Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Misi Baru


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian itu, Tia masuk kampus seperti biasa, sesekali di melamun mengenai status keluarganya. Tapi dia berusaha fokus  tak ingin kuliahnya berantakan. Tia harus menemui misi baru untuk melanjutkan hidupnya.


Tia duduk di kelas A hanya ada dua kaum hawa, Elsa dan dirinya, sisanya kaum adam. Dia sedang menunggu dosen dikelas pada jam pertama.


“Tia.” ujar teh Yanti memanggilnya dari lawang kelas menghampirinya.


"Ini” dia menyodorkan uang sebesar enam puluh ribu, untuk mengganti uang yang dipinjamnya kemarin lusa.


“Susah juga ya nyari kamu, tadinya mau dititipin kang Rio malah.”


“Kok bisa dititipin ke kang Rio?” tanya Tia heran.


“Soalnya waktu ospek, dia ngakunya kamu adiknya.” jelasnya.


Lalu teh Yanti mendekatkan bibirnya ke telinganya Tia. ‘makanya kamu di jadiin ketua tim biar kamu ga kena banyak hukuman, jangan kasih tau siapa-siapa ya ini rahasia senior.’ bisik teh Yanti tertawa.


Tia tersenyum datar mendengar celoteh teh Yanti.


"Pas tadi ketemu, katanya dia bohong sama kita, dia ngelakuin itu karna dia ngerasa bersalah udah bikin bandana kamu hanyut. Lucu banget ya dia?”


“I-iya teh.” ujar Tia tersenyum tipis.


“Apa jangan-jangan dia suka kamu ti?” terka teh Yanti.


“Enggaklah, Kok teteh ngomongnya gitu?”


“Ti denger ya, kang Rio tuh super duper alim, dia aja gak pernah pacaran, dia udah nolak banyak cewek, dan satu satunya cewek yang teteh liat yang di dekati dia, cuma kamu.” jelas teh Yanti antusias bergosip.


“Kayaknya gak mungkin deh teh.” elak Tia, yang mengetahui kalau statusnya adalah adik tirinya.


“Hahaha Iyaa ya kok teteh malah ngegosip ya hehehe.”


Teh Yanti yang di lapangan terlihat galak, ternyata orangnya ramah dan gampang tersenyum. Tia hanya bisa tersenyum membalas celotehnya.


"Ya udah teteh pergi dulu ya.” Tia mengangguk tersenyum ramah, Teh Yanti pergi keluar kelas.


“Bener ti kayaknya, waktu ospek aja dia datangin elokan?” ujar Elsa yang duduk di dekat kursi citos Tia, rupanya dia menguping pembicaraannya dengan teh Yanti.


“Jangan bikin gosip aneh-aneh.” ujar Tia kesal, Elsa malah menertawainya.  Tak lama seling lima menit Rio datang ke kelas mencarinya.


“Assalamualaikum Tia.”


“Wa'alaikumussalam, a, a-da apa?”


“Saya mau ngucapin makasih, karna udah nganterin kaosnya ke rumah, saya ngrasa ngerepotin kamu. Padahal gak usah di anter tiap minggu saya datang ke kampus” jelas Rio ramah.


“Iya a. Sama-sama, gak papa.” jawab Tia jutek merasa kesal dengan Rio karna teringat papihnya. Rio dibuat canggung olehnya, Tia diam tidak banyak bicara meladeni Rio.


“Kalo begitu saya permisi Wassalamualikum.”


“Wa’alaikumussalam.” jawab Tia. Rio pergi meninggalkan kelas.


Pada hari Rabu dan Jumat Rio selalu datang ke kampus hanya untuk sekedar main, dia tinggal menunggu wisuda. Pada rabu kedua pun Rio datang pagi-pagi ke kelas Tia. Hal ini membuat kelas ribut, banyak yang menyangka kalau mereka berdua mempunyai hubungan, tapi Tia selalu meladeni Rio dengan jutek dan acuh.


“Ini.” Rio menyodorkan jus mangga segar di cup.


“Buat apa ini?” tanya Tia bingung dan jutek.


“Sebagai ucapan terima kasih karna sudah mengembalikan kaos saya ke rumah.” jelas Rio tersenyum.


“Iya a sama-sama.”


“Baik saya pergi dulu, Wassalamuaalaikum.”


“Wa'alaikumussalam a.”


Kedatangan Rio yang kedua kalinya membuat gosip tentang mereka makin santer. Tia tidak peduli itu semua, yang ada dia malah makin kesal dengan Rio. Setiap Rio datang Tia semakin teringat dengan papihnya yang meninggalkan dirinya dan mamihnya.


💚💚💚💚💚💚💚


“Putri Tyaningsih!” ujar pak Dodi, dosen memanggil namanya.


“Ya pak?”


“Kamu gimana sih? mana tugas kamu ini udah kedua kalinya lho!”


“Lho pak kan yang kemarin kan udah di kumpulin, kan bapak sendiri yang nerimanya?”


“Enggak ada Tia, pokoknya sekarang kamu print lagi tugasnya, saya kasih waktu setengah jam!” ujar pak Dodi dosen galak.

__ADS_1


Selain Tia dipusingkan urusan Rio, dia juga merasa ada yang mengerjainya. Beberapa tugas yang di kumpulkannya hilang dan terakhir fd-nya yang berisi kumpulan tugas pun hilang. Asumsinya di perkuat dengan menemukan selebar kertas di tasnya bertuliskan


‘jauhi Rio cewek genit’


dengan potongan huruf berwarna-warni. Tia hanya bisa menerka ini dari fansnya Rio.


Tia benar-benar di buat frustasi, dia benar-benar ingin menemukan pelakunya, dan menghajarnya. Masalahnya ini sudah merusak citranya, diklaim pemalas dimata dosen, pasti nilainya berantakan. Siapa yang suka sama Rio? Akh pasti banyak. Dengan paras setampan itu Rio pasti memiliki banyak fans. Dia harus berbicara dengan Rio.


💚💚💚💚💚💚💚


“Sa ke toilet yu.” ajak Tia ke Elsa.


“Ayo sekalian gue mau cuci tangan.” ujar Elsa.


Sampainya toilet, sepi tidak ada siapa-siapa hanya ada mereka berdua.


“Sa gue masuk dulu, nanti kalo loe udah beres, loe balik kelas duluan aja ya, gak usah nungguin gue.”


“Huum.” ujar Elsa manggut santai.


Tia masuk ke toilet, tak selang lama Elsa selesai mencuci tangannya.


"Ti gue keluar duluan ya?”


“Sip.” teriak Tia dari toilet.


Beberapa menit kemudia, Tia hendak keluar tapi pintu toilet tak bisa dibuka. Dia mengedor-gedor engsel pintu tapi pintunya tetep tak mau terbuka.


“TOK TOK TOK, ada orang?” teriak Tia dari dalam toilet. Dia menunggu cukup lama tak ada jawaban. Sampai dia mendengar ada seorang masuk ke toilet.


"Teh teh punten tolong buka pintunya.” teriak Tia.


“Tia itu elo?” ujar Sarah.


“Iya ini gue Tia, ini Sarah ya?” tanya Tia yang mengenal suara Sarah.


“Iya Ti, ini gue, Sarah.”


“Sarah Sarah, tolong buka pintunya dong, gue gak bisa ngebuka pintunya dari dalem.”


Sarah menggerak-gerakan engsel pintu, tetep tak bisa di buka.


“Aduh gimana ini.” ujar Tia mulai panik.


“Ti kalo elo manjat bisa gak?”


Tia naik keatas kloset duduk lalu dia turun dari atas pintu toilet perlahan.


"Ayo ti, hati-hati, gue tahan.” ujar Sarah membantu, Tia pun bisa mendarat dengan selamat.


“Aduh makasih Sar.”


“Kok bisa loe ke kunci di toilet?”


“Gak tau, ini pasti ada yang ngerjain gue.” ujar Tia kesal.  "Sar gue ke kelas dulu ya.” Sarah mengaguk, Tia langsung pergi kelasnya.


“Elsa! loe ngunci gue ditoilet ya!” bentak Tia pada Elsa.


“Gimana caranya, loe kan nyuruh gue keluar duluan?” bela Elsa. Tia diem menatapnya curiga.


"Eh tapi tadi...” Elsa menghentikan celotehnya seraya berfikir.


“Tadi apa?” tanya Tia sewot.


“Gue liat anggota elo yang waktu ospek, itu dia yang duduk dikelas B, dia masuk pas gue keluar toilet, itu loh anggota yang elo hukum suruh ngambil sampah.”


“Elin? Elinda maksud loe? ” ucap Tia kaget.


“Iya itu Elin."


Tia makin kesal ada apa dengan tu anak? kenapa dia masih mengerjainya. Tia pun menebak kalo selama ini dia yang mengambil tugasnya dan fd-nya. Tia langsung keluar kelas dia datang ke kelas sebelah mencari sosok Elin, tapi dia tak mendapatkannya. Tia melihatnya dilorong kampus dia cepat menghampiri Elin.


“Ikut gue!” Tia mencengram tangannya kencang menyeretnya ke ujung lorong yang sepi. Elin memanggil-manggil nama Tia dan berusaha melepaskan cengkeraman Tia.


“Ti? Tia lepas! Sakit tau!” ujar Elin kesakitan. Tia diam malah mengambil paksa ransel Elin.


"Elo mau ngapain?”


Tia masih mengacuhkan Elin, dia langsung membuka dan membalikkan ransel Elin dan menumpahkan isi tas Elin ke lantai. Diliatnya ada dua makalah tugas miliknya yang baru di kumpulkannya hari ini.

__ADS_1


“APA INI?! Ini semua tugas gue!” teriak Tia.


Tia melihat ke lantai mengambil tempat pensil Elin, lalu di bukanya, di temukan fd-nya berwarna merah dengan gantungan tulisan Tia.


"ELO GILA YA!?” Tia mendorong bahu Elin. "Apa mau loe?” Elin malah diam tak menggubrisnya.


“HEI BUDEK! Apa mau loe?!” Tia mendorong bahu Elin yang kedua kalinya.


“JAUHI RIO!” bentak Elin tiba-tiba.


“APA!?”


Tia seraya tak percaya dengan ucapan Elin yang menyangka Rio ada hubungan dengannya.


"Jadi elo ngelakuin ini semua gara-gara elo suka dia?”


“JAUHI DIA! Atau gue bikin hidup loe gak tenang.” teriak Elin lagi.


“OKE! kalo loe suka AMBILL!! gue gak butuh cowok macam dia!” bentak Tia balik. Tia langsung pergi meninggalkan Elin diujung lorong. Kesal.


Dihari rabu minggu ketiga, Rio seperti biasa masuk ke kelas Tia sambil membawa segelas jus mangga di cup lagi.


“Assalamualaikum Tia.”


“Wa'alaikum salam, a ikut saya!” Tia bangkit dari kursi citosnya dan langsung pergi keluar kelas, Rio mengikutinya dari belakang. Sampai mereka berhenti di ujung lorong.


“A?”


“Ya?”


“Jauhi saya, jangan pernah temuin saya lagi, dan jangan pernah kasih saya apa-apa lagi!” ucap Tia tegas.


“Loh kenapa?”


Tia diam tidak menjawab pertanyaan Rio.


"Tia, saya harap kamu jangan salah paham, saya melakukan ini hanya...”


“A, saya gak salah paham!” potong Tia cepat. “Udah hampir tiga minggu ini ada yang mengerjai saya, dia ngambil tugas-tugas saya, fd saya, dan yang paling parah lagi dia ngunci saya di toilet, aa tau alasanya apa?”


Rio diam menggelengkan kepalanya.


“Karna dia suka sama aa, dia cemburu sama saya.”


“APA?” suara Rio yang biasa lembut tiba-tiba menggelegar marah. "Siapa?”


“A saya gak butuh pembelaan aa, pokoknya saya gak mau aa nemuin saya lagi, saya gak mau direpotkan dengan hal-hal yang gak berguna kaya gini.” jelas Tia  kesal.


“Baik...tapi tolong terima jus ini, saya akan menghindar dari kamu.” ucap Rio. Tia langsung dengan cepat mengambil jusnya.


“Wassalamualikum.” salam Tia pergi meninggalkan Rio diujung lorong.


“Wa'alaikum salam.”


Rio merasa tak enak hati, dia merasa bersalah pada Tia. Rio benar-benar  menepati janjinya untuk tidak menemui Tia lagi. Sekalinya mereka berpapasan, mereka hanya saling melempar senyum singkat tanpa ada obrolan.


💚💚💚💚💚💚💚


Bu Sriyantika selalu menjenguk anaknya sebulan sekali paling sering sebulan dua kali. Tia tidak pernah bertanya lagi tentang papihnya pada mamihnya, dia memutuskan menyimpan rahasianya dalam-dalam.


Terkadang dia ingat masa kecilnya dengan rapuh, sesekali Tia datang ke rumah Rio diam-diam hanya untuk melihat papihnya dari jauh. Begitu tentram, hangat yang dipikir Tia melihat keharmonisan keluarga Rio, Tia sangat cemburu. Kesal. Benci.


Pada semester ketiga, untuk menambah kesibukannya dia selalu join menjadi SPG event pas weekend. Dia tidak butuh uang, hanya saja dia tak mau waktunya di habiskan untuk memikirkan papih yang sudah di anggapnya brengsek. Dia selalu memilih event yang tidak mengharuskan dia menggunakan pakaian terbuka. Karna didikan mamihnya yang mewajibkan Tia untuk selalu menutup auratnya. Dan hal ini pun dia lakukan sampai semester terakhir.


💚💚💚💚💚💚💚💚


SEMARANG 2019


Tia masih duduk termenung melihat bandana biru tua milik kakak tirinya, Rio. Kota Bandung, adalah kota yang paling dia hindari, setelah kejadian sembilan tahun yang lalu menimpa dirinya. Kini dia harus balik lagi ke kota itu demi Rara, orang yang paling membuatnya merasa bersalah. Tak terasa setetes air mata jatuh ke pipinya. Rara melihat Tia yang melamun, menangis memegang bandananya.


“Ti kenapa?” ujar Rara cemas. Rara merasa tidak enak dengannya.


“Ti elo gak usah ikut ya, gue sendiri bisa kok.”


Tia tersenyum menyeka air matanya.


“Gue inget jaman kuliah Ra, ospeknya kejam.” elak Tia cengengesan, berbohong. Rara tersenyum mendengar celoteh Tia.


“Ayo lanjut packing lagi, besok pagi kan kita harus berangkat.” lanjut Tia.

__ADS_1


Rara mengaguk tersenyum. Dia tak sabar ingin mendatangi salah satu kota yang bersejarah dalam hidupnya.


__ADS_2