
Rara yang sedang mengecek file hendak masuk ruangan Tia. Dilihatnya Ayu sedang berdiri di depan pintu terlihat panik mengelus-elus dada, Rara menghampirinya.
"Hei kenapa?" Tanya Rara heran melihat ekspresi Ayu yang ketakutan.
"Mbak mau ke mana? Mbak mau masuk?" tanya Ayu pada Rara.
"Iya kenapa mang?" tanya Rara, Ayu malah diam menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan...jangan mbak!" Ujar Ayu melambaikan tangannya panik, mengisyaratkan jangan masuk ke dalam kantor Tia, Rara malah heran dengan tingkah laku Ayu.
"LOE GILA YA!? Loe tu harusnya jadi panutan! Loe tu TL! Apa-apan ini? Maksudnya apa?" Teriak Tia dari dalam kantornya dengan suara menggelegar mengagetkan Rara dan Ayu.
"Napa?" bisik Rara heran pada Ayu tentang apa yang terjadi di dalam kantor Tia.
"Panjang mbak, gawat!" Ujar Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Loe Gue pecat!" Ujar Tia geram dengan suara yang makin lantang.
"Owalah dipecat mbak," gumam Ayu cemas melihat pada Rara.
Tak lama Bella salah satu TL keluar dari ruangan Tia dengan mata berkaca-kaca. Tanpa menyapa Ayu dan Rara, dia langsung mengambil langkah cepat berlari keluar. Rara melihat Tia sedang duduk di kursinya dengan nafas terengah-engah karena emosi. Dia mengetuk pintu kantor meminta izin Tia untuk masuk.
"Masuk!" ujar Tia masih dalam keadaan sangat emosi. Rara diikuti Ayu masuk ke kantor Tia.
"Kenapa sih Ti? Kok marah-marah?" tanya Rara santai.
"Nih loe liat." Tia menyodorkan androidnya pada Rara menyuruhnya melihat sesuatu di hp-nya.
"Terus ini filenya gimana Mbak?" tanya Ayu pelan takut dengan atasannya yang masih emosi.
"Elo tunggu di sofa, gue mau shalat dulu!!" ujarnya kesal sembari mengibas-ngibaskan kaos oblong nya kegerahan.
"Panas beut hari ini." Tia beranjak dari kursinya langsung pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Rara mengambil android Tia melihat layar Hpnya. Rara kaget tertegun menutup mulutnya melihat gambar yang ada di HP Tia, beberapa kali dia menswipe gambar yang membuatnya semakin lama semakin terkejut. Terdapat foto Bella bersama seorang pria di dalam mobil berswafoto melakukan adegan yang senonoh menggunakan baju kerja salah satu produk brand yang dikelolanya. Di foto pertama Rara melihat Bella berciuman dengan lelaki tersebut, di foto kedua Bella memeluk laki-laki itu menaruhnya di dadanya dengan kerah yang sengaja dibuka Tidak dikancingkan sehingga dadanya hampir terlihat.
Ada sekitar tujuh foto mesra Bella bersama pria tersebut, Rara dibuat tercengang oleh foto tersebut. Tia yang keluar dari kamar mandi sudah terlihat basah mukanya berwudu, dia hendak shalat mencari ketenangan batin. Hatinya masih diliputi perasaan marah, emosi, jijik pada salah satu karyawannya. Tia melihat Rara dengan memangku kedua tangan di pinggang yang karena saking kesalnya.
"Elo dapat foto ini dari mana?" Tanya Rara penasaran. Tia diam tak berkata, dia hanya menolehkan kepalanya melihat ke Ayu menjawab pertanyaan Rara. Lalu dia pergi ke mushola, ditinggalnya Rara dan Ayu berdua di kantornya.
"Ayu Kamu dapat foto ini dari mana?"
"Ya facebooknya dia mbak," ucap Ayu perlahan.
"Dia upload foto dirinya sendiri kayak gini? pakai sosmednya dia?" tanya Rara kesal tak habis pikir.
"Huum, tadi malam tapi kalau sekarang fotonya udah dihapus. Ya bisa jadi dia uploadnya pas lagi nggak sadar, pas lagi mabok," jelas Ayu.
__ADS_1
"Hush! kamu kalau ngomong jangan sembarangan!" ujar Rara menegur Ayu.
"Loh Mbak aku tuh enggak sembarangan, lihat aja itu di belakangnya ada tulisan nama klub, lagian kata anak-anak juga dia tu suka clubbing." bela Ayu atas argumennya.
Rara menarik nafas dalam seraya tak percaya, dia memijat-mijat kecil dahinya merasa ribuan batu menghantam kepalanya membuatnya pusing.
"Terus gimana klien udah tahu?"
Ayu tidak diam hanya mengangkat kedua bahunya menjawab seraya dia tidak tahu.
"Gawat!" gumam Rara. Dia langsung mengambil androidnya mencari kontak pak Pendi kliennya. Tidak ada pesan masuk dari Pak Pendi baik berupa protes atau teguran atas foto yang baru didapatnya.
"Apa pak Pendi belum tau ya?"
Tak lama Tia masuk ke kantornya langsung duduk di sebelah Rara, dia mengambil androidnya kembali dan melihat foto-fotonya membuat Tia semakin kesal.
"Pak Pendi, dia langsung ngehubungin gue, dia minta besok meeting sama dia, pasti kita di cut!" keluhnya, yang mengira Pak Pendi akan memutuskan kerja samanya dengan perusahaannya.
"Jangan pesimis dulu Ti, walaupun Pak Pendi baru pakai agensi kita, tapi di produk yang lainnya kita selalu sukses kok kalau bikin event sama dia."
"Ya tetep aja Ra mencoreng nama baik, mau gimana pun juga tetap kita yang salah."
"Di lobi dulu, coba di lobi dulu sama kita tawarin ke dia TL yang lebih bagus yang lebih kompeten dari pada Bella," ujar Rara menyemangati.
"Siapa? mau nggak mau kita harus merekrut TL baru, TL yang lainnya udah pada sibuk sama produknya masing-masing mau di alihin juga repot. Kalau mau yang baru juga kita belum tahu wataknya gimana," keluhnya lagi, Tia diam sejenak.
"Udah gini, ini udah terjadi mau nggak mau kita harus cari solusi. Pilihannya kita coba dulu lobi ke pak Pendi sebisa mungkin, gue siapin TL yang bagus buat produk ini," bujuk Rara, Tia mengangguk setuju dengan usulannya.
"Ya udah gue besok coba bujuk Pak Pendi tapi lu bantuin gue cari TL bagus ya?" Rara tersenyum mengelus-elus punggung Tia menenangkannya.
"Ayu sekarang loe turun ke bawah minta ke Dian minta daftar nama TL kasihin ke Rara sekarang juga!" ujar Tia. Ayu langsung keluar dari kantor Tia dan mengambil file dan diserahkannya pada Rara. Tia kembali ke meja kerjanya sibuk kembali dengan laptopnya.
Rara memperhatikan daftar nama TL, begitu banyak perusahaan bagus yang bekerja sama dengan perusahaan Tia sehingga membuat Rara bingung TL yang harus di oper ke produk Pak Pendi.
Beberapa bulan Rara kerja di agensi Tia, bertemu bermacam-macam watak karyawannya yang bergonta-ganti. Bella merupakan salah satu karyawan senior yang memang pintar dan bergaul bebas yang membuat ulah di perusahaan. Pernah yang lebih parah ditemui seperti karyawan yang berpacaran bebas, sampai stay bareng sama pacarnya, ada yang hamil diluar nikah lah dan lainnya. Ada juga SPB/G yang mencuri di toko, atau minum obat aneh-aneh. Tapi karyawan seperti itu biasanya tidak lama kontraknya mereka langsung mendapat punishment dipecat dari kantor. Makanya Rara lebih hati-hati ketika merekrut karyawan memperhatikan shalat nya yang diutamakan dari pada kepintarannya atau skill. Karna jika shalatnya bagus, urusan dengan Tuhannya baik, pasti ke sananya baik, pikirnya.
#
Adzan dhuhur berkumandang, Rara menghentikan pekerjaannya fokus menjawab adzan. Dia menutup map filenya dan turun ke bawah untuk salat dhuhur. Mushola begitu penuh oleh jamaah laki-laki, Rara memutuskan duduk di kitchen menunggu giliran untuk shalat dilihatnya ada salah satu SPG yang dia kenal sedang duduk di kursi panjang.
"Penuh ya Mbak?" Tanya Vivi yang sudah cantik dengan make-up merapikan hijabnya.
"Iya, kamu juga lagi nunggu giliran shalat ya?"
"Huum," jawab Vivi tersenyum.
"Gak keliatan, mbak kira habis sholat. Soalnya kamu udah make-up." Rara melihat Vivi yang sudah rapi mengenakan seragam kerjanya.
__ADS_1
"Hehe iya mbak biar tenang aja nanti bis shalat, biar langsung berangkat kerja, jadi bis wudhu tadi aku langsung make-up."
"Owh, masuk siang vi?"
"Iya mbak, aku ke sini mau ngasih laporan dulu biar tenang."
"Wah Rajin ya," puji Rara, Vivi tersenyum tertunduk malu.
"Oh ya kamu juga lagi kuliah kan udah semester berapa?"
"Semester akhir sih, sebentar lagi mau nyusun, ya mudah-mudahan aja dapat pembimbing dosennya yang baik."
"Hahaha Aaamiiin," ucap Rara mengamini ucapan Vivi,
“Kalo gitu bentar lagi lulus donk? emang cita-cita kamu apa?"
"Ya pengennya nyari kerjaan yang lebih layak, yang lebih tinggi, biar bisa bantuin abah sama emak. Kalo bisa sih saya pengen tetep lanjut di bidang ini mbak, tapi gak tau gimana nanti aja."
"Mbak salut sama kamu, kamu bisa kerja sambil kuliah. Ya kan bisa memajukan diri, jarang loh ada orang mandiri seperti kamu," pujinya lagi.
"Akh mbak bisa aja, ini semua berkat kedua orang tua saya mbak. Mereka yang selalu memberi support hingga saya sampai disini. Walaupun saya mandiri, tetep semua itu berkat doa mereka. Mereka juga yang mendidik saya untuk menjadi wanita maju,” ujarnya terharu dengan mata berkaca-kaca mengingat orang tuanya.
"Owh emang abah kerjanya apa?"
"Abah cuma seorang guru honor di SD, udah mau pensiun. Siangnya dia jual siomay mbak. Ya begitulah mbak abah harus kerja keras supaya bisa mencukupi kebutuhan kita sehari-hari. Makanya saya malu kalo udah gede gini masih ngerepotin ortu, minta biaya kuliah, jadi aja saya harus kerja kalo aku mau kuliah."
"Vi, kamu harus bersyukur kamu masih punya abah yang baik sayang sama kamu sama keluarga, mau nyari nafkah dengan cara halal. Jarang anak yang mau mengapresiasi kerja keras orang tuanya. Malah kebanyakan mereka nuntut atau mengomel karna punya orang tua yang kekurangan dalam hal finansial. Gak ada orang tua yang mau dilahirkan dalam keadaan kekurangan, harusnya mereka sadar dalam keadaan miskin aja orang tua mau kerja apa aja, bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarganya saking sayangnya sama keluarga, apalagi kalo orang tua berkecukupan pasti apapun yang mereka minta dikasih ," jelas Rara membuat Vivi terenyuh mengingatkan pengorbanan abahnya untuk keluarganya.
Dia bisa membayangnya betapa susahnya jadi abah, selain mengajar juga harus cape-cape berjualan siomai mengangkat-angkat gerobak yang berat keliling kampung demi keluarga, demi dia.
Benar yang dikatakan Rara tidak ada yang tau kita dilahirkan sebagai apa, bukan maunya abah juga kalo harus hidup dalam keadaan kekurangan dan tak bisa menguliahkannya. Vivi bersyukur abah bisa menyekolahkannya sampai jenjang SMA, air mata Vivi jatuh mengingat pengorbanan ayahnya.
"Iya ya mbak, aku bersyukur punya Abah yang sayang sama aku." ujarnya tersenyum malu pada Rara karna menangis, menyeka air mata di pangkal pipinya. Rara ikut tersenyum mendengar celoteh Vivi.
"Eh iya itu kayaknya ada bekas spidol ato apa gitu di pipi kamu kaya item-item gitu," ujar Rara yang melihat sesuatu di pangkal pipi Vivi.
"Owh iya mbak?" ujar Vivi panik sembari mengeluarkan cermin dari pouch make-up nya. Dia bercermin dan benar yang dikatakan Rara ada seberkas warna hitam kebiru-biruan carang.
"Mending di basuh dulu, di bersihin dulu," ujar Rara.
"Owh iya mbak, saya permisi ya mbak." Vivi meninggalkan Rara pergi ke toilet.
Rara shalat dhuhur empat rakaat, setelahnya dia berdoa, bersyukur dan meminta bantuan untuk masalah yang dihadapinya. Semoga pak Pendi tidak memutuskan kontak kerjanya, dan memohon mencarikan TL yang tepat yang lebih baik dari Bella. Memang rasanya tidak mungkin pak Pendi mau meneruskan kerja samanya mengetahui salah satu karyawannya sudah mencoreng nama baik perusahaannya, tapi Rara yakin tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Maha Menghendaki.
Rara meminta pada Allah dan mengadukan masalahnya. Rara memang selalu mengadu pada Tuhannya dalam setiap urusannya maupun dalam hal terkecil sekalipun.
Begitulah seorang hamba yang baik yang selalu melibatkan Allah dalam urusan hidupnya, sekalipun urusan besar ato terkecil, urusan mudah ataupun sulit. Karena jika kita selalu melibatkan Allah dalam urusan hidup kita, dalam setiap langkah kita maka sudah pasti tidak akan ada hal yang tidak mungkin. Bagi Allah adalah hal yang mudah ketika merubah hal yang sulit menjadi hal yang mudah. kita sebagai hamba-Nya cukup meyakinkan hati kita dan terus berharap yang terbaik kepada-Nya.
__ADS_1