali ya tu anak? Harusnya tadi gue gampar aja biar otaknya bener." gerutu Tia menuju toilet sibuk membersihkan kaosnya dengan tisu, sampai tak sadar menubruk Rio.
“Maaf a.” ujar Tia. Rio melihat hampir semua kaos bagian depan Tia kotor oleh noda berwarna coklat.
“Itu kenapa?” tanya Rio heran.
“Dikerjain orang rese!” ujar Tia. Rio membuka ranselnya, mencari kaos berwarna putih.
“Nih, pake ini, tapi kalo yang ini harus di balikin.” ujar Rio menyodorkan kaosnya.
“Makasih a.” Tia menerima kaos pemberian Rio.
“Wassalamualikum.” ujar Rio langsung pergi meninggalkan Tia.
__ADS_1
“Wa'alaikumussalam.” Tia tersenyum bahagia mendapatkan bala bantuan yang kedua kalinya.
'Alhamdullillah, semoga Allah membalas kebaikan aa.’ gumamnya.