Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
PLAYBOY CAP KODOK 2


__ADS_3

Assalamualaikum Warohmatullohiwabarokatu


terima kasih pada pembaca setia Cinta karna...


setelah puluhan episode sedih-sedihan 😢


Insya Allah beberapa episode kedepan baper2an🤩, lucu-lucuan 😂 dan makin greget😍 dech. Masih banyak misteri2 yang belum terpecahkan🧐. Siapa Rara, bagaimana masa lalu Tia dan mamihnya, apa hubungan Rio dengan mereka dan sebagainya.😉


Pokoknya makin penasaran dech 😀


so happy reading😍🥰


#CERBUNG


#CINTA_KARNA...


#ROMANCE_RELIGI


#Part42



PLAYBOY CAP KODOK 2



Rara dan Rio sampai di sebuah toko laptop yang cukup besar, toko yang dikelilingi etalase yang berisikan berbagai macam laptop.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapa Rio bapak paruh baya tersebut yang sedang berdiri di depan pintu toko.


“Wa’alaikumussalam Warohmatullahiwabarokatuh. Eh jang Rio pak kabar?” sapanya hangat.


“Baik pak Didi, bapak sehat?” tanya Rio tersenyum semeringah.


“Alhamdulillah baik, itu istrinya?” tanya pak Didi pada Rara yang sedang asyik mondar-mandir di depan etalase toko melihat-liat laptop, dia tidak ngeh dengan percakapan Rio dan pak Didi.


“Iya pak, mau nyari laptop. Ibu apa kabar pak?” Rio bertanya tentang istri pak Didi yang biasa menemaninya.


“Alhamdulillah baik, dia lagi keluar sebentar.”


Sementara Rio berbincang dengan pak Didi, Rara sibuk membaca spesifikasi laptop apa yang dia butuhkah, tiba-tiba matanya terhenti pada sebuah laptop di pojok kanan. Laptop yang tidak asing baginya, laptop berwarna silver logo Apple tertera di tengah laptop tersebut. Itu tipe laptop pemberian Bagas.


Tak sengaja terbesit semua kejadian di Semarang dengan Bagas. Dia melamun kembali mengingat ketika dia mendapat hadiah laptop itu, ketika dia jalan sama Bagas, ketika hari pernikahannya hancur. Tak sadar air mata jatuh ke pipinya. Rara meremas baju di dadanya, sesak. Sedih rasanya teringat kembali kejadian yang paling pahit dalam hidupnya. Pedih. Sangat sakit.


“Ehem!” Rio berdehem memecahkan lamunan Rara. Dia melihat Rara menangis.


“Kenapa?” tanya Rio. Rara yang merasa terpergok tak enak. Dia langsung memalingkan wajahnya menyeka air matanya.


“Gak papa,” ujarnya memasang senyum seraya memperlihatkan dia baik-baik saja.


“Kenapa laptopnya?” Rupanya Rio ngeh Rara menangis karna melihat laptop.


“Ngingetin seseorang ya?” terka Rio tepat membuat Rara sedikit terkejut.


“Ehem, iya,” jawab Rara tertegun berusaha santai.


“Tapi orangnya gak penting buat di inget kok.” Rio tersenyum mendengar jawaban Rara.


Rara langsung menyelonong masuk ke dalam toko. Diliatnya ada seorang bapak paruh baya sedang berdiri di belakang etalase setinggi dadanya, dia menyambut Rara hangat dengan senyumnya.


“Silahkan neng, mau nyari laptop kaya gimana?” tanya pak Didi.


“Iya pak, saya butuh laptop harganya sekitar tujuh atau delapan jutaan.”


“Spesifikasinya gimana neng?”


“Gak butuh spesifikasih tinggi sih pak, yang penting bisa office sama memorinya yang cukup. Satu lagi pak, bisa edit foto dan video kecil-kecilan lah,” jelas Rara tersenyum.


“Gimana kalo Apple MacBook Pro 15.4 Touch Bar,” potong Rio yang tiba-tiba datang dari belakang.


“Kayaknya mahal deh a,” elak Rara.


“Liat aja dulu barangnya, boleh kan pak Didi?”


“Boleh atuh,” ujar pak Didi tersenyum. Dia langsung mengeluarkan laptopnya yang dipinta Rio.


Laptop berwarna silver ini terlihat begitu elegan. Rio mempresentasikan spesifikasi laptop yang dipilihnya pada Rara. Dia menjelaskan bahwa laptop ini bagus untuk penunjang kerjanya.


“Jadi kalo kamu mo buka banyak aps yang skala besar gak kan berat, ditambah lagi layarnya lebih besar, gimana?” tanya Rio pada Rara.


“Bagus sih, emang ini harganya berapa pak?”


“Ya sekitar tiga tujuh neng, kalo buat langganan jang Rio saya discount jadi tiga enam limalah.” ujar pak Didi.

__ADS_1


“Tiga juta tujuh ratus?” tanya Rara polos.


“Si eneng mah bercanda ya, masa laptop bagus gini tiga juta tujuh ratus, ya tiga puluh tujuh juta atuh.” Rara kaget mendengar harga laptop yang ditawarkan pak Didi.


“Ya sudah saya ambil yang ini saja,” tangkas Rio cepat.


“Ini laptopnya buat a Rio?” tanya Rara bingung karna Rio langsung nego memutuskan membeli laptopnya.


“Loh, kan yang butuh laptop kan kamu ya buat kamulah?” jawabnya membuat Rara tambah bingung, gak mungkin dia membeli barang semahal itu.


“A, i-ni sa-ya....” ujar Rara terbata hendak menolak.


“Saya yang bayar,” ujar Rio.


“APA?!” Rara kaget.


“Iya saya yang beliin ini buat kamu,” jelasnya membuat Rara tercengang. Bagaimana bisa orang yang baru dikenalnya membelikan barang semahal itu.


“A yang bener? saya gak mau, saya ga bisa! ini apa-apaan?” protes Rara marah pada Rio.


DRRRT DRRT. Gawai Rara berbunyi, tertulis nama Tia di layar.


“Pak saya gak ambil yang ini, a Rio sebentar nanti saya lanjut.”


Rara langsung pergi keluar toko mengangkat panggilan Tia.


“Assalamualaikum Ra, Ra berkas...,”


“Wa’alaikumussalam, Tia dia gila tau?!” potong Rara panik.


“Siapa? Kenapa?”


“Rio! masa dia mau beliin gue laptop mahal, maksudnya apa coba?”


“Serius?”


“Serius Tia, tiga puluh tujuh juta, tu anak kenapa sih? aneh tau!” gerutu


Rara menunggu respons Tia atas pernyataanya, tapi tak ada jawaban dari Tia. Diliatnya layar hp masih tersambung panggilan dengan Tia.


“Hallo, hallo Ti, loe denger gak?”


“Ra, itu nanti dulu ini ada masalah lebih penting. Ada tiga berkas event, kok di sini proposalnya cuma dua, sama elo ke bawa gak? takutnya hilang?”


“Jangan gitu lah Ra, gak sopan tau, dia udah nganter masa loe tinggal” bujuk Tia.


“Tapi ti, dia tu aneh. Masa...,”


“Ra cepetan cek berkasnya, nanti gue telpon balik ada telpon dari pak Rian ini,” potong Tia langsung menutup teleponnya tanpa mendengar penjelasan Rara.


Rara sangat bingung dengan posisinya sekarang. Dia berpikir keras mondar-mandir di depan toko. Di liatnya Rio menjauh dari etalase sedang menelpon seseorang.


‘Gue harus masuk, gue harus cek proposalnya dulu, itu lebih penting kasian Tia nunggu,’ gumamnya dalam hati. Rara masuk ke toko, Rio masih asik dengan hpnya, menelpon.


“Jadi gimana neng?” tanya pak Didi.


“Bentar pak, saya ngecek sesuatu dulu,” ujar Rara tersenyum.


Rara membongkar tasnya, ditemukan map merah, di bukanya map tersebut dan ternyata benar isinya proposal yang Tia maksud. Rara langsung menghubungi Tia, tapi tidak diangkat. Hanya operator telepon menjawab panggilan Rara memberitahukan bahwa Tia sedang dalam panggilan.


‘Mungkin lagi ngobrol sama pak Rian,’ gumamnya. Diliatnya Rio menghampirinya.


“Jadi gimana ini teh jang?” tanya pak Didi ke Rio.


“Iya saya jadi ambil yang ini aja,” ujarnya keukeuh.


“Kan saya udah bilang saya gak mau!” potong Rara.


“Ini perintah Tia,” jelasnya dingin.


“Gimana?” tanya Rara bingung.


“Tia nyuruh saya untuk nyari laptop yang bagus buat kamu, dia yang bayar, dan uangnya sudah ditransfer ke saya. Itu bonus sebagai karyawan terbaik katanya, maaf saya bercanda, udah buat kamu GR.” jelasnya datar tanpa expresi.


‘GR apanya, yang ada gue panik!’ gerutu Rara dalam hati.


“Udah atuh neng apalagi kalo dibayarin, kalo bapak jadi eneng mah mau dibeliin laptop bagus,” ujar pak Didi dengan senyumnya yang khas, Rara mengangguk setuju.


‘Tia, ngapain dia beliin laptop gue mahal-mahal?’ gumamnya Rara dalam hati.


💚💚💚💚💚💚💚💚


Jam empat, Rara yang sedang sibuk menyiapkan peralatan mandi,

__ADS_1


‘Satu,’ gumamnya melempar haduk ke atas kasur dari lemari.


Diliatnya kembali lemari yang tersusun baju rapi yang disetrika bi Atik, jari-jari kecilnya menjelajah ketumpukan baju, diambilnya baju berwarna biru langit. Dia lebarkan baju itu yang ternyata dress mungil biru yang dia beli untuk basahannya.


‘Dua,’ gumamnya lagi sambil melempar dress tersebut ke atas kasur.


“Mau mandi Ra?” ujar Tia datang ke kamar sambil membawa map proposal pak Rian. Dia duduk di samping ranjang asyik membaca.


“Hu’um,” Rara teringat akan laptonya yang baru dibelinya tadi siang.


“Tia?”


“Hmm?”


“Kenapa loe beliin gue laptop mahal?”


“Laptop apa?” tanya Tia bingung.


“Laptop yang dibeli Rio tadi.”


Tia menghentikan bacaannya. Dahinya mengkerut heran, berfikir mendengar celoteh Rara.


“Gimana?” tanya Tia masih bingung.


“Jangan pura-pura lupa deh, Rio bilang elo yang bayar laptopnya buat penghargaan atas kerja keras gue,” jelas Rara. Tia masih diam menyerap kata-kata Rara.


“Owh itu? Ya i-ya, loe pan-tes dapetinnya.”


“Tapi kan Ti, banyak pengeluaran yang harus dibayar. Loe tau kan pengeluaran kita membengkak gara-gara buka cabang. Kok elo masih sempet sempetnya mikirin gue, itu budget dari mana coba, loe gak pinjem ke bank kan?”


“Gue anak horang kaya pinjem ke bank? Hellooo loe tu kalo mikir kia-kira dong. Ya enggaklah, itu semua mamih yang ngasih kok, gue patungan sama mamih. Hadiah katanya.”


“Apa?!”


“Udahlah Ra, bisa gak loe cuma ngucapin makasih tanpa protes ini itu. Masa pemberian orang malah ditolak.” Rara merasa malu dibuatnya, dia diam memaku melihat Tia.


“I-ya makasih ya, semoga kebaikan elo sama mamih dibalas lebih sama Allah,” ujarnya tersenyum.


“Sama-sama, gitu donk, gimana tadi jalan sama a Rio seru gak?” tanya Tia mengalihkan perhatian.


“Seru apanya, beberapa kali gue dibikin kesel, trus orangnya tu Gr-nya ya ampun selangit Ti! playboy cap kodok kedualah.”


“Maksud loe kaya Arif?”


“Lebih dari dia Ti, tapi kalo Rio lebih cool sih.”


“Maksudnya dia keren?” ujar Tia tersenyum.


“Iya, eh bukan! maksud gue, dia kalo ngomong tu ga da expresi, cool, tapi nyebelin omonganya, beberapa kali gue dibuat salah sangka sama dia.”


“Dibuat salah sangka? maksudnya?”


“Ya contohnya, bercandanya itu loh, dia bilang dia beliin laptop buat gue, gue marah lah. Gak lama dia bilang itu elo yang beliin wat gue, terus dengan santainya dia bilang, maaf udah buat kamu GR.”


“Jadi loe Gr sama dia?” tanya Tia ketawa mendengar pengaduan Rara.


“Iya enggaklah, maksudnya ngapain dia nge-PHPin orang?”


“PHP? Maksudnya Loe berharap gitu, loe berharap dia beliin loe laptop beneran gitu?”


“Bukan gitu Tiaa,” rengek Rara kesal.


“Gimana sih Ra? penjelasan loe belibet tau!”


“Ya intinya gue gak suka sama dia, apalagi kalo dia udah gombal GJ.”


“Contohnya?”


“Ya banyaklah, dia aneh tau. Elo nemu dimana sih? kita cari editor lain aja yuk,” keluh Rara.


“Loe kira gampang anak IT bagus yang bisa dibayar murah, susah tau! Ra loe sabarlah, loe dengerin gombalan Arif aja santai, kenapa dengerin Rio ngegombal loe malah kelabakan? Jangan-jangan loe suka kali sama dia,” celetuk Tia, asal.


“Ish...Loe ngomong apa sih?” elak Rara kesal.


“Ya intinya, cuma dia yang bisa gue percaya buat ngerjain kerjaan ini, asal loe tau susah beut bujuk dia jadi desainer gue, jadi please loe jaga sikap.”


“Kok malah gue yang disalahin?” elak Rara tak terima.


“Ya abis loe kalo ngomong sembarangan. Ya kalo loe gak ada rasa sama dia, cuek aja. Ini demi cabang kita Ra, sabar ya, anggap aja dia playboy cap kodok kedua.”


Rara diam mendengar penjelasan Tia yang ada benarnya. Tidak mungkin ganti-ganti karyawan dengan mudah, dia merasa memang dia yang harus lebih sabar menghadapi Rio.


‘Ok anggap playboy cap kodok kedua, semangat Rara! Bismillah,’ gumamnya menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2