
“AMNESIA?” Suara lantang Bagas cukup mengagetkan Tia dan Mutiara.
Mereka bertiga mengobrol di gubug utama resto Gubuk Mang Engking. Bagas menatap Mutiara terus menerus membuat Mutiara salah tingkah.
“Terus apa buktinya kalo memang saya pacar mas?”
“Ya betul!” ujar Tia.“Pasti ada bukti foto bareng, ato chat mesra Muti, maksud gue Rara ke loe misalnya?”
Mutiara melihat kearah Tia jengkel yang menganggapnya wanita genit. Bagas tersenyum mendengar celoteh Tia.
“Rara Febriani nama asli kamu, kita sempat satu kelas di salah satu kampus ditahun pertama di Bandung, setelah itu kamu pindah.”
“Kemana?” tanya Tia heran.
“Gak tau, waktu itu hubungan kita sebatas teman, sampai dua tahun terakhir ini saya sering dinas di Bandung, di beberapa event kita sering ketemu, sampai pada saatnya kita memutuskan untuk pacaran.”
“Berarti Rara orang Bandung?”
“Bukan.”
“Dibandung statusnya hanya sebagai perantau, keluarganya ada di Solo.”
“Loe kenal sama keluarganya? tempat tinggalnya?”
Kedua kalinya Bagas menggelengkan kepalanya “Tidak.”
“Ini kalian niat pacaran gak sih? Masa latar keluarga aja gak tau? Apa jangan jangan loe boong ya, loe ngarang ini semua ya?” ujar Tia kesal.
“Mbak udah lapor polisi?” tanya Bagas santai tersenyum sinis menahan kesal.
“Udah.” jawab Tia ketus.
“Udah ada kabar mengenai keluarganya?”
“Belum.”
“Mbak bilang Rara bekerja sebagai TL diagensi mbak selama tiga bulan, pasti dia sering mobile di kota ini, apa Rara pernah bertemu dengan teman atau seseorang yang mengenalnya selama ini? waktu tiga bulan bukan waktu yang sedikit untuk menemukan keluarga yang hilang dalam satu kota.”
“Maksudnya apa? Intinya apa?” sahut Tia gak sabar.
“Intinya saya kesini, hanya untuk menemui seseorang yang saya kenal disini? Hanya satu mungkin dua orang yang saya kenal di kota ini, jadi saya disini tidak mengenal siapapun selain dia.” jawab Rara.
“Cerdas,” sahut Bagas “Dan anda mbak Tia sepertinya anda harus menjaga cara bicara anda sebelum menuduh orang sembarangan.” ujar Bagas pada Tia kesal, Tia merasa malu dibuatnya.
“Saya tetep pengen tau tentang saya, buat apa saya datang ke kota ini?” sahut Rara.
“Hubungan kita bukanlah hubungan anak ABG yang salalu chat ato telponan tiap malam, tiap hari. Kita mengerti hubungan kita hubungan serius yang mempercayai privasi kita satu sama lain, biasanya kita video call by Whatsapp seminggu ya mungkin dua sampai tiga hari, kebanyakan di waktu kita break kantor. Sampai saya memutuskan untuk melamar kamu, tujuan kamu ke Semarang adalah untuk menemui saya, bertemu keluarga saya, lalu kita berangkat ke Solo untuk meminta restu keluarga kamu mengenai pernikahan kita dan hanya Rara yang tau alamat orang tuanya di Solo.” Jelas Bagas panjang lebar.
“Saya boleh liat pesan Whatsapp saya dengan anda sebelumnya?” ujar Mutiara.
Bagas membuka kunci pola hpnya, lalu dia membuka Whatsapp nya, discrollnya beberapa kontak hp, sampai jarinya berhenti disebuah chat. Lalu dia menyerahkan hpnya pada Mutiara. Tia yang kepo menggeserkan kursi mendekat ke Mutiara.
Diliatnya sebuah kontak bernama Love, Mutiara menekan profile foto diujung atas sebelah kanan, dilihatnya hanya foto sebatang bunga mawar putih di sebuah taman. Dia melihat isi kontak menscroll beberapa chat tiga bulan sebelumnya, kebanyakan video call rata-rata di jam dua belas sampe jam satu siang. Ada beberapa chat singkat Bagas.
(Ra, dimana udah makan?)
atau,
(Ra, makan siang dulu)
lalu ada beberapa chat balasan dari Rara seperti,
(Bang?)
setelah itu video call, ada lagi
(Bang dimana, lagi apa?)
setelahnya hanya video call seterusnya seperti itu. Sampai chat paling akhir Bagas menchat,
(Ra?)
ceklist terus call atau video call yang tak terjawab, beberapa hari kemudian.
(Ra dimana?)
yang juga ceklist satu menunjukkan pesan yang belum dibaca.
__ADS_1
“Bener-bener kurang romantis.” ujar Tia mengkritik gaya pesan Bagas dan Rara.
“Saya minta maaf kalo menurut anda saya lelaki yang tidak romantis, saya akan memperbaikinya karna pada dasarnya saya memang tidak suka basa basi.” ujar Bagas, Tia tersenyum mendengar celoteh Bagas.
“Apa saya punya media sosial?” tanya Mutiara.
“Setau saya kamu bukan orang yang suka mengespose kehidupan pribadi di media sosial, tapi Mila pernah cerita kalian berteman disalah satu media sosial.”
“Apa media sosialnya?” tanya Tia.
“Entahlah bisa facebook ato instagram.”
“Kalo elo punya media sosial?”
“Punya fb, tapi saya setipe dengan Rara, bukan orang yang hobby mengexpose kehidupan pribadi. Lagian saya sudah tidak mempunyai aplikasi medsos.”
“Gue punya fb.” Tia dengan cepat mengeluarkan hpnya dan menyerahkannya ke Bagas
“Gue pengen liat fb loe.” sahut Tia.
Bagas mengambil hp Tia dan mengetik nama account fbnya. Diserahkannya hpnya ke Tia, Tia dengan cepat melihat isi account fb milik Bagas, Mutiara ikut mengerubungi hp Bagas dengan rasa penasaran.
Hanya ada lima album di potonya, Tia menekan satu album berjudul kampus, ada cukup banyak foto, dia terus menscroll hpnya ke atas sampai jarinya berhenti ke satu foto, foto ketika Bagas, Mutiara dan ke tiga temannya waktu ospek menggunakan baju hitam putih dan memakai papan dada besar Mutiara bertuliskan Febriani, Bagas bertuliskan Sinaga.
Lalu Tia menscroll beberapa foto ke atas lagi, dia menemukan sekumpulan pemuda pemudi yang sedang makan diatas daun pisang, Mutiara yang mengenakan kemeja merah celana jins duduk di tengah, dan Bagas duduk disebelah kanannya terhalang beberapa teman. Tia menemukan setidaknya lima foto Bagas dan Mutiara yang sedang berkumpul dengan teman mereka. Lalu Tia mengunduh foto tersebut lalu mengirim foto tersebut by Whatsapp ke kontaknya.
“Apa selama ini anda mencari saya, selama saya menghilang?” tanya Mutiara.
Bagas menarik nafas dalam, menyesal.
“Its my fault, saya menunggu kamu seharian di stasiun, tapi saya tidak bisa menemukan dan menghubungi kamu. Saya kira kamu tidak setuju dengan lamaran ini, saya kira kamu mengakhiri hubungan kita sepihak, dan itu semua membuat saya patah hati. Saya tidak pernah berfikir sejauh itu, saya tidak tau kalo kamu mengalami kecelakaan dan hilang ingatan.”
“Ra tapi emang bener ra, orang gue nemuin loe didaerah deket stasiun.” ujar Tia.
“Oke ini udah malem, kita udah harus pulang. Kita lanjut besok, gue udah nyimpen kontak gue di hp loe.” besok kita ketemu lagi.” Bagas diam memandang curiga mendengar celoteh Tia.
“Loe gak percaya?” Tia mengeluarkan dompetnya, dia mengambil identity cardnya.
“Ini kartu nama gue, disitu ada nama dan alamat perusahaan gue, loe bisa cari kita disana!”
“Oke.”
“Walaikumussalam.” jawab Bagas. Mutiara dan Tia pergi meninggalkan Bagas sendiri.
#
Sepanjang perjalanan pulang Mutiara diam memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tia yang sedang menyetir disampingnya memperhatikannya.
“Gak usah dipikir ra!” sahut Tia memecahkan lamunannya.
“Tetep aja ti, bukti yang dia kasih gak da yang kongkret ti, gak da yang pasti gitu, yang ada cuma foto lama gue waktu jaman kuliah sama dia, terus kalopun seandainya pacar, ya setidaknya ada foto bareng gitu!”
“Jadi loe ngarep foto bareng sama dia?” goda Tia.
“Tia, gue serius!?” rengek Rara.
“Hahaha sorry sorry. Gimana ya awalnya gue juga gak percaya, tapi gue pikir- pikir lagi ya, loe tu orangnya mang introvert, buktinya satu, loe liat deh pp whatsapp loe yang sekarang, malah pake foto logo perusahaan gue. Trus loe jarang pasang status di WA, kalopun iya loe cuma pasang status boot produk event, kalo gak foto anak-anak yang lagi event. Terus dua gue udah bikinin loe Fb, eh malah diisi pengumuman event lah, kalo gak promosi produk lah, gak ada tuh loe upload-upload foto loe, sekalinya ada foto orang ya foto anak-anak. Ya emang sih gue bikinin loe Fb buat kerja promo agensy kita, tapi apa pernah sekali aja loe pasang status pribadi gitu, kan gak ada, kalo ada orang nyari info personal tentang loe susahlah!” Mutiara terdiam memikirkan celoteh nya.
“Terus kalo soal pacar, ya mungkin gaya pacaran kaya orang luar.”
“Orang luar? Maksudnya?”
“Gue punya temen, dia punya pacar diluar negeri, bener mereka menjalin relationship, mereka jarang pacar alay kaya orang kita yang suka chat tiap hari, ato telpon tiap hari, atau saling kirim emo imut kaya orang korea. Mereka emang lebih suka video call dan gak suka basa basi, dan kebanyakan profesional. Ya mungkin loe gaya pacarannya kaya gitu.” Jelas Tia.
“Tia loe pernah punya pacar?”
Tia tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Mutiara.
“Ikh kenapa malah ketawa, ada yang lucu sama pertanyaan gue?” gerutu Mutiara, Tia mencoba mengontrol tawanya.
“Hahaha Ra, gue pacaran? Gak usah pacar pacar yang ada gue langsung disuruh nikah ma mamih sama tu cowok hahaha” Tia menyeka air mata yang keluar karna tawanya.
“ Hadeh hadeh, Ra keluarga gue kelurga yang memegang teguh norma-norma islam, kita gak mengenal yang namanya apa itu, boyfriend lah ato girlfriend lah, pacar lah ato yang lainnya. Bokap gue sama nyokap gue aja ta’aruf, gak pacaran dulu. Keluarga nyokap gue tau semua tentang bokap gue mereka suka, ya sudah lamaran terus nikah deh.” Jelasnya, diam sejenak. Rara masih berfikir menyimak.
“Mamih pastinya ngelarang kaya gituan, dia selalu ngajarin ke gue buat selalu menjaga kehormatan gue, apa yang gue punya sekarang hanya boleh gue tunjukin cuma seseorang yang spesial dalam hidup gue, ya suami gue nanti. Makanya dia selalu bilang ke gue klo ada cowok yang gue suka ya udah ta’ aruf ja langsung deh nikah.”
“Loe bilang kalo loe memegang norma norma islam, terus kenapa loe gak pake hijab kaya tante Sri ?”
__ADS_1
“He he" tia malah tersenyum cengengesan tak menjawab pertanyaan Mutiara.
#
“Suruh dia kesini nanti malem!” Ujar bu Sriyantika yang sedang duduk dikursi utama meja makan. Mbok Sum sibuk menata piring berisi berbagai macam lauk untuk sarapan pagi. Tia dan Mutiara bertatapan mendengar perkataan bu Sriyantika .
“Buat apa tante? Mutiara gak setuju, kalo dia cuma ngarang gimana?”
“Apa yang dijelasin Tia ada benernya nduk, mau gak mau kita harus ngasih kesempatan buat dia ngasih penjelasan yang lebih detail.”
“Dia gak punya bukti pasti tante, itu yang buat Mutiara ragu.”
“Tetep kita gak boleh menutup diri nduk, kalo seandainya dia boong apa untungnya? Kalo seandainya dia bener, kasian kan calon suami kamu?”
“Calon suami?” Mutiara mengerutkan dahi kaget.
“Ya katanya kalian mau lamaran? Ya calon suami kan?”
Tia tertawa mendengar celoteh mamihnya.
“Iya mih, apa untungnya ya mih dia bohong, orang dia tuh yah mih, ganteng mih, trus mapan lagi, pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar dia!” ujar Tia ikut memanas-manasi.
“Sotoy loe, tau dari mana dia mapan?” ujar Mutiara kesal.
“Aduh ternyata loe cukup matre juga ya denger kata mapan langsung kepo, WA aja gue punya kok nomernya.” Goda Tia, Mutiara makin kesal dibuatnya.
“GAK PER-LU.” tegasnya.
Bu Sriyantika tersenyum melihat Tia menggoda Mutiara.
“Yang penting agamanya yang bagus nduk, tapi emang dia orangnya kaya gimana?” tanya bu Sriyantika ikut penasaran.
“Dia itu ya mih, lumayan tinggilah, ya gak tinggi tinggi banget sih standarlah, kulitnya putih, trus ganteng Mih.”
“Owh ya?”
“Terus mih, dari gaya pakainya mih wuzzz, keren mih, Tia liat barang yang dia pake bermerk semua kok, apalagi hpny, apple mih mahal pokonya barang premium semua. Tipenya Rara tu oke mih, pinter juga ya Rara nyari calon suami.” Mutiara mengerutkan dahi dengan penjalasan Tia, dia merasa gak nyaman dibuatnya.
“Cukup Tia,” potongnya. “Dia bukan calon suami gue dan gue gak kenal sama dia, lagi pula....”
“La ya iya lah loe kan amnesia, ya wajar loe gak inget dia.” celetuknya sambil menyomot potongan buah.
Mutiara makin kesal dibuatnya, dia menatap Tia sinis menyuruhnya untuk diam. Tia yang menyadari tatapannya langsung menjaga sikap.
“Oke oke sorry, monggo lanjutkan!”
“Tante, Mutiara gak setuju kalo harus mengundang orang yang tidak tau pasti tujuan apa?, kenapa.gak...?”
TENG TONG. Suara bel berbunyi, memotong pembicaraan Mutiara. Mbok Sum bergegas menuju pintu depan.
“Oke kenapa gak kita ketemuan diluar aja?” lanjut MuMutiara.Toh kita baru ketemu baru sekalikan?, klo gak kita bisa ketemu di kantor Tia, toh dia udah punya alamat kantor kita. Terlalu berisiko tante kalo kita mengundangnya kesini, gimana kalo dia cuma ngarang? Kalo ada niat yang gak baik gimana? Gini tante bukan maksud Mutiara suudhon tapi setidaknya gak ada salahnya kalo kita hati-hati dalam bertindak, bener gak tan?” ujarnya pajang lebar tanpa spasi.
“Ndoro?” mbok sum datang membawa sebucket bunga mawar putih yang besar.
“Ini ada ini, ndoro.” dia menyerahkan karangan bunganya ke bu Sriyantika.
“Ini buat siapa mbok??” tanya bu Sriyantika sambil mencium bunga aroma bunga mawar yang harum.
“Itu dia ndoro saya bingung, tadi katanya buat nona Rara Febriani saya udah kasih tau disini gak ada yang namanya non Rara, tapi alamat rumahnya betul ndoro jadi saya terima.”
“Itu nama loe ra?” sahut Tia. “Pasti dari Bagas ya mbok?”
“Owh gak tau non tadi masnya gak bilang, mbok juga lupa gak nanya.”
“Sini mih sini mih.” Tia mencoba mencari-cari kartu di karangan bunga tersebut, ditemukannya kartu kecil yang cantik berwarna putih. Mutiara mencoba mengambil kartu dari tangannya Tia.
“Eits , eits.” Tia menghindar beberapa kali, mengangkat kartunya tinggi-tinggi. “Gue yang baca gue yang baca.” Ujarnya excited.
‘for Rara my love, a thousand words of sorry its never enough, Im so apologize even been doubt to our love, by Bagas’
“Cieeeeee.” goda Tia, Mutiara hanya bisa menarik nafas dalam, jengkel.
“Udah nduk suruh anaknya datang kesini nanti badha Isya, orang dia udah tau alamat rumah kita kok.”
“Waw cekatan juga ya calon laki loe.”
“Apaan sih loe!” elak Mutiara greget, menahan godaan Tia sedari tadi.
__ADS_1
Bersambung...
#krisan